Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN PENGGANTI
Waktu seolah berlari tanpa memberi kesempatan bagi siapa pun untuk mengatur napas. Dua minggu telah berlalu sejak vonis pahit itu dijatuhkan di kamar rumah sakit. Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan bagi keluarga besar Fardiansyah dan Erwin pun tiba. Kediaman Erwin, yang juga merupakan tempat Arumi tinggal, kini telah bersulih rupa menjadi istana sehari yang megah.
Dekorasi bunga lili putih dan mawar merah menghiasi setiap sudut ruangan. Sebuah pelaminan nan megah dengan ukiran emas berdiri cantik di ruang utama, menunggu pasangan pengantin yang akan bersanding di sana. Para tamu undangan, yang terdiri dari kolega bisnis hingga pejabat penting, sudah memenuhi kursi-kursi yang disediakan. Mereka berbisik-bisik penuh antusias, menanti momen sakral ijab kabul yang akan segera dilaksanakan.
Di tengah ruangan, Ariya yang biasa duduk di kursi roda. Kali ini ia duduk di kursi kayu berukir di depan meja segiempat. Wajahnya pucat, namun rahangnya terkatup rapat, menyembunyikan badai yang berkecamuk di dalam dadanya. Di hadapannya, seorang pria berpeci hitam dengan buku nikah di atas meja menatapnya dengan senyum tenang.
"Baiklah, karena semua wali dan saksi telah berkumpul, bagaimana kalau kita mulai saja acara ijabnya? Bagaimana Pak Erwin, apakah Anda setuju?" tanya Ustadz Bahri, sang penghulu, memecah kesunyian yang tegang.
Erwin, yang duduk di samping meja, mengangguk perlahan meski gurat kecemasan tampak jelas di matanya. "Saya setuju, Ustadz Bahri. Silakan dimulai saja acaranya."
"Alhamdulillah. Kalau begitu, sebaiknya dipanggil dulu mempelai wanitanya, Pak. Biar acaranya segera kita mulai dengan khidmat," saran Ustadz Bahri lagi.
Erwin menoleh ke arah istrinya yang duduk tak jauh dari sana. "Rina, tolong panggilkan anak kamu, Lusi. Katakan padanya ustadz sudah siap."
Rina mengangguk dan baru saja hendak berdiri dari kursinya. Namun, gerakannya terhenti seketika saat seorang wanita paruh baya berlari kencang dari arah tangga dengan wajah yang sangat pucat.
"Pe... permisi Pak, Bu... Non Lusi... anu... Non Lusi dia... dia..." Bi Karti terengah-engah, suaranya gemetar hebat hingga kalimatnya terputus-putus.
Erwin berdiri dengan perasaan tidak enak yang menyergap jantungnya. "Ada apa dengan Lusi, Bi Karti? Katakan yang jelas! Jangan terbata-bata begitu!"
Bi Karti menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya sanggup bicara. "Non Lusi kabur, Pak! Kamarnya kosong dan dia meninggalkan surat ini di atas meja rias!"
Suasana yang semula penuh khidmat seketika pecah oleh kegemparan. Seluruh tamu undangan mulai saling pandang dan berbisik kencang. Erwin dan Ariya tersentak, wajah mereka berubah kaku secara bersamaan.
"Apa!" teriak mereka hampir serentak.
"Bagaimana mungkin dia kabur? Ini adalah acara yang selalu dia rencanakan dengan ambisius!" Erwin menyambar kertas di tangan Bi Karti dengan kasar. Matanya menyisir barisan kalimat di surat itu dengan amarah yang memuncak.
Isi surat itu bagaikan sembilu yang menyayat harga diri keluarga besar yang hadir di sana:
Mama, Papa. Saat surat ini kalian baca, aku sudah pergi jauh. Maaf aku harus melakukan ini, karena aku tidak mau menikah dengan laki-laki cacat! Bagaimana bisa aku yang cantik dan terhormat ini harus bersanding dengan pria lumpuh? Aku tidak mau jadi bahan cemoohan orang-orang selamanya. Jangan cari aku, atau kalian tidak akan pernah melihatku lagi.
"Dasar anak kurang ajar! Bisa-bisanya dia menghancurkan nama baik keluarga disaat seperti ini!" umpat Erwin, tangannya gemetar menahan geram.
Ariya, yang sejak tadi hanya menyimak dengan tatapan kosong, akhirnya angkat bicara. Suaranya terdengar dingin dan tajam. "Berikan surat itu padaku, Om. Aku ingin membacanya sendiri."
Erwin ragu sejenak, wajahnya dipenuhi rasa bersalah. "Tapi Nak, surat ini tidak pantas kamu baca. Isinya hanya emosi sesaat yang..."
"Maaf, Om, tapi ini menyangkut hidup saya dan martabat saya sebagai pria," potong Ariya dengan nada bicara yang tidak bisa dibantah. "Berikan surat itu sekarang."
Dengan tangan gemetar, Erwin menyerahkan kertas itu. Ariya membacanya dalam diam. Setiap kata "cacat" dan "lumpuh" dalam surat itu terasa seperti tamparan keras di wajahnya. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Namun, ia tidak berteriak. Ia hanya meremas kertas itu hingga tak berbentuk lagi.
Fardiansyah, ayah Ariya, yang duduk tak jauh dari sana, segera mengambil remasan kertas itu dan membacanya. Wajahnya berubah merah padam. Amarahnya meledak seketika.
"Apa-apaan ini? Sudah bikin malu, dia malah berani menghina anakku sebagai lelaki cacat!" seru Fardiansyah dengan suara menggelegar. "Aku tidak terima penghinaan ini, Erwin! Aku beri kamu waktu tiga puluh menit untuk menemukan putrimu. Jika tidak, aku tidak peduli, Arumi harus menjadi pengantin penggantinya!"
Erwin terperangah, keringat dingin mengucur di pelipisnya. "Tenang dulu, Fardi. Aku minta maaf atas kelakuan Lusi. Aku akan perintahkan semua anak buahku untuk mencari..."
"Mas! Jangan lakukan itu!" sela Rina dengan nada mendesak. "Kamu tidak dengar ancaman Lusi? Dia akan menghilang selamanya kalau kita mencarinya! Lebih baik kita turuti saja kemauan mereka. Biarkan Arumi yang menggantikan posisi Lusi!"
Rina melirik ke arah Arumi yang duduk di barisan belakang dengan wajah tenang namun waspada.
"Lagipula, mereka pasti cocok. Seorang pasien lumpuh dirawat oleh dokternya sendiri, bukankah itu terdengar romantis?" lanjut Rina dengan nada yang terdengar sangat tidak berperasaan. "Daripada kalian menanggung malu di depan semua tamu ini, lebih baik nikahi saja mereka berdua sekarang."
Wajah Erwin mengeras mendengar saran istrinya. "Apa kau bilang? Kau menyuruh Arumi menggantikan anak kandungmu yang tidak bertanggung jawab itu? Ada hak apa kau mengatur hidup Arumi?"
"Saya justru sangat setuju kalau Arumi menjadi menantu saya," timpal Heny, ibu Ariya, tiba-tiba. "Arumi jauh lebih santun, cantik, dan lembut. Tidak seperti Lusi yang sama sekali tidak punya sopan santun! Saya lebih memilih Arumi menjadi istri anak saya."
Arumi yang sejak tadi diam, akhirnya tidak tahan lagi. Ia berdiri dengan sikap tegak dan berwibawa. "Maaf, Tante, Om. Tapi saya yang tidak bersedia menjadi pengantin pengganti."
Mendengar penolakan itu, wajah Fardiansyah berubah menjadi sangat dingin. "Oh, jadi kamu menolak, Arumi? Baiklah. Kalau begitu, mulai hari ini namamu akan saya blacklist dari seluruh jaringan rumah sakit milik keluarga saya. Dan jangan salahkan saya jika saya memutuskan semua kontrak kerja sama dengan perusahaan ayahmu. Pertemanan puluhan tahun ini berakhir di sini!"
Ancaman itu menghantam ruangan seperti bom. Erwin terduduk lemas, menatap sahabat lamanya dengan tatapan tak percaya. "Fardi, kenapa jadi begini? Kita sudah berteman sejak sekolah. Masa hanya karena ini kamu menghancurkan segalanya?"
Fardiansyah tidak menjawab. Ia memberikan isyarat pada asistennya untuk memutar kursi roda Ariya, bersiap untuk pergi dari acara yang berantakan itu. Namun, langkah mereka terhenti saat suara Arumi kembali terdengar, kali ini lebih rendah namun tegas.
"Tunggu, Om," ujar Arumi. Nafasnya berat, ia menatap ayahnya yang tampak hancur, lalu menatap Ariya yang tetap bergeming. "Baiklah. Saya bersedia menikah dengan Ariya."
Heny menghembuskan napas lega, namun kalimat Arumi belum selesai.
"Tapi dengan satu syarat," lanjut Arumi tajam. "Dalam waktu tepat satu tahun dari sekarang, kami harus bercerai. Tanpa tuntutan apa pun."
Heny menutup mulutnya dengan tangan, terkejut. "Astaghfirullah, Nak. Kenapa bicaranya sudah soal cerai padahal belum mulai?"
"Aku setuju!"
Suara Ariya memotong semua perdebatan. Pria itu menatap Arumi dengan sorot mata penuh kebencian sekaligus tantangan yang sulit dibaca.
"Oke, satu tahun," ulang Ariya dengan nada datar yang mengerikan. "Satu tahun kita jalani sandiwara ini, lalu kita kembali ke jalan masing-masing. Deal?"
Arumi mengangguk mantap. "Deal."
"Apa?" bisik Heny tak percaya, menatap kedua calon pengantin itu dengan perasaan waswas yang luar biasa.
Suasana kembali sunyi. Penghulu segera merapikan kembali buku nikahnya, sementara para tamu undangan terpaku melihat takdir yang baru saja bertukar peran dalam hitungan menit. Pernikahan yang didasari rasa sakit hati dan dendam itu pun dimulai.
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra