Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Ayah dan Suami Idaman
Arslan mencoba menghubungi Abel, saat itu panggilannya tidak jelas karena di seberang sana Abel tengah sibuk menenangkan Farel.
"Arslan, maaf aku tutup panggilannya ya, nanti aku telepon kamu lagi. Anakku rewel."
Tanpa menunggu jawaban dari Arslan Abel menutup panggilan tersebut secara sepihak.
Arslan hanya bisa terdiam, nampaknya Abel lebih mendedikasikan dirinya untuk Farel. Panggilan Mama Farel pun sangat Abel sukai.
Malam itu Abel sangat kerepotan, Farel terus saja menangis dan rewel. Di tambah Reno yang berangkat ke luar kota untuk urusan bisnis. Abel terus bersenandung menenangkan Farel. Ponselnya kembali berdering, itu nomor Arslan.
"Aku di depan rumah, bisa bertemu sebentar?" Ucap Arslan saat panggilan terhubung.
"Tunggu sebentar."
Abel menyelimuti Farel karena udara malam yang terbilang dingin. Abel tidak bisa meninggalkan Farel begitu saja.
Arslan yang melihat hal itu tidak bisa langsung berkata bahwa Abel bukanlah Ibu Farel. Arslan akan mengikuti permainan Abel sampai gadis itu sendiri yang berkata bahwa dia adalah tante dari Farel. Arslan tidak ingin menghancurkan perasaan keibuan Abel.
Arslan menggenggam ponselnya erat, matanya tertuju pada sosok Abel yang berjalan mendekat ke arah gerbang sambil menggendong Farel dalam dekapan hangat. Cahaya lampu teras yang temaram menyinari wajah Abel yang tampak lelah, namun memancarkan kasih sayang yang begitu murni.
Begitu gerbang terbuka, suara tangis kecil Farel masih terdengar sesenggukan. Arslan menatap pemandangan itu dengan sudut pandang yang kini sudah berubah total. Bukan lagi rasa penasaran atau prasangka, melainkan kekaguman yang menyesakkan dada.
"Maaf, Arslan. Farel benar-benar nggak bisa ditinggal. Dia sepertinya merasa kalau ayahnya nggak ada di rumah," ucap Abel pelan, berusaha menimang bayi itu agar kembali tenang. "Ada apa kamu malam-malam ke sini?"
Arslan terdiam sejenak. Lidahnya kelu. Ia ingin sekali berteriak bahwa ia sudah tahu semuanya—tentang pernikahan Reno, tentang pengorbanan Abel, dan tentang betapa sucinya kebohongan yang Abel pelihara. Namun, melihat betapa Abel begitu menikmati panggilannya sebagai "Mama Farel" dan bagaimana cara tangan gadis itu mengusap punggung Farel, Arslan mengurungkan niatnya.
Biarlah, batin Arslan. Jika dia ingin menjadi Ibu bagi dunia Farel, maka aku akan menjadi orang yang paling mendukung perannya itu.
"Aku cuma mau antar ini," Arslan menyodorkan sebuah kantong kecil berisi aromaterapi bayi dan sebotol minyak telon esensial. "Tadi aku dengar suara Farel di telepon, sepertinya dia kolik atau hanya gelisah. Ini bisa membantu menenangkannya."
Abel menerima kantong itu dengan ragu. "Terima kasih. Kamu repot-repot sekali."
"Nggak repot, Bel. Sama sekali nggak," Arslan menatap mata Abel dengan intensitas yang berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi nada menggoda yang menyebalkan, yang ada hanyalah ketulusan yang dalam. "Kamu ibu yang luar biasa, Bel. Farel beruntung punya kamu."
Kalimat itu membuat gerakan tangan Abel terhenti sejenak. Ia mendongak, menatap Arslan seolah sedang mencari maksud tersembunyi. Namun, ia hanya menemukan kejujuran di mata pria itu.
