NovelToon NovelToon
Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Langit

"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahkota Berduri Sang Pewaris

Ketegangan di dalam mansion Arkananta malam itu bisa dirasakan bahkan oleh para pelayan yang biasanya bekerja seperti robot. Arkan tidak kembali ke kamar pengantin mereka. Ia mengurung diri di ruang kerja bawah tanah, tempat di mana hanya Dimas yang diizinkan masuk. Alana berdiri di balkon kamarnya, menatap ke arah paviliun tempat Elena disembunyikan. Pikirannya berkecamuk antara rasa dikhianati dan kenyataan pahit bahwa dirinya adalah "bom waktu" bagi Arkan.

Jika apa yang dikatakan Kevin benar, maka keberadaannya di sini bukan hanya sekadar pernikahan kontrak. Ia adalah bukti kejahatan masa lalu keluarga Arkananta.

"Nona Alana?" suara lembut dari pintu kamar mengejutkannya. Itu adalah bi Inah, pelayan senior yang selama ini paling dekat dengannya.

"Ada apa, Bi?"

"Tuan Arkan meminta Anda bersiap. Ada tamu yang menunggu di ruang perpustakaan. Beliau bilang... ini saatnya Anda mengambil apa yang seharusnya menjadi milik Anda."

Alana mengernyit. Mengambil apa? Ia segera berganti pakaian dengan setelan formal yang lebih tegas. Saat melangkah masuk ke perpustakaan, ia melihat Arkan sedang berdiri di depan jendela besar, sementara di atas meja jati yang luas, berserakan puluhan dokumen legal dengan segel resmi kenegaraan.

"Duduklah, Alana," suara Arkan tidak lagi dingin, namun penuh dengan beban yang sangat berat.

Alana duduk, matanya menyisir dokumen-dokumen itu. Ia melihat nama ayahnya, Aryo Wiryodinoto, tertulis di sana.

"Selama lima tahun terakhir, diam-diam aku mengumpulkan sisa-sisa saham dan aset keluarga Wiryodinoto yang dipreteli oleh kakekku melalui berbagai perusahaan cangkang," Arkan berbalik, menatap Alana dengan tatapan tajam. "Aku awalnya berencana mengembalikan ini semua kepada siapa pun keturunan Wiryodinoto yang tersisa saat aku sudah berhasil menggulingkan kakekku sepenuhnya. Tapi kemunculan Hendrawan dan Kevin mempercepat segalanya."

Arkan menggeser sebuah map merah. "Malam ini, aku ingin kamu menandatangani ini. Pengalihan aset senilai lima triliun rupiah. Dengan tanda tangan ini, kamu bukan lagi sekadar Alana si sekretaris miskin. Kamu adalah pemegang saham tunggal Wiryodinoto Corp, perusahaan yang kubangun kembali dari abu."

Tangan Alana gemetar. "Lima triliun? Arkan, ini terlalu banyak. Kenapa kamu melakukan ini sekarang?"

"Karena besok pagi, kakekku akan mengadakan rapat darurat dewan direksi. Dia sudah tahu siapa kamu sebenarnya, Alana. Seseorang mengirimkan rekaman pertemuanmu dengan Kevin tadi sore," Arkan mendekat, berlutut di depan kursi Alana dan menggenggam tangan gadis itu. "Dia akan mencoba membuangmu, menghapus keberadaanmu seperti yang dia lakukan pada ayahmu. Satu-satunya cara agar kamu selamat adalah dengan menjadi orang yang terlalu besar untuk dihancurkan."

"Tapi bagaimana denganmu? Jika kamu memberikan semua ini padaku, posisimu di Arkananta Group akan terancam!"

Arkan tersenyum miring, sebuah senyum yang penuh dengan aura pemberontakan. "Aku sudah muak menjadi pion kakekku. Jika dia ingin perang, maka aku akan memberinya kiamat. Dengan aset Wiryodinoto di tanganmu, kita punya kekuatan suara sebesar 20% di dewan direksi. Itu cukup untuk membuat kerajaannya goyah."

Alana menatap mata Arkan. Ia melihat kejujuran yang menyakitkan di sana. Pria ini tidak sedang memanfaatkannya lagi; dia sedang mempertaruhkan segalanya untuk melindunginya. Alana mengambil pulpen emas di atas meja dan menandatangani setiap lembar dokumen itu. Saat tinta terakhir mengering, ia merasakan beban baru di pundaknya. Mahkota itu kini terpasang, namun mahkota itu terbuat dari duri.

