Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.
Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.
Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.
Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: PERISAI SEORANG KAKAK
BAB 22: PERISAI SEORANG KAKAK
Siang itu, matahari Delhi seolah membakar aspal di depan gerbang megah kediaman Vashishth. Suasana yang biasanya tenang kini berubah menjadi tegang saat dua mobil polisi dan satu mobil mewah milik Hendra berhenti tepat di depan pintu masuk. Hendra turun dengan setelan jas rapi, namun wajahnya memancarkan kelicikan yang luar biasa. Ia membawa surat perintah pengadilan yang telah ia manipulasi dengan kekuasaannya di Simla.
"Buka gerbangnya! Aku datang untuk mengambil putriku dan pria gila yang disembunyikan di sini!" teriak Hendra dengan suara menggelegar.
Para penjaga militer di gerbang tidak bergeming. Mereka berdiri tegak dengan senjata di tangan, menunggu perintah dari tuan mereka. Tak lama kemudian, pintu utama rumah terbuka. Rayhan melangkah keluar dengan langkah tegap. Ia mengenakan seragam kebanggaannya, namun tanpa baret. Matanya yang tajam menatap langsung ke arah Hendra, sebuah tatapan yang sanggup mengintimidasi lawan paling berani sekalipun.
"Tuan Hendra, kau sudah membuat kegaduhan di properti militer. Kau tahu apa konsekuensinya?" tanya Rayhan dengan suara rendah namun sangat bertenaga.
Hendra tertawa sinis, melambaikan kertas di tangannya. "Aku punya hak hukum, Mayor! Vanya adalah putri kandungku, dan dia harus pulang bersamaku. Dan pria bernama Arlan itu... dia adalah pasien gangguan jiwa yang kabur. Dia berbahaya bagi masyarakat. Aku punya surat untuk membawanya kembali ke rumah sakit jiwa di Simla!"
Di dalam paviliun, Vanya memegang tangan Arlan dengan sangat kencang. Ia mendengar teriakan ayahnya dari luar. Tubuh Vanya gemetar. Ia tahu betapa jahatnya ayahnya, dan ia tahu jika Arlan dibawa kembali ke Simla, Arlan tidak akan pernah keluar hidup-hidup.
"Arlan, jangan keluar, kumohon..." bisik Vanya dengan air mata berlinang.
Arlan, yang sedang asyik mewarnai gambar bunga di lantai, mendongak. Ia melihat ketakutan di wajah Vanya. "Kakak Cantik, kenapa kau menangis? Apakah ada monster di luar?" tanya Arlan dengan suara polos yang menyayat hati.
"Ya, Arlan... monster itu datang kembali," jawab Vanya lirih.
Tiba-tiba, suara klakson mobil yang keras terdengar. Arlan tersentak. Rasa ingin tahunya sebagai "anak kecil" mengalahkan rasa takutnya. Sebelum Vanya bisa mencegahnya, Arlan berlari keluar paviliun menuju halaman depan.
"Tuan Tentara! Tuan Tentara! Ada apa di sana?" teriak Arlan sambil berlari riang ke arah Rayhan.
Rayhan tersentak melihat Arlan berlari ke arahnya. Ia segera merentangkan tangannya, menangkap Arlan dan menariknya ke belakang tubuhnya. Di sisi lain gerbang, mata Hendra berbinar licik melihat Arlan.
"Nah, itu dia! Tangkap dia, Pak Polisi! Dia pria gila yang kumaksud!" perintah Hendra.
Melihat wajah Hendra dari kejauhan, memori kelam di otak Arlan tiba-tiba berdenyut. Kilasan kayu besar yang menghantam kepalanya, suara tawa Hendra saat ia bersimbah darah, muncul kembali dalam bentuk mimpi buruk yang nyata. Arlan berteriak histeris. Ia mencengkeram pinggang Rayhan dari belakang, menyembunyikan wajahnya di punggung Rayhan.
"TIDAK! JANGAN! Monster itu! Dia yang memukul kepalaku! Tuan Tentara, tolong! Jangan biarkan dia membawaku! Arlan takut!" Arlan menangis tersedu-sedu, tubuhnya bergetar hebat hingga Rayhan bisa merasakannya melalui seragamnya.
Rayhan merasakan getaran itu. Ia merasakan ketakutan murni dari pria yang kini ia ketahui adalah adiknya sendiri. Rayhan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Hatinya seperti diiris sembilu. Pria yang seharusnya menjadi kebanggaan keluarga, pria yang seharusnya cerdas dan kuat, kini meringkuk seperti anak kecil yang trauma karena perbuatan pria di depan gerbang ini.
Dia saudaraku, batin Rayhan. Dia darah daging ayahku. Dan dia tidak tahu bahwa aku adalah kakak yang seharusnya melindunginya sejak dulu.
Rayhan berbalik sejenak, ia berlutut di depan Arlan agar mata mereka sejajar. Ia memegang kedua pipi Arlan dengan lembut. "Arlan, lihat aku. Lihat mataku. Selama kau berada di belakangku, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuhmu. Aku berjanji padamu sebagai seorang prajurit... dan sebagai seorang pria."
