NovelToon NovelToon
Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 Senyum yang Dipelajari

Pagi datang dengan cahaya yang lembut, seolah dunia sengaja bersikap ramah pada hari yang seharusnya terasa kejam bagi Rania. Sinar matahari menyelinap masuk melalui celah tirai kamar tidur, jatuh tepat di wajahnya. Matanya terbuka perlahan, tanpa kejutan, tanpa tangis. Malam sebelumnya telah menghabiskan cukup banyak air mata.

Kini yang tersisa hanyalah kelelahan… dan keteguhan.

Rania bangkit dari tempat tidur, melangkah menuju kamar mandi. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Mata sedikit sembap, tetapi wajahnya masih tenang. Ia mengulurkan tangan, menyentuh pipinya sendiri.

“Mulai hari ini,” bisiknya lirih, “aku harus terlihat baik-baik saja.”

Air dingin menyentuh wajahnya, menyapu sisa kesedihan yang masih melekat. Rania merawat dirinya dengan telaten—membersihkan wajah, mengenakan pelembap, merias tipis seperti biasa. Tidak berlebihan. Tidak berubah drastis. Ia tahu, perubahan sekecil apa pun bisa mengundang kecurigaan.

Ia memilih pakaian kerja berwarna krem lembut, rapi dan elegan. Rambutnya disanggul sederhana. Penampilan seorang istri yang mapan, tenang, dan percaya diri—tepat seperti yang selama ini Arga lihat dan anggap remeh.

Saat Rania turun ke dapur, Bu Sarinah sudah lebih dulu menyiapkan sarapan. Perempuan paruh baya itu menatapnya dengan khawatir, namun Rania lebih dulu tersenyum.

“Pagi, Bi,” sapa Rania ringan.

Bu Sarinah terkejut. “Mbak… apa mbak sudah baikan?”

Rania mengambil secangkir teh hangat, meniupnya perlahan. “Sudah, Bi. Semalam cuma capek saja.”

Kebohongan kecil pertama meluncur dengan mulus.

Bu Sarinah ingin berkata sesuatu, tapi menahan diri. Ia hanya mengangguk pelan. Dalam hatinya, ia tahu—senyum Rania bukan senyum bahagia. Itu senyum yang dipelajari.

Tak lama kemudian, suara pintu terbuka terdengar. Arga masuk dengan langkah santai, seolah tak ada dosa yang menempel di tubuhnya. Ia mengenakan kemeja biru muda, wajahnya tampak segar. Terlalu segar untuk seorang pria yang baru saja berkhianat.

“Pagi,” ucap Arga singkat.

Rania menoleh, tersenyum. “Pagi, Mas. Sarapan dulu. Aku sudah minta Bi bikinin kesukaan Mas.”

Arga terlihat sedikit terkejut. “Oh… makasih.”

Ia duduk, mulai makan. Tidak ada kecanggungan. Tidak ada pertanyaan. Rania bersikap seperti biasanya—menanyakan jadwal kerja Arga, mengingatkan soal berkas yang tertinggal, bahkan menuangkan kopi kesukaannya tanpa diminta.

Arga menatap Rania sekilas. Ada sesuatu di sorot matanya—ragu, lalu lega.

Dia tidak tahu apa-apa, batinnya.

Dan itulah yang Rania inginkan.

Saat Arga bersiap berangkat kerja, ia mencium kening Rania seperti rutinitas lama yang hampa makna. Rania membalas dengan senyum tipis, tanpa menahan, tanpa menolak.

“Mas hati-hati,” katanya lembut.

Pintu tertutup. Mobil Arga menjauh.

Rania berdiri diam cukup lama di ruang tamu. Begitu suara mesin benar-benar menghilang, senyumnya lenyap. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

“Langkah pertama berhasil,” gumamnya.

Hari itu, Rania menjalani aktivitasnya seperti biasa. Rapat, panggilan bisnis, laporan keuangan. Namun ada satu perbedaan besar—kali ini, ia memperhatikan segalanya dengan jauh lebih tajam.

Ia membuka kembali seluruh dokumen yang berkaitan dengan aset keluarga. Rumah atas nama siapa. Rekening siapa. Investasi siapa. Selama ini, Rania terlalu percaya. Terlalu yakin bahwa pernikahan berarti berbagi segalanya tanpa perlu berjaga.

Sekarang, ia belajar satu hal penting: kepercayaan tanpa kendali adalah undangan bagi pengkhianatan.

Sore harinya, ponsel Rania bergetar. Nama Maya muncul di layar.

Rania menatapnya beberapa detik sebelum mengangkat panggilan.

“Halo, May,” suaranya terdengar hangat.

“Ran! Kamu sibuk nggak?” suara Maya terdengar ceria—terlalu ceria.

“Sedikit, tapi santai. Kenapa?”

“Aku cuma kangen. Kita udah lama nggak makan bareng.”

Rania tersenyum kecil, meski Maya tak bisa melihatnya. “Iya ya. Minggu ini aku agak padat, tapi nanti aku kabari.”

“Siap. Jangan lupa aku ya,” ujar Maya manja.

“Mana mungkin,” jawab Rania ringan.

Panggilan ditutup.

Rania meletakkan ponselnya perlahan. Tangannya tidak bergetar. Dadanya tidak sesak. Yang ada hanyalah kejelasan.

Maya… kamu bahkan tidak tahu, aku sedang menatapmu dari jarak paling dekat.

Malam itu, Arga pulang lebih larut dari biasanya. Rania tidak bertanya. Ia menyambut dengan wajah biasa, menyajikan makan malam, lalu berpamitan lebih dulu dengan alasan lelah.

Di kamar, Rania duduk di tepi ranjang, membuka buku catatan kecil yang sudah lama tidak ia sentuh. Ia mulai menulis—tanggal, kejadian kecil, perubahan sikap Arga, alasan-alasan yang terdengar sepele.

Ia mencatat semuanya.

Bukan untuk meluapkan emosi. Tapi untuk mengingat. Untuk menyusun langkah.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti sandiwara yang sempurna. Rania semakin lembut. Semakin pengertian. Ia tidak membatasi Arga, tidak menuntut waktu, bahkan mulai mengurangi pertanyaan.

Arga semakin bebas.

Dan justru di sanalah kesalahannya.

Karena semakin bebas seseorang merasa, semakin ceroboh ia melangkah.

Rania mulai melihat celah—pesan singkat yang terhapus terlalu cepat, jadwal yang berubah mendadak, alasan yang diulang dengan pola sama. Ia tidak menegur. Tidak mengomentari. Ia hanya menyimpan semuanya rapi dalam ingatan.

Suatu malam, Maya datang ke rumah mereka. Seperti biasa, dengan wajah polos dan senyum sahabat.

“Ran, aku bawa kue favorit kamu,” kata Maya ceria.

Rania menerima kotak kue itu, menatap mata Maya lurus-lurus. “Makasih, May. Kamu selalu ingat aku.”

Maya tersenyum. Ada kilatan rasa bersalah yang sangat cepat—terlalu cepat untuk disadari orang lain.

Rania melihatnya.

Dan memilih diam.

Saat Maya pamit pulang, Arga mengantarnya sampai depan pintu. Rania berdiri di belakang, memperhatikan punggung dua orang yang pernah ia percaya sepenuh hati.

Di kamar, Rania kembali menangis. Pelan. Sendiri. Tidak lagi di dada orang lain.

Namun air mata itu bukan tanda kelemahan.

Itu adalah pelepasan terakhir.

“Aku tidak akan kalah,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Kalian boleh tertawa sekarang. Tapi ingat… aku yang membangun segalanya. Dan aku juga yang akan mengambilnya kembali.”

Rania mematikan lampu, berbaring dengan mata terbuka.

Besok, ia akan kembali tersenyum.

Karena perang terpanjang adalah perang yang tidak pernah disadari oleh lawannya.

Dan Rania sudah memutuskan—ia akan menang, dengan caranya sendiri.

Ingatan itu datang tanpa diundang.

Rania sedang duduk di ruang kerjanya ketika pikirannya terseret ke satu sore beberapa bulan lalu—hari ketika segalanya mulai retak, tanpa ia sadari.

Saat itu hujan turun rintik-rintik. Maya berdiri di ambang pintu dapur dengan wajah ragu, memeluk map cokelat tipis di dadanya. Rania masih ingat betul, ia baru saja selesai menelpon klien dan melihat Maya mondar-mandir sejak tadi.

“Ran,” panggil Maya pelan.

Rania menoleh. “Kenapa, May?”

Maya tersenyum, senyum yang sekarang terasa asing jika diingat kembali. “Aku mau ngomong.”

Mereka duduk di ruang makan. Arga belum pulang. Rumah terasa tenang, terlalu tenang untuk sebuah percakapan yang diam-diam mengubah segalanya.

