NovelToon NovelToon
Luka Sang Pengganti

Luka Sang Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Pengganti / Dosen
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Dua tahun telah berlalu. Udara musim semi di Paris terasa menyegarkan, sangat kontras dengan hawa panas gudang yang pernah hampir merenggut nyawa seorang wanita bernama Zahra.

Di sebuah balkon mewah dengan latar belakang Menara Eiffel, kilatan lampu kamera menyambar berkali-kali ke arah satu titik fokus: seorang wanita yang kini dikenal dunia sebagai Aruna Adrian.

Aruna berdiri dengan gaun haute couture berwarna merah darah yang menjuntai indah.

Tubuhnya yang dulu ringkih kini tampak jenjang, sintal, dan memancarkan aura otoritas yang tak terbantahkan.

Wajahnya yang sangat cantik hasil maha karya Dokter Woo di Korea, sebagian tertutup oleh topeng renda hitam yang rumit dan elegan.

Namun, ada satu detail yang menjadi ciri khas dan pembicaraan di seluruh industri fashion dunia tentang Aruna yang selalu misteri dari balik renda transparan di pipi kirinya, terlihat sebuah tanda X kecil.

Tanda yang awalnya dianggap sebagai kecacatan, justru oleh Aruna dijadikan sebagai simbol kemewahan dan misteri yang membuatnya dijuluki "The Marked Goddess".

"Sempurna! Magnifique!" seru fotografer kenamaan Paris itu dengan penuh kekaguman.

Di sudut area pemotretan, Christian berdiri dengan setelan jas abu-abu yang pas di tubuhnya.

Ia kini bukan lagi sekadar penyelamat, melainkan manajer sekaligus tunangan yang selalu menjaga Aruna layaknya permata paling berharga. Christian tersenyum tipis saat melihat Aruna, di sela-sela pergantian pose, secara refleks mengangkat tangan kanannya dan mencium cincin bermata biru yang kini telah terpasang indah di jari manisnya.

Cincin itu adalah pengingat akan janji setia yang mereka buat sebelum operasi besar dua tahun lalu.

Setelah sesi pemotretan selesai, puluhan wartawan internasional dan paparazzi mulai merangsek maju.

Mereka penasaran dengan wajah asli di balik topeng renda itu.

"Aruna! Bisakah Anda membuka sedikit topengnya?"

"Benarkah tanda X itu permanen atau hanya make-up?"

Christian dengan sigap melangkah maju, menghalangi pandangan para jurnalis dengan tubuh tegapnya.

Ia memberikan kode kepada tim keamanan untuk membentuk pagar betis.

"Maaf, rekan-rekan media. Kontrak Aruna sudah jelas. Tidak ada pengambilan gambar atau wawancara tanpa topeng renda hitamnya. Siapa pun yang berani melanggar, akan berhadapan dengan tim hukum Adrian Group."

Aruna menatap kerumunan itu dari balik topengnya.

Matanya yang tajam dan dingin tidak lagi memancarkan ketakutan.

Ia mendekat ke arah Christian, menggandeng lengannya dengan anggun.

"Ayo pergi, Chris. Aku sudah lelah," ucap Aruna dengan suara yang lembut namun terdengar sangat mahal.

"Tentu, Aruna. Kita punya jadwal penerbangan malam ini," jawab Christian sambil membukakan pintu mobil limousine yang sudah menunggu.

"Ke mana kita akan pergi selanjutnya, Mas?" tanya Aruna saat mereka sudah berada di dalam mobil, menjauh dari keramaian Paris.

Christian menatap Aruna dalam-dalam, lalu menyerahkan sebuah undangan berlapis emas yang baru saja ia terima dari Indonesia.

Undangan perayaan ulang tahun ke-30 dan kerjanya Hermawan Group, yang kini dipimpin oleh Akhsan Hermawan.

"Sudah waktunya pulang, Aruna. Jakarta, sudah terlalu lama merindukan fajar yang baru," bisik Christian.

Aruna menyentuh tanda X di pipinya dari balik renda hitam. Senyum getir menghiasi bibirnya.

"Dua tahun aku berlatih untuk tidak menangis. Sekarang, giliran mereka yang akan meneteskan air mata darah."

Mobil mewah itu melaju tenang membelah jalanan kota Paris yang indah.

Aruna duduk bersandar, matanya menatap kosong ke luar jendela, memikirkan rencana kepulangannya ke Indonesia. Namun, keheningan itu pecah saat Christian yang duduk di sampingnya tiba-tiba mengerang pelan.

Christian mencengkeram dadanya, wajahnya tampak meringis kesakitan, dan sedetik kemudian kepalanya terkulai lemas di bahu Aruna.

"Mas Chris? Mas!" Aruna tersentak panik.

Ia mengguncang bahu Christian, namun pria itu tidak bergeming.

"Sayang! Kamu kenapa? Christian! Bangun!"

Jantung Aruna berdegup kencang. Ketakutan akan kehilangan satu-satunya orang yang tulus mencintainya membuat napasnya sesak.

"Pak, cepat kita ke rumah sakit sekarang! Cepat!" teriak Aruna pada sopirnya.

