NovelToon NovelToon
Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: hairil

SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT

SINOPSIS SEASON 2

Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.

Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: MISTERI GUDANG TERUTUP DAN JANJI YANG TAK MUDAH

 

Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai kamar Putri, menyentuh wajahnya yang masih tampak lelah meski baru saja terbangun. Malam sebelumnya, dia menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyusun peta mental area pelabuhan dan mencatat kode-kode aneh yang dia lihat di dokumen pengiriman. Sebagai mantan mahasiswa hukum, dia tahu betul bahwa bukti tidak hanya datang dari rekaman suara atau surat perjanjian, tapi juga dari pola pergerakan dan catatan-catatan kecil yang sering diabaikan orang lain.

"Putri, sudah bangun?" Suara Nina terdengar dari balik pintu yang diketuk pelan. "Aku bawa sarapan dan ada kabar yang perlu kamu tahu."

Putri segera duduk dan merapikan tempat tidurnya. "Masuk, Nina."

Nina masuk dengan nampan berisi roti gandum, telur rebus, dan segelas susu hangat. Dia meletakkan nampan itu di meja kecil di dekat jendela, lalu duduk di tepi kasur dengan wajah yang agak serius.

"Apa yang terjadi, Nina? Ada masalah?" tanya Putri sambil mengambil sepotong roti, meski nafsu makannya masih kurang karena beban pikiran.

"Bukan masalah besar, tapi ini penting," jawab Nina pelan. "Tadi pagi aku mendengar percakapan antara Pak Hidayat dan beberapa orang kepercayaannya di ruang kerja. Mereka membicarakan pengiriman besar yang akan dilakukan dalam tiga hari lagi dari gudang tertutup yang kamu tanyakan kemarin di pelabuhan. Mereka menyebutnya 'Operasi Kencana'."

Putri berhenti mengunyah. Matanya membelalak sedikit. "Operasi Kencana? Apa itu?"

"Aku tidak tahu detailnya, tapi mereka terdengar sangat hati-hati. Mereka bilang semua penjaga akan digandakan, dan tidak ada orang luar yang boleh mendekat. Bahkan Pak Darmawan tampak sangat antusias dan ingin ikut mengawasi langsung," lanjut Nina. "Aku curiga... itu bukan sekadar pengiriman kayu biasa, Putri. Mungkin itu adalah barang selundupan besar, atau bahkan sesuatu yang lebih berbahaya."

Hati Putri berdegup kencang. Ini adalah kesempatan yang dia tunggu-tunggu. Jika dia bisa mengetahui apa yang ada di dalam pengiriman itu, dan membuktikan bahwa itu ilegal, itu bisa menjadi pukulan telak bagi Pak Hidayat. Tapi risikonya juga sangat besar. Area itu dijaga ketat, dan jika dia tertangkap, nasibnya dan Rara pasti hancur.

"Aku harus tahu apa itu, Nina," kata Putri tegas, menatap mata Nina. "Aku harus melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."

Nina menghela napas panjang, tampak khawatir. "Aku mengerti keinginanmu, Putri. Tapi ini terlalu berbahaya. Kamu baru saja mulai diterima di lingkungan ini. Jika kamu ketahuan mengintai operasi rahasia seperti itu, Pak Hidayat tidak akan segan-segan memberimu pelajaran keras. Apalagi Pak Darmawan juga ada di sana."

"Aku tidak akan bertindak bodoh," jawab Putri, berpikir cepat. Otak hukumnya mulai bekerja menyusun skenario. "Aku butuh rencana yang matang. Mungkin... aku bisa kembali ke pelabuhan dengan alasan tertentu. Mungkin aku bisa meminta Rizky mengajakku lagi?"

Nina menggeleng. "Rizky baru saja berangkat ke luar kota untuk urusan panti asuhan dan beberapa bisnis legalnya. Dia tidak akan kembali sampai lusa. Dan meskipun dia ada di sini, aku ragu dia akan mengizinkanmu mendekati area berbahaya itu lagi. Dia ingin melindungimu, ingat?"

Putri terdiam. Benar, Rizky sedang tidak ada di kota. Itu berarti dia tidak bisa mengandalkan bantuan atau perlindungan Rizky saat ini. Tapi di sisi lain, mungkin ini juga kesempatan karena Rizky tidak ada di sana untuk melihatnya mengambil risiko, dan dia tidak akan membuat Rizky kecewa atau terlibat masalah.

"Kalau begitu, aku harus pergi sendiri, atau mencari cara lain," kata Putri mantap. "Nina, tolong bantu aku. Aku butuh informasi tentang jadwal pengiriman itu, rute yang akan diambil, dan bagaimana sistem keamanannya beroperasi. Kamu tahu kan, sebagai istri calon penerus, aku punya hak untuk tahu hal-hal seperti ini, kan?"

Nina menatap Putri lama, lalu akhirnya mengangguk pelan, meskipun wajahnya masih penuh kekhawatiran. "Baiklah, Putri. Aku akan mencoba mencari informasinya. Tapi aku mohon, berjanjilah padaku kamu tidak akan melakukan sesuatu yang nekat. Keselamatanmu dan Rara adalah yang paling utama."

"Aku berjanji, Nina. Aku akan berhati-hati," jawab Putri, menggenggam tangan Nina sebagai tanda persetujuan.

Siang harinya, saat Putri sedang duduk di taman belakang kediaman, berpura-pura membaca majalah namun pikirannya terus memutar rencana untuk ke pelabuhan, dia melihat Bang Rio berjalan melewati taman dengan langkah cepat dan wajah yang tampak gelisah. Sejak pertama bertemu, Putri tahu bahwa Bang Rio adalah orang kepercayaan terdekat Pak Hidayat, tapi dia juga pernah melihat kilatan keraguan di mata pria itu saat melihat kekejaman bosnya.

"Bang Rio," panggil Putri pelan, memberanikan diri. Mungkin dia bisa mendapatkan informasi dari arah lain.

Bang Rio berhenti dan menoleh, sedikit terkejut melihat Putri. "Eh, Nona Putri. Ada yang bisa saya bantu?"

Putri berdiri dan tersenyum sopan. "Tidak ada yang penting, Bang. Saya hanya melihat Bapak tampak sibuk sekali. Apakah ada urusan mendesak dengan Pak Hidayat?"

Bang Rio tampak ragu sejenak, tapi kemudian menghela napas. "Begini, Nona. Memang ada urusan besar yang harus diselesaikan dalam beberapa hari ini. Pak Hidayat sedang sangat tegang karena ini menyangkut keberlangsungan banyak bisnis keluarga."

"Apakah itu berkaitan dengan pengiriman dari pelabuhan?" tanya Putri sehalus mungkin, berusaha terdengar hanya sekadar ingin tahu.

Mata Bang Rio sedikit melebar, terlihat terkejut bahwa Putri tahu tentang itu. "Nona tahu dari mana?"

"Saya hanya mendengar sedikit percakapan kemarin saat bersama Rizky," jawab Putri dengan kebohongan yang terencana. "Saya hanya khawatir, karena itu dulunya adalah bisnis orang tua saya. Saya harap semuanya berjalan lancar dan tidak ada masalah."

Bang Rio tampak sedikit lega, lalu mengangguk. "Tentu, Nona. Semuanya akan aman. Kami sudah menyiapkan keamanan yang sangat ketat. Pak Hidayat dan Pak Darmawan sendiri yang akan mengawasi langsung. Ini adalah pengiriman yang sangat penting, jadi tidak boleh ada satu pun kesalahan."

"Pak Darmawan juga ikut?" tanya Putri, pura-pura terkejut. "Saya pikir dia hanya mengurus hal-hal administrasi."

"Pak Darmawan punya andil besar dalam beberapa jalur distribusi, Nona. Jadi wajar jika dia ikut terlibat," jawab Bang Rio. "Maaf, Nona, saya harus segera pergi. Pak Hidayat memanggil saya."

