Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.
Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Bawah
Keesokan paginya sesaat sebelum sinar matahari menunjukkan senyumnya, di kamar Valen sudah terdengar suara jari jemarinya menari indah di atas layar keyboardnya. Dia mencoba mencari semua berita tentang yang terjadi di kampusnya sampai dia menemukan sesuatu yang membuatnya tersenyum tipis.
"Jadi dia hanya mencari pembelaan karena selama ini dia sudah berjuang untuk mereka semua tapi dia tak pernah mendapatkan apa apa? Tapi bagaimana caranya dia menghabisi semua orang ini tanpa mereka curiga dan memaksa mereka untuk mendatanginya sendiri?"
Valen belum menemukan satu hal itu yang membuatnya terus berselancar mencari tahu dan membobol semua data di kampus miliknya. Bahkan di semua CCTV itu tak ada yang aneh menurutnya sampai ada satu CCTV yang menunjukan bagian di mana ada satu korban yang bertemu seseorang laki laki yang terlihat menutupi wajahnya dengan hodie miliknya. Valen memperbesar layar itu. Mata Valen membelalak sempurna melihat semua itu.
"Ini transaksi barang terlarang? Apa gimana? Berani banget mereka!!!!" teriak Valen kencang.
Valen kemudian mengerjapkan matanya berkali kali saat tersadar jika dia masih ada di dalam kamarnya. Tapi dia kemudian segera berlari ke luar kamar menuju kamar Zurra dan menggedor pintu kamar kedua orang tuanya.
Dokkk... Dokkk...
"Mamiiii, papi...."
Valen terus berteriak memanggil kedua orang tuanya, dia tak sabar ingin memberi tahu tentang apa yang dia temukan.
Ceklek,.
"Hoaaammmmm, Sayang, Valen, apa yang terjadi? Kenapa kamu berteriak teriak masih pagi begini?" tanya Zurra dengan muka bantalnya. Zurra bahkan masih mengenakan baju dinasnya saat itu yang membuat Valen langsung membalikkan badannya.
Zurra yang sudah terbangun sepenuhnya menatap Valen aneh dan nampak berpikir apa yang membuat putrinya membelakanginya. Dan dia menatap dirinya sendiri dari atas sampai bawah dan barulah dia sadar dengan apa yang di kenakannya.
"Astaga... Sayang, kamu tunggu di kamarmu, nanti mami ke sana." ucap Zurra menyuruh Valen kembali ke kamarnya.
Tanpa berbalik Valen berlari menuju kamarnya kembali dan menutupnya kencang.
Blammmmm.....
Dia lalu menepuk pelan pipinya sendiri karena dia malu melihat sang mami yang sudah berumur masih memakai pakaian dinas seperti itu. Tiba tiba saja otaknya berselancar kemana mana.
Bahkan Valen tiba tiba membayangkan jika nanti dia sudah menikah dengan Dean apakah dia akan seperti maminya yang memakai pakaian seperti itu. Dan terlintas sebuah adegan yang membuatnya merasakan getaran aneh yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.
Blushhh.....
Badannya tiba tiba bergidik ngeri sendiri karena terlintas sebuah adegan yang tak pernah dia bayangkan akan di lakukannya nanti dengan Dean.
Valen langsung menepuk pipinya berkali kali karena pikirannya jadi berkelana kemana mana.
"Astaga, ini semua kan karena mami. Kenapa mami nggak ganti baju dulu sih!" gerutu Valen pelan.
Dia memutuskan untuk segera membersihkan dirinya karena sudah pasti sang mami akan menghampirnya ke kamarnya. Tak menunggu lama dia untuk membersihkan dirinya dan saat dia keluar dari kamar mandi, maminya sudah duduk manis di ranjang miliknya.
"Apa yang bikin kamu pagi pagi panik kayak tadi? Apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Zurra langsung.
Valen berjalan ke arah meja belajarnya dan di sana dia menunjukkan CCTV yang dia temukan tadi.
"Mam, apa mungkin di kampus elit begini ada transaksi jual beli barang terlarang? Apa di jaman mami sama papi dulu juga ada yang begini?" tanya Valen langsung.
Zurra mengamati apa yang Valen temukan dan dahinya mengernyit melihat CCTV itu, dan benar di sana seperti ada sebuah transaksi yang sedang berlangsung.
"Valen yakin jika ini transaksi barang barang itu?" tanya Zurra lagi.
Valen menggelengkan kepalanya, "Tapi mi, bukannya jaman sekarang barang barang itu juga banyak di jual bebas? Apa lagi jika ada campur tangan dunia bawah?" tanya Valen lagi.
Zurra menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang di katakan putrinya.
"Kirim file ini ke papi dan juga ayah Roy, kami akan menyelediki ini di dunia bawah. Siapa yang sudah berani memasuki kawasan mami dan papi," intruksi Zurra pada Valen.
Valen segera melakukan apa yang maminya suruh dan dia juga mengirimkannya pada Dean serta Arlo dan juga Ale. Agar mereka bisa mengetahui apa yang terjadi di kampusnya.
Zurra kembali duduk di ranjang Valen dan nampak memeriksa ponselnya, dia berselancar dengan ponselnya dan segera mengintruksi semua anggotanya untuk mencari tahu di dunia bawah seperti apa sekarang.
Setelah memberi intruksi kepada semua anggotanya dan juga anggota Altezza, dia bangkit dari duduknya. Dia mengusap pelan kepala Valen dan menyuruhnya bersiap untuk ke kampus.
"Segeralah bersiap dan tetaplah pergi ke kampus dengan Arlo. Tapi ingat jangan lengah dan tetap waspada jika kamu sudah sampai di sana," pesan Zurra pada Valen.
"Hmmm....."
Valen hanya menjawabnya dengan deheman, dia kembali melanjutkan apa yang dia kerjakan dan juga segera menyimpan file yang dia dapatkan.
Setelah itu dia segera bersiap untuk pergi ke kampus, tapi saat dia ingin keluar dari kamarnya dia berbalik kembali dan menuju ke ruang penyimpanan barang miliknya.
Dia membuka lemari itu dan mengambil sebuah kotak yang sudah lama di simpannya. Dan mengambil sebuah benda yang selama ini tak pernah di pakainya. Valen mengusapnya pelan sebuah bilah pisau yang berbentuk lengkung berkepala Naga milik sang mami yang di berikan kepadanya saat dia mulai belajar bela diri pertama kali.
"Mungkin gue udah waktunya pakai lo, dan sepertinya juga sudah lama lo nggak keluar dari sarang lo ini." ucap Valen sambil mengusap gagang pisau itu. Terlihat di sana mata pisau yang tajam dan juga gagang pisau dengan kepala Naga dan mata Naga yang merah menyala.
Valen mengambilnya dan menaruhnya pada sarung pisau itu lalu menyelipkannya di bagian badannya yang tak terlihat. Setelah itu barulah dia pergi ke bawah untuk segera sarapan bersama yang lain.
Di meja makan sudah ada Ale dan juga yang lainnya.
"Kok lama? Kakak habis ngapain? Tadi mami bilangnya kakak udah siap," tanya Ale penasaran.
"Ambil sesuatu yang udah lama nggak gue bawa," sahut Valen sambil duduk di tempatnya.
Tapi Zurra melihat mata Valen yang melirik ke arahnya seolah memberi isyarat pada Zurra. Dan Zurra langsung paham dengan apa yang di maksud oleh Valen tadi serta barang apa yang di ambil Valen bersamanya saat ini.
Mereka sarapan dengan tenang dan tak lama mereka segera menyelesaikan sarapan mereka semua. Valen dan Arlo segera pamit berangkat ke kampus mereka dengan kendaraan mereka masing masing, Dean pergi bersama dengan Altezza untuk menyelesaikan meting kerjanya. Sedangkan Ale pergi bersama Zurra untuk pergi ke butik karena akan ada yang Zurra ambil dari butik Ale pagi ini.
Sebelum berangkat Zurra mendekati Valen yang sudah ada di balik kemudi mobilnya.
"Gunakan itu dengan bijak di saat kamu sudah tak bisa bertahan dengan situasi yang ada. Tapi kalau kamu sudah tak bisa mengendalikan semuanya kamu juga bisa menggunakannya." pesan Zurra pada Valen.
"Makasih mi, Valen ngerti, Valen akan ingat apa yang mami katakan. Valen juga akan berhati hati," sahut Valen pelan.
"Kabari mami dan papi jika kamu membutuhkan sesuatu, ingat Ale juga sudah membekali kalian semua dengan alat yang dia bikin kemarin."
Valen mengangguk lagi dan setelahnya Valen segera pergi dari sana menuju kampusnya untuk menyusul Arlo yang sudah berangkat lebih dahulu. Zurra masuk ke dalam mobil Ale karena memang Ale yang akan menyetir hari ini.
"Mam, apa nggak bahaya kalau hanya kami yang terjun langsung jika ini memang ada hubungan dengan dunia bawah?" tanya Ale setelah mereka meninggalkan mansion untuk pergi ke butik.
Zurra masih diam dan menyalakan tab yang dia bawa dan memerlihatkan semuanya pada Ale. Di sana nampak semua aktifitas di kampus Arlo dan Valen terlihat jelas di sana dari berbagai sudut tanpa ada yang tertinggal sedikit pun. Ale berdecak kagum dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Mam, ini serius? Wahhh, keren banget, kapan pasangnya?" tanya Ale penasaran.
Zurra memeriksa semua video yang nampak di sana bahkan dia juga melihat semua anggotanya dan juga Altezza yang bersiaga dan berjaga di sekitar kampus Valen serta Arlo.
"Tadi pagi kakakmu menemukan video CCTV itu dan mami hanya berjaga jaga karena mami belum dapat info apapun jika dunia bawah juga terlibat dalam masalah ini, karena jujur saja setelah kalian lahir mami dan papi sudah mengurangi semua aktifitas yang berhubungan dengan dunia bawah itu," terang Zurra pada anak bungsunya itu.
Ale yang mendengar penjelasan Zurra manggut manggut mengerti, dan segera melanjutkan perjalanan mereka untuk ke butik.
Sementara itu, Altezza sedang berada di ruangannya bersama Mahessa dan juga Roy begitu juga dengan Ziko yang secara sengaja di panggil Altezza untuk datang ke sana.
"Gue nggak tahu kenapa ada masalah seperti ini, terlebih bisa ada jual beli barang barang ini di kampus kita," ucap Altezza pelan.
Mereka bertiga yang ada di depannya juga nampak meneliti semua video yang di kirim Valen itu.
"Awalnya gue cuma nyuruh Valen dan yang lain menyelelidiki kasus pembantaian itu, tapi Valen malah menemukan video ini," ucap Altezza lagi.
"Kalau ini ada hubungan dunia bawah bagaimana?" tanya Ziko lagi.
"Kita yang akan turun tangan langsung, karena anak anak belum pernah berurusan langsung dengan dunia bawah itu," sahut Mahessa langsung.
"Hemmm, gue setuju dengan Mahessa. Gue nggak mau ambil resiko apapun jika sampai anak anak nanti terluka, meskipun Dean sudah dewasa dan sudah terjun di perusahaan tapi belum pernah langsung berhubungan dengan dunia bawah secara jauh lagi. Dan semua anak buah Dean juga belum sampai di ranah itu yang berhubungan dengan para mafia lainnya," ucap Altezza.
Mereka setuju dengan apa yang di katakan oleh Altezza karena jika memang dunia bawah ada yang terlibat mereka berempat yang akan bertindak. Sedangkan sejak tadi Dean diam tak menyahut apa yang di bicarakan oleh para orang tua itu karena pikirannya tertuju pada Valen dan Arlo yang sudah berada di kampus saat ini.
"Semoga mereka berdua baik baik aja, dan buat lo yang bikin situasi kayak gini di kampus elit itu gue pastiin lo nggak akan bisa selamat dari amukan gue!"
to be continued...