Sepanjang perjalanan, Aruna menangis sesenggukan.

Ia memeluk kepala Christian di pangkuannya, membisikkan doa agar pria itu baik-baik saja.

Aruna merasa dunianya akan runtuh jika sesuatu yang buruk terjadi pada Christian.

Sesampainya di halaman sebuah rumah sakit swasta yang dikelilingi taman luas, sopir langsung membukakan pintu. Namun, saat Aruna hendak berteriak memanggil perawat, langkahnya terhenti.

Sayup-sayup, telinganya menangkap suara yang sangat ia kenali dari tanah air.

Suara dentuman kendang dan denting gamelan Jawa mengalun indah di tengah kota Paris.

Tiba-tiba, Christian membuka matanya. Ia bangun dengan segar, tidak ada lagi raut kesakitan di wajahnya.

Ia keluar dari mobil dan menatap Aruna yang masih terpaku dengan wajah penuh air mata.

"Chris? Kamu bohongi aku?" tanya Aruna tak percaya, masih terisak.

Christian mendekat, menggenggam kedua tangan Aruna.

"Maafkan aku, Sayang. Aku harus melakukan ini. Sebelum kita kembali ke Indonesia. Aku ingin meresmikan hubungan kita. Aku ingin dunia tahu kamu milikku. Jujur., aku takut jika kita kembali ke sana, hatimu akan goyah dan kamu jatuh cinta lagi pada Akhsan."

Aruna tertegun, lalu perasaan lega bercampur gemas menyelimutinya.

Ia menjulurkan tangan dan mencubit hidung Christian dengan keras.

"Kamu nakal sekali! Aku hampir mati ketakutan, tahu!"

Di tengah tawa kecil mereka, Papa Adrian muncul dengan mengenakan beskap lengkap, tampak gagah dan berwibawa.

Ia melangkah mendekat dan menggandeng tangan Aruna, membawanya menuju taman rumah sakit yang sudah disulap menjadi area akad nikah yang sangat cantik dan sakral.

Mereka duduk di kursi kayu ukir di hadapan penghulu dan saksi.

Di bawah langit Paris, Christian menjabat tangan Papa Adrian.

Dengan satu tarikan napas yang mantap dan tegas, Christian mengucap ijab kabul.

"Sah!"

Suara saksi bergema, diikuti doa yang dipanjatkan dengan khusyuk.

Aruna memejamkan mata, merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia meraih tangan kanan Christian dan mencium punggung tangan suaminya dengan penuh hormat dan cinta yang baru.

Indri langsung berlari menghambur dan memeluk tubuh Aruna dengan sangat erat. Air mata bahagia terpancar dari matanya.

"Selamat ya, Mbak! Akhirnya!" seru Indri ceria.

Ia melepaskan pelukannya dan membungkuk sedikit dengan nada menggoda.

"Mulai sekarang, aku tidak akan memanggilmu Aruna saja. Selamat datang di keluarga kami, Mbak Aruna Christian."

Aruna tersenyum, kali ini senyumnya sampai ke mata.

Di balik kebahagiaan itu, hatinya membatin satu hal: Sekarang aku memiliki kekuatan untuk kembali.

Bukan sebagai Zahra yang tertindas, tapi sebagai Aruna Christian yang takkan terkalahkan.

Setelah prosesi akad nikah yang sakral dan penuh kejutan di Paris, Papa Adrian mengajak sepasang pengantin baru itu untuk makan malam perayaan yang hangat namun singkat.

Restoran mewah itu menghadap langsung ke arah kerlip lampu kota, namun pikiran mereka sudah melayang jauh melintasi samudera, menuju tanah air yang penuh dengan duri masa lalu.

"Makanlah yang banyak, Aruna, Christian. Setelah ini kalian butuh tenaga ekstra untuk perjalanan panjang," ucap Papa Adrian sambil menatap kedua anaknya dengan bangga.

Aruna dan Christian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.

Selesai makan malam, mereka langsung bergegas menuju bandara Charles de Gaulle.

Jet pribadi milik keluarga Adrian sudah menunggu di landasan pacu.

Di dalam kabin pesawat yang mewah dan sunyi, Aruna duduk bersandar di kursi first class.

Christian mendekat, tangannya dengan lembut membuka ikatan tali topeng renda hitam yang menutupi wajah istrinya.

Ia menatap wajah Aruna yang kini sempurna, namun tetap memiliki tanda X tipis yang menjadi pengingat luka.

"Istirahatlah, Sayang. Perjalanan ini akan memakan waktu lama," ucap Christian lembut sambil menyelimuti tubuh Aruna.

Ia mengecup kening istrinya dengan penuh kasih, memastikan Aruna merasa aman sebelum mereka memasuki "medan perang" yang sesungguhnya.

Sementara itu di belahan dunia lain, layar televisi di ruang tengah kediaman Hermawan menyala terang, menampilkan segmen berita hiburan internasional.

