NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Pertarungan melawan Bandit Gila.

Gerbang kota gurun itu menjulang seperti rahang raksasa dari batu pasir. Obor-obor kristal biru di kiri-kanan berkedip malas, seolah tak peduli pada teriakan warga yang baru saja diculik.

Dua prajurit penjaga berdiri sambil bersandar pada tombak, wajah mereka setengah mengantuk.

Party Chika datang berlari, napas berat, pasir beterbangan di belakang kaki mereka.

Marvin menatap lurus ke depan. Rahangnya mengeras.

“Buka gerbang.”

Salah satu penjaga mengangkat tangan malas.

“Hei, hei… surat izin masuk?”

Beatrix langsung maju setengah langkah, matanya menyala kuning.

“Izin masuk kepala ayahmu! Kau nggak lihat warga diculik barusan?!”

Penjaga kedua menguap.

“Bukan urusan kami. Urusan kota.”

Udara di sekitar Marvin seperti mengeras.

Ia melangkah maju… satu langkah… dua langkah…

Tangannya mencengkeram kepala dua penjaga itu sekaligus.

Tubuh mereka terangkat dari tanah.

“Apa maksudmu… bukan urusan kalian?”

Nada suaranya rendah, bergetar.

“Jadi kalau aku remukkan kalian sekarang… itu urusanku?”

“L-lepaskan kami!!”

Chika buru-buru mengangkat tangan.

“Nonono, Marvin—”

Marvin menoleh setengah, mata merah menyala.

“…kita perlu masuk.”

Ia mengayunkan kedua kepala itu…

DUK!

Kedua penjaga jatuh pingsan ke pasir seperti karung gandum.

Chika menghela napas.

“…Baiklah. Masuk paksa, ya.”

Ia menoleh ke semua.

“Teman-teman. Kita selamatkan warga… dan Nayla.”

Princess di pundak Marvin mengangkat tongkat baseball kecilnya.

“MAJU!”

“YAA!!”

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ KEJARAN DI DALAM KOTA GURUN

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Jalan utama kota diterangi lentera kuning. Pasar malam masih terbuka—dan mendadak berubah jadi medan perang.

VRRROOOOM!!

Bandit bermotor muncul dari tikungan, motor pasir mereka melayang rendah seperti serangga baja.

“Target di depan! Hajar!”

Chika langsung berlari sambil mengangkat perisai Lumina.

“Lumina Dash!”

Ia meluncur seperti cahaya, menabrak motor pertama dengan perisai.

BRAK!!

Motor terbalik, pengendaranya terpental ke tumpukan karung rempah.

MK.99 terbang di atas mereka.

Bahu terbuka.

WHRRR—CLICK

“Mode pengejaran.”

“Blue Lance Barrage.”

Laser biru menghujani jalanan, memotong roda motor satu per satu.

TZZZT—TZZZT—!!

Motor jatuh terguling seperti mainan rusak.

Selena meluncur dari bayangan ke bayangan.

Ia mengusap darah di jarinya.

“Crimson Step.”

Tubuhnya bergerak zig-zag di udara, memotong tali pengikat bandit dari motor mereka.

Bandit jatuh berguling.

Vivi melempar jamur ungu ke jalan.

“Maaf… jalannya licin ya.”

“Toxic Bloom.”

Jamur meledak jadi kabut ungu.

Bandit yang menabraknya langsung jatuh dari motor sambil batuk-batuk.

Marianne mengangkat pedang barunya.

Lubang-lubang bilahnya menyala.

VRRRRRRR—

“Rocket Cleaver: Highway Mode!”

Booster menyala biru.

Ia terbang rendah menyapu jalan, tebasannya memuntahkan misil mini.

FWOOOSH—FWOOOSH—!!

Motor bandit meledak jadi percikan api di belakangnya.

“AHAHA!! AKU PESAWAT SEKARANG!!”

Beatrix mengaktifkan senjatanya.

Hologram kuning raksasa muncul di belakangnya.

“Awakening: Plasma Curtain.”

Ia menggeser pistol ke samping.

BZZZZZZ—!!

Dinding plasma menyapu satu barisan bandit sekaligus, menjatuhkan mereka seperti boneka.

Emila mengangkat kedua pedang emasnya.

“Golden Spiral.”

Ia berputar di udara, pedangnya membentuk lingkaran cahaya yang menebas senjata bandit tanpa menyentuh warga.

Marvin berlari paling depan.

Princess duduk di pundaknya sambil menunjuk.

“Yang itu! Yang itu!”

Marvin melompat.

“Titan Leap!”

Ia mendarat di depan motor bandit terakhir.

Bandit itu mengerem mendadak.

“WO—!”

Marvin mengayunkan sarung tangan raksasanya.

“Stone Fist.”

Motor itu terbang dan menabrak kios buah.

Princess mengangkat tongkat baseballnya.

“STRIKE!”

PAK!!

Tongkatnya menghantam helm bandit yang tersisa.

Semua motor jatuh.

Jalan utama penuh debu, api kecil, dan suara barang dagangan runtuh.

Chika berdiri di depan, napas terengah.

“…kita makin dalam.”

Marvin mengepalkan tangan.

“Dan mereka makin dekat ke Nayla.”

Princess menatap lurus ke jalan menuju pusat kota.

“Aku… dengar suara orang nangis dari sana…”

Angin malam berembus di antara bangunan batu.

Dan jauh di depan…

menara pusat kota berdiri seperti bayangan tak menyenangkan.

Perburuan baru saja dimulai.

Angin gurun menyapu jalanan kota terbuka itu, membawa bau debu, rempah, dan… sesuatu yang amis.

Chika berlari paling depan. Di belakangnya, Princess masih duduk di pundak Marvin sambil memeluk tongkat baseball seperti tombak kecil. Vivi terengah sambil memegang keranjang jamurnya, MK.99 melayang rendah dengan mesin berdengung halus, sementara Emila, Selena, Marianne, dan Beatrix bergerak menyebar otomatis membentuk formasi setengah lingkaran.

Lalu—

Mereka berhenti mendadak.

Delapan orang berdiri menghadang di tengah alun-alun pasar.

Ada yang berbadan sebesar beruang dengan palu berduri, ada yang memakai topeng tengkorak dengan senjata berbentuk cambuk listrik, ada pula yang membawa meriam tangan seperti tabung besi.

Di belakang mereka…

pintu-pintu rumah terbuka satu per satu.

DUK—DUK—DUK

Lebih dari lima puluh bandit keluar, mendorong warga ke tengah jalan.

“Jalan! Cepat!”

“Jangan lihat ke belakang!”

Beberapa warga tersandung dan jatuh. Debu beterbangan.

Marvin membeku.

Otot lengannya menegang.

Urat di lehernya terlihat jelas.

Princess menutup mulutnya.

“Mereka… nyeret orang-orang…”

Chika melangkah maju satu langkah. Perisai Lumina berkilau.

“LEPASKAN MEREKA!!”

Suaranya menggema di antara bangunan batu.

“MEREKA TIDAK BERSALAH APA-APA!!”

Salah satu dari delapan pemimpin, pria tinggi dengan mantel merah kusam, tertawa mengejek.

“Hei, muka polos.”

Ia mengayunkan pedangnya ke bahu sendiri.

“Berani bikin keributan di kota Nona Triani? Aku akan habisi kalian di sini.”

Bandit-bandit tertawa.

“Hah?”

Pemimpin lain menyeringai sambil menunjuk Princess.

“Kalian cuma segelintir… dan bawa anak kecil? Konyol.”

Chika menggertakkan gigi.

“Apa tujuan kalian menculik warga?!”

Pemimpin bermantel merah menjilat bibirnya.

“Makanan.”

Sunyi sedetik.

“Mereka akan dimakan Triani.”

Ia tertawa kecil.

“Parade tanpa daging manusia itu hambar. Nayla sedang menyiapkan… acar kaktus campur daging elf.”

Selena membeku.

Matanya melebar.

Tangannya gemetar.

“Aku…”

Ia menekan dadanya.

“Aku vampir. Aku minum darah…”

Ia menatap para bandit.

“Tapi yang kalian lakukan…”

Suaranya berubah dingin.

“…MENJIJIKKAN. TAK BERMORAL. DAN MELANGGAR SEGALA HUKUM.”

Tanah di bawah kakinya bergetar pelan.

WHUUUM…

Bayangan merah gelap merayap di sekeliling Selena. Dari punggungnya, sepasang sayap kelelawar darah terbentuk perlahan.

Princess menatap kagum.

“Wah…”

Selena terangkat ke udara.

Dari tanah, kabut darah tipis mengalir ke tubuhnya seperti sungai kecil cahaya merah.

Matanya berubah merah tua hampir hitam.

“Aku akan memberi kalian… hadiah.”

Tangannya terangkat.

“Blood Art: Oblivion Sphere.”

Di antara telapak tangannya, terbentuk bola darah besar, berdenyut seperti jantung.

Bandit-bandit panik.

“MENYEBAR!!”

Mereka melompat ke samping, ada yang bersembunyi di balik kios, ada yang meluncur ke atap.

Selena melempar.

FWOOM—!!

Bola itu menghantam tanah di tengah alun-alun.

Gelombang merah gelap meledak menyapu area.

Beberapa bandit terpental, senjatanya terlempar.

Yang lain membeku di tempat, terjebak dalam kristal darah seperti patung.

Marvin mengepalkan tangan.

“Selena…”

Di udara, MK.99 melayang sejajar dengan Selena.

Matanya bersinar biru.

“Unit MK.99 memanggil pasukan penjaga Havenload.”

Dari belakang mereka…

WHRRRRR—

Portal mekanik terbuka.

Satu per satu, robot MK muncul:

berlapis baja putih-biru, membawa tombak laser dan perisai energi.

“MK.99 tidak suka melihat kanibal hidup.”

Ia mengangkat pedang futuristiknya.

“Sistem komandan: aktif.”

Robot-robot itu serempak mengangkat senjata.

CLACK—CLACK—CLACK

Pemimpin bandit mundur setengah langkah.

“Apa-apaan ini…”

Chika mengangkat pedang Lumina.

“Teman-teman…”

Ia menatap warga yang gemetar di belakang bandit.

“Kita rebut mereka kembali.”

Emila menyilangkan dua pedang emasnya.

“Dengan kehormatan.”

Marianne memutar pedang roketnya, lubang-lubangnya mulai bersinar biru.

“Dengan ledakan.”

Beatrix memutar pistolnya sambil menyeringai.

“Dengan gaya.”

Princess mengangkat tongkat baseball.

“Dengan… STRIKE!”

Marvin melangkah maju.

Setiap langkahnya membuat pasir bergetar.

Bandit-bandit menelan ludah.

Di bawah cahaya lentera kota gurun,

dua pasukan saling menatap.

Dan pertempuran sesungguhnya…

baru akan dimulai.

...----------------...

Pasukan mereka menyebar seperti pecahan cahaya.

Chika langsung melompat ke sisi kanan alun-alun, menghadang salah satu dari delapan pemimpin bandit—seorang pria tinggi dengan zirah hitam retak dan tombak petir berbilah ganda. Ujung tombaknya mengeluarkan kilatan listrik merah, berderak seperti ular marah.

Pria itu menyeringai.

“Heh… kesatria kecil dengan mainan bercahaya? Aku pemotong petir dari Triani. Kau mati pertama.”

Chika mengangkat perisai Lumina. Cahaya biru memantul di wajahnya.

“Aku tidak peduli gelar apa pun. Aku hanya tahu satu hal…”

Ia mengangkat pedangnya.

“…kau menghalangi jalanku.”

Angin gurun berputar ketika mereka bergerak bersamaan.

CLAAANG!!

Tombak bandit menghantam perisai Lumina. Percikan petir merah dan biru meledak seperti kembang api.

Chika terdorong mundur setengah langkah, kakinya menggesek pasir.

“Berat…!”

