NovelToon NovelToon
REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Terjun Bebas ke Pelukan Iblis

​Angin kencang di atap gedung The Penthouse Royale menderu-deru, mengacak-acak rambut Clarissa hingga menutupi wajahnya. Di belakang mereka, pintu akses menuju helipad nyaris jebol dihantam oleh anak buah Hendrawan yang tak kenal menyerah.

​"Devan! Mana helikopternya? Jangan bilang kau hanya pamer punya helipad tapi tidak punya isinya!" teriak Clarissa di tengah kebisingan angin. Tangannya masih digenggam erat oleh Devan, seolah pria itu takut Clarissa akan terbang terbawa angin.

​Devan melirik jam tangannya, wajahnya tetap tenang meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Sabar sedikit, Ratu Cerewet! Helikopter butuh waktu untuk pemanasan, tidak seperti mulutmu yang langsung panas kalau melihatku!"

​"Kau—!" Clarissa hendak membalas, namun suara BRAK keras menghentikannya.

​Pintu helipad jebol. Sepuluh orang berpakaian hitam dengan senjata api keluar dan langsung mengepung mereka. Di tengah-tengah mereka, muncullah Kenzo dengan wajah yang bengkak sebelah akibat tendangan Devan tadi malam.

​"Berhenti di sana, Devan!" Kenzo berteriak gila, tangannya menodongkan pistol ke arah mereka. "Berikan flashdisk itu dan serahkan pelayan sialan itu padaku! Dia sudah terlalu banyak tahu!"

​Devan menarik Clarissa ke belakang tubuhnya, melindunginya sepenuhnya dari moncong senjata Kenzo. "Kenzo, kau pikir kau siapa? Menodongkan senjata di propertiku? Kau baru saja memesan tiket satu arah ke neraka."

​"Jangan banyak bicara! Cepat serahkan!" Kenzo gemetar, tapi jarinya sudah bersiap menarik pelatuk.

​Clarissa yang berdiri di belakang Devan merasa gemas. Insting CEO-nya yang licik mulai bekerja. Ia menyembulkan kepalanya sedikit dari balik punggung lebar Devan.

​"Kenzo, sayang..." panggil Clarissa dengan nada manis yang dibuat-buat, persis seperti cara ia menggoda Kenzo saat mereka masih "bahagia" dulu. "Apa kau yakin mau menembakku? Kalau aku mati, kau tidak akan pernah tahu di mana aku menyimpan kunci perak yang asli. Yang tadi aku pamerkan itu... hanya replika dari plastik seharga sepuluh ribu rupiah."

​Kenzo mematung. Matanya melotot. "Apa? Plastik?!"

​"Dia berbohong, Kenzo! Jangan dengarkan dia!" salah satu anak buah Hendrawan memperingatkan.

​Namun, keraguan Kenzo adalah celah yang dibutuhkan Devan. Saat perhatian Kenzo teralih, Devan menekan tombol di remot kecil di sakunya.

​Tiba-tiba, sistem pemadam api otomatis (sprinkler) di helipad menyala dengan kekuatan penuh. Air menyembur ke segala arah, membuat para penjahat itu pandangannya kabur dan terpeleset lantai marmer yang licin.

​"Sekarang!" bentak Devan.

​"Lari ke helikopter?" tanya Clarissa antusias.

​"Bukan, helikopternya disabotase! Kita harus terjun!" jawab Devan sambil menarik Clarissa menuju tepian gedung.

​Clarissa mengerem kakinya dengan panik. "TERJUN?! Kau gila ya? Ini lantai 50, Devan! Aku memang ingin hidup lagi, tapi bukan untuk jadi perkedel di aspal!"

​"Percaya padaku atau mati di tangan Kenzo?" Devan menatap mata Clarissa dengan intensitas yang sanggup meluluhkan logam. "Ada kolam renang infinity di lantai 45. Kita hanya perlu melompat tepat ke sana!"

​"HANYA?! Kau bilang HANYA?! Kau benar-benar iblis gila!"

​Tanpa menunggu persetujuan, Devan merangkul pinggang Clarissa, mengunci tubuh gadis itu dalam pelukannya, dan... BYUURR! Mereka berdua meluncur bebas dari ketinggian gedung.

​"AAAAAA—DEVAN SIALAAANNN!" teriakan Clarissa menggema di udara malam, tertelan oleh suara angin yang menderu.