Keesokan paginya, kantor pusat Arkananta Group dikepung oleh awak media. Berita tentang kembalinya pewaris tunggal Wiryodinoto telah bocor ke pers—sebuah langkah strategis yang dilakukan Arkan untuk memastikan keselamatan Alana di bawah sorotan publik.

Alana melangkah keluar dari mobil dengan gaun power suit berwarna hitam pekat. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan garis rahangnya yang tegas. Di sampingnya, Arkan berjalan dengan langkah angkuh, tangannya posesif melingkar di pinggang Alana.

Di ruang rapat lantai 50, suasana terasa mencekam. Kakek Arkananta duduk di kepala meja, wajahnya yang sudah renta tampak sangat mengerikan dengan sorot mata yang penuh kebencian. Di sampingnya ada Kevin yang tersenyum kemenangan, mengira hari ini adalah hari di mana Arkan akan didepak.

"Berani sekali kalian menunjukkan wajah di sini setelah pengkhianatan ini," suara Sang Kakek menggelegar di ruang yang kedap suara itu.

"Pengkhianatan?" Arkan duduk di kursinya dengan santai, mengisyaratkan Alana untuk duduk di kursi di sebelahnya—kursi yang biasanya diperuntukkan bagi wakil direktur utama. "Aku tidak melihat ada pengkhianatan di sini, Kakek. Aku hanya membawa pulang salah satu pemegang saham terbesar kita untuk menyapa dewan direksi."

"Dia bukan pemegang saham! Dia adalah anak dari pria yang sudah kuhancurkan!" bentak Sang Kakek sambil menunjuk Alana.

Alana berdiri, suaranya tenang namun bergema dengan otoritas yang baru ia temukan. "Nama saya adalah Alana Wiryodinoto, Tuan Arkananta. Dan menurut dokumen legal yang telah disahkan pagi ini, saya adalah pemilik sah dari 20% saham perusahaan ini melalui penggabungan aset ayah saya yang telah dipulihkan. Saya tidak di sini sebagai cucu menantu Anda. Saya di sini sebagai mitra bisnis... atau musuh bisnis Anda, tergantung bagaimana Anda memperlakukan saya mulai sekarang."

Seluruh dewan direksi berbisik riuh. Wajah Kevin berubah dari kemenangan menjadi ketakutan yang nyata. Ia tidak menyangka Arkan akan memberikan aset sebesar itu kepada seorang wanita.

"Kamu pikir saham itu bisa melindungimu?" Sang Kakek berdiri, mendekati Alana. "Aku bisa menghancurkan namamu dalam satu malam. Aku tahu tentang kakakmu, Elena. Aku tahu dia adalah seorang pencuri dan sekarang sedang hamil tanpa suami di paviliunmu, Arkan!"

Deg. Jantung Alana seolah berhenti. Sang Kakek benar-benar tahu segalanya.

"Dan tahukah kamu siapa ayah dari bayi itu, Alana?" Sang Kakek menoleh pada Kevin, lalu kembali pada Alana dengan senyum licik. "Bayi itu adalah hasil hubungan gelap kakakmu dengan Kevin. Cucuku sendiri."

Ruangan itu mendadak sunyi sesunyi kuburan. Alana menoleh ke arah Arkan yang tampak terpaku. Kevin tertunduk, keringat dingin mengucur di pelipisnya.

"Kevin... kau..." suara Arkan terdengar sangat rendah dan berbahaya.

"Ya!" seru Kevin frustrasi. "Aku yang melakukannya! Aku mendekati Elena untuk mencari tahu rahasia perusahaan, tapi wanita murahan itu justru jatuh cinta padaku dan berakhir hamil! Aku mengirim Marco untuk membawanya pergi agar rahasia ini tidak terbongkar!"

Alana merasa mual. Kakak kembarnya telah dihancurkan oleh pria yang sekarang mencoba menghancurkan dirinya juga. Segala rasa simpati yang tersisa untuk Elena berubah menjadi amarah yang membakar.

"Cukup!" teriak Alana. "Kalian semua memperlakukan wanita seperti barang! Kalian menggunakan kami untuk ambisi kalian!"

