NovelToon NovelToon
Kelas Paus

Kelas Paus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:23k
Nilai: 5
Nama Author: Chika cha

Cover by me.

Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.

Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...

Kadewa..

Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.

Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.

Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Nama Pandu Menjadi Belenggu

Musim berganti. Sekarang Desember, dan Kadewa Pandugara Wisesa, di akhir semester ganjil kelas satu SMA, sudah mencapai batas sabarnya.

Dua minggu terakhir hidupnya terasa seperti jadwal militer versi korporat, sekolah pagi hingga hampir menjelang sore, setelah itu bimbel akuntansi sampai hampir menjelang magrib, les tambahan malam, dan sisanya dihabiskan dengan laporan, grafik, serta kata-kata yang bahkan tidak ingin ia dengar sampai ia benar-benar dewasa, investasi, akuisisi, neraca, cash flow.

Rumahnya sendiri lebih mirip kantor cabang dari perusahaan Wisesa Finance Surabaya, ketimbang tempat tinggal. Telepon rumah tidak pernah berhenti berdering. Mas Panji, kakak tertuanya, seperti memiliki radar khusus untuk memastikan si bungsu tidak membuang waktu.

Jadwalnya penuh.

Pikirannya berisik.

Dan ia sangat merindukan momen di mana ia bisa tertawa tanpa harus memikirkan angka-angka itu.

Sore itu setelah hampir sebulan ini ia tidak muncul di rumah Pram karena di tumpuk kesibukan, Kadewa akhir berhasil kabur sebentar ke rumah sahabatnya itu, satu-satunya tempat di mana ia masih bisa bernapas sebagai remaja enam belas tahun, bukan calon pewaris perusahaan raksasa.

Pram dan Joshua sudah duduk di teras ketika ia datang. Joshua yang pertama kali melihatnya langsung berseru, wajahnya cemberut campur kesal.

“Wa! Jam segini baru nongol. Dari mana aja? Tadi Mas Panji telepon aku, nanyain kamu udah sampai rumah apa belum. Kamu ada jadwal les katanya di rumah.”

Kadewa yang baru datang setelah mengantarkan pacarnya yang entah ke berapa pulang pun mendengus panjang penuh kejengkelan.

“Tuh orang emang mata-mata. Aku kan udah bilang, sore ini aku kerja kelompok di rumah Pram,” walaupun itu bohong karena Kadewa ingin main sebentar, hanya sebentar.

Pram mendorong pintu rumah dan menoleh.

“Masuk dulu gak sih? Ngomel di luar bikin tetangga yang denger ikutan stres.”

Kadewa dan Joshua baru akan melangkah masuk ketika suara halus mesin mobil berhenti tepat di depan pagar rumah.

Sebuah mobil mewah hitam mengkilap terparkir mulus.

Untuk Pram dan Joshua, mobil itu jelas asing.

Tapi buat Kadewa?

Jantungnya langsung turun ke perut.

Sebelum ia sempat mengumpat, pintu mobil terbuka.

Dari dalam, sosok tinggi, tegap, dan berwajah dingin keluar dengan langkah mantap. Kemeja lengan panjang rapi, jam tangan mahal yang memantulkan cahaya sore, dan aura yang begitu tajam sampai udara di sekitar seperti ikut mengeras.

Mas Panji.

Arjuna Panjiwara Wisesa.

Kakak tertua.

Penguasa Wisesa Finance Surabaya.

Definisi dari Crazy Rich Surabaya versi intimidatif.

Pram dan Joshua refleks berdiri tegak seperti siswa baru ketemu kepala sekolah.

Kadewa hanya bisa menutup mata sebentar, wajahnya sudah tampak pasrah.

Kali ini kebohongannya terbongkar sudah.

Suara Panji terdengar, tenang tapi menusuk.

“Pandu.”

Dan panggilan itu, panggilan yang selalu membuat Kadewa merasa seperti bayangan kecil di belakang nama besar kakaknya, langsung mematikan separuh mood nya sore itu.

Ia membalas dengan nada pelan tapi tetap berusaha sopan.

“Mas… ngapain ke sini?”

Atmosfer berubah tegang dalam sekejap.

Panji melangkah mendekat, setiap hentakan sepatunya seperti memotong udara sore itu.

Tatapannya langsung terkunci pada adik bungsunya, menyapu Kadewa dari ujung rambut sampai sepatu, seperti sedang memindai laporan yang hasilnya sudah bisa ditebak.

“Kamu bilang kerja kelompok,” ucap Panji datar. “Tapi rumah Pram lebih mirip basecamp nongkrong daripada tempat belajar.”

Joshua menelan ludah.

Pram refleks menggaruk tengkuknya, merasa terseret ke medan perang yang bukan miliknya.

Kadewa menghela napas pelan, lalu menyunggingkan senyum kecil, senyum khasnya. Bukan menantang. Lebih ke bertahan hidup.

“Kerja kelompok juga bisa sambil duduk, Mas,” katanya ringan masih berusaha ngeles. “Ilmu kan masuknya lewat otak, bukan posisi badan.”

Tidak ada senyum balasan.

Satu alis Panji terangkat tipis. Cukup untuk membuat Kadewa tahu bahwa candaannya dicatat, tapi tidak diterima.

“Guru les bahasa kamu udah nunggu di rumah.” kata Panji.

Kadewa meremas tali tasnya.

“Kan aku udah bilang, Mas. Ada kerja kelompok—”

“Kerja kelompok?” Panji menyipit, matanya cepat memindai ke arah Pram dan Joshua. “Atau kamu mau kabur dari jadwal les bahasamu?!”

Pram dan Joshua saling melirik, cemas setengah mati.

Joshua bahkan sampai menyenggol lengan Pram pelan, berbisik, “Pram… Masnya Kadewa kalau marah kayak direktur mau PHK karyawan.”

Mulutnya sih Jojo ini!!

Lagi serius, Jo. Serius!!

“Shh.” Pram mendesis sebagai tanda untuk Joshua diam dulu.

Panji kembali menatap mereka sekilas, hanya sekilas tapi itu cukup membuat Joshua mendadak ingin menjadi semut.

“Masalahnya bukan karena les bahasa atau les apa pun, Mas,” ucapnya, suaranya mulai goyah karena lelah, “Aku cuma pengen istirahat. Sejam dua jam aja. Kepala ku udah mau meledak.”

Panji tertawa hambar. “Istirahat? Kamu pikir kamu kerja apa? Kamu bahkan belum lulus SMA! Kamu ingat kan, sejak awal kita udah sepakat, Pandu. Mas udah nuruti Kamu buat sekolah di sekolah biasa tapi sebagai imbalannya untuk Mas, nilai kamu harus sempurna, pendidikan kamu harus terstruktur, kamu ikut dan patuhi aturan, Mas. Kamu harus siap mengambil alih bisnis, bantu Mas. Nggak ada waktu buat—”

“Aku nggak mau.” Kalimat itu keluar begitu saja, pelan, tapi jelas. Udara di teras rumah Pram langsung membeku.

Joshua membelalakkan mata.

Pram spontan ingin menutup mulut Kadewa pakai bantal kursi.

Bisa tidak mulutnya itu kalau di bilangi jangan jawab!!

Memperkeruh ini namanya!!

Panji menoleh perlahan, seolah tidak yakin apa ia mendengar dengan benar.

“Apa?” suaranya turun satu oktaf.

Nah, kan.

Kadewa menatap tanah, kedua tangannya mengepal. “Aku nggak mau semua itu, Mas. Aku nggak mau hidup yang Mas aturin. Aku nggak mau sekolah bimbel dan les gak ada udahnya tiap hari. Aku nggak mau tiap detik yang aku punya cuma buat nyiapin diri jadi mesin yang Mas mau.”

Ia mengangkat wajahnya, menatap kakaknya.

Untuk pertama kalinya, matanya menunjukkan sesuatu yang Panji tidak terbiasa lihat.

“Aku cuma… capek. Beneran capek.”

Panji diam.

Tatapannya berubah, bukan melunak, tapi seperti mencoba memahami sesuatu yang asing.

Namun itu tidak berlangsung lama.

Dinding dinginnya kembali naik dengan cepat.

“Capek bukan alasan untuk berhenti, Pandu,” ucapnya pelan, tegas, tajam. “Di keluarga kita, sebagai laki-laki kamu nggak bisa memilih seenaknya.”

Kadewa mengembuskan napas berat. Bukan sekadar lelah, tapi napas seseorang yang merasa tembok di sekelilingnya terus bergerak mendekat, semakin sempit, semakin menekan.

