SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT
SINOPSIS SEASON 2
Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.
Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: PERTEMUAN DI PANTI DAN HATI YANG TERBAGI
Pagi harinya, sinar matahari menerpa wajah Putri yang baru saja terbangun. Malam sebelumnya, dia hampir tidak bisa memejamkan mata, bayangan kejadian di pelabuhan dan tatapan tajam Pak Darmawan terus menghantuinya. Namun, dia tahu dia tidak boleh menunjukkan kelemahan apa pun. Hari ini adalah hari di mana Rizky berjanji akan mengajaknya dan Rara ke tempat yang sangat berarti baginya.
Putri bangun, merapikan tempat tidurnya, dan berjalan menuju kamar Rara. Adiknya sudah bangun dan sedang duduk di tepi kasur, memegang boneka beruang yang diberikan Rizky kemarin. Wajah Rara tampak lebih segar dibandingkan hari-hari sebelumnya, meski masih terlihat sedikit pucat.
"Kakak!" seru Rara ceria saat melihat Putri. "Kapan Kak Rizky datang? Dia bilang hari ini kita akan pergi jalan-jalan, kan?"
Putri tersenyum lembut, mendekat dan mengelus kepala adiknya. "Iya, Ra. Sebentar lagi dia pasti datang. Sekarang ayok mandi dan ganti baju yang cantik, ya?"
"Siap, Kakak!" Rara langsung melompat turun dari kasur dengan semangat. Melihat kegembiraan Rara, hati Putri terasa hangat, namun di saat yang sama terasa perih. Itu semua berkat Rizky. Pria itulah yang memberikan harapan baru bagi adiknya. Tapi, Putri juga memegang bukti yang bisa menghancurkan ayah Rizky.
Sekitar satu jam kemudian, suara mobil yang familiar terdengar di halaman depan. Putri yang sedang membantu Rara memakai sepatu segera menoleh. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa gugup, rindu, dan rasa bersalah yang mendalam.
Pintu depan terbuka, dan Rizky muncul dengan senyum lebar yang selalu mampu membuat suasana menjadi lebih cerah. Dia mengenakan kemeja biru muda yang membuatnya terlihat santai namun tetap tampan. Di tangannya, dia membawa beberapa kantong kertas yang berisi mainan dan camilan.
"Selamat pagi, Putri. Selamat pagi, Rara cantik!" sapa Rizky, matanya berbinar saat melihat mereka.
"Kak Rizky!" Rara langsung berlari menghampiri dan memeluk kaki Rizky erat-erat.
Rizky tertawa renyah, lalu berjongkok dan menggendong Rara. "Halo, Rara. Apakah kamu sudah siap untuk pergi jalan-jalan? Hari ini cuacanya sangat bagus, lho."
"Sudah siap! Aku pakai baju warna merah, kesukaan Kakak," kata Rara dengan bangga, menunjuk bajunya.
"Wah, cocok sekali! Rara jadi terlihat seperti bidadari kecil," puji Rizky, membuat Rara tertawa bahagia.
Putri memperhatikan pemandangan itu dari ambang pintu. Ada rasa damai yang aneh menyelimuti hatinya. Selama ini, dia hanya melihat sisi gelap dari keluarga Adinata—kekerasan, ancaman, dan pembunuhan. Tapi di hadapannya sekarang, ada pria yang begitu lembut dan penuh kasih sayang. Bagaimana mungkin mereka berasal dari darah yang sama?
"Putri?" panggil Rizky, menoleh ke arahnya sambil masih menggendong Rara. Senyumnya melembut saat menatap wajah Putri. "Kamu cantik sekali pagi ini."
Wajah Putri merona merah tipis. "Terima kasih, Rizky. Ayo masuk dulu sebentar."
Mereka masuk ke dalam ruang tamu. Rizky meletakkan Rara dan memintanya bermain sebentar dengan mainan baru yang dia bawa, sementara dia duduk di samping Putri di sofa.
"Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Rizky tiba-tiba, menatap Putri dengan tatapan penuh perhatian. "Kamu terlihat sedikit lelah. Apakah ada yang mengganggumu?"
