Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.
Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan yang Tak Terucap
Lapangan terbuka di kaki Trick Tower dipenuhi peserta yang lolos. Bau keringat, darah kering, dan tanah basah bercampur di udara. Beberapa orang duduk di tanah dengan luka menganga, yang lain berdiri tegak meski mata mereka kosong. Examiner fase ketiga—seorang pria pendek gemuk dengan kumis tebal dan senyum lebar—berdiri di atas panggung kayu sederhana. Namanya Lippo, kata bisik-bisik di sekitar.
“Selamat kepada kalian yang masih berdiri!” serunya dengan suara menggelegar. “Fase kedua selesai. Sekarang, fase ketiga: ujian akhir sebelum fase akhir. Kalian akan bertarung satu lawan satu di arena turnamen! Bukan sampai mati—tapi sampai lawan menyerah atau tidak bisa melanjutkan. Pemenang setiap pertarungan lolos ke fase akhir. Yang kalah… pulang dengan tangan hampa.”
Raito merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Turnamen. Artinya dia harus bertarung—benar-benar bertarung—melawan orang lain. Bukan lagi menghindar jebakan atau menunggu timer. Ini langsung, pribadi, dan berdarah.
Mira berdiri di sampingnya, ekspresinya datar. “Ini bagian yang paling mudah sekaligus paling sulit. Mudah karena nggak ada jebakan tersembunyi. Sulit karena kamu harus memukul orang sampai dia nggak bisa bangun lagi.”
Gon melompat kecil di tempat, mata berbinar. “Seru! Aku suka bertarung!”
Killua melirik Gon dengan tatapan setengah kesal. “Kamu beneran nggak normal.”
Lippo melanjutkan. “Pertama, kita undi pasangan. Kalian akan bertarung di arena tengah. Penonton dari peserta lain dan examiner. Tidak ada aturan khusus selain: jangan bunuh lawan. Kalau mati, diskualifikasi permanen.”
Papan besar di belakang Lippo menyala. Nama-nama peserta muncul secara acak. Raito memicingkan mata mencari namanya.
Pertarungan 1: Hanzo vs Pokkle
Pertarungan 2: Gon Freecss vs Raito
Raito membeku.
Gon menoleh padanya, tersenyum lebar. “Wah! Kita lawan satu sama lain ya? Asyik!”
Raito merasa mulutnya kering. “Aku… nggak yakin bisa lawan kamu.”
Gon menggeleng. “Nggak apa-apa! Kita cuma bertarung sampai salah satu menyerah. Nggak perlu mati-matian. Aku janji nggak akan sakitin kamu terlalu parah!”
Killua mendengus. “Kamu terlalu baik, Gon. Lawanmu itu kelihatan lemah.”
Mira menepuk bahu Raito. “Jangan takut. Ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal bertahan. Kalau kamu menyerah cepat, kamu keluar dari ujian—tapi hidup. Kalau bertahan… mungkin kamu lolos.”
Raito mengangguk pelan, tapi dadanya terasa sesak. Dia tidak ingin menyakiti Gon. Anak itu terlalu… murni. Terlalu cerah di dunia yang gelap ini.
Pertarungan pertama dimulai. Hanzo vs Pokkle. Hanzo—ninja berpakaian hitam—bergerak cepat seperti bayangan. Pokkle—pemuda berambut merah dengan busur—mencoba menyerang dari jarak jauh. Tapi Hanzo terlalu lincah. Dalam hitungan menit, Pokkle sudah terkapar, menyerah dengan napas tersengal.
Sorak sorai kecil dari penonton. Raito merasa mual.
“Selanjutnya: Gon Freecss vs Raito!”
Mereka berdua naik ke arena lingkaran batu. Gon berdiri santai, tangan di belakang kepala. Raito berdiri di seberang, tangan mengepal, pisau lipat masih di saku—dia tidak berani mengeluarkannya.
Lippo meniup peluit.
Gon langsung maju dengan langkah ringan. “Ayo mulai!”
Raito mundur selangkah. “Tunggu… aku nggak mau—”
Gon menyerang dengan pukulan lurus sederhana. Raito menghindar ke samping, tapi Gon sudah mengikuti dengan tendangan rendah. Raito terjatuh ke belakang, punggung menghantam batu keras.
“Maaf! Kamu baik-baik aja?” tanya Gon sambil menawarkan tangan.
Raito menolak tangan itu dan bangun lagi. Dadanya panas. Aliran hangat itu muncul lagi—lebih kuat, seperti api kecil yang menyala di dalam tulang.
Dia maju kali ini. Pukulan kanannya mengarah ke perut Gon. Gon menghindar dengan mudah, tapi Raito tidak berhenti. Dia terus menyerang—pukulan, tendangan, bahkan mencoba menangkap lengan Gon. Gerakannya kasar, mentah, tapi ada sesuatu yang berbeda sekarang.
Gon tersenyum. “Wah! Kamu mulai serius ya?”
Raito tidak menjawab. Dia merasa tubuhnya lebih ringan. Setiap kali tinjunya hampir mengenai Gon, ada hembusan hangat yang membuat gerakannya sedikit lebih cepat. Seperti ada kekuatan tak terlihat yang mendorongnya.
Tapi Gon tetap unggul. Satu tendangan melengkung dari Gon membuat Raito terbang ke samping. Dia mendarat keras, napas tersengal.
“Menyerah aja kalau capek!” seru Gon.
Raito bangun lagi. Matanya berkaca-kaca—bukan karena sakit, tapi karena frustrasi. “Aku… nggak mau pulang dengan tangan hampa. Aku harus tahu kenapa aku ada di sini!”
Gon terdiam sejenak. Lalu dia tersenyum lagi—senyum yang lebih lembut. “Kalau gitu… ayo kita lanjut sampai akhir. Aku nggak akan kasih ampun lagi!”
Pertarungan berlanjut. Gon semakin serius. Tendangannya lebih cepat, pukulannya lebih kuat. Raito menghindar, menangkis, tapi setiap kali terkena, tubuhnya terasa hancur. Namun, setiap kali jatuh, aliran cahaya itu mendorongnya bangun lagi.
Penonton mulai bergumam.
“Anak itu… dia masih berdiri?”
“Dia nggak punya teknik apa-apa, tapi auranya aneh…”
Mira menatap dari pinggir arena, mata terbelalak. “Itu… Nen? Tapi dia belum dilatih.”
Killua menyilangkan tangan. “Bukan Nen biasa. Kayak insting murni.”
Akhirnya, setelah hampir sepuluh menit, Gon melancarkan pukulan telak ke perut Raito. Raito terbang ke belakang, mendarat di tepi arena. Napasnya putus-putus. Tubuhnya gemetar.
Gon mendekat. “Kamu hebat! Tapi… cukup ya?”
Raito menatap Gon. Matanya penuh tekad. “Aku… menyerah.”
Dia mengangkat satu tangan pelan. “Aku menyerah.”
Lippo meniup peluit. “Pemenang: Gon Freecss!”
Sorak sorai pecah. Gon berlari mendekat dan membantu Raito berdiri. “Kamu keren banget! Terima kasih udah bertarung serius!”
Raito tersenyum lemah. “Terima kasih… udah nggak nyakitin aku terlalu parah.”
Mereka turun dari arena bersama. Mira menyambut Raito dengan anggukan kecil. “Kamu nggak lolos ujian resmi. Tapi kamu lolos hidup.”
Killua mendekat. “Lumayan buat pemula. Tapi kalau mau jadi Hunter beneran, kamu harus lebih kuat.”
Raito mengangguk. Dia tahu itu benar.
Malam itu, setelah fase ketiga selesai, para peserta yang lolos dikumpulkan di tenda besar. Raito duduk sendirian di pojok, memandang api unggun dari kejauhan. Tubuhnya sakit semua, tapi di dadanya, cahaya itu masih ada—lebih terang sekarang.
Mira duduk di sampingnya. “Kamu nggak jadi Hunter. Apa rencanamu sekarang?”
Raito memandang langit berbintang. “Cari tahu kenapa aku dibawa ke sini. Cari jalan pulang… atau mungkin cari makna di dunia ini.”
Mira tersenyum tipis. “Kalau gitu, ikut aku aja. Aku mau ke Yorknew. Ada rumor tentang Heavens Arena—tempat bertarung demi uang dan kekuatan. Mungkin di sana kamu bisa latih ‘cahaya’ aneh di tubuhmu itu.”
Raito menoleh. “Kamu tahu?”
“Aku merasakannya,” jawab Mira. “Itu Nen. Kekuatan yang lahir dari dalam diri. Kamu baru bangun, tapi sudah kuat. Kalau dilatih, bisa jadi sesuatu yang besar.”
Raito diam sejenak. Lalu dia mengangguk. “Baik. Aku ikut.”
Di kejauhan, Gon dan Killua sedang mengobrol riang. Gon melambai ke arah Raito. Raito melambai balik.
Dia tidak lolos menjadi Hunter resmi.
Tapi dia lolos dari kematian.
Dan untuk pertama kalinya, dia merasa dunia ini—dunia yang kejam ini—mungkin punya tempat untuknya.
Cahaya kecil di dadanya mulai terasa seperti api yang siap membesar.
Dan perjalanan baru saja dimulai—menuju Yorknew, Heavens Arena, dan misteri yang lebih dalam.