“Aku kepikiran satu hal,” ujar Maya, memutar-mutar ujung jarinya. “Aku kayaknya mau pindah.”

Rania terkejut. “Pindah? Maksud kamu?”

“Aku sudah dapat rumah kontrakan kecil. Nggak jauh dari sini,” kata Maya cepat, seolah takut niatnya dipatahkan. “Aku nggak enak, Ran. Terus-terusan numpang di rumah kamu.”

Rania langsung menggeleng. “Loh, May. Kamu kan sahabat aku. Aku sama Mas Arga nggak pernah keberatan.”

Maya menunduk. “Justru itu. Aku nggak mau orang lain ngomong aneh-aneh. Perempuan tinggal lama-lama di rumah pasangan suami istri… aku takut jadi bahan omongan.”

Kalimat itu dulu terdengar masuk akal.

Sekarang, Rania tahu—itu alasan paling licik yang pernah ia dengar.

“Aku bisa bantu bayar listrik, air—” Rania mencoba lagi.

Maya memotong pelan. “Bukan soal uang, Ran. Ini soal perasaan. Aku nggak mau merepotkan kamu terus.”

Saat itu Rania tersenyum, menepuk tangan Maya. “Kamu ini terlalu mikir. Aku anggap kamu keluarga.”

Maya mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca. “Justru karena aku anggap kamu keluarga, aku harus tahu diri.”

Rania terdiam. Ada sesuatu di dada Maya—ketegangan yang tidak bisa ia jelaskan saat itu. Tapi Rania memilih mengabaikannya. Ia selalu begitu. Terlalu baik. Terlalu percaya.

Saat Arga pulang malam itu, Maya sudah menyampaikan keputusannya juga. Arga terlihat terkejut, lalu… Rania baru sadar sekarang—terlalu cepat menerima.

“Kalau itu keputusan kamu, kami dukung,” kata Arga singkat.

Tak ada bujukan. Tak ada usaha menahan.

Rania sempat menatap Arga, berharap suaminya berkata sesuatu—apa pun—untuk menahan Maya tinggal lebih lama. Tapi Arga hanya tersenyum tipis.

Dan Maya terlihat lega.

Hari kepindahan itu sederhana. Maya mengemasi barang-barangnya sendiri. Tidak banyak. Seolah ia memang sudah lama bersiap.

Rania membantu melipat pakaian, sementara Maya berkali-kali mengucapkan terima kasih.

“Makasih ya, Ran. Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu harus mulai dari mana.”

Rania memeluknya. “Jaga diri kamu baik-baik.”

Maya membalas pelukan itu sedikit lebih lama dari biasanya. Terlalu lama.

Rania mengingat sekarang—bagaimana Arga berdiri di dekat pintu, menatap mereka dengan ekspresi yang tidak bisa ia baca. Bukan sedih. Bukan canggung. Melainkan… menunggu.

Saat mobil kecil yang membawa barang-barang Maya pergi, Rania berdiri di teras sambil melambaikan tangan.

Ia tidak tahu, itu bukan perpisahan.

Itu hanya perpindahan medan.

Kini, di masa sekarang, Rania menghela napas panjang. Tangannya mengepal di atas meja kerja.

“Jadi sejak saat itu,” gumamnya pelan, “kalian sudah rapi menyusun jarak.”

Maya keluar bukan karena tidak enak.

Ia keluar karena ingin leluasa.

Dan Arga membiarkannya—karena sejak awal, ia tidak ingin Maya benar-benar pergi.

Rania menutup matanya. Dadanya terasa sesak, bukan oleh tangis, tapi oleh penyesalan.

*Kenapa aku tidak melihatnya lebih awal?*

Namun detik berikutnya, Rania membuka mata. Tatapannya kembali jernih.

“Tidak,” katanya tegas pada dirinya sendiri. “Aku tidak bodoh. Aku hanya terlambat sadar.”

Dan keterlambatan itu akan ia bayar dengan kecerdikan, bukan amarah.

Flashback itu menguatkan satu hal di benaknya—perselingkuhan itu bukan terjadi tiba-tiba. Ia tumbuh pelan-pelan, diberi ruang, diberi izin, dan akhirnya dianggap wajar oleh mereka yang melakukannya.

Rania berdiri, berjalan ke jendela, menatap malam.

“Kalian sudah lama memulai permainan ini,” bisiknya dingin. “Sekarang giliranku menyelesaikannya.”

Dan kali ini, tidak akan ada lagi yang bisa keluar dengan alasan manis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!