Bandit itu memutar tombaknya dan menebas horizontal.

“Lightning Cleaver!”

Garis listrik merah menyapu udara.

Chika meloncat ke belakang, tubuhnya memutar di udara.

Perisainya menggeser serangan itu—

ZZRAAK!!

Sebagian bangunan batu di belakangnya retak.

Chika mendarat dengan satu lutut. Napasnya cepat.

“Kalau aku terus bertahan… aku bakal tertekan…”

Ia mengepalkan pedangnya.

“Lumina—”

Pedang itu bersinar lebih terang.

“Thunder Step!”

Chika menghilang dalam kilatan biru, muncul di sisi kiri lawan. Ia menebas cepat.

SLASH!

Bandit itu menahan dengan batang tombaknya.

“Cepat… tapi kurang berat!”

Ia mendorong Chika mundur dan menghantam tanah.

BOOM!

Petir merah menyebar seperti jaring.

Chika melompat tinggi, memutar tubuhnya.

“Lumina Guard!”

Perisai menyerap sebagian listrik, tapi lengannya bergetar hebat.

“Ghh…!”

Dari kejauhan, Emila yang sedang bertarung sambil mengamati, menyipitkan mata.

“…Chika terlalu fokus bertahan.”

Ia menghela napas, lalu mengangkat tangannya.

“Sudah waktunya.”

Di udara, cahaya emas putih terbentuk seperti senjata.

WHOOSH!

Sebuah busur besar berwarna emas-putih meluncur ke arah Chika, berputar anggun di udara.

“Chika!” teriak Emila.

“Terima Lumina baru itu!”

Chika menoleh.

“Hah?!”

Ia menangkapnya refleks.

Busur itu terasa ringan… tapi penuh tenaga.

Tulisan cahaya muncul di permukaannya:

LUMINA BOW — MODE: STORM ARCHER

“Busur…?”

Bandit tertawa.

“Kau ganti mainan? Mati tetap mati!”

Ia melompat tinggi dan menusuk dari atas.

Chika berguling ke samping, pasir beterbangan.

Ia menarik tali busur.

Cahaya petir putih-biru membentuk anak panah raksasa.

Princess, yang bersembunyi di balik puing bangunan, menatap dengan mata berbinar.

“Chika…”

Tiba-tiba dadanya terasa panas.

Segel di dadanya berpendar biru.

“…Eh?”

Cahaya biru lembut keluar dari tubuh Princess, seperti kabut bercahaya.

Angin berubah arah.

Energi itu mengalir ke Chika.

Chika terkejut.

“Princess?!”

Suara kecil Princess bergetar.

“A-aku nggak sengaja… tapi… aku mau bantu…”

Busur Lumina menyala lebih terang.

Tulisan baru muncul:

SYNC: GURIAL TEMPEST

Chika menelan ludah.

“Kalau begitu… kita lakukan bersama.”

Ia menapakkan satu kaki ke belakang, tubuhnya condong.

“Lumina Bow—”

Anak panah membesar, membentuk pusaran petir biru di ujungnya.

“SKY TEMPEST ARROW!”

Ia melepaskan.

FWWWWOOOOOM—!!!

Panah petir meluncur seperti komet biru, menyapu pasir dan udara.

Bandit mencoba menahan dengan tombaknya.

“PETIR MERAH—!”

Dua energi bertabrakan.

BOOOOOM!!!

Cahaya biru menelan merah.

Gelombang angin menyapu alun-alun.

Ketika debu mereda—

Bandit itu terlempar dan menghantam tembok batu, terkapar tak bergerak, tombaknya pecah menjadi dua.

Chika berdiri terengah-engah, busur masih bergetar di tangannya.

Princess terduduk di tanah, matanya membulat.

“Aku… bercahaya?”

Chika berlari dan memeluknya sebentar.

“Kau luar biasa.”

Princess tersenyum malu.

“Hehe…”

Chika berdiri lagi, menoleh ke medan perang lain.

“Masih ada tujuh…”

Pedang Lumina berubah kembali ke bentuk pedang.

Matanya menyala biru.

“Giliran berikutnya.”

...----------------...

Vivi melangkah menjauh dari pusat pertempuran, kakinya nyaris tak menimbulkan suara di atas pasir. Keranjang jamurnya bergoyang pelan di punggungnya. Senyumnya—yang selalu lembut hingga matanya tertutup oleh kelopak—tidak pernah berubah.

Di hadapannya berdiri salah satu pemimpin bandit Griffin: pria berzirah tulang dengan topeng paruh burung dan kapak bergerigi. Di sekelilingnya, pasir berwarna kemerahan karena darah para korban.

“Perempuan kecil dengan keranjang?” ejeknya. “Menyerahlah. Aku pemotong sayap Griffin.”

Vivi menunduk sedikit, rambut coklatnya yang panjang sampai pinggang terayun ke depan.

“Terima kasih sudah menunggu,” katanya pelan, suaranya hampir seperti bisikan angin. “Aku harus… menanam sesuatu dulu.”

Ia mengetuk tanah dengan ujung sepatunya.

TUK.

Tanah bergetar.

Retakan ungu gelap menjalar seperti urat nadi, lalu—

KRAAAK—

Sebuah pohon aneh muncul dari pasir, batangnya berkilau seperti kayu yang direndam tinta malam. Daun-daunnya ungu tua, berdenyut seirama detak jantung. Dari dahan-dahannya menggantung buah-buah ungu seukuran kepala manusia.

Bandit itu mundur setengah langkah.

“Apa-apaan ini…?”

Vivi menengadah ke pohon itu, tersenyum lebih lebar.

“Terima kasih, Kaden,” ucapnya lembut. “Berkah Labose… masih hidup.”

Satu buah jatuh.

PLUK.

Buah itu retak seperti telur.

Dari dalamnya merangkak keluar makhluk yang mirip Vivi—rambut coklat, senyum tertutup mata, tubuhnya tersusun dari cahaya ungu dan jaringan akar tipis.

Lalu buah kedua jatuh.

Dan ketiga.

Dan keempat.

