menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27 Belati Hitam dan Warisan Penghapus
Aula The Grand Pendulum yang biasanya tenang kini berubah menjadi pusaran kekacauan. Cairan merkuri di bawah pendulum raksasa itu bergejolak, berubah menjadi hitam legam seperti tinta busuk yang mendidih. Pemuda yang berdiri di atas pendulum itu menatap Saka dengan senyum dingin yang mengingatkan Saka pada kegelapan di lorong kematian sepuluh tahun lalu.
"Rian?" bisik Saka, suaranya bergetar dalam frekuensi hantu yang tidak stabil.
"Bukan Rian yang kau korbankan sebagai tumbal di Zona Nol, Saka," pemuda itu melompat turun dengan anggun, mendarat di atas permukaan merkuri yang kini mengeras di bawah kakinya. "Namaku Altair. Aku adalah putra dari garis waktu yang kau hapus. Ayahku, yang kau kenal sebagai The Eraser, memang sudah musnah. Tapi kebenciannya... itu adalah energi yang tidak bisa dimusnahkan."
Altair mengangkat belati hitamnya. Udara di sekitar belati itu tampak terdistorsi, seolah-olah ruang sedang menjerit kesakitan. Ini adalah Belati Oblivion, senjata yang mampu menghapus keberadaan seseorang bahkan dari ingatan para penjaga waktu sekalipun.
"Saka, awas!" Anita berteriak. Ia segera mengakses Perpustakaan Hidup-nya. Di matanya, barisan teks kuno muncul, memberikan instruksi pertahanan. "Gunakan frekuensi 440 Hertz! Itu adalah nada penyeimbang merkuri!"
Anita menghentakkan kakinya ke lantai marmer. Sebuah gelombang energi perak menyebar, mencoba menetralkan tinta hitam yang merusak kolam. Namun, Altair jauh lebih cepat. Dengan satu ayunan belati, ia membelah gelombang energi Anita seolah-olah itu hanya selembar kertas.
"Gadis pembawa buku," desis Altair. "Kau membawa terlalu banyak sejarah di kepalamu. Biar aku bantu meringankannya dengan menghapus semuanya."
Altair melesat menuju Anita. Saka tidak punya pilihan. Ia melakukan Full Phasing, memaksakan dirinya untuk masuk ke dimensi fisik secara total meskipun itu menyakitkan jiwanya. Saka menghadang Altair, pedang Tinta Keabadiannya beradu dengan Belati Oblivion.
CLANG!
Suara benturan itu bukan bunyi logam, melainkan suara guntur yang memecah realitas. Saka terpental jauh hingga menghantam pilar aula. Tubuh hantunya berkedip-kedip liar; ia kehilangan banyak stabilitas molekuler.
"Saka!" Anita berlari ke arahnya, namun para Sentinel akademi mulai berdatangan, mengepung Altair.
"Jangan ikut campur!" teriak Dekan Silas yang baru saja bangkit dengan tangan mekaniknya yang mengeluarkan uap panas. "Ini bukan serangan biasa. Ini adalah Kudeta Garis Waktu!"
Altair tertawa melihat para Sentinel yang bersiap menyerang. "Akademi ini hanyalah penjara bagi mereka yang takut pada perubahan. Kalian mengurung waktu di dalam sebuah pendulum tua sementara dunia luar sedang sekarat karena paradoks yang diciptakan oleh 'pahlawan' kalian ini!" ia menunjuk ke arah Saka.
Altair menusukkan belatinya ke lantai aula. Seketika, ratusan rantai hitam keluar dari bawah tanah, melilit kaki para Sentinel dan bahkan menjalar ke arah Grand Pendulum. Pendulum raksasa itu mulai melambat, dan di luar sana, di langit Himalaya, bintang-bintang mulai bergerak mundur secara acak.
Saka merasakan tubuhnya ditarik oleh rantai-rantai itu. "Anita... buku itu... cari bab tentang 'Jantung yang Berdetak Mundur'!"
Anita dengan cepat membolak-balik memori di kepalanya. Jantung yang Berdetak Mundur... halaman 405... bagian Terlarang.
"Ketemu!" teriak Anita. "Saka, ini berbahaya! Jika aku melakukannya, aku akan menarik semua kegelapan ini ke dalam diriku!"
"Lakukan saja, Nit! Aku akan menjagamu dari bayangan!"
Anita merentangkan tangannya. Cahaya perak dari matanya kini berubah menjadi keunguan—warna dari pengetahuan terlarang. Ia mulai melantunkan mantra dalam bahasa yang belum pernah didengar oleh Dekan Silas sekalipun.
Seketika, rantai-rantai hitam yang melilit aula mulai tertarik menuju Anita. Ia bertindak sebagai "vakum" bagi energi negatif Altair. Wajah Anita tampak sangat kesakitan; pembuluh darah di lehernya menghitam karena menyerap racun waktu.
"Berhenti!" Altair panik. Ia tidak menyangka seorang manusia biasa berani menyerap energi Oblivion.
Saka melihat kesempatan itu. Dengan sisa tenaganya, ia berubah menjadi seberkas cahaya perak murni. Ia menembus dada Altair, bukan untuk membunuhnya, melainkan untuk menyegel aliran energinya dari dalam.
BOOOM!
Ledakan energi menyapu seluruh aula. Altair terlempar ke dinding dan pingsan. Rantai-rantai hitam menghilang, dan pendulum kembali berayun normal. Namun, Anita jatuh tak sadarkan diri dengan tubuh yang dingin seperti es.
Dua jam kemudian, di ruang perawatan medis akademi yang dipenuhi alat-alat kronos canggih. Saka berdiri di samping ranjang Anita, menatap gadis itu dengan rasa bersalah yang mendalam. Kulit tangan Anita kini memiliki bekas luka hitam permanen yang menjalar seperti akar pohon.
"Dia menyerap terlalu banyak, Saka," Dekan Silas muncul dari balik tirai. "Dia menyelamatkan akademi, tapi dia baru saja menandatangani kontrak dengan kegelapan. Pengetahuan Alexandria di kepalanya kini telah tercemar oleh Oblivion."
"Lalu apa solusinya, Silas? Kau bilang kau bisa membantu kami!"
Silas menatap Saka dengan tatapan yang sangat serius. "Ada satu cara. Simulasi 'The Final Second' yang aku tawarkan padamu tadi... bukan hanya untuk memberimu tubuh. Jika kau berhasil melampauinya, kau bisa menggunakan energi penciptaan di sana untuk memurnikan darah Anita."
Saka terdiam. "Dan jika aku gagal?"
"Maka kalian berdua akan dihapus dari sejarah, dan Altair akan menang bahkan tanpa harus mengangkat belatinya lagi," jawab Silas.
Saka menatap wajah Anita yang sedang tertidur lelap. Ia membelai rambut Anita, meskipun tangannya masih tembus. Ia tahu, perjalanan mereka di akademi ini bukan lagi sekadar pelatihan. Ini adalah pertaruhan terakhir untuk tetap menjadi "manusia" di tengah dunia yang terus mencoba menghapus mereka.
Di sudut ruangan, Arloji Void milik Saka bergetar pelan, menampilkan angka yang baru: Episode 28: Ujian di Ujung Detik.