"Tentu, Bang Rio. Terima kasih sudah berbicara dengan saya," ucap Putri.

Setelah Bang Rio pergi, Putri kembali duduk. Informasi yang dia dapatkan semakin menguatkan kecurigaannya. Jika Pak Hidayat dan Pak Darmawan sama-sama terlibat dan keamanan digandakan, pasti ada sesuatu yang sangat berharga atau ilegal di dalam pengiriman itu.

Sore harinya, Nina kembali dengan wajah yang sedikit pucat namun membawa informasi yang dicari Putri.

"Aku berhasil tahu, Putri," bisik Nina saat mereka berada di dalam kamar Putri, memastikan pintu terkunci rapat. "Pengiriman itu akan dilakukan pada hari lusa, dini hari pukul dua pagi. Mereka akan menggunakan tiga truk tertutup yang akan berangkat dari gudang belakang pelabuhan menuju ke tempat yang tidak tercatat di dokumen resmi. Aku juga mendengar bahwa mereka akan membawa pengawalan khusus."

"Dini hari pukul dua..." Putri mengulang, mencatat waktu itu di buku catatan kecilnya. "Itu waktu yang sangat sepi. Sangat cocok untuk mengirim barang yang tidak ingin dilihat orang lain."

"Aku juga mendengar ada desas-desus bahwa di dalam truk-truk itu tidak hanya berisi kayu, tapi juga barang-barang elektronik selundupan dan mungkin bahkan senjata," tambah Nina dengan suara bergetar. "Putri, ini sangat berbahaya. Jangan lakukan ini, kumohon."

Putri menatap Nina, lalu menutup buku catatannya. "Nina, jika ini benar adanya, maka ini adalah bukti yang sangat besar. Ini bisa menjatuhkan mereka. Aku tidak bisa membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja. Orang tuaku tidak akan mendapatkan keadilan jika aku takut mengambil risiko."

"Tapi bagaimana caranya? Kamu tidak bisa masuk ke sana begitu saja. Penjagaannya sangat ketat," kata Nina cemas.

"Aku punya rencana," jawab Putri perlahan. "Kamu bilang Rizky tidak ada di kota kan? Dan dia meninggalkan mobil dan beberapa aksesnya di sini?"

Nina mengangguk bingung. "Ya, kenapa?"

"Jika aku menggunakan mobil Rizky dan mungkin menggunakan alasan bahwa aku ingin memeriksa sesuatu atas nama Rizky, mungkin penjaga akan membiarkanku masuk setidaknya sampai area tertentu," teori Putri. "Mereka tahu aku calon istri Rizky. Mereka tidak akan berani menahanku secara kasar tanpa alasan yang jelas, takut membuat Rizky marah."

Nina memikirkan itu sejenak. "Itu mungkin bisa berhasil... tapi sangat berisiko. Jika mereka curiga atau jika Pak Darmawan melihatmu..."

"Aku akan berhati-hati," janji Putri. "Aku hanya perlu melihat sekilas, mengambil foto jika memungkinkan, atau melihat tanda pengenal pada truk-truk itu. Itu sudah cukup bagiku untuk memulai penyelidikan lebih lanjut nanti."

Malam sebelum hari pengiriman, Putri sulit tidur. Dia memeriksa ponselnya, memastikan kameranya berfungsi baik dan baterainya terisi penuh. Dia juga menyembunyikan pisau lipat kecil di dalam saku jaketnya, bukan untuk menyerang, tapi untuk rasa aman dan mungkin untuk memotong kawat atau terpal jika diperlukan. Dia berpakaian dengan pakaian gelap dan nyaman, siap untuk misi berbahayanya.

Pukul satu pagi, Putri bangun dengan tenang. Dia melihat Rara yang tidur nyenyak di kamar sebelah, lalu melirik foto orang tuanya. "Ayah, Ibu, tolong lindungi aku malam ini. Aku lakukan ini untuk kalian, dan untuk Rara," bisiknya pelan.

