Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB SEMBILAN: TIRAI KACA GISELLE
BRAK!!
Suara debuman pintu kamar mandi yang dibanting oleh Orion masih terngiang di telinga Seraphina, bergetar di dalam dadanya seperti guntur yang enggan pergi. Namun, di dalam dekapan Giselle Valentinus, dunia yang tadi terasa begitu kasar dan penuh kekerasan tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang sangat aneh. Giselle tidak bergerak sedikit pun saat putranya mengamuk; dia tetap tenang, jemarinya yang lentik dan dingin terus mengelus rambut Seraphina dengan gerakan yang ritmis, hampir seperti sedang menghipnotis.
"Dasar anak itu, selalu saja begitu kalau keinginannya tidak dituruti. Manja sekali," Giselle mendengus pelan, seolah perilaku predator Orion hanyalah sekadar tantrum anak kecil yang tidak mendapatkan mainan di toko. Dia kemudian merenggangkan pelukannya sedikit, hanya untuk menatap wajah Seraphina dengan binar mata yang semakin kuat. "Sudah, jangan gemetar lagi, Nana. Mama ada di sini. Serigala nakal itu tidak akan bisa menyentuhmu selama kau berada dalam perlindungan Mama. Dia pikir dia bisa memiliki segalanya hanya dengan kekerasan? Hmmph! Dia belum tahu bagaimana rasanya berurusan dengan Mama jika Mama sudah merasa sayang pada seseorang."
Seraphina masih terisak, namun tangisannya kini lebih karena rasa syok yang mendalam. Tubuhnya masih merasakan perih yang membakar di titik paling intim, sebuah pengingat nyata bahwa Orion baru saja merobek paksa dunianya yang polos. Dia menatap Giselle dengan mata yang merah dan sembab. Wanita di hadapannya ini adalah ibu dari monster yang baru saja menyerangnya, namun anehnya, kata-kata Giselle terasa seperti oase di tengah padang pasir yang gersang.
"Hiks... dia... dia melakukan hal yang sangat jahat padaku, Nyonya..." bisik Seraphina, suaranya parau dan hilang timbul.
"Panggil Mama, Sayang. Sudah kukatakan, bukan?" Giselle menyentuh bibir Seraphina dengan lembut, sebuah gerakan yang menenangkan sekaligus mengandung perintah yang tak terbantahkan. "Aku tahu apa yang dia lakukan. Orion memang selalu memiliki nafsu yang besar, persis seperti ayahnya. Dia lapar, Nana. Dia melihat kecantikanmu dan insting binatangnya langsung mengambil alih. Tapi jangan khawatir, Mama akan mengajarinya cara bersikap lebih sopan pada seorang putri sepertimu."
Giselle kemudian bangkit sedikit, mengambil sebuah botol kecil berisi minyak esensial dari meja samping tempat tidur. Aroma lavender dan mawar yang sangat menenangkan langsung memenuhi udara, mencoba menutupi aroma keringat dan darah yang tadi mendominasi ruangan. Dia mulai mengoleskan sedikit minyak itu ke pergelangan tangan Seraphina, memberikan sensasi dingin yang sedikit meredakan ketegangan saraf gadis itu.
"Mama sudah lama sekali merindukan momen seperti ini, tahu tidak?" Giselle melanjutkan bicaranya dengan nada yang sangat emosional, seolah dia sedang berbagi rahasia yang paling dalam. "Di rumah yang besar dan dingin ini, hanya ada pria-pria kaku yang selalu bicara tentang kekuasaan, bisnis, dan darah. Papa-mu, Orion... mereka semua sama. Tidak ada yang mengerti keindahan dari sebuah gaun sutra atau pentingnya warna pita yang senada dengan warna mata. Tapi sekarang ada kamu. Kamu adalah jawaban dari doa-doa Mama."
Mata Giselle tampak berkaca-kaca, namun di balik itu ada sebuah obsesi yang terlihat sangat jelas. Dia tidak peduli bahwa Seraphina adalah korban; baginya, Seraphina adalah sebuah kesempatan untuk mewujudkan fantasi hidupnya yang belum lengkap. Dia ingin mendandani Seraphina, memamerkannya, dan menjadikannya pusat dari dunianya yang penuh warna.
"Sekarang, kita harus membersihkan tubuhmu dulu, Nana," ucap Giselle tiba-tiba, nadanya berubah menjadi lebih bersemangat. "Mama tidak suka melihatmu kotor dan berantakan begini. Kita akan mandi air hangat. Mama punya sabun khusus dari bunga melati yang dikirim langsung dari Prancis. Kita akan menghilangkan semua jejak kasar Orion dari kulitmu yang indah ini."
Seraphina terkejut. "Mandi? Tapi... aku bisa sendiri, Nyonya... maksudku, Mama."
