"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.
Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!
"Tidak mau."
Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.
Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.
"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepercayaan yang diam-diam di hati
Kereta kuda kekaisaran melaju perlahan menembus kabut pagi yang menggantung di atas tanah utara. Roda-roda besarnya berderak pelan di atas jalan berbatu, diiringi derap kuda yang teratur dan disiplin, seolah bahkan hewan-hewan itu pun memahami bahwa mereka sedang membawa dua sosok paling berkuasa di negeri ini.
Di dalam kereta, suasana begitu sunyi.
Bukan sunyi yang nyaman.
Sunyi yang menekan.
Bai Ruoxue duduk bersandar pada dinding kereta yang dilapisi kain beludru merah gelap. Guncangan kecil membuat liontin giok di lehernya bergetar lembut, beradu tipis dengan kulitnya yang pucat. Tangannya terlipat rapi di pangkuan, tetapi jari-jarinya saling menggenggam terlalu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia tidak gugup karena duduk berdua dengan kaisar. Anehnya, itu bukan lagi hal yang membuatnya gelisah. Yang membuat dadanya sesak adalah kenangan semalam.
Suara itu. Bayangan pria itu. Dan kalimat yang masih terngiang seperti kutukan.
"Ia jadi anakku?"
Sekujur tubuhnya kembali meremang hanya dengan mengingatnya. Seolah kalimat itu tidak sekadar pertanyaan, melainkan vonis. Suara pria itu berat dan dingin, penuh kepastian yang membuat darahnya membeku. Ia tidak melihat wajahnya dengan jelas—atau mungkin ia terlalu takut untuk benar-benar menatap.
Kalimat itu bukan sekadar ancaman. Itu pengakuan.
Dan jika itu benar…
Maka semua yang selama ini ia yakini runtuh seketika. Bai Ruoxue menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.
Kalau seperti itu… maka ini bukan kesalahan diagnosa?
Tabib kekaisaran tidak mungkin keliru. Mereka telah memeriksanya berulang kali. Denyut nadi yang berbeda. Energi yang berubah. Tubuh yang… menanggapi sesuatu yang tidak pernah ia izinkan.
Benar…
Bahwa tubuh ini melakukan pengkhianatan?
Jantungnya berdegup semakin kencang, begitu keras hingga ia khawatir bunyinya terdengar di seluruh kereta. Ia menunduk, mencoba menenangkan napasnya yang mulai tidak teratur.
Bai Ruoxue.
Sebenarnya apa yang kau lakukan sebelum aku merasuki tubuhmu?
Pertanyaan itu menghantam pikirannya seperti petir.
Ia bukan pemilik asli tubuh ini. Ia tahu itu. Ia sadar betul bahwa jiwanya datang entah dari mana, menempati raga yang telah memiliki masa lalu, memiliki rahasia, memiliki dosa. Dan dosa itu kini mungkin sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Tangannya tanpa sadar bergerak, berhenti di atas perutnya yang masih rata. Tidak ada perubahan yang terlihat. Tidak ada tanda yang bisa dibuktikan.
Namun bayangan kemungkinan itu membuatnya gemetar.
Perlahan, ia mengangkat wajahnya.
Di hadapannya, Li Chenghan duduk bersandar dengan mata terpejam. Jubah naga yang dikenakannya tampak megah meski hanya diterangi cahaya redup yang masuk dari celah tirai. Wajahnya yang biasanya kaku dan dingin kini terlihat… tenang.
Bahkan damai.
Garis rahangnya tegas, bulu matanya membentuk bayangan tipis di bawah mata. Tanpa tatapan tajam itu, ia terlihat hampir… manusia biasa.
Hampir.
Bai Ruoxue menatapnya tanpa berkedip. Bagaimana wajah itu jika mengetahui kebenaran? Bagaimana mata itu jika mendengar kalimat pria semalam?
"Ia jadi anakku?"
Apakah akan berubah menjadi murka? Atau lebih buruk…
Menjadi kecewa?
Dada Bai Ruoxue terasa semakin berat.
“Kenapa kau menatapku terus?”
Suaranya rendah dan datar.
Pikiran Bai Ruoxue buyar seketika. Ia tersentak, tubuhnya sedikit tersentak oleh guncangan kereta yang kebetulan melewati batu lebih besar. Matanya membelalak.
“T—tidak ada apa-apa, Yang Mulia.”
Li Chenghan membuka matanya perlahan. Tatapan itu langsung tajam. Tidak ada sisa kantuk sedikit pun.
Ternyata ia tidak pernah benar-benar tidur. Tentu saja tidak. Seorang penguasa yang dikelilingi musuh tidak pernah benar-benar lengah. Di balik kelopak mata terpejam, ia tetap mendengar, tetap merasakan, tetap mengawasi.
Benar-benar pantas menjadi kaisar.
Li Chenghan tidak langsung berbicara lagi. Ia hanya menatap Bai Ruoxue dengan sorot yang sulit ditebak. Tidak sepenuhnya dingin. Tidak sepenuhnya lembut.