Dengan hati-hati, dia menyelinap keluar dari kamarnya. Rumah besar itu sunyi dan gelap, hanya diterangi lampu-lampu koridor yang redup. Dia berhasil sampai ke garasi tanpa terlihat oleh siapa pun. Di sana, mobil hitam mewah milik Rizky terparkir rapi. Nina sudah menyiapkan kuncinya dan bahkan memberikan kartu akses sementara yang bisa digunakan untuk masuk ke area tertentu di pelabuhan, meskipun bukan area terlarang.

"Berhati-hatilah, Putri," bisik Nina yang muncul dari bayang-bayang, wajahnya penuh kekhawatiran. "Aku akan menunggu di sini. Jika ada bahaya, segera hubungi aku."

"Terima kasih, Nina. Aku akan kembali secepatnya," jawab Putri, lalu masuk ke dalam mobil.

Perjalanan menuju pelabuhan terasa panjang dan mencekam. Jalanan sepi, dan hanya cahaya lampu jalan yang menemani Putri. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa takut dan semangat untuk menemukan kebenaran.

Sesampainya di gerbang utama pelabuhan, dua orang penjaga berjas hitam segera maju dan menghentikan mobilnya. Putri menurunkan kaca jendela mobil dengan tangan yang sedikit gemetar, namun dia berusaha menampilkan wajah yang tenang dan berwibawa.

"Siapa Anda? Apa urusan Anda di sini jam segini?" tanya salah satu penjaga dengan tegas, sambil menyorotkan senter ke dalam mobil.

"Saya Putri Aulia, calon istri Tuan Rizky Adinata," jawab Putri dengan suara yang tegas namun sopan. "Tuan Rizky meninggalkan sesuatu yang penting di gudang administrasi kemarin, dan dia meminta saya untuk mengambilnya sekarang karena dia butuh besok pagi. Dia sedang tidak di kota, jadi dia meminta saya untuk mengurusnya. Ini kartu aksesnya."

Putri menyerahkan kartu akses yang diberikan Nina dan juga menunjukkan ID sementara yang dia buat terlihat resmi. Penjaga itu melihat kartu itu, lalu menatap Putri dengan tatapan curiga, namun sepertinya nama 'Rizky Adinata' memiliki pengaruh yang besar.

"Tunggu sebentar, saya harus memeriksa dulu," kata penjaga itu, lalu berbicara melalui radio komunikasi di bahunya.

Putri menunggu dengan napas tertahan. Setiap detik terasa seperti satu jam. Dia takut penjaga itu akan menghubungi Pak Hidayat atau Pak Darmawan, dan rencananya akan gagal sebelum dimulai.

Beberapa menit kemudian, penjaga itu kembali dan mengangguk. "Anda boleh masuk, Nona. Tapi harap cepat, dan jangan pergi ke area selain gudang administrasi. Area lain sedang dalam pengamanan ketat."

"Terima kasih," ucap Putri, lalu mengendarai mobilnya perlahan masuk ke dalam area pelabuhan.

Dia memarkir mobilnya tidak jauh dari gudang administrasi, namun dia tidak langsung keluar. Dia menunggu di dalam mobil, matanya mengamati sekeliling. Pukul 1.45 pagi. Masih ada lima belas menit sebelum waktu pengiriman yang diperkirakan.

Putri melihat sekeliling, mencari tempat persembunyian yang baik. Dia melihat tumpukan peti kemas besar yang tidak jauh dari gudang tertutup yang dia lihat sebelumnya. Itu tempat yang sempurna untuk bersembunyi dan mengamati tanpa terlihat.

Dengan hati-hati, Putri keluar dari mobil dan berjalan membungkuk menuju tumpukan peti kemas itu. Angin malam bertiup kencang, membawa bau garam laut dan bau minyak diesel. Suara ombak yang menghantam dermaga terdengar samar-samar, bercampur dengan suara mesin genset yang berdengung.