Dan sialnya, ia tidak sepenuhnya bisa membantah.

Karena Kadewa tahu…

Kata-kata Panji bukan sekadar omelan.

Itu kenyataan.

Sejak ayah mereka meninggal, Panji yang saat itu bahkan belum menginjak usia 25 tahun langsung menanggung segalanya.

Mengambil alih perusahaan.

Mengurus adik-adiknya yang masih sekolah.

Menggantikan sosok ayah sekaligus menjadi tulang punggung keluarga.

Selama hampir satu dekade, Panji tidak pernah berhenti. Tidak pernah istirahat. Tidak pernah sekalipun membiarkan dirinya goyah.

Dan kini, di usia hampir tiga puluh, Panji bahkan belum sempat memikirkan menikah atau hidup untuk dirinya sendiri.

Semua itu dilakukan demi mereka.

Demi keluarga Wisesa tetap berdiri.

Kadewa tahu itu.

Ia mengerti kenapa Panji begitu keras.

Tapi tetap saja, mengerti bukan berarti tidak sakit.

“Mas cuma mau kamu siap,” Panji melanjutkan, suaranya sedikit lebih rendah. “Kamu pewaris. Kamu tulang punggung kedua. Kalau Mas tumbang, yang nerusin semua ini kamu.”

Kata-kata itu menusuk.

Bukan karena kasar, tapi karena benar.

Dan kebenaran yang berat terasa lebih menyakitkan dari cemoohan mana pun.

Kadewa menatap tanah, rahangnya mengencang.

Ia tidak pernah meminta semua ini.

Tidak pernah ingin menjadi pewaris apa pun.

Tapi ia juga tahu, di keluarga Wisesa…

Keinginan bukan sesuatu yang penting.

Yang penting adalah tanggung jawab.

Panji menatap Kadewa selama beberapa detik, hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuat suasana terasa seperti ada badai yang belum jadi turun.

“Mas tunggu di mobil,” ucap Panji akhirnya.

Ia tidak meninggikan suara, tapi tekanan itu cukup membuat siapa pun menegakkan tubuhnya.

Tanpa menunggu respons, Panji berbalik dan berjalan kembali menuju mobil. Pintu tertutup dengan suara pelan yang terasa seperti ancaman terselubung.

Teras rumah Pram kembali sunyi.

Joshua menghela napas seperti habis menahan udara selama lima menit.

“Wa… kamu barusan ngomong nggak mau ke Mas Panji…”

Kadewa diam.

Pram menatap Kadewa dengan campuran kaget, kasihan, dan sesuatu yang tidak ia bisa jelaskan. Dia tahu dinamika kakak-adik itu rumit, tapi melihatnya langsung, jelas jauh lebih mencekik.

Kadewa memijit batang hidungnya, wajah lelahnya semakin terlihat. “Udah lah… aku balik dulu.”

Ia merogoh saku, melemparkan kunci motornya ke Pram. “Aku titip motor di sini. Besok kuambil.”

Pram sigap menangkapnya. Ia tidak bilang apa-apa, hanya mengangguk pelan, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan dukungan tanpa memperburuk situasi.

Kadewa menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah pergi.

Langkahnya berat, seperti setiap tapak menghitung jarak antara dirinya dan kebebasan yang tak pernah benar-benar ia punya.

Ia membuka pintu mobil, masuk, dan menutupnya.

Dan teras rumah Pram kembali ditinggalkan dalam keheningan yang menggantung.

Dari balik tirai kamar lantai dua, Rea berdiri mematung di balik tirai kamar lantai dua, satu tangannya masih memegang ujung kain gorden yang sedikit tersingkap. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan karena baper, tapi karena takut.

Sumpah, Mas-mas yang tadi keluar dari mobil hitam itu lebih serem daripada guru BK paling galak di sekolahnya.

Rea memperhatikan mobil mewah itu perlahan bergerak meninggalkan pagar. Ia baru melepaskan napasnya yang sedari tadi tertahan saat bayangan mobil itu benar-benar hilang di tikungan.

Selama ini, di mata Rea, Kadewa adalah sosok yang tak tersentuh. Cowok yang punya segalanya, wajah, popularitas, dan kepercayaan diri yang meluap. Tapi sore ini, untuk pertama kalinya, Rea melihat Kadewa sebagai orang asing yang rapuh.

