Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata di Balik Ubin
Suasana dapur mendadak senyap, menyisakan suara detak jam dinding tua yang bunyinya terasa seperti hantaman palu di kepala Andini. Suara langkah perlahan memudar, hancur berkeping-keping menjadi udara kosong. Semua yang ia dengar hanyalah manifestasi dari rasa takut dan rasa bersalah yang telah meluap melampaui batas kewarasannya.
Andini duduk bersimpuh di tengah genangan air dingin yang meluap dari keran rusak. Napasnya tersengal, dadanya sesak oleh isak tangis yang tertahan. Dalam kesunyian yang mencekam itu, ia teringat buku panduan "Darurat Rumah Tangga" yang tadi ia temukan. Matanya tertuju pada sebuah catatan kecil di pojok halaman terakhir yang nyaris terhapus air mata:
"Dek, maaf kalau ubin di bawah lemari makan sedikit goyang. Mas belum sempat menyemen nya lagi karena semennya habis. Di sana ia menemukan ubin yang dimaksud. Sebuah ubin yang warnanya sedikit lebih gelap dari yang lain. Ia menggeser lemari makan kayu yang kakinya sudah mulai keropos karena rayap—lemari yang dulu sering ia keluhkan karena dianggapnya sebagai sarang kecoa.
Dengan kuku-kukunya yang kini sudah patah dan kotor, Andini mencungkil pinggiran ubin tersebut. Butuh waktu lama bagi tangannya yang gemetar untuk berhasil mengangkat penutup semen itu. Di bawahnya, terkubur sebuah kotak plastik kedap air, terbungkus rapi.
Andini mengangkat kotak itu ke pangkuannya. Kotak itu terasa berat, seolah menyimpan seluruh beban hidup yang selama ini dipikul suaminya sendirian. Dengan tangan yang basah oleh air dan air mata, ia membuka kotak tersebut.
Harga Sebuah Pengorbanan
Di dalam kotak itu, tidak ada emas. Tidak ada perhiasan mewah. Hanya ada sebuah buku tabungan deposito berwarna biru yang masih tampak baru, diletakkan di dalam plastik klip agar tidak lembap.
Andini membuka nya terdapat setumpuk dokumen medis dan slip gaji lembur yang jumlahnya ribuan lembar. Andini mengambil salah satu dokumen medis yang bertanggal dua tahun lalu. Di sana tertulis: "Gagal ginjal"
Tangisan Andini pecah seketika, merobek kesunyian dapur yang gelap. Raungannya terdengar pilu, memantul di dinding-dinding rumah yang lembap.
"Mas... apa yang terjadi..." isaknya sambil memeluk kertas itu ke dadanya.
Ia teringat setahun yang lalu, Hilman pulang dengan wajah sangat pucat dan berjalan sedikit membungkuk. Saat itu, Andini hanya memaki suaminya karena Hilman tidak sanggup mengangkat koper belanjaan Andini.
"Laki-laki macam apa kamu, Mas? Baru kerja bakti sebentar saja sudah lemas begitu! Cuma angkat koper begini saja nggak bisa!"
Hilman saat itu hanya tersenyum getir, memegangi pinggangnya yang dibalut kain, lalu meminta maaf sambil berkata ia hanya sedikit kelelahan karena lembur. Ternyata, saat itu Hilman baru saja pulang dari dokter, Pria itu menyiksa dirinya sendiri secara perlahan demi memastikan wanita yang setiap hari menghinanya bisa tidur di kasur yang empuk suatu hari nanti.
Logika Cinta Seorang "Pecundang"
Andini membolak-balik lembaran slip gaji lembur Hilman. Di sana tertera jam kerja yang tidak masuk akal. Hilman sering bekerja 20 jam sehari. Ia bekerja di pabrik pagi hari, lalu menjadi kuli panggul di pelabuhan pada malam hari, dan subuhnya ia masih sempat mencuci baju-baju cantik Andini sebelum berangkat lagi.
Setiap lembar uang seribu rupiah yang ia sisihkan, setiap piring nasi garam yang ia telan dengan rasa syukur. Hilman tidak pernah "miskin" karena malas. Ia hidup miskin karena ia memberikan seluruh kemampuannya untuk masa depan yang tidak akan pernah ia nikmati sendiri.
Di dasar kotak, Andini menemukan sebuah amplop kecil berisi surat terakhir. Surat itu ditulis dengan pensil, tulisannya goyah dan tipis, seolah ditulis saat tenaga Hilman benar-benar sudah di ambang batas.
"Untuk Andini, Matahariku...
Dek, Mas tahu Mas gagal jadi suami yang membanggakan. Mas tahu kamu sering menangis karena ingin punya tas seperti teman-temanmu, atau ingin makan di restoran yang bagus. Maafkan Mas karena harus membiarkanmu menunggu selama tujuh tahun ini dalam kemiskinan.
Uang di asuransi ini bukan uang haram. Mas tidak mencuri. Mas hanya 'menitipkan' sebagian kesehatan Mas di sini. Pakailah uang itu untuk membeli rumah yang ada pancurannya, rumah yang dapurnya bersih agar kamu tidak bersin karena asap kompor lagi.
Syifa harus sekolah tinggi ya, Dek. Jangan seperti Ayahnya yang cuma buruh. Aku mencintaimu, Andini. Lebih dari nyawaku sendiri. Tidurlah yang nyenyak malam ini, karena Mas sudah menyiapkan cahaya yang takkan pernah padam untukmu dan Syifa."
Andini meraung di atas ubin dapur. Ia memukul-mukul dadanya yang terasa begitu sesak. Ia merasa seperti seorang pembunuh. Ia telah memakan nyawa suaminya sendiri. Setiap butir vitamin yang ia minum, setiap gincu yang ia pulaskan di bibir, semuanya adalah hasil dari organ tubuh Hilman yang hilang dan tenaga Hilman yang diperas hingga kering.
"Aku nggak mau uang ini, Mas! Aku nggak mau!" teriak Andini dalam gelap. "Ambil lagi uangnya, Mas! Balikkan kesehatanmu... balik ke sini... aku mau peluk kamu, Mas..."
Andini mencium aroma kertas itu, berharap ada sisa wangi tubuh Hilman di sana. Namun yang tercium hanya aroma kertas baru dan kesunyian yang dingin. Ia menyadari bahwa kekayaan yang ia impi-impikan selama ini telah datang, namun harganya adalah satu-satunya manusia yang benar-benar mencintainya tanpa syarat.
Ia teringat Reno. Pria yang ia anggap pangeran itu bahkan tega meninggalkannya di pinggir jalan tol dan mencuri tas perhiasannya. Sementara Hilman, pria yang ia anggap monster kemiskinan, justru memberikan segalanya hingga tak menyisakan apa-apa untuk dirinya sendiri.
Bayangan di Tengah Kegelapan
Andini mencoba berdiri, namun kakinya terasa lemas. Ia membawa kotak itu ke kamar, memeluknya erat-erat di atas kasur. Ia menutup matanya, mencoba membayangkan Hilman ada di sampingnya, mengusap kepalanya seperti yang biasa suaminya lakukan saat Andini sedang merajuk.