Sesampainya di balik peti kemas yang besar, Putri mengintip ke arah gudang tertutup itu. Benar saja, area itu sangat ramai meskipun dini hari. Puluhan pria berjas hitam berdiri berjaga di sekeliling gudang, memegang senjata yang terlihat jelas di balik pakaian mereka. Beberapa truk besar tertutup terparkir di depan gudang, dan orang-orang sedang sibuk memuat barang-barang terakhir ke dalamnya.

Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di depan gudang. Pintu terbuka, dan Pak Hidayat keluar diikuti oleh Pak Darmawan. Mereka berdua tampak serius dan berbicara dengan beberapa pria yang tampak sebagai pemimpin tim keamanan.

"Pastikan semua rute aman. Tidak ada satu pun orang asing yang boleh lewat di jalur ini malam ini," suara Pak Hidayat terdengar tajam meskipun agak jauh dari tempat Putri bersembunyi.

"Tenang saja, Hidayat. Orang-orangku sudah menguasai semua titik pantau. Tidak ada yang akan tahu tentang pengiriman ini," jawab Pak Darmawan dengan senyum percaya diri. "Dengan uang dan barang dari pengiriman ini, kita bisa memperluas kekuasaan kita ke wilayah utara. Dan kamu bisa melupakan masalah dengan warisan keluarga Putri itu. Semua akan tertutup rapat."

Putri merasakan darahnya mendidih mendengar itu. Jadi pengiriman ini memang berkaitan dengan kejahatan mereka, dan bahkan mungkin berkaitan dengan tanah dan bisnis orang tuanya! Dia segera mengeluarkan ponselnya, mengaktifkan mode senyap, dan mulai mengambil foto dari jarak jauh. Meskipun gambarnya tidak terlalu jelas karena jarak dan cahaya yang minim, dia berhasil memotret truk-truk itu, wajah Pak Hidayat dan Pak Darmawan, serta tanda-tanda khusus pada truk.

 

atau melihat gerakan samar di balik peti kemas tempat Putri bersembunyi. Pria itu berjalan mendekat, matanya menyapu area itu dengan waspada, senter di tangannya menyala dan menyorot ke arah tumpukan peti.

Putri menahan napas, memelukkan tubuhnya seerat mungkin ke dinginnya besi peti kemas. Jantungnya seakan mau meledak, berdegup begitu kencang hingga dia takut pria itu bisa mendengarnya. Dia melirik pisau lipat di sakunya, tapi dia tahu dia tidak bisa melawan pria berbadan besar dan bersenjata itu. Jika dia tertangkap sekarang, semuanya akan berakhir—keadilan untuk orang tuanya, keselamatan Rara, dan masa depannya.

Langkah kaki itu semakin dekat. Suara gesekan sepatu bot di atas aspal terdengar jelas di telinga Putri. Bayangan pria itu semakin panjang, hampir menyentuh sepatu Putri.

Tiba-tiba, suara panggilan dari radio komunikasi pria itu memecah keheningan yang mencekam.

"Pemeriksa Posisi 4, lapor! Ada apa di sana? Kenapa berhenti?"

Pria itu berhenti tepat di samping tempat Putri bersembunyi. Putri bisa melihat ujung sepatu botnya di sudut matanya. Waktu seakan berhenti.

"Tidak ada apa-apa, Pak," jawab pria itu setelah beberapa detik yang terasa seperti abad. "Hanya angin yang meniup sampah dan membuat suara. Saya kira ada orang liar."

"Jangan lengah! Truk mau berangkat sebentar lagi. Kembali ke posmu sekarang!"

"Siap, Pak," jawab penjaga itu. Dia menendang sebuah kaleng kosong yang berguling di dekat sana dengan kesal, lalu berbalik dan berjalan kembali ke pos jaga di dekat gudang.

Putri menghela napas panjang, napas yang tertahan selama beberapa menit itu akhirnya keluar dengan gemetar. Keringat dingin membasahi punggungnya dan kakinya terasa lemas, hampir membuatnya melorot ke tanah. Dia hampir saja ketahuan. Nyawanya hampir melayang hanya dalam hitungan detik.

Dia menunggu beberapa menit lagi untuk memastikan situasi benar-benar aman, lalu dengan cepat mengeluarkan ponselnya lagi. Dia memotret beberapa tanda pengenal dan kode yang terlihat di pintu truk yang sudah tertutup rapat itu, serta merekam video pendek saat para pengawal bersiap bergerak. Risikonya sudah terlalu besar, dia harus mundur sekarang.

Dengan hati-hati, dia menyelinap kembali ke mobilnya, bergerak secepat dan senyap mungkin. Begitu dia duduk di dalam kursi pengemudi, dia membiarkan dirinya bernapas lega sejenak sebelum menyalakan mesin. Dia melaju keluar dari area pelabuhan secepat mungkin tanpa menarik perhatian. Saat gerbang pelabuhan tertutup di belakangnya, dia baru merasa bisa bernapas lega sepenuhnya.

Sesampainya di kediaman Adinata, Nina sudah menunggu di teras depan dengan wajah pucat pasi, gelisah mondar-mandir. Begitu melihat mobil Putri, dia segera berlari mendekat.

"Putri! Oh, Tuhan... kamu kembali selamat!" seru Nina, memeluk Putri erat-erat begitu dia turun dari mobil. "Aku sangat khawatir. Rasanya waktu berjalan sangat lambat sekali. Aku hampir ingin menjemputmu atau menghubungi Rizky."

"Aku baik-baik saja, Nina. Aku baik-baik saja," jawab Putri, suaranya masih bergetar karena sisa adrenalin dan ketakutan. Dia menunjukkan ponselnya pada Nina dengan tangan yang masih gemetar. "Lihat ini. Aku mendapatkannya. Aku melihat mereka, Nina. Pak Hidayat, Pak Darmawan, dan truk-truk itu. Mereka benar-benar menyembunyikan sesuatu yang besar dan ilegal. Aku bahkan mendengar mereka membicarakan warisan orang tuaku."

Nina melihat layar ponsel itu dengan mata terbelalak, melihat foto-foto buram namun cukup jelas dari truk dan wajah kedua bos mafia itu. "Ini... ini luar biasa, Putri. Tapi ini juga sangat berbahaya. Kamu harus menyembunyikan file-file ini di tempat yang sangat aman. Jangan sampai ada orang lain yang tahu kamu punya ini. Terutama Pak Darmawan, dia sangat licik."

"Aku tahu," kata Putri tegas. "Besok pagi, aku akan menyalinnya ke perangkat lain dan menyembunyikan aslinya. Tidak ada yang akan menemukannya."

Mereka berdua masuk ke dalam rumah dengan hati-hati, memastikan tidak ada orang yang terbangun atau melihat mereka. Putri kembali ke kamarnya, mengunci pintu rapat-rapat. Dia duduk di tepi kasur, menatap ponselnya dengan perasaan campur aduk antara lega, takut, dan penuh tekad. Dia telah mengambil langkah besar malam ini, tapi dia juga tahu bahwa dia telah menarik perhatian kekuatan gelap yang mungkin tidak bisa dia kendalikan nantinya.

Pagi harinya, suasana di kediaman Adinata tampak normal seperti biasa. Pelayan-pelayan sibuk bergerak kesana kemari, dan tidak ada tanda-tanda bahwa ada operasi besar yang terjadi semalam. Namun, Putri bisa merasakan ketegangan yang samar di udara. Saat dia turun untuk sarapan, dia melihat Pak Hidayat sedang duduk di ruang makan, membaca koran dengan tenang, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Namun, matanya yang tajam terlihat sedikit lelah dan ada aura kekerasan yang samar di sekitarnya.

"Selamat pagi, Putri," sapa Pak Hidayat saat melihatnya masuk. Suaranya terdengar biasa, tapi Putri bisa merasakan tatapan yang menilai, seolah sedang mencari-cari keanehan pada gadis itu. "Tidurmu nyenyak semalam?"

Putri menelan ludah, berusaha menampilkan senyum paling alami yang dia bisa, meski jantungnya berdegup kencang. "Selamat pagi, Pak Hidayat. Ya, tidur saya cukup nyenyak. Terima kasih."