Lebih seperti… menilai.
Membaca.
Seolah mencoba mengurai isi pikirannya yang berantakan.
“Terkadang,” ucapnya akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya.
Bai Ruoxue terdiam.
“Aku merindukan sosokmu yang dulu.”
Kalimat itu jatuh pelan, tetapi dampaknya seperti batu besar yang dilempar ke danau tenang. Riaknya menjalar ke seluruh tubuh Bai Ruoxue.
“Yang selalu tenang tanpa pernah terlibat rumor apa pun.”
Setiap kata terasa seperti jarum tipis yang menusuk.
Rumor.
Tentang dirinya.
Tentang kehamilan itu.
Tentang perubahan sikapnya.
Tentang jarak yang perlahan tercipta di antara mereka.
“Namun,” lanjut Li Chenghan, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu yang berbeda dalam suaranya—sesuatu yang retak, sesuatu yang… manusiawi.
“Harapan terbesarku adalah kekecewaan itu tak pernah datang kepadaku.”
Jantung Bai Ruoxue terasa berhenti sesaat. Ia menatap kaisar. Benar-benar menatapnya.
Wajah itu tetap dingin. Tetap terkontrol. Namun di balik ketegangan rahang dan garis tipis di antara alisnya, ada sesuatu yang ditahan.
Bukan kemarahan. Bukan kebencian.
Kekecewaan.
Dan mungkin…
Ketakutan. Ketakutan bahwa ia akan dikhianati. Ketakutan bahwa orang yang ia beri tempat di sisinya ternyata menyimpan sesuatu yang tak ia ketahui.
Bai Ruoxue merasa tenggorokannya kembali tercekat. Tak biasanya pria ini berbicara seperti itu.
Li Chenghan bukan tipe yang mengungkapkan isi hatinya. Ia memerintah, bukan mengeluh. Ia menghukum, bukan meratapi.
Namun hari ini…
Ia mengaku.
Apakah Bai Ruoxue perempuan yang cukup berharga dalam hatinya?
Pertanyaan itu muncul begitu saja, menyusup di antara rasa takut dan rasa bersalah. Ia melihat wajah itu sekali lagi.
Dingin.
Tegas.
Namun jelas menahan sesuatu.
Dan untuk pertama kalinya, Bai Ruoxue merasa lebih takut pada kemungkinan mengecewakannya dibandingkan ancaman pria misterius semalam.
Jika benar…
Jika anak ini bukan milik kaisar…
Jika masa lalu tubuh ini menyimpan pengkhianatan yang tak bisa ia kendalikan…
Maka bukan hanya nyawanya yang terancam. Kepercayaan itu akan hancur. Dan mungkin… hati seorang penguasa yang tidak pernah mudah percaya akan benar-benar membeku.
Kereta terus melaju.
Udara di dalamnya terasa semakin tipis.
Bai Ruoxue menunduk perlahan. Bulu matanya bergetar, menyembunyikan gejolak di matanya.
Ia tidak bisa memastikan kebenaran masa lalu. Ia tidak bisa menghapus apa yang mungkin telah terjadi sebelum ia datang. Namun satu hal ia tahu dengan pasti. Ia tidak ingin kehilangan kepercayaan pria ini. Ia tidak ingin melihat tatapan itu berubah menjadi dingin sepenuhnya—tanpa sisa kehangatan yang samar tadi. Kemungkinan mengerikan yang sempat ia pikirkan kembali berusaha merayap ke benaknya.
Tentang pria semalam. Tentang pengakuannya. Tentang kemungkinan bahwa takdir sedang mempermainkannya dengan kejam.
Namun Bai Ruoxue menggertakkan giginya pelan.
Tidak.
Ia tidak akan membiarkan ketakutan menguasainya.
Jika ada rahasia, ia akan mengungkapnya. Jika ada ancaman, ia akan menghadapinya. Dan jika benar tubuh ini pernah melakukan pengkhianatan…
Maka ia akan menanggung akibatnya sendiri.
Asalkan bukan kaisar yang lebih dulu menanggung luka karena dirinya.
Perlahan, ia mengangkat wajahnya kembali. Tatapan mereka bertemu. Kali ini, Bai Ruoxue tidak menghindar.
“Hamba tidak akan mengecewakan Yang Mulia,” ucapnya pelan, namun tegas.
Li Chenghan tidak langsung menjawab. Tatapannya masih sulit dibaca. Namun di dalam kereta yang sempit itu, di antara suara roda dan derap kuda, sebuah garis tak terlihat seolah sedang ditarik.
Garis antara percaya dan curiga. Antara kesetiaan dan pengkhianatan.
Dan Bai Ruoxue tahu—
Perjalanan ke wilayah utara ini mungkin bukan sekadar perjalanan politik. Melainkan awal dari ujian yang akan menentukan segalanya.
Termasuk apakah ia akan tetap berdiri di sisi kaisar…
Atau jatuh sebagai perempuan yang menghancurkan kepercayaan seorang penguasa.
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi