NovelToon NovelToon
The CEO'S Only Cure: Married To The Untouchable

The CEO'S Only Cure: Married To The Untouchable

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Anak Yang Berpenyakit / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Darah di Atas Altar

Suara tembakan itu memekakkan telinga, memantul di dinding ballroom yang mewah dan seketika membungkam musik klasik yang sedari tadi mengalun. Bau mesiu menyeruak di antara aroma mawar putih.

"ARKANZA!!!" teriak Aira dari layar besar, suaranya melengking penuh keputusasaan.

Arkanza mematung. Ia merasakan embusan angin dari peluru yang lewat hanya beberapa inci dari wajahnya. Namun, ia tidak jatuh. Justru di depannya, Reno tersungkur dengan bahu yang bersimbah darah.

"Reno!" Arkanza menangkap tubuh asisten setianya itu sebelum menghantam lantai. "Sialan! Bertahanlah, Reno!"

"Tuan... pergilah... selamatkan... Nyonya..." bisik Reno menahan sakit yang luar biasa.

Syarif Malik berdiri gemetar, pistol di tangannya masih berasap. Matanya liar, menatap ratusan tamu yang kini berlarian histeris mencari perlindungan. Di sampingnya, Siska berteriak ketakutan, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Syarif.

"Jangan mendekat! Siapa pun yang mendekat, aku akan menembak kepalanya!" teriak Syarif kalap. Ia merenggut leher Siska, menjadikannya tameng hidup.

"Ayah, hentikan!" Arkanza berdiri, matanya berkilat penuh amarah yang dingin. Bintik merah di lehernya kini menghitam, menandakan detak jantungnya berada di titik puncak. "Kau sudah kalah! Lihat sekelilingmu! Polisi sudah mengepung gedung ini!"

"Kalah? Aku tidak akan pernah kalah dari anak ingusan sepertimu!" Syarif tertawa histeris, menyeret Siska menuju pintu darurat di belakang altar. "Jika aku tidak bisa memiliki Malik Group, maka tidak akan ada yang bisa! Siska, kau ikut denganku!"

"Lepaskan aku, Paman! Aku tidak mau mati!" jerit Siska sambil menangis, namun Syarif justru menekan moncong pistol ke pelipisnya.

Di layar besar, Santi (Ibu Arkanza) tampak pucat pasi melihat suaminya berubah menjadi monster. "Syarif, hentikan kegilaan ini! Kau sudah menghancurkan hidupku lima belas tahun, jangan hancurkan nyawa putramu juga!"

Syarif menoleh ke arah layar, menatap wajah istrinya dengan penuh kebencian. "Kau seharusnya mati di jurang itu, Santi! Jika kau mati, semuanya akan jauh lebih mudah!"

Tiba-tiba, Alan melangkah maju dari arah pintu utama, mendekat ke arah panggung dengan langkah mantap. "Kau pengecut, Syarif! Kau selalu menggunakan orang lain untuk menutupi tangan kotormu. Dulu kau menggunakan aku untuk memutus rem mobil istrimu, dan sekarang kau menggunakan gadis ini sebagai tameng?"

"Alan! Berhenti di situ atau aku tembak dia!" ancam Syarif.

"Tembak saja!" tantang Alan dengan suara menggelegar. "Gadis itu bahkan bukan anakku! Dia hanya pion yang kau sewa untuk menipu wasiat kakek Arkanza! Tapi ingat satu hal, Syarif... aku punya rekaman asli pembicaraan kita lima belas tahun lalu. Kau tidak akan bisa lari ke mana pun!"

Syarif semakin terpojok. Ia melihat pintu darurat terbuka. Dengan gerakan cepat, ia memukul kepala Siska dengan gagang pistol hingga gadis itu pingsan, lalu melemparkan tubuh Siska ke arah Arkanza sebagai penghalang.

"Tangkap ini, Arkanza!"

Arkanza terpaksa menangkap tubuh Siska agar tidak menghantam lantai, dan dalam detik yang sangat singkat itu, Syarif melesat keluar menuju tangga darurat.

"Reno, tetaplah di sini! Tim medis akan segera datang!" seru Arkanza pada asistennya. Ia menatap Alan. "Alan, jaga Ibuku dan Aira dari sana! Aku akan mengejarnya!"

"Tuan Arkan, hati-hati! Dia membawa senjata!" teriak Alan.

Arkanza tidak peduli. Amarahnya sudah meluap. Ia berlari mengejar ayahnya menyusuri koridor hotel yang sepi. Di ujung lorong, ia melihat Syarif masuk ke dalam lift menuju atap gedung (helipad).

"Kau tidak akan bisa lari, Ayah!" Arkanza berteriak sambil menaiki tangga manual dengan kecepatan penuh. Paru-parunya terasa terbakar, napasnya pendek, tapi bayangan wajah Aira dan Ibunya memberinya kekuatan yang tidak masuk akal.

Di helipad, helikopter pribadi Syarif sudah menyala, baling-balingnya menciptakan badai angin yang menerbangkan debu. Syarif berlari menuju helikopter itu, namun langkahnya terhenti saat pintu akses ke atap ditendang terbuka oleh Arkanza.

"Berhenti di sana!" Arkanza terengah, bajunya kusut, matanya tajam.

Syarif berbalik, menodongkan pistolnya lagi. "Kau keras kepala sekali, Arkanza! Kenapa kau tidak membiarkan aku pergi dengan tenang?!"

"Pergi dengan tenang? Setelah kau mencoba membunuh istrimu sendiri? Setelah kau membiarkan putramu hidup dalam kutukan penyakit ini selama bertahun-tahun?!" Arkanza melangkah maju, perlahan tapi pasti. "Satu-satunya tempat yang tenang untukmu adalah penjara... atau liang lahat."

"Jangan mendekat! Aku bersumpah akan menembakmu!"

"Tembaklah!" Arkanza merobek kemejanya, menunjukkan dadanya yang dipenuhi bintik merah akibat reaksi alergi stres yang parah. "Lihat ini! Ini adalah hasil dari semua kebohonganmu! Tembak aku dan selesaikan apa yang kau mulai lima belas tahun lalu!"

Tangan Syarif bergetar hebat. Di balik kebengisannya, ada sisa rasa takut melihat putranya yang tampak siap mati. "Kau... kau benar-benar gila karena wanita itu..."

"Bukan karena dia, tapi karena aku ingin bebas darimu!"

Tepat saat Syarif akan menarik pelatuknya, suara sirine polisi terdengar dari bawah, dan beberapa helikopter polisi mulai muncul di cakrawala. Syarif panik. Ia berbalik untuk melompat ke helikopternya, namun kakinya tersandung kabel penahan.

DOR!

Pistolnya meletus ke udara saat ia terjatuh. Arkanza menerjang, memukul wajah ayahnya dengan seluruh tenaga yang ia simpan. Keduanya berguling di atas semen yang kasar.

"Ini untuk Ibu!" BUGH!

"Ini untuk Aira!" BUGH!

"Dan ini untuk hidupku yang kau hancurkan!" BUGH!

Syarif terkapar, sudut bibirnya pecah. Arkanza berdiri di atasnya, napasnya memburu. Namun, Arkanza tidak membunuhnya. Ia menarik kerah baju ayahnya.

"Aku tidak akan membunuhmu. Itu terlalu mudah. Aku ingin kau membusuk di penjara dan melihat aku bahagia bersama Aira... setiap hari, sampai kau memohon pada maut untuk menjemputmu."

Polisi menyerbu atap gedung, menodongkan senjata ke arah Syarif. Syarif Malik, sang penguasa Malik Group, kini meringkuk seperti tikus yang tertangkap basah.

Satu Jam Kemudian - Lobi Hotel

Arkanza berjalan keluar dari hotel dengan tubuh yang penuh luka dan lebam. Di kejauhan, ia melihat ambulans yang membawa Reno. Namun perhatiannya teralih saat sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya.

Pintunya terbuka. Aira berlari keluar, air matanya membasahi pipinya yang kotor.

"ARKANZA!"

Arkanza merentangkan tangannya. Aira menghambur ke pelukannya, menangis tersedu-sedu di dada suaminya. Arkanza memejamkan mata, menghirup aroma rambut Aira dalam-dalam. Seketika, bintik merah di tubuhnya memudar. Napasnya kembali normal.

"Aku di sini, Sayang... aku di sini," bisik Arkanza, mencium puncak kepala Aira berkali-kali.

"Jangan pernah... jangan pernah lakukan itu lagi... aku pikir aku kehilanganmu," isak Aira.

"Tidak akan. Aku sudah janji, kan? Aku tidak bisa bernapas tanpamu."

Di belakang mereka, Alan berdiri menatap putrinya dengan haru, namun ada tatapan misterius di matanya saat ia melihat Arkanza. Ia memegang sebuah tas kecil yang berisi dokumen rahasia dari masa lalu Riana.

...****************...

Saat Arkanza dan Aira sedang berpelukan, seorang pria asing dengan setelan jas abu-abu mendekati mereka. Ia membungkuk hormat pada Aira, bukan pada Arkanza. "Nona Aira Kirana, saya pengacara dari pihak keluarga besar Riana di London. Kedatangan saya ke sini untuk memberitahu bahwa aset yang dimiliki Malik Group sebenarnya hanyalah 30% dari total kekayaan asli yang seharusnya Anda terima dari mendiang Ibu Anda."

Arkanza tertegun. "Apa maksudmu?"

"Malik Group hanyalah salah satu 'cabang' kecil dari kekaisaran bisnis keluarga Nona Aira yang sebenarnya."

1
Ms. R
Ka ceritanya sangat menarik, saya suka. tapi nama2nya bikin gak mood baca, ini seperti cerita mafia Eropa tapi namanya indo banget, maaf ka gak enak dibaca nya
Ariska Kamisa: hehe maaf ya kak kalo kurang memuaskan🙏
latarnya emang di indo, tapi plot twist nya aira emang keturunan mafia, ibunya kabur ke indo.
total 1 replies
Suginah Ana
critanya bagus menegangkan q suka
Ariska Kamisa: terimakasih kak 🙏
total 1 replies
Ariska Kamisa
emang agak tsunder sih arkan 🤣
🍒⃞⃟🦅 ☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
ini dnamakan keluar mulut buaya masuk mulut harimau🤣 dua² ngeri
umie chaby_ba
seru nih ... penasaran akhirnya gimana ? apa penyakitnya Arkan akan sembuh atau selamanya akan bergantung pada Aira . /Whimper/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!