Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Wabah mulai menyebar.
"Ayo kita pulang! Orang tua kita pasti sudah cemas memikirkan kita." Zach menuntun tangan Carol. Mereka menyusuri jalan setapak keluar dari perkebunan warga.
Langit bergitu cerah. Seolah semalam tidak ada kejadian tragis di sebuah sekolah di kota Humbang.
Setelah lebih satu jam perjalanan mereka, karena kondisi jalan naik turun. Keduanya tiba juga di area sekolah mereka yang berada di puncak bukit.
"Zach, kita sudah sampai. Lihat! Gedung sekolah kita sudah nampak." seru Carol riang. Nafasnya ngos-ngosan. Peluh membanjiri wajah dan tubuhnya. Lumayan jauh juga Zach membawa mereka ke perkebunan warga di tepi hutan.
Saking paniknya mungkin Zach saat itu. Ditambah wujudnya juga berubah. Sehingga ia berlari tanpa bisa mengontrol diri.
"Iya, ayo kesana. Sepertinya ramai orang." Zach melangkah lebar sehingga Carol tertingal jauh.
"Tunggu Zach!" seru Carol karena tidak bisa mengimbangi langkah Zach. belum lagi rumput ilalang yang tumbuh hingga sedada. Membuat Carol susah melangkah. Kaki dan pahanya terasa perih tergores ilalang.
Zach menoleh ke belakang. Baru sadar kalau Carol tertinggal jauh. Akhirnya mereka berhasil keluar dari padang ilalang. Dan muncul dari balik puing-puing gedung laboratorium yang terbakar.
Melihat kemunculan mereka, beberapa orang tua murid berseru riang.
"Hei, lihat! Ada anak-anak yang lolos dari kebakaran."
"Hah, itu putriku, Carol! Teriak Rachel ibunya Carol. Para orang tua yang menyaksikan evakuasi jasad yang terbakar serentak melihat ke arah datangnya Zach dan Carol.
"Pak itu Zach! Anak kita selamat, Pak!" Reya ibu Zach juga berlari menyongsong kedatangan Zach dan Carol.
Suasana haru menyelimuti lokasi sekolah. Para Guru juga Siswa lainnya menghambur ke lapangan. Melihat kemunculan Zach dan Carol.
"Mana yang lain? Apakah cuma kalian yang berhasil lolos?" Pak Alex, Kepala Sekolah memandang Zach dan Carol.
"Iya, Pak. Cuma kami berdua." sahut Zach.
Pekikan tangis yang mengharu biru kembali terdengar. Orang tua siswa lain yang berharap anaknya selamat juga. Tiba-tiba lemas karena hanya Zach dan Carol yang selamat.
Ternyata dari ke 28 siswa yang ikut praktik di laboratorium sore itu. Hanya lima yang selamat. Tiga orang sedang dirawat di rumah sakit. Vivian, Megan dan Mario tengah dirawat secara intensif di rumah sakit.
Ketiganya tiba-tiba drop hari ini. Kata dokter efek dari terpapar bahan kimia. Juga karena menghirup asap, membuat paru-paru mereka bermasalah.
"Nak, Ibu sangat bersyukur kamu selamat. Sepanjang malam Ibu tidak bisa memejamkan mata. Mengira kamu ada di bawah reruntuhan itu. Bu Rachel memeluk putrinya penuh haru.
Begitu juga Zach. Kedua orang tuanya merengkuh Zach dalam pelukan mereka.
"Tapi, kalian kenapa muncul dari arah sana. Bukankah disana adalah hutan. Kenapa lari ke arah sana?" celetuk ayah Zach. Tidak mungkin rasanya Zach. dan Carol terlempar ke arah hutan. Akibat gedung laboratorium yang meledak.
Semalam petugas Damkar dan Polisi telah menyisir lokasi kebakaran radius seratus meter. Mencari korban, yang kemungkinan berhasil meloloskan diri.
Namun, tidak ada ditemukan. Polisi menyakini kalau semua korban terjebak di dalam api.
Zach dan Carol saling berpandangan. Tidak tau harus bicara apa. Tapi lalau tidak dijelaskan takut orang-orang pada curiga.
"Karena panik Pa, kami menyelamatkan diri ke arah hutan." jelas Zach.
"Iya, Pap. Namanya aja mau menyelamatkan diri. Gak mikir larinya ke arah mana. Yang penting selamat dulu." sela Bu Reya.
"Ah, iya. Papa cuma heran saja. Jadi, sepanjang malam kalian beràda di hutan. Syukurlah kalian tidak apa-apa selama disana." Pak Dody melepas pelukannya.