Ia melihat cara Kadewa menunduk sebelum masuk ke mobil. Bahunya yang biasanya tegak tampak turun, seperti memikul beban yang terlalu berat untuk ukuran anak SMA. Dan yang paling membuat dada Rea terasa aneh adalah menyadari bahwa senyum santai Kadewa yang selama ini ia kira tanda percaya diri ternyata bisa saja hanya topeng.

Topeng untuk untuk menutupi lelah yang luar biasa.

“Jadi itu alasannya Mas Kadewa bilang pacaran cuma buat senang-senang?” bisik Rea lirih pada kamar yang sunyi.

Bukan dengan nada menghakimi. Lebih seperti anak yang sedang mencoba memahami sesuatu yang terlalu besar untuk usianya.

Mungkin bagi Kadewa, cinta memang tidak boleh serius. Hidupnya sudah terlalu serius. Kepalanya sudah penuh angka, target, dan tanggung jawab yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.

Mungkin perempuan-perempuan itu bukan soal perasaan.

Mungkin cuma pelarian.

Tempat bernapas sebentar sebelum kembali dicekik oleh dunia orang dewasa.

Rea melepaskan pegangannya pada tirai. Kamarnya terasa lebih dingin dari biasanya.

Ada rasa perih baru di dadanya.

Bukan perih karena cemburu.

Tapi perih karena iba.

Karena ternyata, orang yang ia sukai sedang terkurung di hidupnya sendiri.

Di luar kamar terdengar suara langkah kaki. Entah kenapa, Rea langsung berdiri dan membuka pintu, seolah tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya.

Dan benar saja, Pram ada di sana, sedang menaiki anak tangga menuju lantai dua.

“Apa?” tanya Pram begitu melihat adiknya berdiri menatapnya dengan ekspresi aneh.

Rea masih diam belum menjawab, ia menatap kunci motor milik Kadewa lalu beralih ke wajah kakaknya itu yang tampak gusar, tidak ada lagi cengiran jahil yang biasanya menghiasi bibirnya.

Rea menelan ludah.

Dengan nada yang dibuat santai, seolah hanya basa-basi, ia bertanya, “Tadi… ada tamu ya, Mas, di depan? Suaranya sampai ke atas.”

Pram menghela napas dan berhenti di ujung anak tangga paling atas, dan menyandarkan tubuhnya pada pagar tangga.

“Kakaknya Kadewa. Namanya Mas Panji.”

Ia terkekeh singkat, tapi tanpa humor. " Gila, Dek. Mas baru sadar kalau hidup jadi orang kaya itu nggak seenak di sinetron. Kadewa kayak robot yang dipaksa kerja terus."

Lalu, seolah ingin menutup suasana yang tiba-tiba berat, Pram menoleh ke Rea dan menambahkan dengan nada setengah bercanda, “Beruntung kamu punya Mas kayak aku ini.”

Rea tidak tertawa.

Ia hanya mengangguk kecil, dadanya terasa aneh. Bukan sedih, bukan juga iri. Lebih seperti perasaan bingung yang tidak tahu harus diletakkan di mana.

Pram lantas menatap kunci motor di tangannya dengan nanar. "Kasihan dia. Kayaknya satu-satunya alasan makannya dia sering main ke sini itu cuma buat jadi manusia normal."

Rea terdiam. Kalimat Pram barusan menghantamnya telak.

Hanya untuk menjadi manusia normal.

Rea tidak tahu harus menanggapi apa. Ia kembali mengangguk kecil, lalu menutup pintu setelah Pram berpamitan mau ke kamarnya.

Di dalam kamar, suasana terasa lebih sunyi dari biasanya.

Rea duduk di kursi meja belajarnya. Matanya tertuju pada sebuah buku bersampul putih bergambar kucing dan kelinci yang terselip rapi di laci, diary nya.

Ia menarik buku itu, membukanya, lalu mengambil pulpen.

Tangannya terangkat… lalu berhenti.

Biasanya ia menulis, Mas Kadewa ganteng banget hari ini.

Atau Mas Kadewa si Paus sok baik.

Kadang cuma satu kalimat. Kadang satu halaman penuh, isinya campur aduk antara kekaguman, khayalan, kekesalan khas anak SMP.

Tapi sore ini, kalimat-kalimat itu terasa… salah tempat.

Rea menatap halaman kosong cukup lama. Ia tidak tahu harus menulis apa. Ia tidak mengerti dunia Kadewa. Tidak paham tentang perusahaan, pewaris, atau tanggung jawab besar yang tadi dibicarakan orang-orang dewasa di bawah sana.

Ia cuma tahu satu hal.

Kadewa tadi kelihatan capek.

Bukan capek biasa.

Capek yang bikin orang pengin ngilang sebentar dari hidupnya sendiri.

Rea akhirnya menulis, dengan huruf kecil dan ragu...

Hari ini aku liat Mas Paus tenggelam di dalam lautnya sendiri. Dan aku... aku cuma plankton yang bahkan gak bisa menolongnya sekedar untuk ambil bernapas.

Ia berhenti. Membaca ulang kalimat itu sejenak.

Setelah itu, ia menutup diary nya pelan.

Rea memang masih bocah SMP tiga belas tahun. Ia belum mengerti cinta, apalagi luka orang dewasa. Tapi sore ini, untuk pertama kalinya, ia mengerti bahwa menyukai seseorang tidak selalu berarti ingin dimiliki.

Dan hari itu juga Rea merasakan perasaan yang campur aduk. Rasa sukanya yang tadi ia coba matikan, sekarang tumbuh lagi. Bukan karena Kadewa ganteng, tapi karena Rea merasa... dia punya rahasia kecil tentang sisi sedih Kadewa yang mungkin nggak diketahui pacar-pacar SMA nya.

...Oh, ya bunda2, akak2 cantik. Readers ku tersayang ini pada punya Ig atau tiktok gak sih?...

...Kalau punya jangan lupa follow ya....

...IG:Chika.cha_...

...TT:Chikacha_11...

...Terimakasih🙏...

1
Esti 523
bha ha ha ha ya ampun aq baca sambil guling2 ngakak bgt
Ghiffari Zaka
kok aq senyum2 sendiri ya bacanya??🤭🤭🤭 laaaah AQ jadi baper malahan,duh mas paus gombalnya buat AQ ikut cengar cengir padahal siapa. yg di gombali 🤭🤭🤭.
ah pokoknya author is the best lah👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
mey
makasih thor untuk upnya🥰🥰 I❤️U sekebon mawar🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Yani Sri
kopi untukmu kakak....
Lili Susanti
nyambung banget syg.....senyum2 sendiri dr awal sampai akhir baca nya ....yg rajin update ya..ku ksh gift nuch 😍
Niken Dwi Handayani
masih nyambung kok ...ini malahan lagi masa pdkt mas Paus 🤭🤭. Belum masuk yang tegang-tegang nich cerita nya
syora
cukup fokus ke si paus sm plakton
another story keep in save folder🤭
semangat thor gas pol
buat tmn mnyambut ramadhan
syora
nyambung
jgn coba" mlarikan diri xa 🤣
mey
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Esti 523
aq vote 1 ya ka syemangaddd
Esti 523
bagus bgt ceritanya,gak typo2
Esti 523
sekian purnama baru ketemu lg dgn novel yg reel bgt,gak typo2 good luc otor,syemangst
Chika cha: ada typo juga kak, tapi sebelum upload di cek dulu baru upload itu pun masih ada satu dua yang gak keliatan🤭
total 1 replies
falea sezi
jangan murahan re di gombalin gt aja km. uda basah yo heran deh jual. mahal donk di sakitin berkali kali. kok ttep oon meski dia g tau perasaan mu tp. dia penjahat kelamin
falea sezi
murahan
falea sezi
ini cerita nya emank bertele tele kah dr SMP dih lama amat thor
falea sezi
layu sebelum berkembang ya rea hiksss
falea sezi
sabar rea moga nanti ada cogan yg baik setia ya.. lupain cinta pertama yg jatuh pd orang yg salah
falea sezi
kok lucu gmbarnya
Nia nurhayati
dasar paus raja goombll kmu kadewaa
Ghiffari Zaka
di bab ini AQ benar2 gak bs kan men Thor,gak bs ngomong apa2 lagi,blenk AQ Thor karena fokus dan menghayati kata demi kata yg author tulis sehingga AQ merasa kayak bukan baca tp melihat suatu adegan di depan mata,sepertinya AQ ada di dlm situ buat nonton live,pokoknya cuman bisa bilang LUAR BIASA 👍👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!