Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Panggung yang Salah
Belum sempat Valerius mengeluarkan kata penolakan yang dingin, orkestra di tengah aula meledakkan nada pembuka waltz yang sangat energik. Eleanor, yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya, melihat celah itu sebagai kesempatan emas.
Tanpa ragu, ia menyambar pergelangan tangan Valerius yang terbungkus sarung tangan kulit hitam, menariknya dengan sedikit paksaan menuju tengah lantai dansa yang kini disorot lampu kristal paling terang.
Valerius membeku sejenak. Tubuhnya kaku seperti batu nisan. Jika bukan karena posisinya sebagai tamu misterius yang harus menjaga penyamaran, ia pasti sudah mematahkan tangan gadis manusia yang lancang ini.
Namun, demi menghindari kekacauan yang akan menarik perhatian seluruh kota, ia terpaksa mengikuti langkah Eleanor.
Lampu sorot kini mengikuti mereka. Semua mata tertuju pada pasangan baru itu—Sang Putri Kota yang bersinar dengan kristalnya, dan Sang Pria Misterius yang tampak begitu dominan dalam kegelapannya.
"Lihatlah mereka! Pasangan yang sangat serasi!" bisik para tamu, bertepuk tangan pelan mengikuti irama musik.
Namun, di sudut meja makanan yang remang-remang, pemandangan yang sangat kontras terjadi.
Genevieve sama sekali tidak menoleh. Ia benar-benar tenggelam dalam dunianya sendiri.
Tangannya kini meraih sepotong truffle cokelat yang dilapisi bubuk emas. Ia mengunyahnya dengan khidmat, menutup matanya sejenak untuk menikmati rasa pahit-manis yang lumer di lidahnya. Baginya, orkestra mewah itu hanyalah musik latar yang menemani santap malamnya yang luar biasa.
"Untunglah dia ditarik Eleanor," pikir Genevieve sambil mengambil segelas kecil mousse stroberi. "Akhirnya aku bisa makan tanpa merasa diawasi oleh sepasang mata merah yang seolah ingin menelanmu hidup-hidup."
Ia merasa sangat bebas. Tidak ada debaran jantung yang sesak, tidak ada hawa dingin yang mengancam. Hanya ada dia, piring kecilnya, dan deretan makanan penutup yang belum ia cicipi.
Dari tengah lantai dansa, di sela-sela putaran waltz-nya dengan Eleanor, mata Valerius terus melirik ke arah meja makanan.
Amarahnya memuncak saat melihat Genevieve tampak begitu bahagia—bahkan terlihat sangat imut—saat menjilati sisa krim di jarinya, seolah-olah keberadaan Valerius di lantai dansa dengan wanita lain sama sekali tidak berarti baginya.
Valerius mengerutkan rahangnya. Eleanor yang sedang tersenyum manis padanya sama sekali tidak ia hiraukan.
Pikirannya hanya satu: Berani-beraninya gadis kecil itu lebih mencintai cokelat daripada kecemburuannya
Valerius bergerak dengan presisi yang menakutkan.
Meskipun wajahnya datar tanpa emosi, setiap langkah dan putarannya sangat sempurna—hasil dari ratusan tahun menyaksikan berbagai tren dansa manusia yang datang dan pergi. Ia membiarkan Eleanor memandu, namun tubuhnya tetap kaku seperti patung yang dipaksa hidup.
Eleanor, yang merasa telah berhasil "menaklukkan" sang pria misterius, tersenyum lebar. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung malam itu.
Namun, jika saja ia bisa melihat di balik topeng Valerius, ia akan menemukan tatapan yang penuh dengan kebosanan yang mendalam. Bagi Valerius, aroma parfum Eleanor yang menyengat terasa seperti polusi, sangat kontras dengan aroma "anggur" alami yang menguar dari tubuh Genevieve.
Dari kejauhan, Genevieve sesekali melirik. Ia melihat betapa serasinya mereka di bawah lampu sorot.
Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia senang karena tidak lagi menjadi pusat perhatian, namun setiap kali ia melihat tangan Valerius yang masih melingkar di pinggang Eleanor—meskipun hanya untuk formalitas dansa—ada rasa sesak kecil yang ia tekan dengan suapan kue terakhirnya.
"Lihatlah, mereka tampak seperti raja dan ratu malam ini," batin Genevieve. Ia meletakkan piringnya yang kini telah kosong. Rasa kenyang mulai menyapa, namun rasa hampa yang aneh justru perlahan merayap naik.
Tiba-tiba, musik mencapai nada puncaknya. Valerius melakukan satu putaran terakhir yang cukup cepat, membuat gaun Eleanor mengembang indah. Semua orang bertepuk tangan riuh.
Namun, tepat saat musik berhenti, Valerius langsung melepaskan tangan Eleanor dengan gerakan yang sangat efisien—nyaris tidak sopan—tanpa memberikan kesempatan bagi gadis itu untuk mengucapkan sepatah kata pun.
Tanpa membungkuk hormat, Valerius langsung membalikkan badannya. Matanya yang tajam langsung mengunci posisi Genevieve yang sedang berdiri di dekat meja minuman, seolah-olah ia memiliki radar khusus untuk gadis itu.
Valerius berjalan membelah kerumunan dengan langkah lebar, sama sekali tidak memedulikan Eleanor yang berdiri mematung di tengah lantai dansa dengan wajah yang memerah antara malu dan bingung.
Langkah Valerius yang tadinya mengarah lurus ke arah Genevieve terhenti sejenak ketika sebuah pergerakan dari arah samping memotong jalurnya.
Julian.
Pria itu, yang sedari tadi mencari celah untuk masuk ke lingkaran elit, tidak membuang waktu sedetik pun setelah Valerius melepaskan Eleanor.
Dengan keberanian yang dipaksakan dan senyum paling menawan yang ia miliki, Julian membungkuk rendah di hadapan sang putri kota.
"Nona Eleanor, sebuah penghinaan bagi musik ini jika ia berhenti saat kecantikan Anda masih ingin berpendar. Izinkan saya menggantikan posisi Tuan misterius ini," ucap Julian dengan nada bicara yang manis.
Eleanor, yang merasa terhina karena ditinggalkan begitu saja oleh Valerius di tengah lantai dansa, segera menyambar tangan Julian.
Ia ingin menunjukkan pada pria bertopeng itu bahwa ia tidak kekurangan pengagum. Meskipun hatinya masih tertuju pada Valerius, harga dirinya memaksa ia untuk tetap berdansa dengan siapa pun yang menawarkan tangan, termasuk Julian.
Kini, perhatian massa kembali beralih pada Julian dan Eleanor. Panggung itu menjadi milik mereka.
Valerius hanya mendengus rendah, sebuah suara yang terdengar seperti geraman serigala yang tertahan.
Ia sama sekali tidak peduli pada Julian yang mencoba mencuri panggung. Baginya, Julian hanyalah serangga yang kebetulan membantu menyingkirkan pengganggu lain.
Ia melanjutkan langkahnya yang tertunda, kini benar-benar sampai di hadapan Genevieve yang sedang memegang gelas jus anggur keduanya.
"Sesi menontonnya sudah selesai, Puan kecil?" tanya Valerius dingin.
Ia berdiri begitu dekat hingga Genevieve harus mendongak, membuat bayangan tubuh tinggi Valerius menelan sosok gadis itu sepenuhnya.
"Kau tampak sangat menikmati pertunjukan tadi. Apa kau berharap aku akan terus berdansa dengannya agar kau bisa menghabiskan seluruh meja makanan ini sendirian?"
Genevieve menelan ludah, sisa rasa manis di mulutnya mendadak terasa hambar karena intensitas tatapan Valerius. "Julian tampak... sangat bahagia," bisiknya, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak peduli pada kebahagiaan manusia bodoh itu," Valerius merebut gelas dari tangan Genevieve, menyesap isinya sedikit—sebuah tindakan yang sangat tidak sopan namun terasa sangat intim—lalu meletakkannya kembali ke meja dengan denting keras.
"Sekarang, ikut aku. Udara di sini mulai berbau busuk karena ambisi mereka."
keren
cerita nya manis