"Fania, kamu tahu pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja. Aku harap kamu merelakan aku untuk menikah dengan Zelina." __ Raditya Mahardika.
"Mas, beri aku 30 hari saja untuk mengabdi sebagai istri yang Solehah untukmu. Aku hanya ingin mewujudkan wasiat Ayah. Setelah itu, kamu berhak menceraikan aku, dan kamu bisa menikah dengan wanita itu."
Hidup Raditya Mahardika kacau sejak dijodohkan dengan Fania Azalea. Semua terjadi karena Raditya mempunyai wanita idaman lainnya.
Fania Azalea meminta waktu agar dirinya bisa mewujudkan wasiat mendiang Ayahnya. Dia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Namun, takdir berkata lain. Raditya justru ingin menikah lagi dengan wanita pujaan hatinya. Dia ingin berpoligami dan meminta Fania untuk menyetujui niatnya.
Baca selengkapnya di sini!
Follow IG : romansa_love94
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romansa Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10 (Penderitaan)
Fania terus berteriak memanggil suaminya. Dia menangis pilu sembari menggebrak pintu yang terkunci. "Mas, buka pintunya! Jangan kunci aku di sini. Aku takut gelap."
Raditya terus berjalan dan masuk ke dalam rumah sambil membereskan belanjaan yang berserakan di teras. Pria itu benar-benar tega dengan istrinya sendiri. Sesampainya di dalam, Raditya segera menghubungi Zelina yang merupakan akar dari permasalahan. "Aku sudah menghukumnya, kamu tenang saja. Dia tidak akan berbuat seenaknya lagi. Iya, nanti malam kita makan bareng."
Suara lembut itu hanya diperuntukkan untuk wanita lain. Sementara dengan istri sendiri Raditya tidak mempunyai belas kasihan sedikitpun. Padahal Fania tidak salah apa-apa, tetap saja dijadikan sasaran amarah. Selesai berteleponan, Raditya memutuskan untuk kembali ke kantor lagi. Dia membawa kunci gudang bersamanya.
Sementara itu di dalam gudang, Fania sudah menyerah. Dia tidak lagi berteriak memanggil suaminya karena sangat percuma. Suasana gudang sangat pengap dan gelap. Bahkan sirkulasi udara tidak ada sehingga debu bisa saja terhirup. Fania duduk sambil memeluk kedua kakinya. Dia terus berdzikir untuk mengusir rasa takutnya.
Beberapa jam berlalu hingga malam tiba. Fania masih terkurung di dalam gudang. Tubuhnya makin terasa sakit akibat kekerasan yang dilakukan olrh suaminya. Bahkan bibirnya juga sobek karena tamparan tadi. "Sampai kapan aku akan di sini? Tolong, tolong keluarkan saya dari sini."
Fania mulai merasakan kepalanya pusing dan tubuhnya menggigil karena suhu badannya yang meningkat. Mulut Fania tidak berhenti, dia terus beristigfar dan bersholawat berharap ada yang menolong. Dari menit berganti jam, Raditya masih belum datang untuk membuka pintu gudang. Kondisi Fania semakin parah, dia menggunakan tenaganya yang terakhir untuk memanggil suaminya.
"Mas, tolong buka pintunya! Keluarkan aku dari sini! Mas, tolong ...." Suara Fania semakin lemah. Dia bersandar tepat di tengah pintu. Hingga beberapa menit kemudian terdengar suara berisik dari luar.
Raditya membuka pintu gudang itu tepat pukul sebelas malam. Saat pintu terbuka, tubuh Fania langsung ambruk keluar. Dia hampir terkapar tidak berdaya. "Mas tolong, aku sedang sakit. Badanku panas dan kepalaku pusing," rintih Fania dengan suara yang serak.
"Tidak usah berakting di depanku. Kamu pikir aku akan kasihan melihatmu? Cepat masuk, dan tidak usah sok lemah di hadapanku." Raditya membentak istrinya dengan kalimat kasar. Bahkan dia tidak menolongnya sedikitpun.
Fania mengumpulkan seluruh kekuatannya. Dia menggunakan tembok sebagai sandaran untuk berdiri. Langkah kakinya terseok-seok dan jarak pandangnya menjadi kabur. "Astagfirullahaladzim Lahaulawalakuata Illabillahil Aliyil Adzim. Ya Allah, berikanlah kekuatan pada hamba. Luaskanlah kesabaran hamba."
Suara napas Fania terdengar berat. Dia berjalan pelan-pelan untuk sampai ke dalam. Sekitar sepuluh menit, dia sudah sampai di depan pintu kamarnya. Fania membukanya dan langsung masuk ke dalam. Untuk berjaga-jaga, Fania mengunci pintu. Dia tidak ingin mendapatkan perlakuan buruk lagi dari suaminya.