'Model kelas dunia Aruna Adrian dikabarkan telah melangsungkan pernikahan tertutup di Paris dengan manajernya, Christian Adrian. Pernikahan ini menjadi sorotan karena sosok Aruna yang misterius dan kekayaan keluarga Adrian yang tak terukur,'

Sisil, yang sedang duduk di sofa sambil mengikir kuku, menatap layar itu dengan tatapan iri yang tak tertutup.

Ia melirik Akhsan yang duduk tidak jauh darinya, masih berkutat dengan laptop dan tumpukan berkas perusahaan.

"Mas, kamu lihat berita itu? Model Aruna yang terkenal itu sudah menikah. Cantik ya? Tapi, kenapa dia selalu pakai topeng?" tanya Sisil dengan nada manja yang dibuat-buat, berusaha memancing perhatian Akhsan.

Akhsan tidak mendongak. Jemarinya masih lincah menari di atas keyboard.

Wajahnya tampak jauh lebih dingin dan tegas dibanding dua tahun lalu.

"Mas, kapan kita menikah? Masa kita cuma tunangan terus? Papa sudah sakit, Mama sibuk arisan. Siapa lagi yang mau mengurus rumah ini kalau bukan aku sebagai istrimu?" rengek Sisil lagi sambil menyentuh lengan Akhsan.

"Sil, diam!" bentak Akhsan tanpa mengalihkan pandangan.

Sisil langsung terdiam saat Akhsan yang langsung membentaknya.

Akhsan menutup laptopnya dengan kasar sambil

memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.

"Besok Aruna Adrian akan tiba di Jakarta. Dia adalah investor kunci yang bisa menyelamatkan saham Hermawan Group yang sedang merosot. Kita harus menyambutnya di bandara dengan sempurna."

Akhsan berdiri, merapikan kemejanya tanpa menatap Sisil sedikit pun.

"Sekarang, pulanglah ke rumahmu. Aku butuh ketenangan untuk menyusun berkas presentasi besok pagi," ucap Akhsan dingin.

Sisil menghentakkan kakinya kesal, namun ia tidak berani membantah.

Ia meninggalkan rumah itu dengan hati yang panas.

Sementara itu, Akhsan berjalan menuju jendela besar, menatap langit malam Jakarta.

Entah kenapa, jantungnya berdegup tidak keruan setiap kali mendengar nama Aruna disebut.

Ada perasaan asing yang menyesakkan dadanya, sebuah firasat bahwa kedatangan wanita bertopeng itu akan mengubah hidupnya selamanya.

"Zahra, Mas rindu kamu. Mas, rindu suara kamu," gumam Akhsan yang kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

1
Fatma
jangan bilang nanti aruna malah balikan sama akhsan, suaminya gmn?
Masha 235
lha terus christian kepiye aruna ...mau diapain ..
my name is pho: sabar kak 🤭
total 1 replies
Piyah
,masa begitu, arunany
Dwi Winarni Wina
balas dendam siap dimulai tunggu kehancuranmu akhsan...
Dwi Winarni Wina
siulet bulu sisil kayak cacing kepanasan🤣🤭
Dwi Winarni Wina
Akhsan merindukan zahra pret tega sekali menyiksa zahra, siap2 aruna cristian akan balas dendam🤣
Dwi Winarni Wina
Zahra akan ganti identitas dengan barunya, siap2 balas dendam...
Dwi Winarni Wina
Zahra adiknya cristian akan membalas dendam sm keluarga hermawan dan akhsan akan melakukan operasi plastik
Dwi Winarni Wina
Zahra balas dendam telah orang2 yg menyakitinya...
Dwi Winarni Wina
bagus cristian selamatkan zahra dari para iblis itu...
Dwi Winarni Wina
zahra bertahan balas org2 telah menyakitimu, jadi zara yg kuat tanggung jangan jadi zahra yg lemah yg mudah ditindas....
Dwi Winarni Wina
Zahra pergi yg jauh akhsan dan orgtua sendiri aja gak peduli sm kamu, ngapain juga bertahan yg ada dapat siksaan aja
Dwi Winarni Wina
cristian bawa zahra pergi jauh daripada disakiti sm akhsan terus...
Dwi Winarni Wina
muncul ulet bulu kegatelan ini🤣🤭
Dwi Winarni Wina
akhsan gak punya hati apa, menyiksa zahra...
Dwi Winarni Wina
sebaiknya pergi yg jauh aja zahra, daripada diperlakukan kayak tahanan...
Dwi Winarni Wina
kejam sekali akhsan sm zahra, zahra istri kamu perlakukan dengan baik..zahra juga tidak bersalah bukan penyebab kematian gea...
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
klo akhsan disusui mama'y zahra itu sma aja akhsan & zahra saudara sepersusuan & itu hukum'y haram jika mereka brdua menikah
my name is pho: Zahra bukan anak dari mama Hermawan
total 1 replies
Dwi Winarni Wina
Lagian bukan zahra juga penyebab kematian gea kali, seharusnya sadar akhsan menyalahkan zahra teru...
Dwi Winarni Wina
akhsan kejam bingit menuduh zahra penyebab kematian gea, kecelakaan yg menimpa gea karena takdir...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!