Alana menatap Sang Kakek dengan mata berkilat. "Tuan Arkananta, jika Anda berani menyentuh seujung rambut pun dari ibu atau kakak saya, atau jika Anda mencoba menjatuhkan Arkan menggunakan skandal ini, saya akan memastikan seluruh dunia tahu bahwa pewaris Arkananta Group adalah seorang pemerkosa dan manipulator yang menghamili bawahannya sendiri. Saya punya rekaman pengakuan Kevin barusan."

Alana mengangkat ponselnya yang ternyata sejak tadi sedang dalam mode merekam.

Sang Kakek terdiam. Ia baru saja menyadari bahwa ia tidak lagi berhadapan dengan gadis sekretaris yang penurut. Ia sedang berhadapan dengan seorang Wiryodinoto yang memiliki api dendam di matanya.

"Rapat selesai," ucap Arkan, berdiri dan menarik Alana keluar dari ruangan itu sebelum Sang Kakek sempat meledak.

Begitu sampai di dalam lift pribadi, Arkan langsung memeluk Alana dengan sangat erat. Tubuh Alana bergetar hebat. Keberanian yang ia tunjukkan di dalam tadi hanyalah tameng tipis yang kini retak.

"Maafkan aku... aku tidak tahu tentang Kevin dan Elena," bisik Arkan di rambut Alana. "Aku bersumpah akan membuat Kevin membayar setiap tetes air mata yang kau keluarkan hari ini."

"Arkan, semuanya menjadi sangat gelap," isak Alana. "Kita berada di tengah lingkaran setan."

"Tapi kita menghadapinya bersama," Arkan menjauhkan tubuhnya sedikit, menangkup wajah Alana. "Mulai hari ini, tidak ada lagi persembunyian. Elena akan kupindahkan ke rumah sakit terbaik dengan identitas baru. Dan kita... kita akan membangun aliansi yang tidak bisa dihancurkan oleh siapa pun."

Namun, di saat mereka merasa sedikit lega, ponsel Arkan berdering. Sebuah pesan video dari nomor tak dikenal. Saat Arkan membukanya, wajahnya seketika pucat.

Video itu memperlihatkan sebuah gudang tua yang gelap. Di tengahnya, Elena terikat di kursi dengan mulut tersumpal. Di belakangnya, berdiri seorang pria yang mengenakan topeng, memegang sebuah pemantik api di dekat jerigen bensin.

"Pilihan yang sulit, Arkananta," suara di video itu disamarkan. "Serahkan seluruh saham Wiryodinoto dalam waktu dua jam, atau kakak kembar istrimu akan terbakar bersama bayi di dalam kandungannya. Oh, dan jangan coba-kali memanggil polisi, atau ibumu yang ada di rumah sakit akan mengalami 'masalah teknis' pada mesin penunjang jantungnya."

Alana jatuh terduduk di lantai lift. Keamanan yang baru saja ia rasakan hancur berkeping-keping. Musuh mereka ternyata jauh lebih licik dan lebih putus asa daripada yang mereka duga. Bukan hanya Kevin, bukan hanya Sang Kakek, ada pihak ketiga yang sedang mengincar nyawa mereka semua.

Arkan mengepalkan tangannya hingga berdarah terkena kuku-kukunya sendiri. "Dimas! Lacak lokasi video ini sekarang! Dan kirim seluruh tim keamanan ke rumah sakit ibu Alana!"

"Arkan... apa yang harus kita lakukan?" tanya Alana dengan tatapan kosong.

Arkan menatap Alana, sebuah tekad gila terpancar dari matanya. "Kita akan memberikan apa yang mereka mau, tapi dengan cara kita. Alana, kau percaya padaku?"

"Aku percaya padamu, Arkan. Selalu."

"Bagus. Karena mulai detik ini, sang Monster Es yang mereka takuti benar-benar akan keluar. Aku akan membakar siapa pun yang berani menyentuh keluargaku."

Babak baru dimulai. Bukan lagi soal saham atau kekuasaan, tapi soal bertahan hidup di tengah kobaran api dendam yang mulai menyambar semua orang yang mereka cintai.

1
Sweet Girl
Nikmati aja dulu kemewahan yang diberikan Arkan, toh kamu sendiri belum punya pacarkan...
Sweet Girl
Nah... ini gak enaknya...
Sweet Girl
Kok seperti nya Arkan sudah mengenal Alana ya Tor...
Sweet Girl
Dirantai kamu Alana...
Sweet Girl
Apa kau terpesona pada pandangan pertama dengan Sekretaris kecil pengganti, Tuan CEO...???
Sweet Girl
Bwahahaha bener tau dia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!