Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi
Entah betapa kecewanya Ibuku ketika mendengar kalimat itu terucap dari mulut Anaknya, rasanya perjuangan ketika mengandung hingga membesarkan anak hingga sebesar ini hanyalah perjuangan yang sia sia. Hati seorang Ibu mana yang tidak sakit ketika kalimat itu terucap dari Anaknya, dan bahkan dia masih hidup dan masih bisa berdiri didepan Anaknya.
Ibuku juga tidak bisa berkata apa apa, bahkan menantunya sendiri juga telah berani kepadanya, dan bahkan ia juga tega mengatakan hal tersebut kepada Ibuku. Iparku mampu tinggal disana hanya karena dia sudah menikah dengan Kakakku, andai saja dirinya belum menikah mungkin saja dia tidak akan pernah tinggal disana.
Hanya seorang menantu saja tega mengatakan hal seperti itu kepada mertuanya, mungkin saja Anaknya bisa jauh lebih parah daripada menantunya. Mereka semua yang hadir disana juga mendengarnya dengan jelas, tapi mereka semua seolah olah pura pura tuli dan fokus memisahkan pertengkaran itu.
"Dimatamu selalu tentang Indira, terus saja bela dia. Terus saja penting in Indira Indira Indira terus," Ucap Kakakku yang didalam nadanya seakan akan tengah cemburu kepadaku.
"Kalau aku tidak membela dia, terus siapa yang akan membela dia? Dia masih belom nikah dan sudah sepantasnya aku membela dia, sedangkan dirimu sudah punya suami dan suamimu mesti membelamu."
"Nggak nggak, memang aku bukan anakmu. Aku tidak punya Ibu sepertimu,"
"Terserah."
Kakakku memang seperti cemburu kepadaku entah apa yang membuatnya merasa sedemikian rupanya, padahal yang ku tahu sejak kecil Ibuku selalu mengutamakan dirinya, dan bahkan ketika dirinya sudah memiliki anak pun Ibuku selalu mementingkan anak anaknya daripada diriku.
Waktu Kakakku masih gadis, Ibuku selalu mementingkan dirinya daripada diriku karena aku masih kecil sementara Kakakku sudah bisa diajak tukar pendapat. Waktu itu ketika belum lulus SMP Kakak sampai mogok makan hanya karena ingin menikah dengan lelaki yang ia temui di SMP tersebut, sehingga Ibuku bingung harus berbuat apa.
Kakakku mogok makan hingga mengurung dirinya didalam kamar tanpa makan dan minum, padahal masa depannya masih panjang dan kedua orang tuaku masih sanggup untuk membiayai sekolahnya untuk masuk di SMA. Ibu mencoba untuk terus membujuknya agar dia mau melanjutkan sekolahnya, tapi justru dirinya mengatakan bahwa aku saja yang disekolahkan sampai SMA, dan yang terpenting dirinya bisa menikah dengan lelaki pilihannya.
Hingga pada akhirnya aku disekolahkan oleh Ibuku hingga tamat SMA, dan aku sama sekali tidak diperbolehkan untuk kenal dengan lelaki manapun agar tidak menganggu pendidikanku. Oleh karenanya hingga detik ini aku sama sekali tidak pernah pacaran dengan siapapun itu, dan aku harus lebih fokus pada pendidikanku.
Tapi justru hal itu disalah artikan oleh Kakakku, Kakak menganggap bahwa aku tidak mau pacaran karena aku mengincar suaminya itu. Padahal didalam pikiranku sama sekali tidak pernah ada perasaan menyukai atau hanya sekedar mengagumi, kagum saja tidak sama sekali bagaimana bisa aku menyukainya.
Ibuku tidak mengizinkanku pacaran hanya karena takut jika aku mengikuti jejak Kakakku yang mogok makan hanya demi seorang lelaki, dan lebih memilih menikahi lelaki itu daripada sebuah pendidikan yang sangat penting bagi masa depan. Oleh karenanya dia mengancamku kalau sampai dekat dengan lelaki maka ia tidak akan memberikan uang jajan untukku, dan menghentikan pendidikanku.
Disekolahan juga banyak yang mencoba untuk mendekatiku dengan berbagai macam caranya, tapi justru diriku langsung berlari ketakutan ketika didekati oleh lelaki, bahkan ada yang sering membelikan ku jajanan ketika istirahat. Justru niat baik lelaki itu aku tolak karena tidak ingin pacaran, dan aku kembalikan uang kepada mereka sebagai biaya ganti rugi terhadap makanan itu.
Selama sekolah aku lebih fokus untuk mencari pengalaman sekaligus mencari sertifikat dengan mengikuti berbagai macam kegiatan, sehingga fokus ku itu membuatku lupa terhadap menyukai lawan jenis bahkan berpacaran. Sama sekali tidak ada waktu untuk melakukan itu, dan aku juga tidak ingin memberi harapan kepada siapapun.
Kakak terus saja menuduhku yang bukan bukan dan bahkan tuduhan itu sama sekali tidak pernah aku lakukan, termasuk merayu suaminya hingga tidur dengannya. Daripada tidur dengan lelaki seperti itu, mending sekalian aja menjadi LC karena bisa dapat uang menurutku.
Lelaki macam apa seperti itu, bahkan tempat tinggal saja merebut tempat milik orang lain, bukanya bertanggung jawab kepada istrinya soal tempat tinggal justru mengusir mertuanya sendiri dari rumah. Amit amit bisa suka dengan lelaki seperti itu, minat saja tidak kok bisa bisanya dituduh sudah tidur bareng sama orang seperti itu.
Sama sekali tidak ada orang yang membela kami berdua, apakah nilai sebuah kebenaran sama sekali tidak ada artinya? Didunia ini ketidak adilan lah yang diutamakan oleh orang orang yang egois. Orang orang playing victim lah pemenang utamanya, ditambah dengan orang orang yang manipulatif yang suka membalikkan kenyataan hingga menjadi sebuah kebohongan karena mulut mereka.
Aku sangat benci mereka semua, aku tidak akan pernah kembali kedalam keluarga seperti itu dan bahkan jika aku mati sekalipun itu. Mereka semua menyalahkan diriku, mereka semua buta akan kebenarannya, mereka semua tuli akan kejujurannya, dan mereka yakini apa yang tengah mereka lihat dengan mata tanpa tau bahwa mata dan telinga mampu salah melihat atau mendengar.
"Biarkan Riri saja tinggal disini, Riri bisa nyelametin (kirim doa berubah nasi kotak ) Ayahnya." Ucap Nenekku yang seolah olah mengusirku dari rumah itu.
"Loh jangan remehkan Indira, dirinya juga bisa. Bahkan penghasilan lebih banyak dari pada Candra ( suami Riri ) sendiri," Teriak Ibuku yang tidak terima aku direndahkan oleh mereka.
Semua orang berteriak kepadaku dan juga Ibuku, mereka semua membela Kakakku dan Kakak Iparku, dan mengatakan bahwa akulah penjahatnya dalam cerita mereka. Riri berpura pura bahwa perutnya merasa sakit akibat tendangan ku, padahal aku tau betul akan tenaga yahg aku keluarkan.
"Sudah, kalo terus begini bagaimana bisa tenang. Indira sebaiknya dibawa pergi saja," Ucap Tanteku yang rumahnya berada disebelah rumahku.
"Ini rumahku, yang bangun adalah orang tuaku dan orang tua dari Ibuku. Kalian sama sekali tidak membantu apa apa," Ucapku dengan penuh emosi.
"Nggak usah nge hak i apa apa disini, rumah ini milik anak terakhir dan bukan dirimu. Disana masih ada anak lain yang berhak atas rumah ini,"
"Anak lain? Anak selingkuh Ayahku kan? Emang dia punya hak apa disini?"
Suasana makin memanas disana, dan bahkan anak selingkuhan dari Ayahku terus di unggul unggulkan. Bahkan anak itu sama sekali tidak pernah berbuat apa apa kepada keluarga tersebut, dia masih sangat kecil untuk mengerti tentang semua ini, dan dia sendiri juga tidak berhak atas harta yang dimiliki oleh keluargaku karena dia lahir tidak memiliki nasab Ayahku.
Semua orang rasanya tengah mengusirku dari rumah ku sendiri, kejadian ini terjadi setelah lebaran tahun 2023 dan masih musim liburan kerja atau sekolah. Tanggal 2 Juni 2023 mereka mengusirku keluar dari rumahku sendiri, aku masih sangat ingat dengan jelas apa yang mereka katakan dan membuatku sangat sakit hati.
"Semua sudah tidak menginginkan kita lagi, Dira. Ayo pergi dari sini," Pungkas Ibuku sambil menangis sesenggukan.
"Aku masih punya hak disini,"
"Nggak usah nge hak i rumah ini, Bunda yakin suatu saat kamu pasti akan dapat yang lebih baik dari ini. Ayo pergi Nak, manut ya sama Bunda, buat apa bertahan dirumah seperti ini," Ibuku memelukku dengan sangat erat.
"Bunda,"
"Hanya kamu satu satunya yang Bunda miliki, tolong mengertilah Nak,"
Suara rintihan tangisan itu sangat menyiksa batinku, aku tidak pernah melihat Ibuku menangis seperti itu dan bahkan ia sama sekali tidak pernah memanggilku dengan sebutan 'Nak' kecuali hari ini. Aku tidak akan pernah lupa bahwa darah Ibuku telah menetes ditempat itu, perkataan perkataan yang sangat menyakitkan, dan juga perjuangan yang sia sia.
"Baiklah. Tapi ingat, sekali aku melangkah pergi aku tidak akan pernah kembali untuk selamanya kecuali adanya kematian disini. Mulai hari ini, detik ini juga bagiku kalian semua sudah mati. Mulai sekarang hubungan keluarga ini putus sampai disini," Ucap ku sambil menyeka air mataku, percuma jika menangis hanya untuk orang orang seperti itu.
"Loh kok gitu, Nak." Ucap Kakekku sambil meneteskan air mata mendengar ucapanku.
"Jika nantinya aku mati sekalipun, aku tidak akan pernah mengizinkan kalian semua menginjakkan kaki ditanah pemakamanku. Aku akan menuntut kalian semua di akhirat kelak atas apa yang kalian lakukan kepadaku, tunggu sampai pengadilan yang paling adil itu terjadi,"
Semua hanya bisa diam membisu mendengarkan ucapanku dan beberapa dari mereka yang tadinya unjuk suara keras kerasan denganku pun membungkam. Hingga pada akhirnya semuanya diam, tidak ada suara sama sekali yang terdengar oleh kedua telingaku.
"Pamitan sama mereka, kita akan pergi," Ucap Ibuku.
"Mereka nggak layak,"
"Ayo Dira, untuk terakhir kalinya."
"Aku nggak mau, Bunda."
Bahkan rasanya tanganku sangat sulit untuk digerakkan walau hanya untuk berpamitan kepada mereka, tapi Ibuku terus memaksa untuk mengajakku menjabat tangan mereka sebagai salam perpisahan.
"Ya Allah, Engkau Maha Mendengar dan Mengetahui apa yang terjadi." Ucapku keras, sengaja memang aku keraskan.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari sana saat itu juga, aku tidak ingin lagi mendengar suara suara berisik dari mereka. Semenjak kakiku melangkah pergi dari rumah tersebut, rasanya alam sangat mendukungku dan mengirim sebuah angin semilir yang sangat menyejukkan hati, dan rasanya kakiku sangat ringan sehingga tidak ada suatu hal yang memberatkan bagiku.
Mungkinkah ini kebebasan yang selama ini aku nantikan? Akhirnya diriku bisa bebas dari orang orang seperti mereka, dan tidak akan ada lagi rasa sakit yang selama ini aku rasakan didalam keluarga itu. Bahkan selama ini aku merasa bahwa aku hanyalah orang asing disana, dan aku sama sekali tidak merasakan apa itu kasih sayang sebuah keluarga.
Dari sinilah kisahku dimulai
######awal kisah(pov selesai)######
*Bunda jika suatu saat Dira sudah tidak tahan, maafkan Dira ya Bunda karena tidak bisa mengontrol diri Dira sendiri* Indira lalu mengirimkan pesan kepada Ibunya.
Indira tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya nanti, Indira hanya bisa meminta maaf sebelum semuanya terjadi kepada siapapun itu. Indira hanya takut jika ia terus terusan berada diposisi seperti ini maka ia bisa kehilangan kendali atas dirinya, sebelum itu semuanya terjadi ia meminta maaf terlebih dahulu kepada Ibunya atas segala hal yang akan terjadi kedepannya nanti.
Siapa yang bisa tahan jika tinggal dirumah seperti itu, bahkan dirinya sendiri juga dijelek jelekkan didepan orang lain, difitnah sana sini hingga banyak orang yang membenci dirinya. Tinggal ditempat seperti itu lama lama juga pasti bisa kehilangan kendali atas dirinya sendiri, dan tidak akan ada yang sanggup untuk menahan penderitaan seperti itu dengan sekian lamanya.
Tring...
*Kamu kenapa Dira?* Balasan dari pesan tersebut di ponsel Indira.
*Nggak papa kok, Bunda. Cuma takut kehilangan kendali atas diriku sendiri, dan jika itu terjadi maka maafkanlah Dira ya. Dira juga tidak bisa berbuat apa apa,*
*Bunda selalu percaya sama Dira, jika itu yang terbaik buat Dira maka lakukanlah saja,*
*Terima kasih Bunda.*
Mendengar jawaban dari Ibunya itu, hal tersebut langsung membuat Indira merasa tenang, setidaknya dirinya meminta maaf terlebih dahulu sebelum semuanya terjadi. Indira sendiri sudah benar benar tidak tahan berada didalam rumah itu, apalagi dirinya tidak punya siapa siapa untuk dipertahankan dirumah tersebut karena merasa bahwa semua orang menjauhinya.
"Dira! Dira!" Teriak seseorang memanggilnya.
"Kenapa Nek?" Tanya Indira ketika mengetahui siapa yang memanggilnya.
"Makan dulu, udah matang loh," Ucap Neneknya.
"Iya."
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.