"Ayo kita pulang. Kalian pasti sudah kelaparan. setelah itu kita ke rumah sakit. Biar dokter memeriksa kalian.
Mama takut, karena terpapar bahan kimia, tubuh kalian kena racun." sela Bu Rachel.
"Iya, Papa juga mengkhawatirkan keadaan kalian. Soalnya teman kalian yang berhasil lolos semalam, tengah sekarat di rumah sakit." timpal Pak Brian.
"Maksud Papa, Vivian dan Megan ?" Carol sangat khawatir. Jangan-jangan dia juga akan mengalami hal yang sama. Nyawanya terancam meskipun dia selamat dari kobaran api.
"Mereka mangalami batuk yang parah! Efek dari asap atau paparan bahan kimia. Mama juga jd khawatir dengan kalian berdua." Bu Reya menatap cemas kepaada Zach dan Carol.
"Betul sekali, Zach dan Carol harus segera diperiksa di rumah sakit." Pak Alex juga mendukung.
"Ayo nak." Bu Rachel menarik lengan Carol. Begitu juga Zach. Setelah lebih dulu mampir ke rumah, karena kondisi mereka yang lapar. Dan pakaian yang kotor.
Di rumah sakit Zach diperiksa oleh Dokter Armand. Dokter mengatakan kondisi Zach baik-baik saja. Sedangkan Carol, diperiksa lebih intensif karena paru-parunya kotor akibat asap.
Dokter hanya meresepkan obat vitamin dan tidak perlu dirawat inap di rumah sakit.
"Kenapa anak saya tidak dirawat inap, Dokter? Bukankah dia juga terpapar asap kebakaran itu?" protes Bu Rachel.
"Cuma sedikit Bu, karena mungkin saat itu putri ibu menutup hidungnya. Dengan suntikan dan obat paru-parunya akan bersih lagi. Selain itu, rumah sakit penuh dengan pasien, Bu. Tetaplah pakai masker dimana saja. Isolasi mandiri lebih bagus, Bu. Asal disiplin mengomsumsi obat."
"Baiklah Dokter. Kami permisi."
Keluar dari ruang praktek dokter, Carol melihat banyak pasien yang memenuhi rumah sakit. Bahkan rumah sakit sepertinya kewalahan menerima pasien ràwat inap.
"Zach, aku merasa ada yang aneh," bisik Carol saat menyusuri lorong panjang rumah sakit.
"Aneh bagaimana?"
"Tuh, lihat. Pasien rumah sakit membludak. Rata-rata mereka terserang batuk." Zach mengamati para pasien yang memenuhi ruang IGD.
"Pantasan dokter menyuruh aku isolasi di rumah saja."
"Aneh juga, kok tiba-tiba saja warga banyak yang terserang batuk ya. Dalam semalam mendadak banyak yang terserang batuk?"
"Aku jadi teringat Pandemi Covid 19, Zach. Apakah akan terjadi lagi?"
"Hush! Jangan bicara yang bukan-bukan." sanggah Zach. Namun, dalam hati dia merasa perkataan Carol ada benarnya.
"Uk-hu-k!" tiba-tiba seseorang batuk hebat dan muntah darah. Tangannya memegangi dadanya. Sepertinya dia susah bernapas. Sampai tubuhnya mengejang. Lalu tiba-tiba saja menghembuskan nafas terakhirnya.
Refleks, Zach menarik Carol menjauh. Supaya Carol tidak melihat pasien itu menggelepar meregang nyawa.
"Ayo kita lewat sini!" Zach menarik lengan Carol lewat taman. Memintas jalan supaya cepat ke tempat parkir.
"Itu tadi kenapa, Pap?" Bu Rahel bergidik ngeri. Karena sempat melihat pasien terjatuh di lantai.
"Mungkin penderita TB, Ma." sahut Pak Brian.
"Untunglah kita pakai masker."
"Atau jangan-jangan keracunan, Pa?" seru Carol.
"Keracunan apa. Sampai segitu banyak yang menjadi korban."
"Akibat kebakaran laboratorium itu?" tebak Carol.
"Tidak mungkin kalau karena kebakaran itu. Meskipun Laboratorium itu meledak, bahan kimianya masih diambang batas. Itu kan laboratorium sekolah. Jadi dikontrol ketat cara pemakaian bahan kimia."
"Tapi, sebelum kebakaran ...." Carol tidak melanjutkan ucapannya.
"Tapi apa Carol?" ***