"Tidak, tidak. Kamu sedang lemah, Sayang. Mama yang akan mengurus semuanya," jawab Giselle dengan tegas namun lembut.
Sementara itu, di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat, Orion berdiri di bawah pancuran air dingin. Air yang membasahi tubuhnya seolah tidak mampu memadamkan api yang membara di dalam dadanya. Dia menghantamkan tinjunya ke dinding keramik berkali-kali hingga buku jarinya memerah. Setiap tetesan air yang jatuh mengingatkannya pada rintihan Seraphina yang tadi memenuhi ruangan.
"Sialan kau, Giselle!" geram Orion di tengah suara gemericik air. "Kau selalu saja merusak segalanya."
Orion memejamkan mata, dan bayangan memek Seraphina yang merah dan bengkak kembali muncul di benaknya. Dia bisa merasakan betapa ketatnya gadis itu, betapa murninya reaksi tubuh Seraphina saat dia merobek pertahanannya. Gairahnya kembali memuncak, membuat miliknya yang besar kembali berdenyut nyeri menuntut pelepasan. Namun, dia tahu dia tidak bisa keluar sekarang dan merebut Seraphina dari ibunya. Itu hanya akan memicu konflik yang lebih besar dengan sang kepala keluarga Valentinus.
"Kau pikir kau bisa melindunginya, Mama?" Orion tersenyum miring, sebuah seringai yang penuh dengan kelicikan. "Silakan saja. Manjakan dia, bersihkan dia, wangi-wangikan dia. Semakin kau merawatnya, semakin nikmat bagiku untuk mengotorinya kembali nanti. Kau hanya sedang menyiapkan hidangan yang lebih lezat untuk kuberikan pada serigala di dalam diriku."
Orion mulai membayangkan rencana jangka panjang. Dia akan membiarkan Giselle membawa Seraphina ke dalam lingkup pengaruhnya. Dia akan membiarkan gadis itu merasa aman untuk sementara waktu di bawah sayap pelindung ibunya. Namun, dia akan memastikan bahwa setiap kali Giselle lengah, dia akan hadir sebagai bayang-bayang yang menghantui setiap napas Seraphina. Dia akan membuat Seraphina menyadari bahwa tidak ada tempat persembunyian yang cukup aman dari seorang Orion Maximus Valentinus.
Kembali ke kamar, Giselle telah menyiapkan jubah mandi berbahan beludru yang sangat lembut untuk Seraphina. Dia membantu gadis itu berdiri dari ranjang dengan sangat hati-hati, seolah Seraphina adalah porselen yang bisa pecah kapan saja. Saat Seraphina bergerak, rasa nyeri kembali menghujam bagian bawah tubuhnya, membuatnya sedikit merintih.
"Sst, pelan-pelan, putriku," bisik Giselle sambil menahan pinggang Seraphina. "Sakit itu akan segera hilang. Mama akan memberikan obat terbaik. Setelah mandi, kita akan tidur bersama, dan besok adalah awal dari kehidupan barumu yang penuh dengan kemewahan."
Seraphina menatap ke arah cermin besar yang ada di ruangan itu. Dia melihat bayangannya sendiri: seorang gadis yang tampak hancur, namun kini dibungkus oleh perhatian yang luar biasa dari seorang wanita yang hampir tidak dia kenal. Di satu sisi dia merasa sangat ketakutan karena dia masih berada di rumah monster, namun di sisi lain, kepolosan dan rasa haus akan kasih sayang yang selama ini dia rindukan di panti asuhan membuatnya merasa sedikit terbuai oleh janji-manis Giselle.
Giselle menuntun Seraphina menuju bak mandi besar yang sudah dipenuhi busa harum. Dia mulai melepaskan selimut yang melilit tubuh Seraphina dengan gerakan yang sangat telaten, seolah sedang melakukan sebuah upacara suci. Seraphina hanya bisa menunduk, menutup wajahnya dengan tangan karena rasa malu yang luar biasa saat tubuhnya yang penuh dengan jejak Orion terekspos di bawah cahaya lampu kristal.
"Jangan malu, Nana. Tubuhmu adalah mahakarya," puji Giselle sambil mengusapkan busa lembut ke bahu Seraphina. "Orion memang tidak tahu cara menghargai keindahan. Tapi Mama tahu. Mama akan menjagamu agar tetap berkilau seperti ini selamanya."
Dalam keheningan ritual mandi itu, Seraphina mulai merasa bahwa dia sedang masuk ke dalam jenis penjara yang berbeda. Jika Orion adalah penjara yang penuh dengan rantai besi dan kekerasan, maka Giselle adalah penjara kaca yang indah namun menyesakkan. Dia terjebak di antara dua kutub keluarga Valentinus yang sama-sama berbahaya dengan cara mereka masing-masing.