Dia duduk di meja makan, mengambil roti dan selai, tapi suaranya terasa tercekat di tenggorokan. Dia takut setiap gerakannya akan terlihat mencurigakan.

"Bagus," kata Pak Hidayat singkat, lalu kembali fokus pada korannya. "Rizky akan kembali sore ini. Dia bilang dia membawa beberapa mainan untuk Rara. Anak itu memang selalu perhatian, meskipun kadang terlalu idealis untuk urusan bisnis keluarga."

Putri mengangguk pelan. "Ya... itu sangat baik dari dia."

Saat itu, pintu depan terbuka dan Pak Darmawan masuk dengan wajah yang tampak segar dan penuh semangat, seolah dia tidak begadang semalaman mengawasi pengiriman ilegal. Dia melihat Putri dan Pak Hidayat, lalu tersenyum lebar yang terlihat manis namun menyimpan duri.

"Wah, suasana pagi yang cerah! Selamat pagi, Hidayat. Selamat pagi, Putri cantik."

Putri merasa bulu kuduknya meremang saat melihat senyum itu. Dia tahu apa yang tersembunyi di balik senyum manis itu—kejahatan dan niat buruk yang bahkan mungkin lebih berbahaya dari Pak Hidayat.

"Selamat pagi, Pak Darmawan," balas Putri sopan namun dingin.

Pak Darmawan duduk di dekat Pak Hidayat, mengambil secangkir kopi yang disajikan pelayan. "Pengiriman kemarin berjalan lancar, Hidayat. Tidak ada hambatan sama sekali. Truk-truk sudah sampai di tempat tujuan dengan aman. Kita bisa bernapas lega untuk saat ini."

"Syukurlah," jawab Pak Hidayat dengan nada rendah. "Tapi tetap waspada. Tidak ada yang boleh tahu detailnya. Aku mendapat laporan bahwa ada penjaga yang merasa ada orang asing di area pelabuhan semalam, meskipun dia tidak melihat siapa itu."

Putri yang sedang meminum air putih hampir tersedak mendengar itu. Dia segera menaruh gelasnya dan pura-pura batuk pelan untuk menutupi kegugupannya.

Pak Darmawan tertawa kecil. "Ah, soal itu sudah saya urus. Penjaga itu mungkin hanya berhalusinasi karena kurang tidur. Lagipula, area itu dijaga ketat. Tidak mungkin ada orang luar bisa masuk dan keluar tanpa ketahuan. Tenang saja, Hidayat. Semua rahasia kita aman, termasuk soal masa lalu keluarga Aulia itu." Dia melirik Putri sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan. "Bukan begitu, Putri?"

Putri menatap mata Pak Darmawan tajam, menahan diri agar tidak menunjukkan ketakutan. "Saya tidak tahu apa yang Bapak maksud, Pak Darmawan. Saya hanya tahu bahwa bisnis kayu itu dulunya milik orang tua saya, dan saya berharap bisnis itu dikelola dengan baik dan jujur."

"Tentu saja, tentu saja," Pak Darmawan tertawa lagi, tapi matanya dingin. "Pasti begitu."

Setelah sarapan, Putri segera kembali ke kamarnya. Jantungnya masih berdegup kencang. Mereka hampir tahu—atau setidaknya Pak Darmawan mulai curiga. Dia harus lebih berhati-hati. Dia segera mengambil kartu memori cadangan dan menyalin semua foto dan video dari ponselnya ke sana, lalu menyembunyikan kartu memori itu di dalam patung hiasan kecil di kamarnya yang memiliki ruang rahasia di dasarnya. Ponselnya dia bersihkan dari jejak file-file itu setelah disalin, dan menyembunyikan ponsel itu di tempat tersembunyi lainnya di dalam lemari pakaiannya.

Siang harinya, Nina datang dengan kabar baru. "Putri, aku mendengar dari staf lain bahwa Pak Darmawan sedang menyelidiki siapa saja yang keluar masuk rumah semalam. Tapi untungnya, kita keluar lewat pintu samping yang jarang diawasi dan tidak ada CCTV di sana. Kamu aman untuk saat ini."