Dalam hitungan detik, lima ‘Vivi’ berdiri berjejer, semuanya tersenyum sama persis.

Bandit itu terhuyung.

“Ini… ini tidak mungkin…”

Vivi melangkah maju, tangannya di dada.

“Kau tahu apa yang paling lucu?” katanya.

“Aku bukan penyerang.”

Ia menunjuk ke arah pohon.

“Aku… penjaga.”

Mata bandit itu membelalak.

“…Havenload?”

Nama itu keluar dari mulutnya seperti kutukan.

“Penginapan abadi di pulau legendaris… penjaganya… makhluk Labose…”

Vivi mengangguk kecil.

“Benar. Aku penjaga penginapan Havenload.”

“Satu tugas: memastikan tamu yang rakus… tidak pulang.”

Bandit berteriak dan mengayunkan kapaknya.

“Jangan meremehkanku!!”

Ia melompat, kapaknya mengarah ke kepala Vivi.

Namun Vivi tidak bergerak.

Klon-klon Labose bergerak lebih dulu.

FSSSH—

Dua klon memanjang seperti akar, melilit kaki bandit.

KRAK!

Ia jatuh tersungkur.

Klon ketiga dan keempat membuka mulutnya—bukan mulut manusia, tapi rongga penuh cahaya ungu.

“Devour.”

Suara mereka bersatu.

Tubuh bandit itu diselimuti akar bercahaya, dagingnya ditarik ke dalam jaringan Labose seperti makanan yang ditelan perlahan.

“AAAAA—!”

Suaranya teredam, berubah jadi gema pendek.

Vivi berjalan mendekat, menatap tanpa membuka matanya.

“Tenang,” katanya lembut.

“Kau akan jadi nutrisi yang baik.”

Klon terakhir—yang paling besar—menelan bagian atas tubuh bandit itu.

SHLOORP.

Hanya zirah kosong yang tersisa, jatuh ke pasir.

Pohon Labose berdenyut… lalu perlahan layu, berubah menjadi debu ungu yang tertiup angin.

Klon-klon Vivi melebur kembali ke tubuhnya.

Vivi berdiri sendirian lagi.

Keranjang jamurnya masih di punggung.

Senyumnya masih sama.

Ia menoleh ke arah medan perang utama, rambut panjangnya berkibar tertiup angin panas gurun.

“…Satu pemimpin hilang,” gumamnya.

“Silakan… lanjutkan perburuan.”

Dan dengan langkah ringan, penjaga penginapan abadi itu berjalan pergi, meninggalkan pasir yang kini sunyi—tanpa satu pun bandit Griffin tersisa di sana.

...----------------...

Pasir di sekitar Marvin dan Selena masih berasap oleh sisa ledakan sihir darah tadi. Dua pemimpin bandit berdiri di depan mereka:

yang satu bertubuh besar dengan gada berduri, yang lain kurus tinggi dengan senjata rantai berapi.

Selena terhuyung.

Sayap vampirnya—yang tadi megah—perlahan memudar menjadi bayangan merah gelap. Nafasnya berat, dadanya naik turun cepat. Tangan kanannya gemetar saat menahan tombak darahnya.

“Selena…” Marvin menoleh, alisnya mengerut. “Kau kehabisan tenaga?”

Selena memaksakan senyum.

“…Ascend Vampir… butuh banyak darah… terlalu banyak…”

Pemimpin bandit tertawa kasar.

“Haha! Vampir kelelahan? Bagus! Kita hancurkan mereka sekarang!”

Mereka maju bersamaan.

DUUM!

Gada menghantam tanah, pasir meledak ke udara.

Rantai berapi menyapu seperti cambuk raksasa.

Marvin melompat ke depan, berdiri di antara Selena dan serangan.

KLANG!!

Gada menghantam sarung tangan raksasanya. Tanah retak di bawah kakinya, tapi Marvin tidak mundur.

“Selena!” teriak Marvin tanpa menoleh.

“Kalau kau butuh darah… ambil sedikit dariku.”

Selena terkejut.

“A-apa?! Marvin, itu—”

Marvin menjulurkan tangan besarnya ke arahnya. Otot lengannya menegang, urat-uratnya berkilau kehijauan samar.

“Darahku darah ogre setengah manusia,” katanya.

“Kalau itu bisa membuatmu berdiri lagi… pakai saja.”

Selena menatap tangan itu beberapa detik. Wajahnya memerah, bukan karena malu saja—tapi karena aroma darah Marvin terasa berbeda… kuat, hangat, seperti besi yang dipanaskan matahari.

“…Kau aneh,” gumamnya pelan.

Ia memegang pergelangan tangan Marvin dan menempelkan bibirnya sebentar.

TSSS…

Hanya seteguk kecil.

Tubuh Selena langsung bereaksi.

Aura merah gelap meledak dari punggungnya. Sayap vampirnya muncul lagi, lebih tajam dan lebih besar. Rambutnya terangkat oleh tekanan energi.

Matanya berubah merah terang.

“…Ini… darah ogre?” bisiknya.

“Kuat… dan… anehnya… cocok denganku…”

Marvin mengedip.

“Eh… cocok?”

Selena tersenyum, taringnya terlihat.

“Aku memang suka laki-laki ogre… atau setengah ogre.”

Marvin: “…Hah?! Sekarang bukan waktu ngomongin itu!”

Bandit besar mengaum dan menyerang lagi.

“MATI KALIAN!!”

Selena melompat ke udara.

SAYAP—FLAP!

“Baiklah,” katanya dingin.

“Putaran kedua.”

Ia membentangkan tangan.

“Crimson Dominion.”

Dari tanah, lingkaran sihir darah muncul. Darah yang tercecer tersedot, berubah menjadi tombak-tombak merah gelap.

Pemimpin dengan rantai berapi mencoba melompat mundur.

“Crimson Spear: Rainfall!”

Tombak darah jatuh seperti hujan meteor kecil.

TUK! TUK! TUK!

Rantai itu terpotong, senjatanya terlepas, tubuhnya tertancap di pasir.

Pemimpin bandit besar mengangkat gada dua tangan.

“Kalau begitu aku hancurkan kalian berdua sekaligus!”

Marvin maju satu langkah.

“Giliran aku.”

Ia menurunkan tubuhnya, kaki menghentak pasir.

“Ogre Drive.”

Sarung tangan raksasanya bersinar hijau pucat.

Ia melesat.

BOOOM!!

Pukulan Marvin menghantam dada bandit besar itu. Udara di sekitarnya pecah seperti kaca. Tubuh musuh terangkat, terlempar menabrak bangunan batu.

Selena menyusul dari atas.

“Blood Fang Guillotine!”

Ia berputar di udara, membentuk sabit darah raksasa dan menebas dari atas ke bawah.

SHRAAAK!!

Debu dan pasir beterbangan. Bangunan runtuh sebagian.

Ketika asap menghilang, dua pemimpin bandit itu sudah tak bergerak—satu tertancap tombak darah, satu tertanam di dinding batu dengan bekas hantaman brutal.

Selena mendarat di samping Marvin, napasnya sudah stabil.

“…Terima kasih,” katanya pelan.

Marvin menggaruk kepala.

“Eh… sama-sama.”

Selena menatapnya lebih lama dari biasanya, senyum kecil muncul di bibirnya.

“Darahmu… membuatku lebih kuat.”

“Dan… kau makin menarik.”

Marvin tersedak.

“H-heh?! Fokus perang dulu, Selena!”

Dari kejauhan terdengar suara pertempuran lain: ledakan senjata Marianne, plasma Beatrix, teriakan bandit yang tersisa.

Selena membuka sayapnya lagi.

“Ayo,” katanya.

“Kita habisi sisanya.”

Marvin mengepalkan tinju.

“Ya. Untuk warga desa.”

Mereka melesat kembali ke medan perang—

vampir berdarah ogre

dan petarung raksasa

berdampingan, seperti dua badai yang berjalan bersama.

...----------------...

Di sisi lain medan perang, jauh dari tempat Marvin dan Selena bertarung, area reruntuhan benteng bandit berubah menjadi lautan api dan puing.

Langit kelabu tertutup asap hitam. Bara api beterbangan seperti kunang-kunang neraka.

Di tengahnya berdiri Marianne.

Pedang barunya menempel di punggungnya seperti sayap mekanik. Bilahnya panjang dan tebal, penuh ukiran rune api. Di sisi pedang terdapat laras-laras kecil berbentuk tabung, tersusun seperti sisik naga.

Di gagangnya, terdapat lubang pendorong roket biru yang terus menyala pelan.

FSSSHHH…

Marianne menarik napas panjang. Dadanya naik turun perlahan.

Tangannya sedikit gemetar—bukan karena takut, tapi karena adrenalin.

“Ini…” bisiknya,

“…pertama kalinya aku pakai ini di medan perang sungguhan.”

Di depannya berdiri salah satu pemimpin bandit:

bertubuh tinggi, berjubah hitam-merah, wajahnya tertutup topeng besi dengan simbol tengkorak terbakar. Di tangannya ada tombak besar berantai, ujungnya menyala seperti magma.

“Jadi kau Hero kedua, ya?” suara bandit itu terdistorsi oleh topeng.

“Pedang mainan tak akan menolongmu.”

Marianne mengangkat pedangnya perlahan. Mata emasnya menyempit.

“Bukan mainan,” katanya dingin.

“Ini… akhir ceritamu.”

Bandit itu menghentakkan tombaknya ke tanah.

BOOOOM!!

Lingkaran api meledak dari bawah kakinya, menyapu ke arah Marianne.

Marianne melompat.

Tubuhnya berputar di udara, mantel birunya berkibar.

Saat ia mengayunkan pedang—

“Ignis Booster: First Slash!”

Lubang roket di gagang pedang menyembur cahaya biru terang.

FSSSSHHH—!!

Dorongan roket mempercepat ayunan pedang berkali-kali lipat. Tebasan api membelah gelombang api bandit itu seperti kain tipis.

SHRAAAK!!

Tanah terbelah. Api terpotong dua.

Bandit itu melompat mundur.

“Kecepatan aneh…!”

Marianne mendarat, lututnya sedikit menekuk, lalu berdiri tegak. Wajahnya serius, tapi matanya berkilau.

“Kalau cuma itu,” katanya,

“kau tak pantas disebut pemimpin.”

Bandit menggeram dan melempar tombaknya.

Tombak berantai itu berputar di udara, seperti naga api melingkar.

Marianne memutar pedangnya.

“Blaze Guard!”

Ia menancapkan pedang ke tanah.

KLANG!

Perisai api berbentuk segi enam muncul di depannya. Tombak menghantam perisai itu dan memantul dengan percikan api besar.

KRRASH!!

Marianne menarik pedangnya lagi, lalu mengangkatnya ke arah langit.

“Mode tembak…” gumamnya.

Tabung-tabung di sisi bilah pedang terbuka.

KLIK—KLIK—KLIK!

Cahaya merah menyala di dalamnya.

Bandit itu membelalak.

“Apa itu—?!”

Marianne mengayunkan pedang ke depan.

“Volcanic Barrage!”

Dari bilah pedang, ratusan misil kecil api melesat keluar.

FWOOOSH—FWOOOSH—FWOOOSH!!

Langit seakan dipenuhi hujan bintang api.

Bandit itu berlari zig-zag, rantainya menciptakan dinding api sebagai perisai.

BOOM! BOOM! BOOM!

Ledakan beruntun menghancurkan tanah di sekitarnya. Batu beterbangan. Asap tebal menutup pandangan.

Di balik asap, Marianne maju.

Langkahnya pelan… tapi pasti.

Booster pedangnya menyala lagi.

“Ignis Booster: Second Drive!”

Ia melompat tinggi, memutar tubuh di udara seperti komet biru.

Bandit itu mendongak.

“Terlalu terbuka!”

Ia menusuk ke atas.

Marianne memutar tubuhnya di udara, pedangnya menyapu ke bawah dengan sudut miring.

