Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjaga Telur
Kuil rahasia di lereng utara Merapi dibangun ratusan tahun lalu, tersembunyi di balik tebing curam dan hutan pinus yang lebat. Dindingnya dari batu hitam vulkanik, ukiran api phoenix dan naga cahaya saling melingkar di pintu masuk, tapi sekarang ukiran itu sudah pudar, tertutup lumut dan abu yang tidak pernah benar-benar hilang sejak letusan terakhir. Di dalam ruangan utama, hanya ada satu benda: telur merah menyala itu, diletakkan di atas altar batu yang dikelilingi lingkaran api kecil yang tidak pernah padam—api Phoenix murni yang dijaga secara bergantian oleh para penjaga.
Ki Ageng Wiratama menunjuk Sari sebagai penjaga utama. “Kau masih muda,” katanya pada gadis berusia delapan belas tahun itu, “tapi api di dadamu paling stabil. Telur ini seperti anak yang belum lahir. Ia butuh kehangatan, bukan kekerasan.”
Sari mengangguk tanpa banyak bicara. Rambutnya panjang hitam legam dengan semburat merah samar di ujung—tanda Pewaris Phoenix generasi baru. Matanya hijau zamrud, selalu tampak seperti menyimpan bara kecil yang siap menyala kapan saja. Ia tidak takut pada telur itu. Malah sebaliknya—sejak pertama kali melihatnya di kawah, ia merasa ada ikatan yang tak bisa dijelaskan. Seperti telur itu memanggilnya, bukan sebagai penjaga, tapi sebagai sesuatu yang lebih dekat.
Malam pertama Sari menjaga sendirian, ia duduk bersila di depan altar. Api lingkaran menyala pelan, menerangi telur yang berdenyut seperti jantung bayi. Denyut itu teratur, tapi kadang-kadang… terlalu cepat. Seolah telur itu sedang bermimpi dan terbangun dalam ketakutan.
Sari mengulurkan tangan, tidak menyentuh cangkang, hanya membiarkan jari-jarinya berada beberapa senti di atas permukaan merah yang panas. Panas itu naik ke telapak tangannya, tapi tidak membakar—malah terasa seperti pelukan hangat dari seseorang yang lama hilang.
“Apa kau takut?” bisik Sari pada telur itu. “Aku juga takut. Aku takut kalau kau lahir… dunia akan berubah lagi. Seperti dulu, saat kutukan pertama muncul.”
Telur berdenyut lebih cepat sejenak—seperti jawaban tanpa kata.
Malam demi malam, Sari datang. Ia tidak lagi membawa golok atau senjata. Hanya membawa lilin kecil dari lilin Phoenix dan duduk berbicara pada telur itu. Ia ceritakan tentang klan, tentang api yang seharusnya melindungi bukan menghancurkan, tentang legenda Garini yang pernah mematahkan kutukan lama dengan cinta, bukan kekuatan.
“Kalau kau lahir dari api gunung,” katanya suatu malam, “maka kau adalah bukti bahwa api bisa lahir dari kehancuran. Tapi kalau kau lahir dari cahaya dan api yang bersatu… maka kau adalah harapan bahwa dua kekuatan yang berbeda bisa hidup bersama tanpa saling membunuh.”
Denyut telur semakin stabil setiap Sari bicara. Seolah telur itu mendengar, belajar, dan mulai percaya.
Tapi tidak semua orang di klan merasa sama.
Dewi Lara memanggil Sari ke ruang utama klan setelah tiga bulan penjagaan. Ruangan itu gelap, hanya diterangi api abadi di tengah. Dewi Lara duduk di singgasana batu, rambut merah menyala panjangnya berkibar tanpa angin.
“Telur itu semakin hidup,” kata Dewi Lara. Suaranya dingin, tapi ada nada khawatir di baliknya. “Retaknya semakin banyak. Beberapa tetua bilang kita harus hancurkan sebelum ia lahir.”
Sari menunduk hormat, tapi tangannya mengepal. “Kalau kita hancurkan… kita mungkin membunuh sesuatu yang bisa menjadi penyelamat. Aku merasakan ikatan dengannya, Dewi. Ia bukan ancaman. Ia… seperti anak.”
Dewi Lara menatap Sari lama. “Ikatan? Kau tahu apa artinya ikatan antara Phoenix dan naga baru? Itu yang pernah membawa kutukan pertama. Garini mati karena itu. Jangan ulangi kesalahan yang sama.”
Sari mengangkat kepala. “Garini mati karena kutukan, bukan karena cinta. Dan kalau telur ini lahir dari cinta antara Naga Cahaya dan Phoenix… mungkin itu tanda bahwa keseimbangan sudah siap untuk langkah berikutnya.”
Dewi Lara bangkit. “Kau terlalu muda untuk bicara tentang keseimbangan. Tetua lain sudah memutuskan: kalau telur retak sepenuhnya dalam bulan ini, kita hancurkan. Kau tetap menjaga, tapi kalau ia lahir… kau yang harus mengakhiri hidupnya.”
Sari merasa dadanya terbakar—bukan api Phoenix, tapi api kemarahan dan ketakutan. Ia keluar dari ruangan dengan langkah cepat, kembali ke kuil rahasia.
Malam itu, ia duduk di depan telur lebih lama dari biasanya. Retak di cangkang sudah membentuk pola seperti bintang pecah. Cahaya merah dari dalam semakin terang.
Sari meletakkan telapak tangannya di cangkang—kali ini benar-benar menyentuh. Panas menyengat, tapi ia tidak menarik tangan.
“Aku tidak akan biarkan mereka membunuhmu,” bisiknya. “Apa pun yang terjadi… aku akan lindungi kau. Seperti ibu melindungi anaknya.”
Telur berdenyut sangat cepat—seperti jantung yang senang.
Dan di dalam cangkang, sesuatu bergerak lebih kuat lagi.
Retak kedua muncul, lebih besar.
Sari tersenyum, air mata mengalir di pipinya—air mata emas yang menguap jadi uap tipis.
“Sebentar lagi kau lahir,” katanya. “Dan aku akan ada di sini… apa pun yang dunia katakan tentangmu.”
Di luar kuil, angin malam membawa suara samar dari gunung: lava yang masih mengalir pelan di kawah, seperti detak jantung yang menunggu kelahiran baru.
Dan di kejauhan, di istana Naga Cahaya yang tersembunyi di awan, mata naga itu terbuka sejenak—mata yang seperti matahari redup—seolah merasakan sesuatu yang lama hilang mulai kembali.
Kelahiran yang tidak seharusnya terjadi.
Kelahiran Raja Naga Api.