Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.
Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Dilema di Tepi Jurang
Logam emas itu terasa membakar telapak tangan Elara, meski suhu di sekelilingnya cukup untuk membekukan darah dalam hitungan menit. Ia berdiri mematung di tengah tendanya, menatap tusuk konde berbentuk matahari Asteria yang berkilauan di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip. Di bawah kakinya, secarik kertas kecil yang telah remuk mengandung kalimat yang lebih tajam dari belati manapun: sebuah perintah untuk melenyapkan Panglima Vane. Valerius sedang menguji kesetiaannya, atau mungkin, sedang mencoba menghancurkan bagian terakhir dari kemanusiaan yang ia miliki.
Elara memejamkan mata sejenak, merasakan getaran halus dari permukaan tanah di bawah sepatunya. Void Lv 1.8 miliknya mulai beresonansi, memberinya persepsi aneh tentang berat udara di pegunungan ini. Ia bisa merasakan kepadatan salju yang menumpuk di atas tenda, dan langkah kaki berat yang mendekat dari luar.
"Nyonya? Utusan itu sudah pergi jauh." Suara Kaelen terdengar dari balik tirai tenda. Ada nada kecemasan yang tertahan di sana, sebuah intuisi ksatria yang mencium bau bahaya bahkan sebelum pedang ditarik dari sarungnya.
Elara menarik napas panjang, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya. "Masuklah, Kaelen. Dan panggil Panglima Vane. Katakan padanya ada pergerakan sisa sekte di celah tebing barat yang perlu kita periksa secara pribadi."
Kaelen muncul di ambang pintu, matanya tertuju pada tusuk konde emas di tangan Elara, lalu beralih ke wajah wanita itu yang tampak sedingin porselen. "Secara pribadi? Di tengah badai yang sedang merangkak naik ini?"
"Hanya kita bertiga," jawab Elara datar. Ia menyelipkan tusuk konde itu ke dalam gulungan rambutnya dengan gerakan yang kaku. "Kaisar menunggu sebuah jawaban, Kaelen. Dan aku akan memberikannya di tempat di mana hanya angin yang bisa mendengar."
Sepuluh menit kemudian, mereka bertiga bergerak menembus kabut salju yang mulai menebal. Panglima Vane berjalan dengan langkah yang tidak stabil. Sejak pertempuran di Gua Kristal Biru, pria itu tampak seperti cangkang kosong yang dihantui oleh bayang-bayang Master Sekte. Ia terus menatap punggung Elara, seolah-olah ia sedang mengikuti malaikat maut yang mengenakan jubah sutra.
"Kenapa kita harus pergi sejauh ini ke tepi tebing, Nyonya?" Vane bertanya, suaranya parau dan bergetar. "Pasukan pengintai bisa melakukannya. Kita seharusnya berada di benteng, mengamankan jalur logistik yang mulai terancam longsor."
Elara tidak menoleh. Ia terus mendaki jalan setapak yang sempit, di mana di sisi kirinya hanya ada dinding es dan di sisi kanannya terdapat jurang tanpa dasar yang menelan segala cahaya. "Ada hal-hal yang tidak bisa dibicarakan di depan prajurit, Vane. Kau sendiri yang mengajariku bahwa kerahasiaan adalah mata uang paling berharga di kekaisaran ini."
"Tapi suasana ini... ini tidak terasa benar," gumam Vane, tangannya meraba gagang pedangnya yang terasa membeku.
Mereka sampai di sebuah tanjung kecil yang menjorok keluar di atas jurang. Angin di sini melolong dengan suara yang menyayat, seperti ribuan jiwa yang sedang meratap. Elara berhenti tepat di ujung tebing, tempat di mana tanah beku bertemu dengan kekosongan. Ia berbalik, menatap Vane dengan mata keunguan yang berkilat di balik badai salju.
"Vane, apakah kau masih ingat sumpah yang kau ucapkan saat kita pertama kali meninggalkan ibu kota?" tanya Elara. Suaranya tenang, namun membawa beban yang membuat Vane tersentak.
Vane menelan ludah, rasa asin salju terasa pahit di lidahnya. "Tentu saja, Nyonya. Saya bersumpah untuk memastikan keselamatan Anda dan keberhasilan misi ini."
"Kaisar mengirimkan hadiah untukku hari ini," Elara mengeluarkan surat kecil yang sudah kumal itu dan membiarkannya terbang sesaat sebelum ia menangkapnya kembali dengan dua jari. "Bersamaan dengan ini, ada sebuah perintah. Beliau merasa kau sudah tidak lagi berguna. Beliau memintaku untuk memastikan kau tidak pernah kembali ke ibu kota."
Wajah Vane mendadak kehilangan seluruh sisa warnanya. Ia mundur satu langkah, tumitnya hampir menyentuh bibir tebing yang rapuh. "Apa? Tidak... itu tidak mungkin! Saya sudah memberikan segalanya untuk Valerius! Saya mengkhianati nurani saya demi keinginannya!"
"Kaisar tidak butuh nurani, Vane. Beliau butuh kepatuhan yang tidak memiliki saksi atas kegagalannya," Elara melangkah maju, membiarkan auranya menekan udara di sekitar mereka.
"Dan Anda... Anda akan melakukannya?" Vane menghunus pedangnya, namun tangannya gemetar hebat. "Anda akan membunuh orang yang baru saja bertarung di samping Anda melawan kegelapan itu?"
"Turunkan pedangmu, Vane. Jika aku ingin kau mati, kau sudah menjadi mayat sejak kita melewati gerbang tenda tadi," Elara menatap tajam ke arah mata pria itu. "Aku punya pilihan lain. Tapi itu bergantung pada seberapa besar keinginanmu untuk tetap bernapas."
Kaelen bergerak selangkah ke samping, memposisikan dirinya di antara Vane dan jalan keluar. "Panglima, kau tahu kau tidak punya peluang melawan kami di sini. Dengarkan apa yang ingin dikatakan Nyonya Elara."
Vane menatap Kaelen, lalu kembali ke Elara. Ia tertawa kering, suara yang terdengar menyedihkan di tengah badai. "Pilihan lain? Menjadi budakmu? Menjadi pengkhianat bagi kekaisaran yang selama ini menjadi hidupku?"
"Kekaisaran yang baru saja menandatangani surat kematianmu?" Elara membalas dengan nada pedas. "Jangan bicara tentang loyalitas pada seseorang yang baru saja membuangmu seperti sampah logistik. Aku menawarkanmu kesempatan untuk menjadi hantu. Di mata dunia, kau akan mati di tebing ini karena kecelakaan. Namun bagiku, kau akan menjadi kunci untuk sesuatu yang jauh lebih besar."
Vane terdiam. Napasnya memburu, menciptakan uap putih yang langsung hilang ditelan angin. "Apa yang Anda inginkan? Kenapa Anda mau menyelamatkan orang seperti saya?"
"Karena kau tahu sesuatu yang tidak diketahui kaisar," Elara mendekat, suaranya kini hanya bisikan yang tertutup deru angin. "Kau tahu tentang lokasi penyimpanan mana rahasia milik keluarga Asteria yang disita oleh militer tahun lalu. Kau tahu jalurnya, dan kau tahu cara membukanya tanpa memicu alarm kaisar."
Mata Vane melebar. "Bagaimana Anda... bagaimana Anda bisa tahu tentang itu?"
"Aku melihat lebih banyak daripada yang kau kira, Vane," Elara berbohong dengan tenang, menyembunyikan fakta bahwa informasi itu adalah potongan memori yang ia kumpulkan dari sisa-sisa energi di Gua Kristal Biru. "Berikan aku akses itu, dan aku akan memberimu identitas baru, perlindungan, dan kesempatan untuk melihat Valerius jatuh dari takhtanya."
"Ini gila," bisik Vane. Ia menurunkan pedangnya perlahan. "Jika kaisar tahu..."
"Beliau tidak akan tahu jika kau jatuh dari tebing ini sekarang juga," Elara mengangkat tangan kirinya. Aura Void mulai berdenyut, menggetarkan struktur es di bawah kaki Vane. "Pilihlah, Vane. Mati sebagai martir yang dilupakan, atau hidup sebagai sekutu dalam kegelapan."
Vane menatap jurang di belakangnya, lalu menatap tangan Elara yang tampak menghitam di bagian ujung jarinya. Sebuah ketakutan yang murni terpancar dari wajahnya, namun di balik itu, ada api dendam yang mulai menyala. "Baik. Aku akan memberitahumu. Tapi kau harus berjanji... keluargaku di ibu kota..."