“Meteor Cleaver!”

FSSSSHHH—BOOOOM!!

Dorongan roket dan elemen api menyatu dalam satu tebasan raksasa.

Tanah retak dalam garis panjang. Api meledak ke samping.

Bandit itu terlempar, tubuhnya menghantam tembok reruntuhan.

KRASH!!

Ia berdiri terhuyung.

“…Hero sialan…”

Marianne mendarat dengan satu lutut, lalu berdiri. Nafasnya berat. Keringat mengalir di pelipisnya. Tapi ekspresinya… tegas.

“Aku bukan Hero untuk dipuja,” katanya.

“Aku Hero untuk menghentikan monster sepertimu.”

Bandit itu mengangkat tombaknya sekali lagi, tapi tangannya gemetar.

Marianne mengangkat pedang, tabung misil kembali terbuka, api berkumpul di bilahnya.

“Final Art…”

Booster di gagang menyala lebih terang dari sebelumnya.

“Thousand-Rocket Severance.”

Dalam satu ayunan, ribuan misil api keluar bersamaan dengan satu tebasan utama.

FWOOOOOOOOOSH!!!

Langit berubah merah-oranye.

Ledakan berlapis menyelimuti tubuh bandit itu.

BOOOOOOOOM!!!

Ketika asap menghilang…

pemimpin bandit itu berlutut, tombaknya hancur menjadi logam meleleh.

Ia jatuh ke depan, tak bergerak.

Marianne menurunkan pedangnya perlahan.

Api di sekitarnya mereda.

Ia berdiri di tengah reruntuhan, siluetnya diterangi cahaya api yang tersisa. Rambutnya berkibar tertiup angin panas.

Hero kedua telah membuktikan dirinya.

Marianne menutup mata sebentar.

“…Satu lagi selesai,” bisiknya.

Dari kejauhan, suara pertempuran lain masih terdengar.

Ia mengangkat pedangnya ke bahu, tatapannya kembali tajam.

“Sekarang… siapa berikutnya?”

...----------------...

Di bagian lain benteng yang sudah setengah runtuh, suasananya berbeda total.

Bukan ledakan besar.

Bukan hujan api.

Melainkan… sunyi yang aneh.

Angin berdesir di antara menara pengawas yang patah. Debu beterbangan seperti salju coklat.

Di salah satu atap reruntuhan berdiri Beatrix.

Ia memanggul pistol besar futuristik berwarna coklat tua, panjangnya hampir seperti meriam pendek.

Di tengah badan pistol itu, sebuah bola sihir kuning melayang dan berputar sendiri, memancarkan hologram tipis berbentuk lingkaran rune.

Bzzzzzz—wom—wom—

Beatrix mengedipkan mata, lalu menepuk-nepuk sisi senjatanya.

“Tenang, sayang… jangan overheat dulu. Lawannya masih satu orang doang.”

Dari menara seberang, muncul pemimpin bandit lainnya.

Jubahnya panjang, matanya satu tertutup kain hitam.

Di tangannya: sniper raksasa dengan ukiran kepala burung.

Ia mengisi peluru perlahan.

KLIK… KRAK…

Peluru itu… berbentuk gigi Griffin, besar, melengkung, dan berkilau seperti tulang suci.

“Hero kecil,” katanya datar.

“Sekali tembak… tamat.”

Beatrix menyipitkan mata.

“…Hah. Serius?”

Ia mendongak ke langit, pura-pura mikir.

“Bro, kamu bawa gigi burung buat nembak orang? Kamu ini dokter gigi atau pembunuh bayaran?”

Bandit itu tidak tertawa.

Ia membidik.

FWWWW—

Peluru gigi Griffin melesat, menembus udara dengan suara siulan tajam.

Beatrix menjerit:

“WOI—?!”

Ia meloncat ke samping, terguling di tanah, mantel debunya berkibar.

KRAAAK!!

Tembok di belakangnya jebol, berlubang besar seperti digigit monster.

Beatrix berdiri, debu di rambutnya.

“…Oke. Itu sakit hati banget.”

Ia mengangkat pistolnya. Bola sihir di tengahnya berputar cepat, memproyeksikan hologram lingkaran target di udara.

“Mode: Plasma Hologram…

warna: KUNING TERANG BIAR NORAK.”

Bandit sniper membidik lagi.

“Kau terlalu ribut.”

Beatrix menarik pelatuk.

“Spam dulu, mikir belakangan!”

BZZZZZT—FWOOOOSH—FWEEEEE!!

Puluhan tembakan plasma hologram kuning keluar sekaligus.

Pelurunya transparan, seperti cahaya padat, tapi ketika menghantam tembok—

PAP! PAP! PAP!

Meledak kecil-kecil, meninggalkan bekas hangus berbentuk simbol aneh.

Bandit itu meloncat turun dari menara, menghindari tembakan sambil menembak balik.

FWWWW—

Beatrix berlari zig-zag.

“Eh, jangan gigi kamu arahkan ke aku! Itu jorok tau?!”

Peluru Griffin menghantam tanah di sampingnya.

KRAAASH!!

Beatrix meloncat ke balik pilar patah.

Napasnya terengah. Ekspresinya berubah:

bukan takut…

tapi kesal dan ngakak campur jadi satu.

“…Ogre, vampir, roket…

dan sekarang aku dilawan sama tukang gigi burung.”

Ia menempelkan punggung ke pilar, lalu mengintip.

Bandit itu sedang reload peluru gigi lagi, ekspresinya dingin.

Beatrix mengangkat senjatanya pelan-pelan.

“Mode… pantul absurd.”

Bola sihir di pistolnya berdenyut.

WOOOM—

Ia menembak ke tembok samping, bukan ke musuh.

BZZZT!

Peluru plasma memantul.

PAP!

Memantul lagi.

PAP!

Lalu mengenai lantai di depan bandit itu.

“?!”

Plasma kuning meledak kecil tepat di kakinya.

Bandit itu terpental, jatuh terduduk.

