NovelToon NovelToon
Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Ahli Bela Diri Kuno / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.

"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"

[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Memancing Dengan Dao

Perintah Ji Zhen terdengar mutlak di tengah suara aliran air danau yang tenang. Pemuda itu berdiri di bibir danau, mengulurkan telapak tangannya secara horizontal. Tanpa perlu banyak tenaga, permukaan air di hadapannya mulai mengeras. Kristal es transparan merambat cepat, membentuk dinding-dinding bening yang mengisolasi satu area kecil berukuran dua meter. Puluhan ikan yang tadi berenang bebas kini terjebak di dalam kolam es buatan tersebut, melompat-lompat panik karena ruang gerak mereka yang mendadak menyempit.

Ji Zhen menoleh ke arah Yang Huiqing masih berdiri mematung di tepi danau. “Tunggu apa lagi? Turun ke sana. Ambil ikannya.”

Yang Huiqing menelan ludah dan mulai mengangguk kikuk. Ia menatap air yang kini dipenuhi serpihan es halus itu dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan rasa keberatannya. “Ji Zhen… air ini sangat dingin. Dan ikan-ikan itu… mereka bergerak terlalu liar.”

Ji Zhen menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang penuh dengan nostalgia. Ia tahu persis bahwa alasan kedinginan hanyalah tameng. Ingatannya melesat kembali ke beberapa waktu silam, saat mereka masih sepasang kekasih yang penuh dengan rencana masa depan. Saat itu, Ji Zhen mengajak Huiqing membantu keluarganya memanen kolam ikan di desa untuk dijual ke pasar. Huiqing, yang saat itu sudah mulai terbiasa dengan kemewahan kecil sebagai murid populer di sekte, terus-menerus mengernyit. Ia tidak tahan saat kulitnya bersentuhan dengan sisik ikan yang berlendir, dan belum lagi gadis itu hampir muntah karena bau amis yang menempel di jari-jemarinya setelah memegang hasil tangkapan.

“Dulu kau selalu punya alasan untuk menghindar,” ucap Ji Zhen, matanya menatap tajam ke pupil Yang Huiqing. “Tapi sekarang kau bukan lagi nona besar yang bisa memilih pekerjaan. Kau harus tahu cara bertahan hidup jika aku sedang tidak ada di sampingmu. Turun.”

Dengan napas yang berat, Yang Huiqing akhirnya mengangkat sedikit ujung jubahnya dan melangkah masuk ke dalam kolam es buatan itu. Pekikan tertahan keluar dari mulutnya saat telapak kakinya menyentuh air yang suhunya merosot drastis. Ia mencoba meraih seekor ikan mas yang meluncur cepat di dekat kakinya, namun tangannya ditarik kembali begitu merasakan gesekan sirip yang tajam.

“Gunakan kedua tanganmu. Jangan seperti menangkap daun kering,” ucap Ji Zhen. Tentu saja dia menikmati pemandangan itu; melihat mantan kekasihnya yang dulu begitu angkuh kini harus bergulat dengan dingin dan bau amis demi sesuap nasi.

Adapun Yang Huiqing ingin sekali mengumpat. Rasa jijik yang luar biasa merambat dari ujung jari ke seluruh tubuhnya, namun setiap kali ia ingin mengeluh, ia melihat Ji Zhen yang terus mengamatinya dengan tatapan dominan. Ia tahu, satu keluhan saja bisa berakhir dengan hukuman yang lebih berat.

“Bosan kalau hanya melihatmu gagal,” Ji Zhen berujar tiba-tiba. “Mari kita berlomba. Siapa yang mendapat ikan terbanyak dalam sepuluh hitungan, boleh meminta satu permintaan kecil malam ini. Kecuali permintaan untuk bebas, tentu saja.”

Yang Huiqing mendongak, ada kilat tantangan di matanya. “Setuju.”

Ji Zhen tidak turun ke air. Ia tetap berdiri di atas batu dengan santai. “Satu… dua… tiga… .”

Yang Huiqing segera bergerak membabi buta. Ia tidak lagi memedulikan rasa jijik atau dingin. Ia menerjang ikan-ikan itu, mencengkeramnya dengan sekuat tenaga meski harus berkali-kali terpeleset di atas dasar danau yang licin. Sementara itu, Ji Zhen hanya menggerakkan jarinya sedikit. Di bawah permukaan air, ia menciptakan lapisan es setipis silet yang bergerak seperti ombak kecil. Lapisan es itu justru mendorong ikan-ikan ke arah daratan, membuat mereka melompat sendiri keluar dari air dan mendarat tepat di samping kaki Ji Zhen.

“Sepuluh,” ucap Ji Zhen tenang.

Di sampingnya, sudah ada lima ikan besar yang menggelepar. Sementara Yang Huiqing hanya berhasil memegang satu ikan di dadanya dengan jubah yang sudah basah kuyup dan wajah yang tercoreng lumpur.

“Kau benar-benar licik, Bocah,” Zulong tertawa di dalam kepala Ji Zhen. “Menggunakan Dao Es untuk memenangkan lomba melawan seorang gadis yang bahkan tidak bisa merasakan aliran qi di air. Benar-benar tidak punya malu.”

Ji Zhen tidak menggubris ejekan itu. Ia menatap Yang Huiqing yang kini nampak sangat kesal namun tidak berani bersuara. “Aku menang telak. Jadi, kau tidak punya hak meminta apa pun. Tapi karena aku sedang dalam suasana hati yang baik, aku akan mengajarimu cara memancing yang benar secara manual. Tanpa dao es.”

Ji Zhen melompat turun ke area yang lebih dangkal. Ia mengambil sebilah ranting panjang yang sudah diruncingkan ujungnya. Ia menunjukkan cara membaca bias cahaya di air dan kapan waktu yang tepat untuk menghujamkan kayu tersebut.

“Jangan hanya melihat ikannya, lihat pergerakan air di sekitarnya,” instruksi Ji Zhen. Ia memberikan ranting itu pada Yang Huiqing.

Setelah beberapa kali mencoba dengan bimbingan Ji Zhen, tiba-tiba—Jleb!—ranting itu berhasil menembus tubuh seekor ikan mas. Yang Huiqing mengangkat kayu itu tinggi-tinggi dengan wajah yang mendadak bersinar. Senyuman lebar yang tulus lolos di bibirnya, sebuah ekspresi bahagia yang sudah lama tidak Ji Zhen lihat.

“Aku mendapatkannya! Ji Zhen, lihat! Aku berhasil!” serunya girang, melupakan sejenak bahwa bajunya bau amis dan tubuhnya menggigil.

Ji Zhen hanya mengangguk, menyembunyikan rasa senang yang muncul di dadanya. “Cukup. Bawa ke api unggun. Kita bakar sebelum kau mati kedinginan.”

Malam itu, mereka duduk berhadapan di depan api unggun yang kembali membesar. Aroma ikan bakar mulai memenuhi pinggiran danau, mengusir bau amis yang tadi menyengat. Mereka makan dengan lahap dalam keheningan yang nyaman. Ji Zhen merasa perutnya terisi penuh, memberikan energi tambahan yang ia butuhkan.

“Tidurlah,” perintah Ji Zhen setelah ikan terakhir habis. “Aku yang akan berjaga.”

Yang Huiqing tidak membantah. Kelelahan fisik dan emosional membuatnya langsung berbaring di atas tumpukan daun kering dekat api unggun. Tak butuh waktu lama, napasnya menjadi teratur, ia tertidur pulas di bawah perlindungan Ji Zhen.

Sementara Ji Zhen sendiri tidak membuang waktu. Ia kembali duduk bersila, menjauh sedikit dari api agar tidak mengganggu tidur Huiqing, lalu menutup mata, mencoba memusatkan sirkulasi energinya sekali lagi. Dao Es yang ia miliki harus terus diasah karena ia tidak ingin kejadian fondasi retak kemarin menghambatnya lebih lama lagi. Semalaman, ia berlatih keras, memaksakan qi esnya mengalir melalui jalur-jalur meridian yang masih terasa perih, mencoba menyambung kembali bagian-bagian yang rusak dengan ketegaran yang luar biasa.

Namun, di tengah meditasinya yang dalam, indra pendengarannya yang tajam menangkap sesuatu yang tidak beres. Sekitar seratus meter di balik rimbunnya pohon besar, ada langkah kaki yang sangat pelan. Bukan langkah kaki binatang, tapi langkah kaki seorang kultivator yang berusaha menyamarkan napasnya.

Mata Ji Zhen terbuka perlahan, berkilat dingin di bawah sinar bulan. Seseorang sedang mengawasi mereka, setidaknya itu yang Ji Zhen dan Zulong rasakan.

1
YunArdiYasha
gas poll
MuhFaza
gas lanjutkan
MuhFaza
lanjut bg
Tuan Belalang
😍😍👍👍💪💪
YunArdiYasha
musuh
yuzuuu ✌
bagus ini ceritanya
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
😍👍👍👍
Tuan Belalang
sehat sehat othor
DanaBrekker: semoga semua pembaca karya othor juga sehat selalu
total 1 replies
Tuan Belalang
👍👍👍😍👍
Tuan Belalang
alamak, gukguk? 🤣
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
Tuan Belalang
eyuhh najis 😄
Tuan Belalang
astoge udh gak ketolong nih anak 🤣
Tuan Belalang
pffftt mampus 👍👍🤣
DanaBrekker: /Cleaver//Gosh/
total 1 replies
Tuan Belalang
curang gak sih bangg 🤭🤭🤣
Tuan Belalang
mampus aja luu
Tuan Belalang
ji zhen nih tahan banting 💪
Tuan Belalang
mff bawell thorr abs novelmu bagus 😄😍👍🤭
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
🤭😍👍👍👍
Tuan Belalang
benr tu kt zilong
Tuan Belalang
😍😍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!