"Mereka akan aman. Aku akan mengirimkan pesan melalui jalur Asteria yang tidak bisa dilacak oleh intelijen kaisar," Elara memotong kalimatnya. "Sekarang, berdirilah di sana. Jangan bergerak."
Elara memusatkan seluruh konsentrasinya pada Sinkronisasi Gravitasi. Ia tidak menghancurkan tanah tempat Vane berdiri, melainkan memanipulasi kepadatan salju di sekitarnya. Dengan satu hentakan energi, sebuah longsoran kecil tercipta secara artifisial.
"Kaelen, sekarang!" teriak Elara.
Kaelen melompat, bukan untuk menyerang, melainkan menyambar tubuh Vane tepat saat bibir tebing itu runtuh. Dengan kekuatan ksatria tingkat tinggi, ia mengayunkan Vane ke sebuah celah kecil di bawah tebing yang tidak terlihat dari atas, tempat yang sebelumnya sudah dipetakan sebagai tempat persembunyian sementara.
Suara gemuruh salju yang jatuh ke dasar jurang terdengar menggelegar, menutupi suara teriakan sandiwara yang sengaja dikeluarkan Vane. Di atas tebing, Elara berdiri terengah-engah, dadanya terasa sesak. Rasa mual akibat ketinggian dan penggunaan Void yang dipaksakan membuatnya hampir tumbang.
Kaelen memanjat kembali ke atas, wajahnya dipenuhi butiran es. "Dia sudah di sana. Dia aman untuk saat ini."
Elara mengangguk lemah, tangannya mencengkeram lengan baju Kaelen untuk menjaga keseimbangan. "Bagus. Biarkan dia di sana sampai badai mereda. Lalu bawa dia ke pos rahasia yang sudah kita siapkan."
"Nyonya, Anda bergetar hebat," Kaelen memegang pundak Elara, mencoba menyalurkan sedikit kehangatan mana miliknya. "Apakah ini sebanding dengan risiko mengkhianati perintah langsung kaisar?"
"Valerius telah mengkhianatiku lebih dulu saat dia membakar tubuhku, Kaelen," bisik Elara, suaranya pecah oleh emosi yang dalam. "Setiap langkah yang kuambil sekarang adalah untuk memastikan bahwa ketika aku kembali ke istana nanti, aku tidak akan datang sebagai pemohon, melainkan sebagai hakim."
"Aku mengerti," Kaelen menatap mata Elara, menemukan kegelapan yang begitu pekat di sana hingga ia merasa takut sekaligus iba. "Tapi ingatlah, semakin sering kau menggunakan Void ini, semakin banyak bagian dari dirimu yang akan hilang."
"Biarlah hilang," Elara menatap ke arah jurang di mana Vane seharusnya "mati". "Aku lebih baik menjadi monster yang menang daripada menjadi permaisuri yang mati karena kebaikan hatinya sendiri."
Tiba-tiba, sebuah suara gemuruh yang jauh lebih besar terdengar dari arah puncak gunung. Bukan gemuruh buatan Elara, melainkan suara alam yang marah. Tanah bergetar dengan frekuensi yang mengerikan, membuat Kaelen harus menancapkan pedangnya ke es agar mereka tidak terlempar.
"Apa itu?" tanya Elara, matanya melebar menatap ke arah utara.
"Longsoran es yang sesungguhnya," jawab Kaelen dengan suara tercekat. "Itu menutupi jalur utama... perkemahan logistik kita ada di jalurnya!"
Elara menoleh ke arah perkemahan yang tampak seperti titik-titik cahaya kecil di kejauhan. Sebuah gelombang putih raksasa tampak merayap turun dari puncak, menelan segala sesuatu yang dilewatinya.
"Kita harus kembali!" teriak Elara, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. "Jika logistik itu hancur, kita semua akan mati membeku di sini sebelum kaisar sempat mengirimkan bantuan!"
Mereka berlari menembus badai yang kini mengamuk sepenuhnya. Elara merasa setiap langkahnya seperti menginjak duri, namun pikirannya terus tertuju pada surat Valerius. Kaisar ingin kematian, dan alam baru saja memberikannya dalam skala yang tidak terbayangkan.
"Nyonya, lihat itu!" Kaelen menunjuk ke arah jalan setapak di depan mereka yang mulai tertutup es yang bergeser.
"Void... Analisis Getaran!" Elara mencoba menggunakan kemampuannya lagi, namun kepalanya berdenyut seolah-olah ada yang memukulnya dengan palu godam. "Sial... aku tidak bisa fokus!"
"Gunakan tanganku, Elara! Fokus pada suaraku!" Kaelen menarik tangan Elara, memaksa wanita itu untuk tetap sadar di tengah badai yang mematikan.
Mereka berdua berjuang melawan angin yang mencoba melemparkan mereka ke jurang. Di kejauhan, suara jeritan prajurit mulai terdengar, samar namun menyayat hati, tenggelam dalam gemuruh es yang meruntuhkan harapan mereka untuk bertahan hidup malam ini.
Salju putih yang turun dengan tenang kini berubah menjadi monster yang menderu. Elara merasakan pijakannya berguncang hebat, seolah-olah raksasa es sedang terbangun dari tidur ribuan tahun di bawah kaki mereka. Gemuruh itu bukan lagi sekadar suara; itu adalah getaran yang meremas organ dalam, membuat napas Elara tersengal di balik kain cadar yang mulai membeku.
"Nyonya, jangan lepaskan tangan saya!" Kaelen berteriak, suaranya hampir hilang ditelan amukan badai. Ksatria itu menancapkan pedang hijaunya dalam-dalam ke tanah beku, menggunakan senjata itu sebagai jangkar bagi mereka berdua agar tidak tersapu oleh angin yang mulai membawa bongkahan es kecil.
Elara menoleh ke arah perkemahan. Cahaya obor yang tadinya berbaris rapi di kejauhan kini padam satu per satu, tertelan oleh gelombang putih yang merangkak turun dari puncak pegunungan. "Prajurit kita, Kaelen... logistik Asteria yang kita bawa dengan susah payah..."
"Kita tidak bisa menolong mereka jika kita sendiri terkubur di sini!" Kaelen menarik Elara mendekat, melindunginya dengan jubah ksatria yang tebal. "Kita harus mencapai gua perlindungan di sisi timur tebing!"
Elara memaksakan matanya terbuka, menatap garis hitam di tangannya yang kini berdenyut perih. Void Lv 1.8 dalam dirinya memberontak, bereaksi terhadap ketidakstabilan gravitasi di sekelilingnya. "Aku bisa merasakannya, Kaelen. Struktur es di atas kita... itu tidak hanya jatuh karena alam. Energi dari Gua Kristal Biru yang kita hancurkan tadi... itu memicu retakan pada segel sekunder gunung ini."
"Apa maksud Anda?" Kaelen bertanya sambil menarik Elara merangkak di antara bebatuan.
"Master Sekte itu sengaja memancing kita untuk meledakkan energinya di dalam gua," Elara terbatuk, darah segar menetes dari sudut bibirnya, membeku seketika di atas salju. "Dia ingin pegunungan ini runtuh. Dia ingin jalur logistik ini mati agar seluruh Utara terisolasi dari kaisar."
"Rencana yang kejam," geram Kaelen.
Mereka berhasil mencapai sebuah ceruk batu yang cukup dalam untuk menghindari hantaman langsung salju yang meluncur deras. Elara jatuh terduduk, tubuhnya menggigil hebat. Di dalam kegelapan ceruk itu, ia melihat bayangan Panglima Vane yang merangkak keluar dari persembunyian bawah tebingnya, wajahnya dipenuhi debu es dan ketakutan yang belum hilang.
"Apa yang terjadi? Suara apa itu?" Vane bertanya, suaranya bergetar hebat saat ia melihat ke arah perkemahan yang kini tertutup kabut putih pekat.
"Kaisar menginginkan kematianmu, Vane, tapi sepertinya alam memutuskan untuk membunuh kita semua sekaligus," Elara menjawab dengan napas yang terputus-putus. Ia meraih tusuk konde emas matahari di rambutnya, merasakannya sebagai beban yang ironis.
Vane menatap ke arah longsoran dengan mata kosong. "Semua pasukanku... orang-orang yang setia padaku... mereka tertimbun di sana."
"Jika kau ingin mereka tidak mati sia-sia, kau harus memberikan informasi itu sekarang," Elara mencengkeram kerah baju Vane dengan sisa tenaganya. "Di mana penyimpanan mana rahasia Asteria itu? Jika aku bisa mengaksesnya, aku bisa menggunakan energi murni di dalamnya untuk menciptakan perisai Void yang cukup besar untuk menstabilkan lereng di depan gerbang utama benteng."
Vane ragu sejenak. "Itu adalah pengkhianatan tingkat tinggi terhadap gudang senjata kaisar, Nyonya."
"Kaisar sudah membunuhmu sepuluh menit yang lalu!" Kaelen membentak, tangannya sudah berada di gagang pedang. "Berikan koordinatnya atau aku sendiri yang akan melemparmu ke tengah longsoran itu!"
Vane menelan ludah, lalu membisikkan serangkaian kode dan lokasi yang terletak di bawah pondasi benteng Iron Gate, tempat yang hanya diketahui oleh komandan tingkat atas. "Ada segel darah di sana. Hanya seseorang dengan garis keturunan Asteria atau kunci dari Valerius yang bisa masuk tanpa meledakkan seluruh gudang."
"Garis keturunan Asteria," Elara bergumam. "Aku memilikinya. Meski tubuh ini bukan tubuh asliku, jiwaku membawa frekuensi yang sama."
Elara berdiri, meskipun kakinya terasa seperti terbuat dari kaca yang siap pecah. Ia menatap Kaelen. "Kita harus kembali ke benteng. Vane, kau tetap di sini. Jika kau terlihat oleh pasukan Valerius yang selamat, sandiwara kita berakhir. Tunggu instruksi dari Rina besok pagi."
"Bagaimana Anda akan melewati longsoran itu?" Vane bertanya, melihat jalur setapak yang kini sudah hilang tertutup es setinggi tiga meter.
"Aku adalah Ratu yang pernah dibakar api, Vane. Es ini tidak akan sanggup menghentikanku," Elara berkata dengan nada absolut yang membuat Vane tertunduk.
Perjalanan kembali ke benteng adalah sebuah neraka putih. Elara menggunakan Void untuk mendeteksi rongga udara di bawah salju, memastikan mereka tidak menginjak area yang bisa amblas. Setiap kali energinya keluar, garis hitam di tangannya merambat naik, melewati pergelangan tangannya, menciptakan rasa panas yang kontras dengan dinginnya badai.
"Elara, berhenti sejenak! Napasmu terlalu pendek!" Kaelen menahan pundaknya saat mereka sampai di gerbang belakang benteng yang tampak sepi dan mencekam.
"Tidak ada waktu, Kaelen. Aku bisa merasakan getaran longsor susulan yang lebih besar akan datang dalam waktu satu jam," Elara memegang dadanya yang sesak. "Jika benteng ini runtuh, seluruh perjuangan kita di Utara akan terkubur selamanya."
Mereka menyelinap masuk melalui pintu darurat. Suasana di dalam benteng sangat kacau. Prajurit berlarian dengan wajah panik, membawa tandu berisi korban luka yang tertutup debu salju. Aroma besi dari darah dan bau belerang dari sihir pertahanan yang gagal memenuhi koridor.
"Nyonya! Anda kembali!" Rina berlari mendekat, wajahnya sembab karena menangis. "Kami pikir Anda hilang di tebing! Panglima Vane... dia..."
"Panglima Vane gugur dalam tugas, Rina," Elara berkata dengan suara lantang agar didengar oleh prajurit di sekitar mereka. "Dia terjatuh saat mencoba mengamankan jalur pengintai. Sekarang, jangan biarkan siapa pun menggangguku. Aku harus menuju ruang meditasi bawah tanah."
"Tapi kaisar... mata-mata kaisar ada di mana-mana, Nyonya," bisik Rina ketakutan.
"Biarkan mereka menonton," Elara melangkah melewati kerumunan dengan dagu terangkat, menunjukkan tusuk konde emas matahari pemberian Valerius sebagai simbol otoritas palsu yang melindunginya.
Di ruang bawah tanah yang lembap dan dingin, Elara menemukan pintu besi dengan ukiran matahari yang memudar—gudang mana Asteria. Ia menempelkan telapak tangannya yang terluka ke pusat segel. Darah merah segarnya meresap ke dalam celah ukiran. Sejenak, tidak ada yang terjadi, lalu sebuah dengungan rendah bergema, dan pintu itu bergeser terbuka, menyingkapkan ribuan kristal mana murni yang memancarkan cahaya biru keunguan yang menyilaukan.
"Keindahan yang tercuri," bisik Elara saat ia melihat harta karun bangsanya yang kini menjadi barang sitaan.
Ia tidak membuang waktu. Elara duduk di tengah-tengah kristal tersebut, membiarkan jiwanya terbuka sepenuhnya. Ini adalah risiko terbesar yang pernah ia ambil. Mengambil energi murni dalam jumlah besar bisa menghancurkan sirkuit jiwanya yang sudah rapuh karena trauma api.
"Void... Penyerapan Total," gumam Elara.
Cahaya biru dari kristal-kristal itu mulai mengalir masuk ke dalam tubuhnya, ditarik oleh daya hisap energi Void. Elara berteriak tanpa suara saat merasakan tubuhnya seolah-olah ditarik ke berbagai arah. Memori tentang api yang membakar punggungnya muncul kembali, namun kali ini ia memaksakan rasa dingin dari mana es untuk memadamkan trauma tersebut.
Di luar benteng, Kaelen berdiri di atas menara pengawas, menatap gelombang longsoran kedua yang mulai meluncur turun. Namun, sebelum es itu menghantam tembok luar, sebuah kubah energi transparan yang bergetar hebat muncul dari dalam tanah, menyelimuti seluruh area benteng. Salju dan batu yang menghantam kubah itu hancur menjadi debu sebelum menyentuh dinding batu.
"Dia berhasil," bisik Kaelen, meskipun hatinya perih membayangkan harga yang harus dibayar Elara untuk kekuatan itu.
Satu jam kemudian, badai mulai mereda. Kubah energi itu memudar perlahan, meninggalkan benteng Iron Gate tetap berdiri tegak di tengah kehancuran di sekelilingnya. Jalur logistik memang tertutup, namun benteng dan isinya selamat.
Elara keluar dari ruang bawah tanah dengan langkah yang sangat lemah. Wajahnya pucat pasi, dan matanya kini memiliki lingkaran hitam yang dalam. Ia melihat para prajurit bersujud di sepanjang koridor saat ia lewat, menatapnya seolah-olah ia adalah dewi yang baru saja turun dari langit.
"Nyonya... Anda menyelamatkan kami," seorang prajurit tua berbisik dengan air mata di pipinya.
Elara tidak menjawab. Ia terus berjalan menuju kamarnya, mengabaikan sorak-sorai lirih yang mulai terdengar. Di depan pintunya, ia berhenti dan menatap Kaelen yang sudah menunggu.
"Vane aman?" tanya Elara dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Dia sudah di pos rahasia. Dia memberikan semua rincian yang kita butuhkan tentang gudang itu," Kaelen menjawab, matanya tertuju pada tangan Elara yang kini menghitam sepenuhnya hingga ke pergelangan tangan. "Elara... tanganmu..."
Elara menatap tangannya sendiri, lalu tersenyum tipis yang terasa menyakitkan. "Ini adalah harga untuk satu malam pengkhianatan terhadap kaisar, Kaelen. Dan aku akan membayarnya berulang kali jika itu berarti aku bisa memiliki kekuatan untuk menghancurkannya."
Ia masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu, meninggalkan Kaelen dalam kesunyian yang mencekam. Di dalam kamar, Elara melepas tusuk konde emas itu dan melemparkannya ke lantai. Perhiasan itu berdenting, suara yang terdengar seperti tawa ejekan dari Valerius.
Elara merebahkan diri di tempat tidur, merasakan dingin yang luar biasa mulai merayap ke seluruh tubuhnya. Ia tahu bahwa mulai besok, ia bukan lagi sekadar tawanan atau permaisuri kiriman. Di mata pasukan Utara, ia adalah penyelamat. Dan di mata Valerius, ia telah menjadi pion yang terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup.
"Aku mengkhianati kaisar untuk diriku sendiri," gumamnya sebelum kegelapan menelan kesadarannya.
Di luar benteng, gemuruh kecil masih terdengar sesekali, namun keheningan malam mulai menyelimuti tanah dingin itu. Jalur logistik yang tertutup salju kini menjadi tembok pemisah antara Elara dan dunia luar, menyiapkan panggung bagi bencana berikutnya yang sedang mengintai di balik kabut: wabah Demam Beku yang akan segera menyerang para penyintas longsoran.