Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Kemunculan Ayah Rani
[Katanya spoiler dari novel sebelah, kok bisa Adimas sama Lyra. Ya intinya Leon saat itu harus ke pengadilan buat jeblosin orang yang udah ngegugurin kandungan Elyra, best. Dan kebetulan saat itu Adimas nganterin mobil hasil modifikasi yang dipesan Leon buat Lyra, alhasil mereka pergi bareng deh. Begonoh! Buat list lengkapnya ada di eps 44 di novel Elyra.]
"Hiks, Ly.. Papah bawa madunya, Ly, hiks.. hiks..." Isaknya. Elyra ikut menangis dan mengusap punggung sahabatnya itu dengan lembut.
"Enggak apa-apa, sekarang yang penting itu Mamah, ya? Kamu jangan nangis, biar Mamah enggak sedih nanti. Oke?" pinta Elyra mengecup kening sahabatnya itu dan menepuk-nepuk punggungnya.
"Mana lihat sini, kita bisa saling menguatkan di sini. Ayolah, kamu kan kuat, ya?" Elyra mengusap air mata yang bercucuran di pipi Rani, Rani mengangguk pelan.
Adimas menunduk di hadapan Rani, melihat gadis yang biasanya ceria dengan banyak gombalan dan tingkah konyol itu kini tampak tak berdaya. Wajahnya sembab, kedua matanya merah seolah hidupnya hancur kala itu.
"Ran?" Adimas meraih tangan Rani dengan lembut, Rani seketika menarik tangannya.
"Maaf, Pak, terima kasih sudah antar Elyra ke sini. Selebihnya, biar nanti saya yang antar Elyra pulang dan yang bertanggung jawab."
Deg!
Jantung Adimas seketika berhenti, apa itu? Apa itu sejenis penolakan? Memang ada yang berbeda selama dua bulan ini pada Rani, ya, termasuk pada Adimas sendiri. Adimas ingin menyelesaikan urusannya dengan Elin, namun justru selalu buntu karena berbagai alasan. Namun, Rani juga sudah tahu bagaimana perasaan Adimas terhadapnya meski belum diucapkan secara gamblang.
"Iya, Kak, terima kasih sudah mengantar saya. Nanti saya minta suami saya yang jemput, bukankah tadi Kakak bilang sedang sibuk?" Elyra tersenyum tulus. Adimas menggeleng pelan seolah memberi pertanda pada Elyra bila dia bisa menunda kesibukan yang dia maksud tadi.
"Saya bisa menunda kesibukan saya itu. Ran, kamu tidak apa-apa?" tanya Adimas lagi, tatapannya tertuju langsung pada mata Rani.
"Enggak apa-apa, makasih, Pak." Balas Rani. Elyra mengangguk mengerti.
Memang beberapa hari ini Rani sering memberi Elyra pesan, dari mulai curhat hafalannya yang susah sampai tentang Adimas. Dan Elyra mengerti betul apa yang dirasakan oleh sahabatnya saat ini.
"Kak, Rani baik-baik saja, jadi Kakak bisa selesaikan urusan Kakak." Tambah Elyra. Adimas bangkit dan menghela napas kasar.
"Baiklah, bila ada apa-apa tolong beri saya kabar." Ucap Adimas. Dia mengangguk pada Rani. Namun Rani seolah tak ingin menatapnya dan memalingkan pandangan dari Adimas.
Hancur sekali hati Adimas dibuatnya, di atas tekanan itu Adimas akhirnya kembali berbalik. Dia menghubungi salah satu pekerjanya untuk membawa baju ganti ke alamat yang dia kirim.
Adimas langsung duduk di samping Rani lagi, tentu saja dia tak akan membiarkan gadis itu terluka semakin dalam.
"Rani?" Seorang pria yang dikenal Rani kini berdiri di depan IGD, Rani menatap pria itu dengan tatapan nalang seolah tak ada nyawa dalam tatapan Rani tersebut.
"Apa Anda Ayah Rani?" Tanya Elyra berdiri di hadapan Rani, menghalangi pandangan Rani dari pria itu.
"Benar, ada apa ini?" Tanya pria itu lagi, Rani berdiri dari duduknya dengan paksa, dia menatap tajam pada sang Ayah.
"Kenapa Papah datang? Kenapa buat Mamah kaya gini, hah!" Pekik Rani, dia mulai berjalan dengan cepat namun langkahnya terhenti saat Adimas memeluknya dari belakang.