Putri tersentak sedikit, tapi segera menguasai diri. Dia ingat betul apa yang terjadi semalam, tapi dia tidak bisa menceritakannya. "Ah, tidak. Aku hanya... mungkin terlalu bersemangat untuk pergi hari ini, jadi agak sulit tidur. Itu saja."
Rizky tersenyum, sepertinya dia percaya atau setidaknya tidak ingin mendesak. "Begitu ya? Maaf sudah membuatmu tidak sabar. Tempat yang akan kita kunjungi ini sangat istimewa bagiku, Putri. Aku harap kamu juga akan menyukainya."
"Tempat apa sebenarnya itu, Rizky? Kamu bilang itu panti asuhan yang kamu kelola?" tanya Putri, mencoba mengalihkan pembicaraan sekaligus memuaskan rasa penasarannya.
"Ya," jawab Rizky, wajahnya menjadi lebih serius namun lembut. "Namanya Panti Asuhan Kasih Bunda. Di sana ada banyak anak-anak yang kehilangan orang tua mereka, entah karena sakit, kecelakaan, atau... hal-hal lain yang tidak adil. Aku mendirikan dan mengelola panti itu dengan uang hasil bisnis kecil-kecilanku sendiri, bukan dari uang ayahku. Itu adalah tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri, jauh dari urusan bisnis keluarga yang keras."
Putri terdiam. Penjelasan Rizky menyentuh hatinya. Dia bisa merasakan ketulusan dalam suara pria itu. "Kamu melakukan hal yang sangat mulia, Rizky. Aku tidak menyangka..."
"Tidak menyangka apa?" tanya Rizky pelan.
"Tidak menyangka bahwa di tengah dunia yang keras seperti keluargamu, ada seseorang yang sebaik kamu," jawab Putri jujur, matanya menatap mata Rizky.
Rizky menghela napas panjang, lalu menatap tangan Putri yang tergeletak di pangkuannya. Dia ragu sejenak, lalu perlahan menggenggam tangan itu. Sentuhannya hangat dan lembut. "Dunia ini tidak hitam atau putih sepenuhnya, Putri. Ada bayangan, tapi ada juga cahaya. Aku hanya berusaha menjadi sedikit cahaya untuk mereka yang membutuhkan. Dan mungkin... sekarang aku juga ingin menjadi cahaya untukmu dan Rara."
Hati Putri bergetar mendengar kata-kata itu. Dia ingin percaya. Dia ingin memercayai bahwa Rizky benar-benar berbeda. Tapi ingatan akan kaset rekaman dan suara tembakan itu kembali menyeruak. Ayah Rizky adalah pembunuh orang tuanya. Dan dia, Putri, sedang bersiap untuk menghancurkan dunia Rizky.
"Rizky..." bisik Putri, suaranya tercekat.
"Ayo, kita berangkat sebelum siang," kata Rizky dengan ceria, seolah tidak menyadari gejolak batin yang sedang dialami Putri. Dia melepaskan genggaman tangannya perlahan dan berdiri. "Rara, ayo! Kita pergi!"
Perjalanan menuju panti asuhan memakan waktu sekitar satu jam. Mereka meninggalkan kemacetan kota dan memasuki daerah yang lebih asri dan tenang. Sepanjang perjalanan, Rara terus bernyanyi kecil dan bercerita tentang apa saja yang dia lihat dari jendela mobil, membuat suasana di dalam mobil menjadi hangat dan penuh tawa. Putri tersenyum menyimak, meski di sudut hatinya ada rasa sedih yang terus mengganggu.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah bangunan sederhana yang dicat dengan warna-warna cerah—kuning, biru, dan hijau. Di depannya terdapat taman yang luas dengan banyak pohon rindang dan ayunan kayu. Suara tawa anak-anak terdengar riuh dari dalam pagar.
"Ini dia," kata Rizky sambil mematikan mesin mobil. Wajahnya bersinar penuh antusiasme, seperti anak kecil yang akan masuk ke taman bermain.
Mereka turun dari mobil. Begitu pintu pagar terbuka, puluhan anak-anak dengan berbagai usia berlarian keluar menyambut mereka.
"Tuan Rizky! Tuan Rizky datang!" seru mereka serentak, mengelilingi Rizky dengan penuh suka cita.
Rizky tertawa lebar, menyapa mereka satu per satu, mengelus kepala mereka, dan membagikan pelukan. Putri berdiri di samping Rara, tertegun melihat pemandangan itu. Ini adalah sisi Rizky yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Ini bukan calon penerus mafia, ini adalah seorang pelindung, seorang kakak, bahkan sosok ayah bagi anak-anak ini.
"Siapa itu, Tuan Rizky?" tanya seorang gadis kecil berkerudung merah muda, menunjuk ke arah Putri dan Rara dengan rasa ingin tahu.
Rizky menoleh, tersenyum, lalu menarik Putri perlahan ke sampingnya. "Kenalkan, ini Nona Putri, dan ini adiknya, Rara. Mulai sekarang, mereka juga teman kita, ya."
"Halo, Nona Putri! Halo, Rara!" sapa anak-anak itu ramah.
"Halo," balas Putri dengan senyum tulus, hatinya terasa hangat diterima dengan begitu baik.
Rara yang tadinya sedikit pemalu, perlahan mulai berani tersenyum dan melambaikan tangan. Tak lama kemudian, dia sudah diajak bermain oleh anak-anak lain di taman. Melihat Rara bisa tertawa sepuasnya bersama teman-teman seusianya membuat hati Putri lega.
"Ayo, aku tunjukkan sekitar," ajak Rizky, lalu mengajak Putri berjalan mengelilingi panti.
Rizky menunjukkan ruang kelas belajar, ruang makan, kamar tidur, dan juga kebun sayur kecil yang dirawat oleh anak-anak yang lebih besar. Semuanya terlihat bersih, teratur, dan penuh kasih sayang.
"Aku biasanya datang ke sini setiap dua minggu sekali," cerita Rizky saat mereka duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang, melihat anak-anak bermain. "Terkadang, jika ada waktu lebih, aku akan mengajar mereka membaca dan berhitung, atau sekadar mendengarkan cerita mereka."
"Kamu sangat sabar, Rizky," kata Putri pelan. "Aku yakin anak-anak ini sangat menyayangimu."
"Mereka adalah alasan aku bertahan, Putri," jawab Rizky tiba-tiba, nadanya menjadi lebih dalam. Dia menatap Putri dengan tatapan yang intens. "Di rumah, di dunia bisnis ayahku, semuanya tentang kekuasaan, uang, dan siapa yang lebih kuat. Tapi di sini... di sini semuanya tentang kasih sayang, berbagi, dan harapan. Di sini aku merasa hidup."
Putri menelan ludah. "Apakah... apakah ayahmu tahu tentang panti ini?"
Rizky tersenyum kecut. "Dia tahu. Tapi dia menganggap ini buang-buang waktu dan uang. Dia bilang aku terlalu lembut, tidak cocok untuk memimpin keluarga Adinata. Mungkin dia benar. Aku memang tidak ingin menjadi seperti dia."
Kalimat itu membuat jantung Putri berdegup kencang. Apakah itu berarti Rizky menolak cara ayahnya? Apakah dia tidak tahu kejahatan yang dilakukan ayahnya? Atau dia tahu tapi memilih untuk tidak terlibat?
"Rizky," panggil Putri ragu-ragu. "Apakah kamu pernah... apakah kamu pernah merasa tidak setuju dengan cara ayahmu menjalankan bisnis?"
Rizky terdiam sejenak, menatap anak-anak yang bermain. Hening yang panjang tercipta di antara mereka. Putri menahan napas, berharap mendapatkan jawaban yang jujur.
"Ayahku adalah orang yang keras dan tegas," jawab Rizky akhirnya, pelan namun hati-hati. "Dia memiliki cara pandang sendiri tentang dunia. Ada hal-hal yang dia lakukan yang mungkin tidak bisa aku pahami atau setujui sepenuhnya. Tapi dia tetap ayahku. Selama ini, aku memilih untuk fokus pada hal-hal yang bisa aku ubah, seperti panti ini, dan berharap suatu hari nanti... mungkin aku bisa membawa perubahan juga dalam keluarga ini."
Dia menoleh ke arah Putri, menatap matanya dalam-dalam. "Mungkin dengan kehadiranmu, Putri... hal-hal baik akan semakin banyak datang ke dalam hidupku."