Arlan menatap mata Rayhan. Ia melihat kejujuran dan kekuatan di sana. "Tuan Tentara... kau janji? Kau tidak akan membiarkan monster itu memukulku lagi?"
"Aku janji," ucap Rayhan tegas.
Rayhan berdiri kembali, menghadap Hendra dan para polisi. Aura di sekitar Rayhan mendadak berubah menjadi sangat dingin dan mematikan.
"Tuan Hendra, kau bilang kau punya surat perintah?" Rayhan berjalan mendekati gerbang. "Dengar baik-baik. Surat ini dikeluarkan oleh pengadilan sipil Simla. Saat ini, Arlan adalah saksi kunci dalam penyelidikan internal militer yang sedang aku pimpin. Berdasarkan hukum darurat militer, saksi di bawah perlindungan tentara tidak bisa diambil oleh polisi sipil tanpa izin dari markas pusat. Sekarang, bawa suratmu itu dan pergi dari sini sebelum aku menahanmu atas tuduhan mengganggu tugas negara!"
Polisi yang mendampingi Hendra saling lirik dengan cemas. Mereka tahu melawan seorang Mayor di wilayahnya sendiri adalah bunuh diri karir. "Maaf, Tuan Hendra, kami tidak bisa memaksa jika ini urusan militer," ucap salah satu polisi sambil mundur.
Hendra merah padam. "Kau akan membayar ini, Rayhan! Kau melindungi sampah ini hanya karena kau ingin menyakiti perasaanku? Kau akan menyesal!"
Setelah mobil Hendra pergi, Vanya berlari keluar dan langsung memeluk Arlan. Arlan masih menangis, namun ia mulai tenang. Rayhan hanya berdiri diam, menatap mereka berdua. Ada rasa nyeri yang aneh di hatinya. Ia melihat istrinya memeluk pria lain dengan penuh cinta, namun ia tahu pria itu adalah adiknya yang malang.
Rayhan masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia langsung menuju kamar ibunya, Suman.
Suman sedang duduk di kursi goyangnya, tampak tenang namun matanya gelisah. "Kau sudah mengusir pria kasar itu, Rayhan?"
Rayhan berdiri di depan ibunya, menatapnya dengan pandangan yang membuat Suman merinding. "Kenapa Ibu membiarkan Hendra melakukan ini? Ibu tahu Arlan adalah putra Ayah, bukan?"
Suman tertegun. "Rayhan, jangan bicara omong kosong—"
"Cukup, Ibu! Aku sudah melihat foto itu. Aku sudah melihat bagaimana Arlan ketakutan melihat Hendra. Arlan tidak tahu bahwa dia adalah saudaraku. Dia memanggilku 'Tuan Tentara' dengan penuh harapan. Dia tidak tahu bahwa pria yang dia percayai ini adalah anak dari wanita yang menyebabkan ibunya menderita seumur hidup!" Rayhan berteriak dengan suara yang tertahan.
"Rayhan, dengarkan Ibu... ini semua demi kehormatanmu—"
"Kehormatan apa, Ibu?! Menelantarkan darah daging sendiri di jalanan sampai dia menjadi gila adalah sebuah kehormatan?" Rayhan tertawa getir. "Mulai hari ini, jangan pernah mencoba mengusir Arlan atau Ibu Sujati. Jika Ibu melakukan sesuatu pada mereka, Ibu tidak hanya akan kehilangan reputasi, tapi Ibu akan kehilangan putramu sendiri."
Malam harinya, Arlan sedang duduk di teras paviliun bersama Ibu Sujati. Ia sedang mencoba menerbangkan pesawat kertas yang dibuatkan Vanya. Arlan melihat Rayhan lewat dari kejauhan.
"Tuan Tentara! Tuan Tentara!" panggil Arlan sambil melambaikan tangan.
Rayhan berhenti dan mendekat. Arlan berlari ke arahnya dan tiba-tiba memberikan pesawat kertas itu kepada Rayhan. "Ini untukmu. Karena kau sudah mengusir monster tadi. Kau adalah pahlawan superku! Boleh aku memanggilmu Kakak Tentara?"
Rayhan terdiam. Kata "Kakak" itu menghantam jantungnya lebih keras daripada ledakan granat. Ia menatap wajah Arlan yang polos, yang sama sekali tidak menyimpan dendam, yang sama sekali tidak tahu bahwa mereka terhubung oleh darah yang sama.
Rayhan menerima pesawat kertas itu dengan tangan gemetar. "Tentu... kau boleh memanggilku apa saja, Arlan."
Arlan tertawa riang dan kembali ke pangkuan Ibu Sujati. Sujati menatap Rayhan dengan tatapan sedih. Ia tahu beban yang dipikul Rayhan. Ia tahu Rayhan sedang menanggung dosa orang tuanya sendirian.
Vanya keluar dari paviliun dan berdiri di samping Rayhan. Mereka berdua menatap Arlan yang sedang tertawa. "Dia sangat menyukaimu, Rayhan," ucap Vanya pelan.
"Aku tahu," jawab Rayhan singkat. "Dan itulah yang membuat semuanya terasa lebih berat, Vanya. Karena di balik tawanya, ada sebuah kebenaran yang bisa menghancurkan kita semua jika dia mengingatnya."