NovelToon NovelToon
Glitz And Glamour

Glitz And Glamour

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Duniahiburan / Percintaan Konglomerat / Fantasi Wanita / Berondong / Playboy / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."

Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan Yang Tak Terduga

Malam itu, New York diguyur hujan deras, seolah langit ikut merasakan kekacauan hati Sean. Mengabaikan perintah kakeknya untuk tetap di rumah, Sean memanjat dinding belakang mansion Riccardo.

Dengan kemampuan atletisnya, ia merayap naik menuju balkon kamar Eleanor yang sangat ia kenali dari hasil stalking-nya selama ini.

Sean masuk melalui pintu kaca yang tidak terkunci. Di dalam kamar yang remang-remang itu, ia melihat Eleanor sedang meringkuk di atas tempat tidur, bahunya bergetar karena tangisan yang tertahan.

"Eleanor..." suara Sean serak, hampir pecah.

Eleanor tersentak dan langsung bangkit. Matanya sembab dan merah.

"Lo... ngapain di sini?! Pergi! Gue bakal panggil sekuriti!"

Sean tidak mendekat, ia justru langsung bersimpuh di lantai, berlutut di depan tempat tidur Eleanor. Ia mengeluarkan selembar amplop putih dari balik jaketnya yang basah kuyup.

"Baca ini, El. Gue mohon," ucap Sean dengan napas tersenggal.

Eleanor mengambilnya dengan tangan gemetar. Itu adalah surat resmi dari rumah sakit ternama. Di sana tertulis dengan sangat detail: Sean Manuel Abelano Aimo dinyatakan bersih dari segala penyakit menular seksual dan hasil tes menunjukkan tidak adanya aktivitas seksual yang pernah tercatat secara medis.

"Gue nggak pernah tidur sama model-model itu. Gue nggak pernah nyentuh siapa pun," bisik Sean, kepalanya tertunduk dalam.

"Rumor itu sampah yang gue buat sendiri karena gue terlalu pengecut buat kelihatan lemah di depan orang lain."

Eleanor terdiam, matanya menatap surat itu lalu beralih ke Sean yang masih bersujud.

Namun, kemarahan Eleanor belum hilang. "Terus kenapa Lo harus hina gue kayak tadi siang? Kenapa Lo bilang gue kotor?"

Sean mendongak, air mata mulai mengalir di pipinya, bercampur dengan sisa air hujan.

"Karena gue gila, Eleanor! Gue frustrasi karena setiap kali gue deket sama Lo, jantung gue rasanya mau copot. Gue benci fakta kalau Lo satu-satunya cewek yang bisa bikin gue ngerasa nggak berdaya," Sean berteriak pelan, suaranya penuh keputusasaan.

"Gue sayang sama Lo, El. Gue cinta sama Lo sampai rasanya sesak!"

Eleanor terpaku. Kamar itu mendadak sunyi, hanya suara rintik hujan yang terdengar. Dia... beneran suka sama gue? Sean Manuel yang angkuh itu? batin Eleanor. Ia ingin percaya, tapi rasa sakit hati tadi siang masih terlalu segar.

Melihat Eleanor yang hanya diam tanpa reaksi, Sean meneteskan air mata lebih deras. Ia merasa sudah benar-benar kehilangan kesempatan.

"Maafin gue kalau cara gue salah," isak Sean, suaranya mengecil. "Gue cuma laki-laki yang sebelumnya nggak pernah jatuh cinta. Gue nggak tahu gimana caranya bersikap manis... gue nggak tahu bedanya antara pengen milikin Lo sama cara buat hargain Lo. Gue payah, El. Gue bener-bener sampah kayak yang Lo bilang."

Sean berdiri dengan lemas, wajahnya pucat pasi. "Gue bakal pergi. Gue nggak bakal ganggu Lo lagi kalau itu yang bikin Lo bahagia. Tapi gue mohon, jangan pernah mikir kalau gue nganggep Lo kotor. Lo itu... satu-satunya hal paling suci yang pengen gue jaga, tapi malah gue hancurin sendiri."

Eleanor hanya menatap punggung Sean yang mulai bergerak menuju balkon. Ada rasa perih di dadanya melihat sisi rapuh Sean yang belum pernah diperlihatkan pada dunia.

Sean berhenti tepat di ambang pintu balkon. Bahunya yang lebar tampak bergetar pelan karena isak tangis yang tertahan. Langkahnya terhenti saat sebuah suara lembut, namun masih terdengar sedikit kesal, memanggil namanya.

"Sean..."

Sean berbalik perlahan, wajahnya basah dan berantakan. Eleanor berdiri di tepi ranjang, meremas surat hasil medis itu di tangannya.

"Gimana mungkin... cowok kayak Lo yang seleranya model papan atas, bisa suka sama cewek yang katanya dada minimalis?" tanya Eleanor, menatap Sean dengan tatapan menyelidik.

Sean mengusap wajahnya dengan kasar. Dalam kondisi kacau seperti ini, filter di otaknya sudah benar-benar hilang. Dia tidak peduli lagi kalau harus terlihat mesum atau aneh, dia hanya ingin jujur!

"Lo mau tau kebenarannya?" Sean melangkah mendekat, matanya menatap Eleanor dengan intensitas yang jujur. "Waktu gue gendong Lo keluar dari ruang ganti kemarin... tangan gue ada di bawah tubuh Lo, El. Gue bisa ngerasain semuanya."

Eleanor membelalak, wajahnya mulai memanas.

"Gue udah ngukur secara refleks," lanjut Sean tanpa dosa. "Dada Lo nggak minimalis sama sekali. Itu... sangat pas di tangan gue yang besar ini. Bahkan mungkin penuh kalau gue bener-bener menyentuhnya. Gue bohong soal ulasan itu cuma karena gue nggak mau Lo tau kalau gue sebenernya... turned on cuma karena gendong Lo."

BUK!

Eleanor memukul bahu Sean pelan, wajahnya sudah semerah tomat. "Gila! Lo bener-bener pria mulut beracun yang mesum!"

Meskipun kesal, ada rasa lega yang aneh di hati Eleanor. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang. Ia menatap mata biru Sean yang kini terlihat sangat polos, jauh dari kesan iblis yang biasanya ia tampilkan.

"Satu lagi," tanya Eleanor pelan. "Apa bener... dari sekian banyak model di agensi Daddy Lo, nggak ada satu pun yang pernah Lo cium? Nggak mungkin, Sean. Lo itu Sean Manuel."

Sean menggelengkan kepala dengan tegas. Ia maju satu langkah lagi hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Aroma hujan dan parfum maskulin Sean kini bercampur menjadi satu.

"Boro-boro nyium, El. Memikirkan buat nyentuh bibir mereka aja nggak pernah kepikiran sama sekali di otak gue," ngaku Sean jujur.

"Buat gue, mereka itu cuma pajangan. Gue nggak pernah ngerasain tarikan kayak magnet setiap kali gue liat mereka. Tapi sama Lo..."

Sean menunduk, menatap bibir Eleanor yang sedikit terbuka.

"Cuma sama Lo gue ngerasa pengen jadi laki-laki paling berengsek sekaligus paling protektif di dunia dalam waktu yang bersamaan."

Eleanor terdiam, ia bisa merasakan ketulusan dari nada suara Sean. Pria di depannya ini memang temperamental dan bermulut kasar, tapi dia juga seorang remaja laki-laki yang baru pertama kali jatuh cinta dan tidak tahu cara mengelola perasaannya.

"Jadi..." Eleanor berbisik, "Lo beneran masih simpen ciuman pertama Lo?"

Sean hanya mengangguk pelan, terlihat sangat kikuk dan malu, sangat berbeda dengan sosok yang tadi siang mengamuk di jalanan Manhattan.

Eleanor menatap lekat mata biru Sean yang masih basah. Melihat kerentanan dan kejujuran yang begitu murni dari pria yang paling ditakuti di New York itu, pertahanan Eleanor runtuh. Ia memiringkan kepalanya, lalu tanpa peringatan, ia menarik tengkuk Sean dan menempelkan bibirnya di atas bibir pria itu.

Sean membeku. Seluruh syarafnya seolah mati rasa selama beberapa detik. Ini adalah kontak fisik yang jauh lebih mengejutkan daripada tamparan tadi siang.

Namun, begitu kesadarannya kembali dan ia merasakan kelembutan bibir Eleanor yang manis, naluri seorang pria Abelano dalam dirinya bangkit.

Sean mengerang rendah di tengah ciuman itu. Tangannya yang besar langsung melingkar protektif di pinggang Eleanor, menarik tubuh montok gadis itu hingga tidak ada jarak di antara mereka.

Ciuman yang awalnya hanya kecupan ragu sebagai tanda maaf, berubah menjadi ciuman panas yang penuh dengan emosi yang selama ini tertahan.

Berbekal insting pria dan mungkin sedikit pengaruh dari adegan-adegan drama yang sering ia lihat di agensi ayahnya, Sean membawa Eleanor menuju ranjang tanpa memutuskan tautan bibir mereka.

Mereka jatuh di atas kasur empuk dengan Sean yang berada di atas, menopang tubuhnya agar tidak menghimpit Eleanor sepenuhnya. Ciuman itu semakin dalam, semakin menuntut, seolah mereka sedang saling menghapus luka yang mereka buat sendiri seharian ini.

Tangan Sean mulai merayap turun, ia ingin membuktikan sendiri bahwa ulasannya tentang tubuh Eleanor memang benar adanya.

Namun, tepat saat Sean akan mencium leher Eleanor dengan lebih intens...

BRAAAK!

Pintu kamar terbanting terbuka. Lampu kamar utama menyala terang benderang.

"SEAN MANUEL ABELANO AIMO! APA YANG KAMU LAKUKAN PADA CUCU SAYA?!"

Suara menggelegar itu bukan milik sembarang orang. Itu adalah Grandfather Riccardo.

Beliau berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam, didampingi oleh dua pengawal bertubuh kekar. Di belakangnya, Mommy Claire juga tampak berdiri dengan wajah yang pucat pasi sekaligus syok melihat putranya berada di atas ranjang bersama Eleanor.

Sean dan Eleanor langsung terperanjat. Sean segera pasang badan di depan Eleanor, menutupi kemeja Eleanor yang sedikit berantakan dari pandangan para pria di depan pintu.

"K-kakek..." gumam Eleanor dengan suara bergetar, wajahnya sudah semerah kepiting rebus.

"Keluar kamu dari sana, Sean!" bentak Grandfather Riccardo, tangannya yang memegang tongkat kayu hitam gemetar karena marah. "Saya pikir kamu datang untuk meminta maaf secara terhormat, ternyata kamu malah mencoba merusak cucu saya di kamarnya sendiri?!"

Claire melangkah masuk, menatap Sean dengan tatapan yang sangat tajam. "Sean, Mommy sudah bilang jangan lakukan hal bodoh. Tapi ini... ini sudah di luar batas."

Sean berdiri dengan tegak, meskipun ia tahu posisinya sangat berbahaya. Ia menatap Grandfather Riccardo tanpa rasa takut.

"Saya memang salah masuk lewat balkon, Sir. Tapi saya ke sini untuk memberikan bukti kalau saya tidak sekotor yang orang-orang bilang. Dan soal tadi... saya melakukannya karena saya mencintai Eleanor."

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰🥰🥰

1
Retno Isusiloningtyas
happy ever after
Retno Isusiloningtyas
aku kok blm nerima undangannya yaaa🤭
ros 🍂: Ntar dikirimin ya kak undangannya 🤣
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
wow...
keren....
Retno Isusiloningtyas
seruuuuuu👍
Retno Isusiloningtyas
😍
Sweet Girl
Buktikan. Claire... dr pada mati penasaran.
Sweet Girl
Bwahahaha dibilang Duta Kokop.🤣
sasip
ngeri loh kalimat pernyataan leo: "satu²nya skenario yg ingin dipelajari sampe mati".. mantab jiwa.. 👍🏻🫣😉🤭😅
sasip
enggak nyangka ei.. novel sebagus ini masih sepi pembaca.. sy yg awalnya cuma iseng mampir gegara liat cover yg provokatif pun terhipnotis & kepengen baca terus, tapi sempetin mampir deh buat memberi semangat othor keren.. 👍🏻 TOP pake banged.. lanjut ya thor.. 🫶🏻💪🏻🫰🏻
ros 🍂: Ma'aciww sudah mampirr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!