NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Ta'zir dari Sang Kiai

Ruang ndalem terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu temaram menggantung, memantulkan bayangan panjang, di dinding kayu. Anisa berdiri kaku dengan kepala tertunduk. Jemarinya saling menggenggam erat, berusaha menahan gemetar.

Romo Yai duduk di kursi utama. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam, bukan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan ketegasan seorang penjaga amanah.

Umi Laila duduk tepat di samping beliau, tangan terlipat di atas pangkuan. Sementara Gus Hafiz berdiri tak jauh dari Anisa. Sikapnya tegak, wajahnya tetap tertunduk hormat.

Romo Yai membuka suaranya. Dengan meminta keduanya duduk.

Anisa dan Gus Hafiz pun duduk dengan sopan.

"Nak..." ucapnya pelan, namun tersirat rasa kecewa di dalam nada suaranya.

"Apa kamu sadar di mana kamu berdiri saat ini?"

Anisa mengangguk kecil.

"Nggih, Romo Yai..."

"Ini pondok pesantren," lanjut Romo Yai.

"Tempat orang menitipkan anaknya, agar dijaga akhlaknya, imannya, dan kehormatannya."

Beliau menahan napas perlahan.

"Kamu tahu apa yang kamu lakukan? Kamu masuk ke kamar laki-laki yang bukan mahrammu. Bukan siang hari, Tapi malam, disaat, dalam keadaan tersembunyi. Menurutmu, apa arti perbuatanmu itu di mata syariat?"

Anisa hanya mampu menelan ludah. Air matanya jatuh.

"Anisa salah, Anisa khilaf, Yai..." suara gadis itu pecah. "Anisa ndak berniat buruk, Yai."

Romo Yai mengangguk pelan, namun wajahnya tak berubah.

"Niat itu urusan hati," ucapnya tegas.

"Tapi syariat menilai perbuatan. Dan perbuatan kalian sudah melanggar batas."

Romo Yai menatap Anisa lebih lama. Tatapan itu bukan menghakimi, melainkan menunggu kejujuran yang belum juga keluar.

"Katakan, Nak Anisa, kamu ndak perlu takut," ujar Romo Yai pada akhirnya. Suaranya rendah namun tegas,

"Apa alasanmu masuk ke kamar Gus Hafiz?"

Anisa tertunduk. Bibirnya bergetar, dadanya sesak. Ia tahu, satu kalimat jujur akan menyeret tiga nama temannya. Ia tak ingin itu terjadi.

Jika harus dihukum, biarlah ia sendiri.

Keheningan terasa panjang, ruang ndalem seakan menahan napas.

Romo Yai kembali membuka suaranya dengan mengubah pertanyaannya.

Kali ini lebih ke pernyataan.

"Apa Nak Anisa... sengaja menemui Gus Hafiz?"

Jantung Anisa berdegup kencang. Gadis tujuh belas tahun itu melirik sekilas ke arah Gus Hafiz. Tatapan yang singkat, penuh rasa bersalah, lalu wajah ayu itu tertunduk lagi.

"Nggih, Yai..."

Anggukan kecil itu menyertai kebohongan yang terasa begitu berat di dadanya.

Kalimat itu jatuh pelan, namun dampaknya mengguncang.

Gus Hafiz terkejut. ia sepintan mengangkat wajahnya, menatap Anisa dengan sorot mata yang tak lagi datar. Ada kaget, ada tanya, ada rasa tak percaya.

"Apa...?" liriknya hampir tak percaya.

Ia tahu, ia bahkan tak pernah memanggil gadis di sebelahnya itu untuk datang ke kamarnya. Bahkan tak pernah berniat. Namun pengakuan Anisa telah membungkam semua pembelaan sebelum sempat terucap.

Romo Yai memejamkan mata sejenak.

"Kalau begitu," ujarnya kemudian,

"Kesalahan ini tak berdiri sendiri."

Umi Laila menghela napas panjang, wajahnya menegang.

Anisa menunduk lebih dalam, air matanya jatuh ke pangkuannya, dalam hatinya ia beristighfar berkali-kali.

Ya Allah ampuni aku...

Maafkan aku Gus... aku sudah menyeret panjenengan ke dalam masalahku.

Kata-kata itu hanya mampu ia ucap dalam hatinya saja. Anisa semakin menundukkan kepala, meremas ujung jilbabnya yang sudah basah karena air mata.

"Hafiz," panggil Romo Yai tenang. Namun membuat jantung Gus Hafiz jatuh ke lantai.

"Nggih, Romo."

"Kamu tahu, kehormatan Gus yang melekat di pundakmu itu, bukan sembarangan, Hafiz."

Gus Hafiz menunduk lebih dalam. Ia tak mungkin menyangkal pernyataan Romo nya, dan ia juga tak mungkin mengatakan Jia apa yang Anisa ucapkan itu tidak benar. Karena nyatanya gadis itu berada di dalam kamarnya.

Gus Hafiz tak ingin menjatuhkan harga diri gadis itu. Hafiz yang ingin jika Anisa punya alasan untuk melakukan hal itu.

"Yai, saya siap menerima ta'zir, dari, Yai. Gus Hafiz tidak salah, saya lah yang mendatangi kamar beliau..." ucap Anisa dengan suara mencicit.

Romo Yai terdiam sejenak. Sunyi menyelimuti ruangan.

"Yai, saya siap menerima ta'zir, jika saya harus dikeluarkan dari pondok pesantren ini." ucapnya lagi. karena memang itu yang ia inginkan. Anisa tak betah hidup terkurung di bawah atap yang penuh dengan aturan.

Gus Hafiz sudah menduga, ia menoleh menatap Anisa sekilas, ia mengerti apa yang ada dalam pikiran gadis itu.

Romo Yai kembali bersuara.

"Ta'zir bisa diberikan, tetapi masalah ini bukan hanya sekedar hukuman."

Beliau menatap Umi Laila, lalu kembali pada Anisa dan Gus Hafiz.

"Yang terjadi malam ini, sudah membuka pintu fitnah, dan fitnah lebih kejam dari pembunuhan, karena bisa membunuh karakter seseorang."

Suara Romo Yai tenang, tetapi menghantam.

"Jika kebenarannya sulit dibuktikan di mata manusia, maka syariat memberi satu jalan, untuk menutup pintu fitnah dan dosa, agar tetap menjaga marwah."

Romo Yai berdiri pernah.

"Menikah."

Satu kata itu jatuh seperti palu.

Anisa yang terkejut sontak berdiri.

"Apa... menikah?"

kalimat itu tanpa sadar keluar dari bibir Anisa.

Gus Hafiz menoleh, menatap Anisa datar seolah isyarat agar dirinya kembali duduk. Karena tindakannya itu dinilai Gus Hafiz sangat tidak sopan.

1
Elen Gunarti
huh mlai dilema
Pa Dadan
karyanya bagus
Simkuring, Prabu
mana kelanjutannya
Alim
akhirnya
Elen Gunarti
jujur lah Anisa biar semua jelas
Alim
😭😭😭
Listio Wati
mewek baca y
Elen Gunarti
huh nyesek bingot ceritay, double up Thor
Listio Wati
kasihan bener si anisa
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
Elen Gunarti
ceritanya bgus tp up-nya lama Thor
Zizi Pedi: makasi kk🥰
total 1 replies
Elen Gunarti
kuintip bolak balik blm up🤭
Elen Gunarti
double up Thor 👍👍👍👍
Elen Gunarti
lanjut
Elen Gunarti
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!