Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.
“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”
“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”
“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”
“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”
“Namanya juga pelacur!”
Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.
Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.
Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.
“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah
|Jakarta, 2022|
Kota itu menyambut Adara dengan bising yang tidak ramah. Klakson bersahutan, suara mesin kendaraan saling berlomba, dan gedung-gedung tinggi berdiri seperti raksasa. Dari balik jendela mobil yang ditumpanginya, Adara menatap jalanan ibu kota dengan pandangan kosong.
Ini bukan pertama kalinya ia ke Jakarta. Namun ini kali pertamanya ia akan tinggal di ibukota yang sangat padat itu.
Adara mendongak, menatap Apartemen yang menjulang tinggi di hadapannya. Gadis itu menghela napas berat. Padahal ia meminta ayahnya untuk menyewa apartemen yang biasa saja, tapi melihat apartemen yang ada di hadapannya itu—ia tidak yakin bahwa itu adalah apartemen biasa.
Suara pesan masuk di ponselnya membuat Adara bergegas memeriksa pesan itu.
“Opa yang mesan Apartemen itu, Sayang. Bunda harap kamu suka, ya.”
Adara menghela napas berat. “Opa selalu aja kayak gini. Padahal aku pengen mandiri…” keluhnya.
“Gue siap gantiin lo sebagai cucu Opa Surya Dinata!” celetuk Ayumi.
Adara terperanjat mendengar suara Ayumi. Ah, dia lupa kalau sekarang dia tidak lagi berada di Mesir. Ayumi bahkan sudah selesai dengan studinya di Harvard dan sekarang—gadis itu pasti akan selalu ada di sampingnya.
Setelah lulus dari Pesantren Daarul Afkar di tahun 2017 kemarin—mereka berpisah karena melanjutkan kuliah di negara yang berbeda. Setelah bersama sejak TK, tentu saja perpisahan kemarin membuat mereka bersedih. Dan sekarang akhirnya mereka bisa kembali bersama lagi.
“Astagfirullah ngagetin!” Adara mengelus-elus dadanya.
“Gue seneng banget lo tinggal di Jakarta, Dar!” seru Ayumi. Senyum tak lepas dari wajahnya.
“Paling cuma dua tahun,” jawab Adara.
“Jangan gitu dong, Dar! Lo kan udah buka toko di sini!” gerutu Ayumi.
“Atau mungkin gue ikut Rafka tinggal di Jogja,” ucap Adara lagi.
“Daraaa…” Ayumi merengek.
Adara hanya terkekeh kecil lalu keluar dari mobilnya setelah memarkirnya. Tak lupa ia mengeluarkan koper miliknya dari bagasi.
“Lo kan udah lama tinggal di Jakarta, Yum. Pasti punya banyak temen, kan? Kenapa masih ngintilin gue aja?” tanya Adara heran.
Sebab, Ayumi dan keluarganya pindah dari Bogor ke Jakarta tepat setelah kelulusan mereka dari Daarul Afkar.
“Lo temen kandung gue, Daraa!!” seru Ayumi. “Lagian gue lebih lama hidup di Cambridge daripada Jakarta.”
“Iya juga sih…” Adara mengangguk pelan.
Setelah pindah ke Jakarta—Ayumi memang langsung pergi ke Cambridge untuk kuliah. Wajar saja dia hanya memiliki sedikit teman di Jakarta.
Tak terasa mereka sudah sampai di lantai 21—tempat dimana Adara akan tinggal selama dia kuliah.
Adara berdiri di tengah ruangan yang masih berbau furnitur baru. Ruangan itu tampak sangat rapi. Koper besar yang Adara bawa masih tergeletak di dekat pintu.
Ia menghela napas panjang.
Mesir sudah menjadi kenangan.
Tahun-tahun panjang di negeri para ulama itu akhirnya selesai juga. Ia lulus dan resmi menyandang gelar sarjana—sebuah pencapaian yang dulu hanya berani ia tulis dalam doa-doa panjang selepas shalat malam.
Setelah lulus dari Mesir, Adara memutuskan untuk membuka bisnis di Kota Jakarta. Sambil menyiapkan pernikahannya dengan Rafka—yang akan digelar tahun depan.
Rafka sendiri melanjutkan kuliah di Melbourne dengan mengambil Jurusan Arsitektur—bidang yang sangat tidak relevan dengan dunia Pesantren. Namun ia memang telah dibebaskan oleh orang tuanya untuk memilih jalan hidupnya sendiri, sebab urusan pesantren sudah sepenuhnya dipegang oleh kakaknya.
“Daraa! Gue tinggal di Apartemen lo aja ya!” pinta Ayumi.
“Pulang sekarang, Yum! Gue mau istirahat!” ucap Adara.
Ayumi terbahak mendengar ucapan Adara. “Iya-iya nggak jadi!” gerutunya sebal.
Adara membuka ponselnya. Nama Rafka sudah memenuhi layar, terlihat beberapa pesan yang dikirim oleh pria itu
-Rafka
“Udah sampai?”
“Kabarin aku kalau udah sampe, ya.”
“Habis itu langsung istirahat aja, jangan main sama Ayumi dulu.”
Adara tersenyum kecil. Ia bergegas menghubungi pria itu.
“Assalamualaikum,” suara Rafka terdengar dari seberang sana.
“Waalaikumsalam,” jawab Adara pelan. “Aku udah sampai.”
“Alhamdulillah.” Helaan nafas lega terdengar jelas. “Apartemennya gimana?”
“Nggak sesuai ekspektasi aku sih,” jawab Adara.
“Ada yang salah?”
“Enggak. Cuma ini terlalu mewah karena Opa yang milihin apartemennya, padahal aku mintanya yang biasa aja.”
Rafka terkekeh kecil. “Diterima aja. Opa cuma mau yang terbaik buat cucunya.”
“Iya.” Adara menarik napas panjang.
Hening sebentar.
Hubungan mereka seperti ini saja. Hanya sesekali berinteraksi melalu telepon dan chat singkat. Tidak ada interaksi manis karena mereka berada di negara yang berbeda. Bukan karena mereka tidak saling mencintai—tapi karena mereka terlalu mencintai hingga saling menjaga.
“Kamu capek?” tanya Rafka.
“Lumayan. Tapi nggak apa-apa.”
“Kunci pintunya udah dicek?”
“Udah.”
“Balkon?”
“Udah.”
“Dar…”
“Iya?”
“Kamu yakin mau tinggal sendiri?”
Adara tersenyum tipis. “Aku harus belajar mandiri, Raf.”
Rafka menghela napas pelan. “Aku tau. Aku cuma… khawatir.”
“Aku bukan santri yang ketiduran di masjid lagi,” celetuk Adara ringan.
Rafka tertawa kecil. “Iya. Kamu sekarang kan calon istri aku.”
Kalimat itu membuat wajah Adara memerah. Ia menatap pantulan dirinya di cermin dekat dapur. Wajahnya lebih dewasa sekarang. Tatapannya lebih tenang. Tapi di balik itu, masih ada kegugupan yang sama seperti saat pertama kali ia duduk di sebelah Rafka di dalam mobil bertahun-tahun lalu.
“Aku mulai S2 minggu depan,” ucap Adara.
“Ambil kelas pagi?”
“Iya.”
“Kampusnya lumayan jauh dari apartemen?”
“Sekitar dua puluh menit.”
Rafka mengangguk, meski ia tahu Adara tidak bisa melihatnya. “Hati-hati di jalan. Jangan keluar malam sendirian.”
“Iya…”
“Kalau gitu udah dulu, ya. Kalau ada perlu apa-apa hubungin aku aja.”
“Iya Rafa…”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Panggilan terputus. Adara tersenyum samar. Tahun depan dia akan menjadi istri Rafka—pria yang sebenarnya sudah ia kagumi sejak pertama kali melihatnya di Mushalla pesantren.
---
Hari-hari Adara di Jakarta berjalan cepat. Ia sibuk kuliah dan mengurus toko pakaian yang baru saja launching. Di sela-selanya, ia harus mengurus banyak hal—data pernikahan, jadwal keluarga, vendor, dan diskusi panjang dengan ibunya lewat telepon.
Di balkon apartemennya, Adara duduk sambil memegang cangkir teh hangat. Angin malam Jakarta menyentuh wajahnya, membawa aroma yang menenangkan.
Adara menatap nanar layar laptopnya yang masih terbuka. Dia sedang mengedit beberapa konten tulisan untuk Instagramnya.
“Ya Allah, jadikanlah buku aku selanjutnya best seller!” Doa Adara.
Selama di Mesir kemarin, Adara menekuni media sosial dengan menuliskan bermacam kalimat-kalimat motivasi. Sebenarnya ia hanya ingin menuangkan hobinya saja. Namun ia tak menyangka jika tulisannya digemari banyak orang hingga ia memiliki 2 juta pengikut di Instagramnya.
Sampai akhirnya—Adara berhasil menerbitkan sebuah buku non fiksi islami yang kemudian menjadi viral. Adara yang sangat menyukai dunia kepenulisan menjadi semakin senang menulis setelah banyak yang menyukai karya tulisnya.
Saat ini, Adara sedang menulis sebuah buku yang akan dia terbitkan di bulan depan. Dan Adara berharap buku kali ini lebih viral dari buku sebelumnya.
“Ah, camilan aku habis!” keluh Adara saat ia hendak beranjak mengambil camilan. Ia baru teringat bahwa stok camilannya itu sudah habis.
“Ke Alfamart dulu, deh!” monolognya lalu bergegas beranjak dari duduknya.
***
Bersambung…
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.