Fania masuk ke dalam kamar mandi, dia harus membersihkan tubuhnya yang sangat kotor. Dia bercermin di depan wastafel. Wajah cantiknya terlihat memar dan sudut bibir ada darah yang sudah mengering. Fania memegang pipinya yang tampak kebiruan itu, Air matanya menetes deras di pipi. Setelah itu dengan sangat pelan, Fania melepas gamisnya, terlihat memar di lengan dan juga kedua pahanya lecet karena diseret.
Air mata itu tidak bisa berhenti, Fania meratapi nasibnya yang sangat buruk itu. "Ayah, kenapa takdir Fania menjadi seperti ini? Apa salahku Ayah? Apa salahku? Pria pilihan Ayah justru orang yang paling menyakitiku. Ayah, Fania takut. Aku harus bagaimana, Ayah."
Fania segera mandi untuk melaksanakan solat yang tertunda. Dia ingin berdoa pada Yang Maha Kuasa agar diberikan petunjuk. Sementara itu di kamar lain, Raditya sedang kalut dalam pikirannya sendiri. Dia teringat saat menyiksa istrinya siang tadi. "Gimana jika dia mengadu sama Mama? Bisa gawat, jika itu terjadi. Sepertinya sikapku sudah keterlaluan. Ya, mau gimana lagi, aku lebih pusing jika Zelina yang marah. Aku juga semakin bingung, kenapa sikap Zelina sedikit berubah? Dia semakin egois dan tidak seperti dulu lagi," gumam Raditya dalam hati.
Raditya mencoba untuk tidur, tetapi tidak bisa. Dia masih memikirkan Fania. "Bagaimana jika dia benar-benar sakit? Nanti dia tidak bisa ikut ke Turki, bisa gagal rencanaku. Ck, merepotkan sekali."
Akhirnya, Raditya memutuskan untuk mengecek kondisi istrinya. Dia mencari obat penurun panas dan membawa segelas air menuju ke kamar Fania. Sesampainya di sana, Raditya segera mengetuk pintu. "Fania, buka pintunya! Hei, buka pintunya. Kenapa kamu menguncinya segala?"
Terdengar suara lembut Fania dari dalam kamar. Tidak lama kemudian pintu terbuka dari dalam. Fania berdiri dengan mengenakan piyama tidur. Wajah cantiknya terlihat pucat, tapi tetap menawan dengan bibir yang mungil dan rambut panjangnya tergerai indah. "Ada apa, Mas? Aku habis solat."
Raditya terpesona dengan pemandangan yang ada di depan matanya. Kulit Fania yang putih bersih membuat jakunnya naik turun. "Minum obat ini! Jangan sampai kamu sakit di acara pernikahanku nanti. Aku tidak ingin kamu menjadi penghalang di hari bahagiaku."
Fania menundukkan pandangannya, dia mengambil obat yang diberikan suaminya. "Baiklah aku akan meminumnya sekarang. Terima kasih, aku mohon untuk istirahat."
Fania ingin menutup pintu, tetapi dicegah oleh suaminya. "Jangan kunci pintu. Aku tidak suka."
Napas Fania semakin panas, belum sempat menjawab justru dia ambruk di hadapan suaminya. Raditya segera menangkap tubuh istrinya yang lemas. Dia terkejut saat bersentuhan dengan kulit Fania yang lembut. "Hei, kamu sengaja kan agar mendapatkan perhatianku?"
Fania pingsan dalam pelukan suaminya. Raditya membawanya ke atas ranjang. "Panas sekali ternyata," gumamnya pelan sambil memgang dagu istrinya.
Raditya berdiri sejenak, dia memandangi wajah cantik yang sedang lemah itu. Tangannya terulur menyingkirkan helaian rambut yang menutupi pipi. "Pasti sakit, sampai membekas seperti ini," batinnya sambil memikirkan sesuatu.
Meski hatinya menolak, tetap saja Raditya itu pria normal yang bisa terpikat degan kecantikan seorang wanita. Dia mengelus lembut pipi memar istrinya. Dari pipi turun ke bibir yang sobek karena tamparannya. Raditya menunduk mengikuti kata otaknya, dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir mungil itu dengan lembut.
Raditya mencuri ciuman Fania di saat tidak sadar. Dalam sepersekian detik, ciuman itu selesai. Harum tubuh yang menguar membuatnya tenang. "Wangi sekali," batin Raditya.
Tidak ingin terlalu jauh, Raditya segera pergi dari sana sebelum terjadi sesuatu yang membahayakan. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. "Apa yang sudah kamu lakukan, bodoh. Bagaiamana bisa kamu tertarik dengan gadis seperti dia?"
"Raditya, sadar. Kamu sudah punya Zelina, dialah cinta sejatimu. Jangan karena Fania lebih cantik, lalu kamu melupakan Zelina." Raditya bergumam sendiri, sepertinya pria itu sudah mulai goyah dengan ego yang diciptakannya sendiri.
.ambil sapu ato apa kh gitu hantamkan ke kepalanya biar kapok...jd laki kok g jelas siram pake karbol sj..lagian mau mau nya nunggu smpe 30 hr..bisa mati kamu mun lemah kya itu😡😡