Putri merasa matanya berkaca-kaca. Rizky begitu baik, begitu tulus, dan dia bahkan menaruh harapan padanya. Namun, Putri datang dengan niat untuk menghancurkan ayahnya, yang berarti juga menghancurkan sebagian dari dunia Rizky. Rasa bersalah itu kembali menghantamnya dengan keras.
"Kenapa kamu begitu baik padaku, Rizky?" tanya Putri, suaranya bergetar. "Pernikahan kita ini kan... hanya perjanjian. Kamu tidak perlu melakukan semua ini untukku dan Rara."
Rizky menggeser duduknya mendekat, lalu dengan lembut menyeka air mata yang tanpa sadar menetes di pipi Putri. Sentuhannya begitu lembut, seolah Putri adalah sesuatu yang sangat berharga.
"Putri," bisiknya, suaranya rendah dan serak. "Awalnya mungkin ini perjanjian. Tapi sejak pertama kali aku melihatmu, sejak aku mendengar tentang keberanianmu demi adikmu, ada sesuatu yang berubah di hatiku. Aku tidak melihatmu sebagai istri yang diatur oleh ayahku. Aku melihatmu sebagai wanita yang kuat, baik, dan berhati mulia. Dan aku... aku mulai menyukaimu, Putri. Lebih dari sekadar perjanjian."
Dunia seakan berhenti berputar bagi Putri. Pengakuan itu begitu tiba-tiba namun begitu hangat. Dia ingin membalas perasaan itu, dia ingin percaya bahwa mereka bisa bahagia. Tapi tembok kebencian dan rahasia di antara mereka terlalu tinggi.
"Rizky... kamu tidak tahu apa-apa tentangku," ucap Putri pelan, mencoba menahan air matanya. "Kamu tidak tahu apa yang aku pikirkan, atau apa yang aku rencanakan."
"Maka biarkan aku tahu," jawab Rizky lembut, menggenggam kedua tangan Putri. "Biarkan kita saling mengenal. Biarkan aku masuk ke dalam duniamu, dan biarkan aku membawamu masuk ke duniaku—dunia yang baik, bukan dunia yang gelap yang mungkin kamu takuti. Aku ingin melindungimu, Putri. Aku berjanji."
Janji itu terdengar begitu indah, namun begitu menyakitkan bagi Putri. Karena dia tahu, dia adalah orang yang paling berbahaya bagi Rizky saat ini. Dia memegang bukti yang bisa merenggut segalanya dari pria di depannya—keluarganya, kehormatannya, dan mungkin juga cintanya.
Sore itu, saat mereka kembali ke kediaman Adinata, Rara tertidur lelap di kursi belakang karena kelelahan bermain. Putri duduk di samping Rizky, pikirannya kacau balau. Dia semakin mencintai dan menghargai pria di sampingnya, tapi dia juga semakin terikat pada janji balas dendamnya pada ayahnya.
Dia menatap profil wajah Rizky yang sedang fokus menyetir. Cahaya matahari sore menerpa wajahnya, membuatnya terlihat begitu damai.
Maafkan aku, Rizky, batin Putri berteriak. Aku ingin percaya padamu, tapi aku tidak bisa melupakan apa yang ayahmu lakukan pada orang tuaku.
Malam itu, Putri kembali duduk sendirian di kamarnya. Di atas meja, tersimpan kartu memori berisi bukti kejahatan Pak Hidayat, dan di dalam hatinya tersimpan perasaan cinta yang mulai tumbuh pada putranya. Dia tahu, pernikahannya tinggal beberapa hari lagi. Dan setelah hari itu, tidak ada jalan kembali. Dia akan masuk lebih dalam ke sarang harimau, bermain peran yang berbahaya, dan mempertaruhkan segalanya—termasuk hatinya sendiri.
[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Setelah Rizky mengakui perasaannya dan menunjukkan sisi baiknya yang luar biasa, apakah Putri harus memberitahu Rizky tentang kebenaran kematian orang tuanya dan bukti yang dia punya, atau dia harus tetap menyembunyikannya demi melanjutkan rencana balas dendamnya?