Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: PERJAMUAN PARA PENYUSUP
Lembah Himalaya, Zona Netral Kedutaan Besar – Pukul 11.30 Waktu Setempat.
Angin dingin yang berhembus dari pegunungan tidak mampu mendinginkan suasana panas yang menyelimuti tenda diplomatik raksasa yang dibangun WHA. Di atas panggung utama, Liora berdiri dengan anggun, suaranya yang lembut namun penuh wibawa sedang menjelaskan protokol keamanan global yang baru. Namun, di bawah permukaan, sebuah badai sedang bersiap untuk meledak. Arkan, yang berdiri di puncak menara The Blood Fortress ribuan meter di atas mereka, menatap layar hologram dengan mata merah yang menyipit tajam.
'Julian, kunci seluruh pintu keluar otomatis. Berikan instruksi pada Alice untuk mengevakuasi staf sipil secara diam-diam melalui jalur belakang,' perintah Arkan melalui Blood-Link.
'Ayah, target "Mimic" tersebut mulai membelah diri secara seluler. Dia tidak sendirian. Ada tiga agen lain yang telah terinfeksi di barisan pers,' lapor Julian.
Di atas panggung, Liora merasakan perubahan atmosfer. Sebagai Solar Empress, ia sangat sensitif terhadap hawa dingin yang dibawa oleh energi Abyss. Ia melihat ke arah barisan delegasi Amerika. Di sana, seorang pria berjas abu-abu yang awalnya tampak tenang, kini memiliki kulit yang mulai tampak seperti lilin yang meleleh.
"Alice," bisik Liora tanpa mengalihkan pandangan dari podium. "Ada sesuatu yang salah di barisan belakang."
Alice Pendragon, yang berdiri selangkah di belakang Liora, segera memegang gagang pedang pendek yang tersembunyi di balik gaunnya. "Saya merasakannya, Nona. Jangan berhenti bicara. Jika Anda berhenti, mereka akan tahu kita sudah menyadari keberadaan mereka."
Tiba-tiba, pria berjas abu-abu itu mengeluarkan suara geraman yang tidak manusiawi. Tubuhnya membelah, memanjang, dan berubah menjadi sosok monster kurus dengan tangan berbentuk pisau obsidian. 'Mimic' tingkat SSS telah menunjukkan wujud aslinya.
"MATI KAU, RATU PALSU!" teriak monster itu sambil melompat ke arah panggung dengan kecepatan yang sanggup menembus penghalang mana biasa.
BANG!
Bastian (Vanguard) mendarat tepat di depan Liora sebelum monster itu sampai. Ia menangkap pisau obsidian monster tersebut dengan telapak tangannya yang hanya terbungkus sarung tangan kulit.
"Panggung ini bukan untuk makhluk menjijikkan sepertimu," ucap Bastian dingin. Dengan satu remasan, pisau obsidian itu hancur menjadi debu. Bastian kemudian menghantam dada monster itu dengan serangan Gravity Pulse, melemparnya menembus atap tenda hingga ke langit.
Namun, itu hanyalah permulaan. Tiga 'Mimic' lainnya bangkit dari barisan jurnalis. Mereka tidak menyerang Liora, melainkan menyerang para delegasi manusia yang ketakutan. Abyss tahu bahwa jika para pemimpin dunia mati di tangan Crimson Eclipse, maka legitimasi Arkan akan hancur total.
"Lindungi para delegasi!" perintah Liora.
Liora tidak lagi menunggu instruksi Arkan. Ia mengangkat tangannya ke langit. Sebuah kubah cahaya emas raksasa tercipta, membungkus seluruh tamu manusia di dalam tenda. Energi matahari yang murni membuat para 'Mimic' itu berteriak kesakitan karena kulit mereka mulai terbakar saat bersentuhan dengan cahaya tersebut.
'Tuan, haruskah saya turun?' tanya Hana (Phantom) yang sejak tadi bersembunyi di bayangan panggung.
'Tidak, Hana. Biarkan Liora dan Bastian mengurus ini. Aku ingin kau mencari "Induk Mimic" yang ada di luar tenda. Seseorang sedang mengendalikan boneka-boneka ini dari jarak jauh,' perintah Arkan.
Hana menghilang ke dalam tanah. Melalui Sanguine Vision, ia melacak jejak energi ungu yang sangat tipis yang menghubungkan semua 'Mimic' tersebut. Jejak itu mengarah ke sebuah gua es yang terletak tiga kilometer di lereng gunung.
Di dalam gua tersebut, berdiri sosok yang membuat Hana tertegun. Seorang wanita dengan pakaian penyihir Abyss, memegang bola kristal yang berisi darah manusia yang mendidih.
"Siapa kau?" tanya Hana, muncul dari balik bayangan gua.
Wanita itu menoleh, tersenyum licik. "Aku adalah 'Malice', utusan dari The Heart of Abyss. Sang Sovereign mengira dia bisa menguasai dunia ini dengan anak-anaknya? Kami akan menunjukkan bahwa darah manusia adalah titik lemahnya yang terbesar."
Malice melepaskan gelombang kutukan hitam ke arah Hana. Namun, Hana jauh lebih cepat. Ia menggunakan teknik Phase Shift, membuat tubuhnya menjadi tidak berwujud sementara serangan itu melewatinya.
Di tenda diplomatik, pertempuran semakin sengit. Bastian sedang dikepung oleh sepuluh 'Mimic' yang menyamar menjadi tentara WHA. Mereka memiliki kemampuan regenerasi yang luar biasa; setiap kali Bastian menghancurkan satu bagian tubuh mereka, bagian itu akan tumbuh kembali menjadi monster baru.
"Mereka membelah diri dengan memakan mana di udara!" teriak Bastian. "Plague! Aku butuh bantuanmu!"
Rehan (Plague) muncul dari portal di tengah tenda. Ia tidak menggunakan gas ungu yang biasanya membunuh segalanya. Kali ini, ia menggunakan 'Sanguine Neutralizer'.
"Duniaku tidak mengizinkan kalian bernapas," ucap Rehan.
Ia melepaskan kabut perak tipis yang menyerap seluruh mana di dalam tenda. Seketika, kemampuan regenerasi para 'Mimic' berhenti. Tanpa pasokan mana, mereka hanyalah gumpalan daging yang rapuh. Bastian segera menggunakan kesempatan itu untuk menghancurkan mereka semua dengan satu ledakan gravitasi massal.
Liora, yang masih menahan perisai cahaya, merasakan energinya mulai terkuras. Namun, ia melihat salah satu delegasi manusia yang terluka. Ia melepaskan satu tangannya dari perisai dan mengirimkan bola cahaya penyembuh ke arah pria tersebut.
"Terima kasih... Yang Mulia..." rintih pria itu.
Liora tersenyum kecil. Ia mulai menyadari bahwa kekuatannya bukan hanya untuk menghancurkan, tapi untuk menjaga harapan.
Di atas benteng, Arkan menatap pertempuran itu dengan rasa puas yang tersembunyi. Liora telah berkembang jauh lebih cepat dari prediksinya. Ia tidak lagi panik; ia memimpin.
'Julian, kirimkan pesan kepada WHA melalui seluruh frekuensi mereka,' perintah Arkan. 'Katakan pada mereka bahwa serangan ini adalah bukti bahwa mereka tidak bisa menjaga diri mereka sendiri. Jika mereka ingin tetap hidup, mereka harus tunduk pada sistem keamanan Crimson Eclipse secara total.'
'Pesan terkirim, Ayah. Respon mereka... ketakutan yang murni. Mereka baru saja melihat bagaimana pahlawan mereka tidak berguna melawan 'Mimic', sementara anak-anak Anda membersihkannya seperti membuang sampah.'
Arkan menatap ke arah gua di mana Hana sedang bertarung dengan Malice. Ia merasakan Hana sedikit terdesak oleh kutukan Abyss yang aneh.
'Hana, jangan gunakan fisik. Masuklah ke dalam detak jantungnya. Hancurkan dia dari dalam darahnya sendiri,' perintah Arkan.
Hana, yang mendengar suara Arkan di kepalanya, langsung mengubah taktik. Ia tidak lagi mencoba menebas Malice. Ia melemparkan belati darahnya yang kemudian meledak menjadi ribuan partikel darah mikro yang masuk ke pori-pori kulit Malice.
"Sanguine Art: Blood Internal Combustion!"
Malice menjerit saat darah di dalam tubuhnya sendiri mulai terbakar. Ia jatuh berlutut, bola kristalnya hancur. "Ini... ini bukan kekuatan manusia... Sang Sovereign... dia adalah iblis!"
Hana berdiri di depan Malice yang sekarat. "Tuan bukan iblis. Dia adalah pencipta kami. Dan bagimu... dia adalah akhir dari segalanya."
Hana mengambil sisa inti energi Malice dan membawanya kembali ke benteng.
Sore harinya, upacara diplomatik berakhir dengan pembersihan total. Meskipun ada ketakutan, para delegasi manusia justru merasa lebih aman karena mereka melihat sendiri bagaimana Crimson Eclipse melindungi mereka. Liora secara resmi menandatangani 'Perjanjian Sanguine', yang menjadikan Korea dan area Himalaya sebagai zona kedaulatan mutlak Sang Sovereign.
Arkan turun dari benteng saat semua manusia sudah pergi. Ia menemui Liora yang sedang duduk lelah di kursi panggung.
"Kau melakukannya dengan baik, Liora," ucap Arkan sambil memberikan botol air minum.
Liora mendongak, wajahnya masih memancarkan cahaya emas yang redup. "Tadi itu sangat mengerikan, Arkan. Aku hampir gagal menahan perisainya."
Arkan duduk di sampingnya, menatap matahari yang terbenam. "Tapi kau tidak gagal. Kau menyelamatkan mereka. Mulai hari ini, dunia tidak akan lagi memanggilmu murid pindahan atau gadis misterius. Kau adalah permaisuri mereka."
Liora menyandarkan kepalanya di bahu Arkan. "Aku hanya ingin menjadi Liora-mu, Arkan. Tapi jika harus menjadi permaisuri untuk melindungimu, maka aku akan melakukannya."
Arkan merangkul pundak Liora. "Masa depan akan menjadi lebih sulit. Malice hanyalah pengintai. Abyss yang sebenarnya baru saja terbangun karena cahaya matahari yang kau lepaskan tadi."
Di kedalaman dimensi Abyss, sesosok entitas raksasa yang dikenal sebagai 'The Great One' membuka matanya. Ia merasakan kematian Malice dan getaran energi Solar Empress.
"Sovereign... akhirnya kau menemukan pasanganmu," suara entitas itu menggetarkan seluruh dimensi. "Mari kita lihat, apakah darah dan cahayamu cukup kuat untuk menahan kegelapanku yang abadi."
Perang antar dimensi yang sesungguhnya telah resmi dimulai. Dan kali ini, sasarannya bukan lagi Seoul, melainkan seluruh eksistensi bumi itu sendiri.