Beatrix keluar dari balik pilar sambil tertawa.

“HAHA! Kena prank fisika, bang!”

Bandit bangkit dengan marah.

“Berhenti bercanda!”

Ia membidik langsung ke kepala Beatrix.

Beatrix berhenti tertawa.

Wajahnya berubah serius.

Bahunya turun sedikit.

Nafasnya stabil.

“…Oke,” katanya pelan.

“Sekarang giliran aku mikir.”

Ia mengarahkan pistolnya lurus ke depan.

Bola sihir di tengah senjata bersinar lebih terang.

Rune hologram berputar cepat.

“Overdrive: Solar Meme Cannon.”

Bandit:

“…Apa?”

Beatrix menekan pelatuk.

WOOOOOOOM—!!!

Satu tembakan besar keluar, berbentuk bola plasma kuning raksasa dengan simbol-simbol konyol berputar di dalamnya.

Bandit menembak balik dengan peluru Griffin terakhir.

FWWWW—!!

Dua serangan bertabrakan di udara.

BOOOOOOM!!!

Ledakan cahaya kuning menyelimuti menara.

Ketika cahaya menghilang…

bandit itu terdorong ke belakang, terhempas ke dinding.

Snipernya jatuh dan pecah dua.

Ia terkulai, tak bergerak.

Beatrix berdiri terdiam.

Lalu… ia menghembuskan napas panjang.

“…Fiuh.”

Ia menurunkan senjatanya dan melihat bekas ledakan.

“Serius deh,” gumamnya,

“kalau masih hidup, aku mau tanya…

kenapa pelurunya harus gigi.”

Angin kembali berdesir.

Medan perang lain masih terdengar jauh di luar.

Beatrix memanggul pistol besarnya lagi.

Bola sihir di tengahnya berputar santai.

“Next bandit, please…

yang pakai senjata normal.

Aku capek ketemu orang aneh.”

Dari kejauhan, terdengar suara ledakan lain.

Beatrix tersenyum miring.

“…Oke. Gas lanjut.”

...----------------...

Gurun di sisi barat Havenload berubah menjadi neraka terbuka.

Langit berwarna tembaga, matahari menggantung seperti bara api raksasa. Angin panas menggulung pasir, membentuk pusaran-pusaran kecil yang bergerak liar di antara bangkai kendaraan bandit yang terbakar.

Di tengah badai pasir itu berdiri dua sosok logam.

MK lain sedang sibuk menahan serbuan puluhan bandit dengan senjata otomatis dan perisai energi.

Ledakan kecil dan kilatan laser saling bersahutan.

Tapi… pusat perhatian sebenarnya hanya satu.

MK.99.

Ia berdiri santai di atas batu besar, satu tangan memegang pedang futuristik berwarna biru terang. Bilahnya tipis, memanjang, dan memancarkan cahaya dingin seperti es listrik.

Posturnya malas. Bahunya sedikit turun. Kepala miring.

“…Lima puluh tiga musuh,” gumamnya datar.

“Satu pemimpin.

Capek.”

Dari balik debu, muncul sang pemimpin bandit. Tubuhnya besar, zirahnya berat, membawa kapak mesin dua tangan.

“Robot rusak!” teriak sang pemimpin.

“Kita hancurkan dia dulu!”

Lima puluh lebih bandit bergerak maju bersamaan.

Pasir bergetar oleh langkah mereka.

MK.99 menghela napas.

“…Baiklah.

Kerja cepat, tidur cepat.”

Ia melangkah turun dari batu.

Dalam satu kedipan mata—

ZIIIING!!

Tubuh MK.99 menghilang dari pandangan.

Bukan karena teleportasi.

Tapi karena kecepatannya terlalu tinggi.

Ia muncul tepat di depan pemimpin bandit.

Pemimpin itu baru sempat mengangkat kapaknya setengah—

SHRAAAK!!

Pedang biru MK.99 sudah mengayun, membentuk busur cahaya horizontal.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada drama.

Tubuh pemimpin bandit… terbelah dua secara bersih, jatuh ke pasir dengan bunyi berat.

DUK… DUK…

Waktu yang dibutuhkan:

kurang dari lima detik.

MK.99 berdiri di antara dua potongan tubuh itu, pedangnya masih berpendar.

“…Target utama dieliminasi.”

Ia menoleh ke arah sisa bandit yang membeku karena kaget.

“Sekarang yang capek… kalian.”

Para bandit menjerit dan menembak bersamaan.

TATATATATATA—!!

FWOOM—!!

Peluru dan roket menghujani MK.99.

Ia bergerak.

Langkahnya tidak terlihat seperti berlari, tapi meluncur di atas pasir, tubuhnya miring rendah seperti bayangan biru.

Setiap ayunan pedangnya:

ZING!

ZING!

ZRAAAK!

Senjata bandit terpotong.

Perisai terbelah.

Beberapa musuh terjatuh sebelum sempat menyadari apa yang terjadi.

Namun jumlah mereka terlalu banyak.

MK.99 berhenti di tengah gurun.

Ia menengadah ke langit.

“…Mode udara.”

Dari punggungnya, panel logam terbuka.

KLIK—KLIK—KLIK—KLIK.

Empat unit senjata berbentuk misil-laser keluar dan mengunci posisi.

Cahaya biru menyala di bawah kakinya.

WOOOOOSH—!!!

MK.99 terbang tinggi ke udara, menembus badai pasir.

Para bandit mendongak panik.

“Apa itu?!”

Empat misil di punggung MK.99 berputar, mengarah ke bawah.

“…Eksekusi area.”

FWEEEEEEEE—!!!

Empat sinar misil-laser ditembakkan bersamaan.

Langit seperti terbelah cahaya biru.

BOOOOM!

BOOOOM!

BOOOOM!

BOOOOM!

Ledakan beruntun menyapu formasi bandit.

Pasir terangkat seperti ombak.

Api dan cahaya bercampur dengan debu.

Jeritan teredam oleh suara dentuman.

Di kejauhan, Chika yang masih bertarung dengan sisa bandit menoleh.