​SPLASH!

​Mereka mendarat dengan keras di kolam renang lantai 45. Air dingin menusuk kulit, tapi setidaknya mereka masih hidup. Clarissa muncul ke permukaan, terbatuk-batuk dan langsung memukul bahu Devan dengan brutal.

​"Kau... kau gila! Aku hampir mati serangan jantung!" Clarissa terengah-engah, bajunya basah kuyup, menempel ketat di tubuhnya.

​Devan mengusap air dari wajahnya, rambut hitamnya jatuh berantakan ke dahi, membuatnya tampak sepuluh kali lebih tampan dan liar. Ia menatap Clarissa yang sedang marah, lalu tiba-tiba ia tertawa rendah.

​"Tapi kau tidak mati, kan? Malah makin cantik kalau basah begini," ejek Devan sambil mendekatkan wajahnya.

​"Dalam keadaan begini kau masih bisa merayu? Benar-benar pria mesum!" Clarissa mencoba menjauh, tapi kakinya malah terkilir di dasar kolam yang dangkal. "Aduh!"

​"Lihat, kan? Kau memang tidak bisa hidup tanpaku," Devan dengan sigap mengangkat Clarissa dalam gendongan bridal style.

​Setelah berhasil melarikan diri melalui jalur rahasia di lantai 45, Devan membawa Clarissa ke sebuah "Safe House" yang letaknya tersembunyi di bawah sebuah kafe tua milik kepercayaannya. Tempat itu jauh lebih hangat dan nyaman, meskipun ukurannya lebih kecil.

​Clarissa duduk di depan perapian elektrik dengan handuk melilit tubuhnya. Devan datang membawakan dua cangkir cokelat panas.

​"Minum ini. Jangan sampai kau mati karena flu, itu akan merusak reputasiku sebagai penyelamat," ucap Devan sambil duduk di sampingnya.

​Clarissa menerima cangkir itu, menyesapnya perlahan. Keheningan menyelimuti mereka sejenak, hanya terdengar suara detak jam dinding.

​"Devan," panggil Clarissa pelan. "Tentang flashdisk itu... dan tentang nama 'Lestari Putri Wijaya' sebagai anak haram ayahku..."

​Devan menatap api di perapian. "Aku sudah tahu sejak lama. Ayahmu, Clarissa, adalah pria yang penuh rahasia. Dia menyembunyikan Lestari untuk melindunginya dari ambisi Hendrawan. Tapi ironisnya, Lestari malah berakhir menjadi pion dalam permainan ini."

​Clarissa menatap tangannya yang mungil. "Jadi, tubuh ini... adalah adik tiriku sendiri? Dunia ini benar-benar sempit dan memuakkan."

​"Lalu kau?" Devan menoleh, matanya menatap tajam ke arah Clarissa. "Kau belum menjelaskan bagaimana seorang Clarissa Wijaya yang sombong dan gila kerja bisa 'pindah' ke tubuh gadis pelayan ini. Jangan bilang kau pakai ilmu hitam."

​Clarissa menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa berbohong lagi pada pria yang baru saja mempertaruhkan nyawa untuknya. "Aku juga tidak tahu, Devan. Saat mobil itu jatuh, aku pikir semuanya selesai. Tapi saat aku membuka mata, aku ada di gudang K-Corp, sedang memegang sapu pel dan dimaki oleh Bu Ratna."

​Clarissa menatap Devan dengan tatapan tulus yang jarang ia perlihatkan. "Kau percaya padaku?"

​Devan terdiam lama. Ia meletakkan cangkirnya, lalu mengulurkan tangan untuk mengelus pipi Clarissa yang masih dingin. "Awalnya aku pikir aku gila. Aku pikir aku hanya merindukanmu sampai-sampai melihat bayanganmu pada diri seorang pelayan. Tapi cara kau bicara, cara kau menghina orang, dan cara kau memandang rendah diriku... tidak salah lagi. Itu memang kau, Clarissa."

​"Oh, jadi kau merindukan hinaanku?" Clarissa mencoba bercanda untuk menutupi rasa harunya.

​"Aku merindukan segalanya tentangmu," bisik Devan. Ia menarik tengkuk Clarissa perlahan, memperpendek jarak di antara mereka. "Termasuk sifat keras kepalamu yang minta ampun ini."

​Bibir mereka hampir bersentuhan saat Clarissa tiba-tiba menahan dada Devan dengan satu jari. "Tunggu! Ada satu syarat."

​Devan mengernyit. "Syarat apa lagi?"

​"Jangan pernah panggil aku 'Lestari' saat kita sedang berdua. Aku tetap bosmu, mengerti?"

​Devan terkekeh, lalu tanpa peringatan, ia menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang menuntut sekaligus penuh kerinduan. Kali ini, Clarissa tidak melawan. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan pria yang dulu ia anggap rival, namun kini menjadi satu-satunya pelindungnya.

​Namun, di tengah kemesraan itu, mata Clarissa menangkap sebuah bayangan di jendela kecil safe house mereka. Sebuah kamera pengintai mini sedang berkedip merah.

​Clarissa segera melepaskan diri dari ciuman Devan. "Devan, kita diawasi!"

​Tepat saat itu, ponsel Devan bergetar. Sebuah video masuk dari nomor yang tidak dikenal. Video itu menampilkan sosok... Bara, pria bermuka terbakar yang tadi tertembak, sedang duduk di sebuah ruangan putih bersih.

​"Tuan Mahendra, kau pikir kau sudah menang? Kau baru saja membawa 'Ratu'-mu masuk ke dalam perangkap yang sebenarnya. Kunci perak itu... hanyalah umpan agar kau mengaktifkan protokol 'Wijaya X'. Dan sekarang, seluruh data Mahendra Group sudah mulai terhapus otomatis."

​Wajah Devan berubah pucat. Ia segera membuka laptopnya dan benar saja, semua folder bisnisnya mulai menghilang satu per satu.

​"Sial! Mereka meretas sistemku lewat koneksi flashdisk itu!" umpat Devan.

​Clarissa berdiri, matanya berkilat penuh amarah. "Hendrawan... dia tidak ingin hartanya kembali. Dia ingin menghancurkanmu agar tidak ada yang bisa melindungiku!"

​"Kita harus ke kantor pusat sekarang!" Devan menyambar kunci mobil cadangan.

​"Tunggu, Devan!" Clarissa menahan lengannya. "Kalau kau pergi sekarang, kau akan terjebak. Biarkan aku yang pergi ke K-Corp. Aku tahu kode cadangan yang tidak diketahui Hendrawan. Aku bisa menghentikan penghapusan itu dari sana."

​"Tidak! Itu terlalu berbahaya!"

​"Devan, dengarkan aku!" Clarissa mencengkeram kerah kemeja Devan. "Aku sudah mati sekali. Aku tidak takut mati untuk kedua kalinya. Tapi aku tidak akan membiarkan perusahaan yang kau bangun hancur gara-gara aku! Percayalah pada istrimu... maksudku, bosmu ini!"

​Devan menatap Clarissa dengan rasa bangga sekaligus cemas. "Kau... benar-benar wanita yang merepotkan."

​"Dan kau pria yang sangat posesif. Sekarang, berikan aku kunci motor sport-mu di garasi bawah!"

1
Mommy Ayu
masak iya secepat itu bakal terungkap siapa lestari sebenarnya
Mommy Ayu
sepertinya insting Devan lebih tajam dari pada mantan suami Clarissa
Mommy Ayu
aku mampir Thor ..
Leebit
hehe.. nggak apa-apa.. makasih ya udah berkunjung ke novel ku, masih juga untuk komentarnya😁
shabiru Al
apa anak kecil yang dcoret itu adalah pria dengan wajah yang terbakar ? bara... adik dari clarissa... ? benar2 membingungkan,, dan organisasi naga hitam,, apa sebelumnya lestari membuat perjanjian ya...
shabiru Al
hadeuh perebutan harta dan kekuasaan yang bikin pusing
shabiru Al
dan laki2 misterius itu adalah anak yang wajahnya dcoret dala foto lama,, ya kaan
shabiru Al
ceritanya bagus,, sayang belum bisa ngasih poin,, ntar ya thor besok ta kasih vote
shabiru Al
nah ini baru ceweknya badas gak menye menye gak selalu berlindung d bawah ketiak laki2
Leebit
Makasih.. jangan hanya mampir, singgah juga boleh, hehe😁😊
shabiru Al
mampir ya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!