NovelToon NovelToon
Kinan

Kinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Lain / Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.

Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.

Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia Selalu Datang

Maya datang lagi pukul delapan pagi.

Raka sudah di teras, menyiram tanaman dengan cara yang kini hampir benar—takaran air yang hampir tepat, waktu yang hampir tepat, kata-kata yang sama yang Kinan ucapkan. Ritual yang menjadi penanda, menjadi penanda waktu, menjadi bukti bahwa hari masih berjalan meski tanpa arah.

" May, boleh gue bertanya ma lo, " tanya Raka sesaat dia duduk di bangku teras

" Apa ?"

" Kenapa lu begitu ..."

" Perhatian ?"

Raka mengangguk kecil

"Tentang lo, Ra," kata Maya, suaranya pelan tapi jelas. Tidak bisa disalahartikan. Tidak bisa diabaikan. "Gue khawatir sama lo. Gue... gue nggak bisa tidur karena khawatir lo bakal ngelakuin sesuatu. Sesuatu yang nggak bisa dibalik."

Raka berdiri. Perlahan, lututnya kaku, punggungnya nyeri. Ia duduk di kursi, di seberang Maya, menghadapi apa yang baru saja diucapkan.

"Lo pikir gue bakal bunuh diri?" suaranya datar. Bukan tuduhan, bukan kemarahan—hanya konfirmasi, hanya fakta yang ingin dipastikan.

Maya tidak menjawab langsung. Tangannya menggenggam pinggir meja, jari-jari putih dari tekanan, dari takut, dari kepedihan yang tidak bisa diungkapkan dengan cara lain.

"Gue nggak tahu," akhirnya ia bicara. "Gue nggak tahu apa yang bakal lo lakuin. Lo... lo terlalu hancur, Ra. Lo terlalu... lo kayak orang yang udah nggak punya apa pun buat dijagain. Dan gue takut. Gue takut kalau gue nggak datang, kalau gue nggak jagain lo, lo bakal... lo bakal pergi. Ikut Kinan."

Ikut Kinan. Kata-kata yang terdengar seperti tawaran. Seperti solusi. Seperti jalan keluar yang mungkin, hanya mungkin, lebih baik daripada hidup tanpa Kinan.

Tapi Raka menggeleng. Tidak untuk Maya, mungkin—untuk dirinya sendiri, untuk godaan yang kadang muncul di malam-malam paling gelap, ketika ranjang terlalu besar dan sunyi terlalu nyaring.

"Gue nggak bakal," katanya, suaranya tidak yakin tapi kata-kata keluar anyway. "Kinan... Kinan nggak mau. Dia bilang, di mimpi gue. Dia bilang gue harus hidup."

Maya menatapnya. Berbeda sekarang—bukan khawatir, bukan sedih. Ada sesuatu yang lain. Kecemburuan? Tidak mungkin. Kecemburuan pada orang mati? Tidak masuk akal. Tapi ada. Di mata Maya, di cara bibirnya menipis, di cara tangannya menggenggam meja lebih erat.

"Lo mimpiin dia?" tanya Maya, suaranya hampir tidak terdengar. "Serius? Lo... lo ketemu dia?"

Raka mengangguk. Tidak yakin jika itu mimpi atau bukan, tidak yakin jika Kinan benar-benar bicara atau hanya keinginannya yang membentuk kata-kata. Tapi ia mengangguk. Karena itu satu-satunya yang membuatnya bangun pagi. Satu-satunya yang membuatnya menyiram tanaman. Satu-satunya yang membuatnya, meski hanya sedikit, masih di sini.

"Dia bilang apa?" Maya mendekat. Terlalu dekat, terlalu penuh harap, terlalu penuh sesuatu yang Raka tidak sanggup identifikasi.

"Dia bilang... dia bilang gue harus hidup. Dia bilang... dia nggak akan pergi. Dia cuma pindah."

Maya tersenyum seperti orang mau menangis. "Pindah. Pindah ke mana? Ke surga? Ke dimensi lain? Ke... ke mana, Ra? Lo percaya itu? Lo percaya dia masih... masih ada?"

Raka tidak menjawab. Karena ia tidak tahu, percaya dan tidak percaya bercampur menjadi kebutuhan—kebutuhan untuk percaya, agar bisa terus berjalan, agar bisa terus bernapas, agar bisa terus hidup tanpa menjadi gila.

"Gue nggak tahu," akhirnya ia bicara. "Tapi gue harus percaya. Gue harus... kalau gue nggak percaya, gue nggak bisa. Gue nggak bisa lanjut, May. Gue nggak bisa."

Maya menangis, Air mata yang mengalir tanpa suara, tanpa isak, hanya kepedihan yang terlalu besar untuk ditampung.

"Gue juga nggak bisa," bisiknya. "Gue juga... gue juga rindu dia, Ra. Gue sahabatnya. Gue... gue juga kehilangan. Tapi gue di sini. Gue di sini buat lo, dan lo... lo cuma bisa ngomongin dia. Lo cuma bisa liat dia. Lo nggak liat gue. Lo nggak pernah liat gue."

Raka menatapnya lamat, orang yang selama ini ia abaikan, selama ini ia tidak sanggup lihat. Maya juga hancur, berduka, dia yang datang setiap hari bukan hanya karena Kinan, tapi karena... karena apa?

"May," suaranya lembut, pertama kalinya sejak lama. "Lo... lo mau apa dari gue? Gue nggak bisa kasih apa pun. Gue nggak punya apa pun. Gue hancur, May. Gue nggak bisa... gue nggak bisa jadi apa pun buat siapa pun. Termasuk lo."

Maya berdiri. Cepat, tergesa-gesa, seolah menyesal sudah bicara, seolah ingin lari dari apa yang baru saja terungkap.

"Gue nggak mau apa pun," katanya, tapi suaranya berbohong. "Gue cuma... gue cuma nggak mau lo mati. Nggak mau lo ikut Kinan. Nggak mau... nggak mau kehilangan lagi. Gue udah kehilangan dia. Gue nggak bisa kehilangan lo juga."

Kehilangan lo juga. Kata-kata yang tergantung di udara, yang tidak bisa diambil kembali, yang mengubah segalanya—atau mengungkapkan apa yang selama ini tersembunyi.

Raka berdiri. Perlahan, tidak mendekat, hanya berdiri. Menghadapi Maya yang menangis di teras rumahnya, punya perasaan yang tidak seharusnya dimiliki sahabat dari istri yang baru meninggal.

"Lo harus pulang, May," katanya, lembut tapi tegas. Tidak bisa ditawar. "Lo... lo harus istirahat. Gue... gue juga perlu sendiri."

Maya mengangguk. Tidak protes, tidak memaksa. Mengambil tasnya, berjalan ke gerbang, berhenti sejenak.

"Kinan nggak mau lihat lo kayak gini, Ra," katanya, tanpa menoleh. Kata-kata yang sama yang ia ucapkan sebelumnya, tapi kini terdengar berbeda. Bukan hanya nasihat, bukan hanya peringatan. Ada nada yang lain. Nada kecemburuan yang tidak bisa disembunyikan, nada keinginan yang tidak bisa diakui.

"Dia mau lo hidup. Beneran hidup. Bukan cuma napas. Bukan cuma makan dan minum dan kerja. Beneran hidup. Dengan... dengan siapa pun. Dengan apa pun. Tapi hidup."

Maya pergi. Langkahnya cepat, hampir berlari, seolah takut jika berjalan pelan ia akan kembali, akan mengatakan lebih banyak, akan mengungkapkan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan.

Raka berdiri di teras. Menatap kepergiannya. Menatap tanaman yang masih layu tapi mencoba hidup. Menatap hidup yang berlanjut, meski tanpa arah, meski tanpa arti, meski dengan beban baru yang tidak ia minta.

Maya. Sahabat Kinan. Yang juga berduka. Yang juga kehilangan. Yang mungkin—mungkin—mencintainya?

Tidak. Tidak mungkin. Tidak benar. Tidak adil. Maya tidak bisa mencintainya. Tidak sekarang. Tidak saat Kinan baru saja pergi. Tidak saat ia masih hancur, masih milik Kinan, masih tidak bisa memberi apa pun pada siapa pun.

Tapi kata-kata Maya tergantung. Gue nggak bisa kehilangan lo juga. Kata-kata yang mengungkapkan lebih dari yang seharusnya. Kata-kata yang mengubah dinamika, yang menambah beban, yang membuat duka yang sudah berat menjadi lebih rumit.

Sore itu, Raka tidak keluar rumah.

Ia duduk di teras, dengan tanaman, dengan pikiran yang berkecamuk. Maya datang lagi—tentu saja datang lagi, selalu datang lagi—tapi kali ini Raka tidak membuka gerbang. Hanya berdiri di dalam, menatap dari balik tirai, melihat Maya yang menunggu, yang mengetuk, yang menelepon berkali-kali.

Akhirnya Maya pergi. Dengan wajah yang Raka bisa bayangkan—hancur, bingung, marah pada diri sendiri karena sudah mengatakan terlalu banyak.

Raka tidak peduli. Atau berpura-pura tidak peduli. Atau terlalu hancur untuk membedakan.

Malam tiba. Ia shalat dengan cara yang masih hampa, makan nasi uduk yang sudah dingin dengan cara yang masih tanpa rasa, berbaring di ranjang dengan cara yang sudah menjadi kebiasaan.

Tapi tidur tidak datang. Karena pikiran pada Maya. Karena rasa bersalah yang baru—bersalah karena tidak bisa membalas, bersalah karena tidak bisa menghargai, bersalah karena masih milik Kinan meski Kinan sudah tidak ada.

"Nan," bisiknya di kegelapan. "Gue bingung. Maya... Maya kayaknya... tapi gue nggak bisa. Gue masih... gue masih punya lo. Di sini. Di hati gue. Gue nggak bisa kasih tempat buat siapa pun. Termasuk dia. Termasuk sahabat lo yang baik banget. Gue nggak bisa."

Sunyi. Tidak ada jawaban. Tidak ada suara Kinan yang menenangkan, tidak ada angin sepoi yang membawa bau melati, tidak ada tanda bahwa Kinan mendengar.

Hanya sunyi. Sunyi yang menganga, yang mengingatkan bahwa ia sendirian, bahwa ia harus memutuskan sendiri, bahwa tidak ada Kinan yang akan datang dalam mimpi malam ini untuk memberi petunjuk.

Raka menutup mata. Akhirnya, setelah jam-jam yang terasa seperti abad, tidur datang. Dengan mimpi yang aneh—bukan Kinan, kali ini, tapi Maya. Maya yang menangis di taman kota, di bangku yang sama pernah ia duduki dengan Kinan, berkata—"Gue juga kehilangan. Gue juga berduka. Kenapa lo nggak lihat?"

\=\=\=

Pagi berikutnya, Raka membuka gerbang pukul tujuh. Menunggu. Menyiram tanaman dengan cara yang hampir tepat. Menyiapkan diri untuk apa pun yang akan datang.

Maya datang pukul delapan. Dengan mata bengkak yang lebih parah dari sebelumnya, dengan senyum yang dipaksakan, dengan keranjang yang lebih kecil—seolah mengurangi ekspektasi, seolah mempersiapkan diri untuk ditolak.

"Pagi," kata Maya, tidak mendekat, berdiri di gerbang. "Gue... gue maafin soal kemarin. Gue kebanyakan ngomong. Gue nggak harus... gue cuma khawatir. Itu aja. Khawatir."

Raka menatapnya. Lama. Melihat kebohongan, melihat kebenaran, melihat dua orang yang sama-sama hancur dengan cara berbeda.

"Gue juga minta maaf, May," katanya pelan. "Gue... gue nggak bisa kasih apa pun, May. Tapi gue... gue butuh lo. Sebagai teman. Sebagai... sebagai seseorang yang juga kenal Kinan. gue butuh lo tetap di sini. Kalau lo sanggup."

Maya menangis. Lagi. Selalu. Tapi kali ini dengan senyum yang lebih tulus lebih redup, menerima apa yang ditawarkan meski bukan apa yang diinginkan.

"Gue sanggup," katanya. "Gue sanggup, Ra. Sebagai apa pun. Selama gue bisa di sini. Selama gue bisa bantu. Gue sanggup."

Mereka duduk di teras. Bersama, tapi tidak bersama. Dengan jarak yang tidak bisa dihilangkan, dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan, dengan duka yang menjadi penghubung sekaligus penghalang.

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
buset antara kisah romantis dan horor ....kadang2 serem ya 🤭
Ddie: ya terkadang cinta bisa membuat romantis dan horor, horor kalau kena tolak, horor dia kawin dengan orang lain, horor cinta tak terbalas ..😄
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
kok AQ serem sih baca nya 😌
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: aq gak berbakat nulis ..enak baca aja 🤣
total 4 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
Raka yang terpuruk dan Maya yang simpati karena ada maksud 🤭...
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: idih 🤣🤣
total 2 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
seperti nya maya mencintai Raka ...dan yang dia lakukan untuk mencari simpati ke Raka ...aah kebanyakan sahabat seperti itu sih 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: nama pasaran malah wkwk
total 6 replies
Soraya
mampir thor
Ddie: terimakasih banyak ya dk
total 1 replies
falea sezi
nyesek bgt baru jg baca/Shame/
Ddie: cinta sejati itu selalu ada dimana pun dk ..walau hidup dalam dimensi lain, kematian
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
aku masih di sini dekap hampa di hati....
mampir 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: yups betul sekali 🤣
total 2 replies
Ddie
mengapa engkau pergi membawa cinta jika membuatku kehilangan? Kematian bukanlah takdir tapi mimpi panjang menghadap Tuhan. Disini aku melihatmu tanpa bisa menyentuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!