Matanya membesar.

“…A-apa itu tadi?!”

Di sampingnya, sang Princess berhenti sejenak, menurunkan senjatanya.

“Penjaga Havenload…”

Ledakan terakhir mereda.

Ketika debu turun…

lebih dari lima puluh bandit tergeletak tak bergerak.

MK.99 turun perlahan dari langit, mendarat dengan satu lutut.

Pasir berhamburan di sekitarnya.

Pedang birunya padam perlahan.

“…Selesai.”

Ia berdiri, menatap medan perang yang sunyi.

Chika dan Princess masih terdiam.

“…Dia,” bisik Chika,

“yang katanya… pemalas?”

MK.99 berjalan melewati mereka tanpa ekspresi.

“…Aku tetap pemalas,” katanya datar.

“Karena… kerja lama itu melelahkan.”

Ia melirik bangkai pemimpin bandit yang terbelah.

“…Lebih efisien kerja cepat.”

Angin gurun kembali bertiup.

Dan untuk pertama kalinya, Chika menyadari—

Penjaga Havenload yang terlihat malas itu…

adalah mesin pembunuh paling efisien yang pernah ia lihat.

Tak jauh dari lokasi ledakan MK.99, badai pasir masih berputar, tapi suasana di sisi timur medan perang terasa… berbeda.

Di sana berdiri Emila.

Kapten para knight.

Zirah peraknya bersih tanpa goresan berarti. Jubahnya berkibar pelan diterpa angin gurun. Wajahnya tenang, nyaris bosan, seolah yang berdiri di depannya bukan musuh… melainkan latihan ringan sebelum sarapan.

Di hadapannya, satu pemimpin bandit tersisa.

Tubuhnya tinggi dan kekar, kulitnya penuh tato sihir kasar. Di tangannya, tombak energi merah menyala liar, seperti api yang dipaksa berbentuk senjata.

“Hah…?” pemimpin bandit menyeringai.

“Hanya satu perempuan berzirah? Kapten knight, katanya?”

Ia menancapkan tombaknya ke pasir.

“Aku sudah membantai sepuluh prajuritmu. Kau pikir—”

Emila mengangkat satu tangan.

Gerakannya lambat. Anggun. Seperti konduktor orkestra.

Di udara, sebuah pedang sihir emas muncul di telapak tangannya—

transparan, berkilau, dengan pola rune berputar di bilahnya.

Dan di belakang punggung Emila…

WHOOOOM…

Delapan pedang emas lain muncul, melayang melingkar, membentuk lingkaran cahaya seperti mahkota perang.

Satu di tangan.

Delapan di belakangnya.

Total: sembilan.

Ekspresi pemimpin bandit berubah.

“…Apa-apaan itu?”

Emila memiringkan kepala sedikit.

“Oh? Kau baru sadar?”

Nada suaranya datar, tapi matanya menyipit tajam.

“Baik. Kita percepat.”

Pemimpin bandit berteriak dan melesat maju, tombaknya berubah jadi jejak cahaya merah.

“MATI KAU—!!!”

Emila tidak mundur.

Ia hanya menggeser kaki kanan setengah langkah.

SHING—!!

Satu pedang emas di belakangnya melesat otomatis, memotong tombak bandit itu menjadi dua di udara.

Pemimpin bandit terhuyung.

“Apa—?!”

Pedang kedua meluncur.

SHRAAANG!!

Zirah dadanya terbelah, bukan memotong tubuhnya, tapi menghancurkan lapisan sihir pelindungnya menjadi serpihan cahaya.

Pemimpin bandit mundur sambil terengah-engah.

“T-tidak mungkin…!”

Emila berjalan maju perlahan.

Setiap langkahnya meninggalkan jejak cahaya samar di pasir.

“Sebagai kapten knight,” katanya tenang,

“tugasku bukan bertarung dengan susah payah.”

Satu pedang emas di tangannya ia putar pelan.

“Tugasku… mengakhiri perlawanan.”

Ia mengangkat jari telunjuk.

Delapan pedang di punggungnya berputar lebih cepat.

WIIIIING—WIIIIING—WIIIIING—

Udara bergetar.

Pemimpin bandit berteriak dan melepaskan gelombang sihir merah terakhirnya.

BOOOOM—!!

Gelombang itu melaju seperti badai api.

Emila menghela napas kecil.

“…Repot.”

Satu gerakan tangannya ke depan.

Delapan pedang emas meluncur serempak, membentuk formasi kipas.

KRAAASH!!!

Gelombang merah itu terbelah jadi beberapa bagian, lalu menguap seperti asap dipukul angin.

Pedang kesembilan—yang ada di tangan Emila—meluncur terakhir.

Ia muncul tepat di depan pemimpin bandit.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada benturan dramatis.

Hanya satu gerakan cepat dan bersih.

SHIIING…

Pedang emas berhenti di lehernya.

Pemimpin bandit membeku.

“…Kau… monster…”

Emila menatapnya tanpa emosi.

“Tidak.”

Ia menarik pedangnya perlahan.

“Aku kapten.”

Pemimpin bandit jatuh berlutut, senjatanya hancur jadi partikel cahaya.

Di kejauhan, Chika dan Princess yang baru menyelesaikan lawan mereka menoleh.

Chika melongo.

“…Dia… bahkan tidak berkeringat.”

Princess mengangguk pelan.

“Kalau MK.99 itu mesin pemusnah malas…

maka Emila…”

Emila memanggil kembali semua pedang emasnya. Delapan kembali melayang di belakang punggungnya, satu memudar dari tangannya.

“…adalah hukum perang itu sendiri.”

Emila berbalik, jubahnya berkibar.

“Medan aman,” katanya ke komunikator.

“Pemimpin bandit terakhir… dinonaktifkan.”

Angin gurun kembali mengalir di antara puing-puing pertempuran.

Dan sekali lagi, Chika sadar satu hal:

Di Havenload, yang paling menakutkan…

bukan monster,

bukan bandit,

tapi para penjaga yang bertarung seolah itu hanya rutinitas harian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!