"Ada baiknya kalian tinggalkan tempat ini secepatnya." Ucap Elyra, nampak sekali Elyra juga menahan tangis pedihnya.
"T-tapi, saat ini saya bersama Bundanya datang bersama dengan calon suami yang sudah ditetapkan oleh seorang Syaikh." Ucap lagi Ayah Rani, Rani memberontak dari pelukan Adimas dengan tangis dan teriak pedihnya.
"Tak tahu malukah kamu, Pah! Lihat Mamah! Dan lihat aku sekarang! Dan dengar ini baik-baik! Aku akan menikah dengan pria yang aku pilih sendiri, yang sudah ditakdirkan Tuhan untukku, dan dengan pria yang tidak akan mengkhianati perasaannya karena sesuatu hal yang sangat sepele! Aku membencimu, Pah!" Teriak lagi Rani, dia memukul-mukul tangan Adimas namun Adimas tak melepaskannya.
Entah akan menjadi seperti apa bila Adimas melepaskan pelukannya itu, meski perih mendapatkan cakaran dari Rani. Namun, melihat Rani yang seperti itu jelas rasanya ratusan kali lebih perih bagi Adimas.
"Hei, kamu berani pada Ayahmu sendiri!" Ibu tiri Rani siap memukul Rani, Elyra yang berada di sana langsung menghentikan tangan itu.
Plak!
Satu tamparan diberikan Elyra, penutup wajah wanita itu terlepas dan wanita itu nampaknya tidak begitu cantik. Wah, buta sekali mata Ayah Rani, pikir Elyra.
"Kamu memukul saya!" Pekik wanita itu lagi, Elyra menggulung lengan bajunya dan melemparkan tasnya yang berisi uang cash ke arah kursi tunggu dan tampaklah uang gepokan merah di sana.
"Kebetulan aku lagi kesal, ditambah keberadaan wanita sepertimu di sini. Cocok sekali untuk menghangatkan tanganku." Ucap Elyra mulai meregangkan tangannya.
"Apa yang kamu lakukan?" Ayah Rani menatap Elyra, Elyra menatap lagi pria itu tak kalah tajam.
"Apa kamu merasa sudah kebal hukum! Dasar bocah!" Ucap Ayah Rani, Elyra makin kesal, dia juga meregangkan lehernya.
"Aku memang kebal hukum, hei kalian, apa kalian melihat sesuatu barusan?" Tanya Elyra pada para perawat di sana. Semua langsung menggeleng dan seolah tak melihat apa pun.
"Kamu tahu siapa pria itu? Dia calon suami Ran. Dan kau tahu siapa pria itu, dia adalah Kakakku. Jadi kamu berani mengambil iparku?" Pekik lagi Elyra bersiap untuk menyerang.
Beberapa pria nampak datang juga, mereka menggunakan baju ala Arab. Elyra jelas tak mengenal mereka, namun yang jelas mereka dibawa oleh Ayah Rani.
"Ho, bawa orang rupanya." Ucap Elyra, sudah lama sekali sabuk hitamnya tidak bekerja.
"Ly?" Adimas mulai khawatir, Elyra mengangkat satu tangannya. Pihak security rumah sakit ikut berdatangan karena kejadian tersebut.
Elyra sadar, bila dia ribut di sana pasti akan menimbulkan kekacauan. Alhasil, Elyra menarik kerudung bagian belakang wanita yang bersama Ayah Rani dan melemparkannya ke arah parkiran khusus dokter.
"Ja*lang!" Pekik Elyra, beberapa pria berbaju hitam kini juga datang. Dan dua pekerja Adimas juga tiba.
Penjagaan ketat yang diberikan Leon pada istrinya tidak main-main. Bahkan dalam jarak jauh saja, Leon menyiapkan penembak jitu bila hal yang tak terduga bisa saja terjadi pada istrinya.
Leon memang tidak di sana, namun antek-anteknya selalu ada di sekitar Elyra. Bukan hanya penjagaan dari Leon, namun penjagaan yang diberikan oleh Tamam untuk adik kandung bungsunya, yaitu Adimas, juga datang satu per satu.
"Kalian jangan ikut campur, aku sedang kesal!" Ucap Elyra pada para pria berbaju hitam itu, Ayah Rani seketika bergetar hebat saat hampir satu parkiran dipenuhi oleh orang-orang berseragam hitam.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang