NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 - Bunda Khawatir

Malam telah jatuh sepenuhnya di langit Jakarta, membawa udara dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di kediaman sederhana milik Bunda Syakirah, suasana justru terasa mencekam oleh kesunyian yang tidak biasa. Bunda berdiri di ambang pintu, matanya tak henti menatap gerbang kecil di depan rumah. Setiap kali ada suara deru motor atau sorot lampu kendaraan yang lewat, jantungnya berdegup kencang, berharap itu adalah Aura yang pulang.

Namun, harapan itu pupus setiap kali suara mesin tersebut menjauh.

"Sudah jam segini, kenapa belum pulang juga Aura?" gumam Bunda dengan suara bergetar.

Bunda kembali mencoba menghubungi ponsel Aura. Masih sama seperti tadi yaitu tidak Aktif. Ia beralih menekan nomor Bima. Hasilnya nihil, ponsel putra sulungnya itu seolah mati ditelan bumi. Rasa sesak mulai menghimpit dada Bunda. Perasaan tidak enak yang sedari tadi hinggap kini berubah menjadi ketakutan yang nyata.

Dengan tangan gemetar, Bunda mencari kontak Zahra karena Bunda yakin jika Zahra mengetahui keberadan putrinya. Setelah nada sambung yang terasa sangat lama, akhirnya suara Zahra terdengar.

"Halo, Tante? Ada apa?"

"Zahra, Aura masih sama kamu? Ini sudah lewat magrib, tapi Aura belum sampai rumah. Nomornya juga tidak aktif," tanya Bunda dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan.

Zahra terdengar terkejut di seberang sana. "Loh, Tante? Aura sudah pulang dari tadi sore, sekitar jam empat. Tadi dia bilang mau pesan taksi online karena Kak Bima tidak bisa dihubungi untuk jemput. Dia bilang ingin cepat sampai rumah."

Ponsel di tangan Bunda nyaris merosot. Di taksi online, Aura sendirian di tengah kota yang tak pernah tidur namun penuh bahaya. Bunda terduduk lemas di kursi ruang tamu, air matanya mulai mengalir tanpa bisa dibendung.

"Ya Allah, lindungi putri hamba..." lirihnya.

...****************...

Sementara itu, di sebuah ruangan VIP yang sunyi, Aura baru saja selesai diobati. Perawat meninggalkan sebuah charger ponsel di atas nakas atas perintah Pak Johan. Dengan jari-jari yang masih kaku, Aura menyambungkan ponselnya ke aliran listrik. Begitu layar menyala, puluhan notifikasi masuk beruntun, panggilan tak terjawab dari Bunda yang jumlahnya puluhan.

Baru saja ia hendak mengetik pesan, ponsel itu kembali bergetar hebat. Nama Bunda berkedip di layar. Aura menghirup napas dalam-dalam, mencoba mengontrol suaranya agar tidak pecah.

"Halo... Bunda?"

"Aura! Kamu di mana, Nak?! Bunda cari kamu kemana-mana! Zahra bilang kamu naik taksi online, kenapa belum sampai rumah?!" Suara Bunda meledak dalam isak tangis yang histeris.

Aura menutup matanya rapat-rapat, membiarkan air mata baru membasahi pipinya yang sudah kering "Bunda... maafin Aura. Aura sekarang... Aura di rumah sakit, Bun."

Hening sesaat. Hanya suara napas Bunda yang terdengar memburu di seberang sana. "Rumah sakit? Kamu kenapa?"

"Aura nggak apa-apa, Bun. Tapi Kak Arfan... Kak Arfan kritis. Dia nolongin Aura dari kecelakaan... Bunda, tolong ke sini. Aura takut sendirian. Alamatnya Aura kirim sekarang ya, Bun."

Begitu panggilan di matikan, Aura segera mengirim alamat lokasinya dan Bunda segera memesan taksi. Sepanjang perjalanan, ia tidak bisa berhenti menangis. Sopir taksi beberapa kali melirik lewat kaca spion, namun Bunda terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia menatap keluar jendela, menatap lampu-lampu jalanan yang buram terkena tetesan hujan ringan.

Di tengah guncangan mobil, ingatan Bunda terseret kembali ke kejadian tadi sore. Sebelum petaka ini terjadi, rumah mereka sempat terasa begitu hangat karena kehadiran pria itu, Arfan.

Tadi siang, Arfan datang dengan senyum sopannya yang khas. Ia membawa beberapa kotak besar berisi dekorasi.

Bunda teringat bagaimana Arfan melepaskan kemeja mahalnya, menyisakan kaus hitam yang pas di tubuhnya, lalu mulai membantu Bunda membersihkan ruang tamu. Ia bahkan tak segan memegang sapu dan membantu menggeser meja yang berat.

"Arfan saja yang pasang balonnya, Bunda. Bunda istirahat saja," katanya lembut saat melihat Bunda mulai kelelahan. Bunda ingat melihat Arfan berdiri di atas kursi, dengan sangat teliti memasang untaian bunga plastik dan balon di sudut ruangan. Gerakannya sangat rapi, seperti sedang mengerjakan sebuah mahakarya lukisan.

Bahkan, Arfan sempat membantu Bunda di dapur untuk menyiapkan camilan. Mereka mengobrol santai. Arfan bertanya banyak hal tentang masa kecil Aura. Bunda melihat binar di mata Arfan setiap kali nama Aura disebut. Saat itu, Bunda merasa sangat tenang, berpikir bahwa putrinya telah menemukan seorang pelindung yang luar biasa.

Sampai akhirnya, Arfan berpamitan tepat sebelum ashar. "Bunda, Arfan izin pamit dulu ya. Ada kolega galeri yang mendadak minta bertemu."

Bunda tersenyum mengingat betapa sopannya Arfan mencium punggung tangannya saat berpamitan. Siapa yang sangka, urusan kolega itu berakhir dengan pria itu yang kini sedang terbaring lemah di rumah sakit.

Arfan... Nak Arfan... batin Bunda meratap. Kamu orang baik. Kamu sudah membantu Bunda menyiapkan hari bahagia Aura, kenapa sekarang kamu menderita?

Rasa bersalah menghujam hati Bunda. Ia merasa seolah-olah kecelakaan ini adalah tanggung jawabnya karena telah membiarkan Arfan pergi sore itu. Ia berjanji dalam hati, ia akan melakukan apa pun untuk membalas budi pria itu.

Taksi akhirnya sampai di depan gedung rumah sakit yang tampak seperti istana modern. Bunda turun dengan terburu-buru, langkahnya setengah berlari menuju lobby. Kemewahan rumah sakit itu sama sekali tidak memukau matanya. Yang ia inginkan hanyalah melihat putrinya dan memastikan kondisi pria yang telah menjadi tameng nyawa bagi anaknya.

Begitu sampai di koridor VIP, Bunda melihat sosok Pak Johan. Tanpa banyak bicara, Pak Johan menuntun Bunda masuk ke ruangan tempat Aura berada.

"Bunda!" Aura langsung bangkit dan memeluk Bunda erat. Keduanya menangis sesenggukan dalam keheningan ruangan mewah itu.

"Nak Arfan bagaimana, Ra?" tanya Bunda setelah tangisnya sedikit mereda.

Aura menggeleng lemah. "Masih di dalam, Bun. Operasinya belum selesai. Kepalanya... kepalanya kena besi berat karena lindungin Aura."

Bunda memejamkan mata, bibirnya bergetar merapal doa. Ia menatap Aura, lalu menatap koridor luar tempat Pak Johan berjaga. Di mata Bunda sekarang, Arfan bukan lagi sekadar orang asing yang kaya raya. Arfan adalah pahlawan. Arfan adalah penyelamat.

Dan Bunda tidak tahu, bahwa keyakinannya ini akan menjadi beban berat bagi Aura di masa depan, karena sejak detik ini, Bunda telah menyerahkan hak atas Aura sepenuhnya kepada Arfan sebagai bentuk utang nyawa yang tak ternilai harganya.

Bunda tau kamu mencintai Aura Nak Arfan, Bunda akan merestui hubungan kalian. Karena Bunda percaya kamu bisa menjadi pelindung terbaik untuk Aura dan Bunda yakin kamu akan membahagiakan Aura sepanjang hidup, batin Bunda dengan menatap Aura yang sedang menangis, raut wajahnya begitu khawatir dengan Arfan.

Ya Allah, selamatkan lah Arfan. Dia anak sholeh, hatinya begitu baik, batin Bunda.

Bersambung......

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!