"Terima kasih, Nina," ucap Putri lega. "Kamu benar-benar penyelamat."

Sore itu, Rizky kembali ke rumah. Begitu melihat Putri, wajahnya yang tadinya lelah langsung bersinar. Dia berjalan mendekat dan memeluknya dengan hangat, sebuah pelukan yang terasa begitu nyaman dan aman bagi Putri, namun juga begitu menyakitkan karena rahasia besar yang dia simpan di balik punggung pria itu.

"Aku merindukanmu, Putri," bisik Rizky di telinganya, menciptakan getaran aneh di tubuh Putri. "Bagaimana kabarmu selama aku pergi? Apakah semuanya baik-baik saja? Apakah ada yang mengganggumu?"

Putri membalas pelukan itu sejenak, lalu melepaskannya dengan senyum yang dipaksakan namun tulus dalam kerinduan. "Aku baik-baik saja, Rizky. Rara juga baik. Dia senang sekali kamu akan membawakannya mainan."

Rizky tersenyum, lalu menatap wajah Putri dengan tatapan penuh perhatian, tangannya mengusap lembut pipi gadis itu. "Kamu terlihat sedikit lelah dan pucat. Apakah ada sesuatu yang mengganggumu? Atau mungkin latihan sopan santun dengan Nina terlalu melelahkan?"

"Tidak, tidak. Aku hanya kurang tidur semalam, itu saja," jawab Putri jujur sebagian, tapi menyembunyikan alasan sebenarnya. Dia menatap mata Rizky yang teduh. "Mungkin karena menunggu kamu pulang."

Rizky tertawa pelan, terlihat terhibur dan tersentuh. "Ah, jadi kamu merindukanku ya? Aku juga merindukanmu, Putri. Sangat."

Dia tidak menyadari bahwa di balik senyum Putri, ada beban berat yang dipikulnya. Dia tidak tahu bahwa wanita yang dia cintai telah menyusup ke dalam rahasia gelap keluarganya semalam, dan memegang bukti yang bisa menghancurkan ayahnya sendiri dan seluruh dunia tempat dia tinggal.

Putri menatap mata Rizky, dan untuk kesekian kalinya, rasa bersalah menghantamnya keras. Dia sedang bermain api. Dan dia takut, cepat atau lambat, dia akan terbakar, dan mungkin juga akan membakar pria yang berdiri di depannya ini yang tidak bersalah.

"Rizky," panggil Putri pelan, suaranya hampir tak terdengar.

"Ya?" jawab Rizky lembut, menatapnya penuh harap.

"Tidak... tidak ada. Hanya... aku senang kamu sudah pulang," kata Putri, menelan kata-kata kebenaran yang sebenarnya ingin dia ucapkan. Dia tidak bisa memberitahunya sekarang. Belum.

Malam itu, Putri berbaring di kasurnya, memikirkan kejadian semalam dan interaksinya hari ini. Dia telah maju selangkah dalam rencananya untuk keadilan, tapi dia juga merasa semakin terjebak dalam labirin kebohongan dan bahaya. Dia tahu, langkah selanjutnya akan lebih berisiko, dan dia harus lebih pintar dari sebelumnya. Perang yang sebenarnya baru saja dimulai, dan dia harus memastikan dia keluar sebagai pemenang—untuk orang tuanya, untuk Rara, dan mungkin... untuk Rizky juga.

 

[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Putri berhasil mendapatkan bukti penting namun nyaris tertangkap, dan sekarang dia harus menyembunyikan semuanya dari Rizky yang sangat baik padanya. Menurutmu, apakah Putri sudah melakukan hal yang benar dengan menyusup sendirian, atau dia seharusnya menunggu waktu yang lebih aman? Dan bagaimana menurutmu nasib bukti itu selanjutnya?

1
Iril
semoga suka
Iril
halo KK mohon atas dukungannya saya penulis pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!