"Tumben bicaramu benar," gumam Abel dengan senyum tipis yang tulus. "Biasanya cuma bisa membual."
Arslan terkekeh pelan, meski hatinya terasa perih mengingat betapa bodohnya dia sebelumnya. "Aku sadar, ada hal-hal yang nggak perlu dijelaskan dengan kata-kata. Melihat kamu menjaga Farel malam ini... itu sudah cukup bagiku untuk tahu siapa kamu sebenarnya."
Arslan melangkah mundur satu langkah, memberikan ruang bagi Abel. "Masuklah, udara makin dingin. Farel butuh kamu. Aku nggak akan minta waktu kamu lebih lama lagi malam ini."
Abel mengangguk pelan. "Hati-hati di jalan, Arslan."
Saat Abel berbalik dan berjalan masuk, Arslan tetap berdiri di sana sampai pintu rumah tertutup rapat. Ia berjanji dalam hati, ia akan menjaga rahasia ini sampai Abel sendiri yang siap menceritakannya. Ia akan mengikuti permainan Abel sebagai "Mama Farel" ini, bukan karena ia tertipu, tapi karena ia ingin melindungi dunia kecil yang telah Abel bangun dengan air mata dan pengorbanan.
Pagi itu, merupakan jadwal kontrol bulanan Farel, suasana poli anak cukup padat. Abel menunggu sampai namanya di panggil oleh perawat. Namun saat langkah Abel memasuki ruangan Arslan, kebisingan di luar seolah meredup. Arslan, yang sudah menantikan kehadiran mereka, langsung bangkit dari kursinya dengan senyum kecil yang hangat.
"Halo, Jagoan. Halo, Mama Farel," sapa Arslan lembut, matanya tak lepas dari wajah Abel yang terlihat jauh lebih pucat dari biasanya.
Arslan mulai memeriksa Farel dengan ketelitian seorang profesional, namun perhatiannya terbagi. Ia menyadari napas Abel yang sedikit memburu dan tangannya yang sesekali gemetar saat memegangi tas perlengkapan bayi. Arslan tahu pasti bahwa sejak Reno ke luar kota, Abel memikul semua beban sendirian.
Tepat saat Arslan selesai meletakkan stetoskopnya, Abel hendak melangkah maju untuk menggendong Farel kembali. Namun, pandangannya mendadak kabur. Dunianya terasa berputar, dan tubuhnya limbung ke samping.
"Abel!" seru Arslan sigap.
Dengan gerakan cepat, Arslan menahan bahu Abel agar tidak terjatuh, lalu dengan satu tangan yang lihai, ia menyusup ke bawah tubuh Farel dan mengangkat bayi itu ke dalam pelukannya. Arslan mengambil alih segalanya dalam sekejap.
"Duduk, Bel. Ini perintah medis, bukan tawaran," suara Arslan terdengar tegas namun sarat akan kekhawatiran.
Ia membimbing Abel ke sofa panjang di sudut ruangannya, sementara Farel tenang dalam dekapan tangan kekar Arslan. Bayi itu tampak nyaman, seolah mengenali detak jantung Arslan yang tenang.
"Kamu kurang tidur, dan pasti belum sarapan, aku berani bertaruh kamu bahkan lupa minum air sejak pagi," ucap Arslan sambil mengatur posisi Farel di lengan kirinya, sementara tangan kanannya meraih botol air mineral dari mejanya dan memberikannya pada Abel.
Abel menyandarkan kepalanya di dinding sofa, memejamkan mata sejenak untuk meredakan peningnya. Ia merasa sangat malu sekaligus lega. "Aku cuma sedikit pusing, Arslan. Farel rewel semalaman, jadi aku..."
"Aku tahu," potong Arslan lembut. Ia duduk di kursi kecil di depan Abel, membiarkan Farel memainkan jemari tangannya. "Istirahat di sini sepuluh menit. Biar aku yang jaga Farel. Jangan membantah, atau aku akan menelepon Kak Reno sekarang juga dan bilang kalau adiknya pingsan di rumah sakit."
Mendengar ancaman itu, Abel hanya bisa mendengus lemah dan menurut. Dalam diamnya, ia menatap Arslan yang sedang mengajak Farel mengobrol kecil. Ada rasa haru yang menyelinap di hati Abel; Arslan tidak hanya mencintai bayangannya sebagai Ibu anak tunggal, tapi pria itu benar-benar hadir sebagai penopang saat ia hampir tumbang.
Arslan benar-benar menunjukkan sisi lainnya yang belum pernah Abel lihat. Sambil menunggu bubur ayam pesanannya datang, Arslan tetap melanjutkan tugasnya memeriksa dua pasien balita terakhir. Menariknya, ia melakukan itu semua tanpa melepaskan Farel dari dekapannya.
Seorang ibu dari pasien balita yang sedang diperiksa menatap Arslan dengan kagum. Ia melihat betapa lihainya Arslan menenangkan Farel yang mulai menggeliat, sementara tangan kanannya tetap stabil memegang stetoskop untuk memeriksa anaknya.
"Duh, Dokter Arslan... benar-benar suami idaman ya," celetuk ibu tersebut sambil tersenyum lebar. "Jarang ada ayah yang mau repot gendong bayi sambil kerja di poli begini. Istrinya pasti beruntung banget punya suami cekatan kayak Dokter."
"Itu istrinya lagi sakit ya, dok?" Tanya ibu tersebut membuat Arslan salah tingkah namun dalam hatinya senang bukan main.
Wajah Arslan seketika memanas. Ia melirik sekilas ke arah Abel yang sedang memejamkan mata di sofa, lalu kembali menatap ibu pasien itu dengan senyum malu-malu yang tak bisa disembunyikan.
"Iya, Bu, dia kecapekan. Saya hanya berusaha membantu semampu saya," jawab Arslan sopan. Ada rasa hangat yang membuncah di dadanya saat disebut sebagai "Ayah" dan "Suami". Meski ia tahu itu hanya kesalahpahaman orang luar, Arslan menikmatinya lebih dari apa pun.
Setelah pasien terakhir keluar, Arslan segera mendekati meja perawat di depan ruangannya. "Suster, tolong jangan biarkan ada yang masuk selama 20 menit ke depan, ya? Saya mau istirahat sebentar," pintanya dengan nada rendah.
Arslan kembali masuk dan mengunci pintu. Ruangan itu kini sunyi, hanya terdengar deru halus air purifier yang mereknya sama dengan yang ia kirim ke rumah Abel. Arslan meletakkan Farel yang sudah terlelap di baby bouncer cadangan yang memang tersedia di ruangannya.
Ia kemudian membuka bungkusan bubur ayam hangat yang baru saja tiba. Aroma kaldu gurih dan cakwe seketika memenuhi ruangan. Arslan duduk di samping Abel, menatap wajah letih wanita itu dengan penuh kasih.
"Abel... bangun sebentar. Makan dulu buburnya," bisik Arslan sambil menyentuh bahu Abel dengan sangat pelan.
Abel perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Arslan yang berada sangat dekat dengannya, dan hal kedua adalah Farel yang tertidur pulas di dekat meja dokter. Abel tertegun, ia menyadari bahwa selama ia terlelap, Arslan telah mengambil alih seluruh dunianya.
"Kamu... sudah selesai periksa pasien?" tanya Abel dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Sudah. Dan tadi ada yang bilang aku ayah yang hebat," goda Arslan sambil menyodorkan sendok berisi bubur hangat. "Ayo, buka mulutmu. Kamu harus sehat kalau mau tetap jadi 'Mama' yang tangguh buat Farel."
Abel menatap bubur itu, lalu menatap Arslan. Ada benteng di hatinya yang terasa retak. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Abel merasa beban di pundaknya tidak lagi ia panggul sendirian.