Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di klaim sebagai calon istri
Di sana, Julian Aldrin berdiri dengan setelan olahraga yang sangat sporty dan mahal, lengkap dengan keringat tipis yang membasahi keningnya, membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih tampan.
Syren melongo. "Pak Bos?! Ngapain Bapak ada di sini?!"
"Kenapa? Memangnya lapangan ini milik keluarga kamu?" balas Julian datar sambil melirik Rendi dengan tatapan yang sangat dingin.
"Ya nggak gitu Pak, lagian Pak Bos suka nongol tiba-tiba kayak jin Sarimi!" celetuk Syren spontan. Mulutnya memang benar-benar tidak bisa dikontrol kalau sudah kaget, apalagi melihat Julian yang tiba-tiba ada di depannya dengan baju olahraga.
"Pak Rendi, jangan dekat-dekat dengan calon istri saya."
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Julian, dingin namun penuh penekanan. Suasana lapangan yang bising mendadak terasa senyap seketika bagi orang-orang di sana.
Leo yang baru saja sampai membuntuti Julian terengah-engah, matanya nyaris keluar mendengar klaim bosnya. Buset, si Bos makin barbar aja main klaim! batin Leo syok.
Gaby lebih parah lagi. Ia mematung dengan mulut menganga lebar sampai lalat pun bisa masuk. "Hahhh... apa tadi Pak?!" seru Gaby histeris, menuntut penjelasan.
Namun, Julian tidak berniat memberikan klarifikasi. Sebelum Syren sempat protes atau Rendi sempat membalas, Julian langsung menyambar pergelangan tangan Syren dan membawanya berlari menjauh dari kerumunan.
"Syren-kuuuu..." batin Rendi sesak, hanya bisa menatap punggung Syren yang semakin menjauh dibawa lari oleh sang CEO bertangan besi itu.
Syren yang ditarik paksa hanya bisa berteriak sambil berusaha menyamai langkah kaki Julian yang panjang. "Pak Bos! Lepasin! Saya belum sarapan baksoooo!"
"Pak Bos tadi bilang apa?" tanya Syren sambil berkacak pinggang. Ia mendongak, berusaha menatap tajam Julian meskipun perbedaan tinggi badan mereka membuat Syren harus sedikit mendongak agar bisa menatap mata bosnya itu.
Namun, keberanian Syren perlahan luntur. Di bawah sinar matahari pagi, aura Julian benar-benar tidak main-main. Kaos olahraganya yang sedikit basah karena keringat menempel sempurna, memperlihatkan bentuk tubuh atletis hasil olahraga rutin.
Glekkkk... Syren menelan ludahnya sendiri tanpa sadar. Sial, ini orang gantengnya ilegal banget kalau lagi keringetan begini, batin Syren.
"Saya cuma nggak mau nanti malam diganggu, Syren. Kamu nggak mau uang lima juta kamu?" tanya Julian santai, suaranya terdengar berat dan maskulin.
"Emmm... mau Pak!" jawab Syren secepat kilat. Begitu mendengar angka lima juta, harga diri Syren langsung tersimpan rapi di saku celana training-nya. "Ya tapi saya terkejut Pak Bos bilang kayak gitu," lanjut Syren sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, mencoba menyembunyikan rasa salah tingkahnya.
Julian melipat tangan di dada, menatap Syren dengan pandangan menyelidik yang jahil. "Terus kamu tadi kenapa bilang saya seperti jin Sarimi?"
Syren langsung kicep. "Eh... itu... habisnya Bapak suka muncul tiba-tiba! Mana pakai klaim calon istri segala lagi, kan saya malu kalau didengar Gaby sama Pak Rendi!"
"Anggap saja itu latihan untuk nanti malam. Sekarang, cepat kembali ke teman-temanmu. Jangan sampai wali kelas itu mendekat lagi, atau saya potong bayaranmu," ancam Julian dingin namun ada kilatan jenaka di matanya.
Leo pun menghampiri Julian yang masih berdiri menatap kepergian Syren.
"Bos, tadi bilang apa ke Mbak Syren?" tanya Leo penasaran.
"Saya mau nikahin dia," jawab Julian santai tanpa beban sedikit pun.
"Yang bener, Bos?" Leo melongo, matanya nyaris keluar mendengar pernyataan bosnya yang biasanya anti berkomitmen itu.
"Bener," tegas Julian singkat, lalu ia melangkah pergi meninggalkan Leo yang masih mematung.
Sementara itu, Syren pun berlari menghampiri Gaby dan anak-anak yang sedari tadi menonton dari kejauhan. Begitu sampai, ia langsung disambut dengan sorakan.
"Cieeeeee... cieeee... diklaim sama Pak Bos jadi calon istri!" goda Ardi sambil terus asyik menyuapi Lea ice cream di tangannya.
"Diemmmm lu bocil!" sentak Syren yang wajahnya sudah merah padam sampai ke telinga.
Gaby langsung menyenggol lengan sahabatnya itu dengan tatapan menyelidik. "Gimana Ren? Lo tadi beneran diklaim calon istri?"
"Ya nggak lah, Gab! Tadi itu cuma bohong biar Pak Rendi nggak dekat-dekat gue," kilah Syren cepat, berusaha menormalkan detak jantungnya yang masih marathon gara-gara ucapan Julian tadi.
Mereka pun akhirnya pulang.
"Dah By, Lea, makasih waktunya," kata Syren pada Gaby dan Lea, melambaikan tangannya sebelum berlalu.
Ardi dan Syren pun sampai di rumah. Di kamar, Syren baru saja duduk di tepi kasur ketika ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi muncul dari kontak yang ia beri nama: Bos Peot .
Bos Peot : "Jam 7 malam nanti saya jemput, jangan terlambat."
Syren: "SIAPPPPPP PAK BOSSSSS"
Syren merebahkan dirinya sebentar, memejamkan mata, lalu kembali berdiri menghampiri lemari pakaiannya. Ia sibuk memilih gaun, menggeser gantungan baju satu per satu.
"Mana nih yang cocok? Mana gaun gue banyak banget," gumamnya sendiri.
Mata Syren pun tertuju pada sebuah gaun berwarna ungu cantik. Gaun yang elegan, dengan leher cowl neck yang lembut, siluet pas di bagian badan, dan rok bertingkat yang bervolume, menjuntai indah.
Syren mengambil gaun itu. "Ini dia! Gaun penyelamat image gue," bisiknya. Ia membayangkan dirinya memakai gaun itu. Pasti ia akan terlihat sangat berbeda dari Syren yang biasa ceplas-ceplos. Syren tersenyum penuh tekad, siap menjalankan misi "pacar sewaan 5 juta rupiah" nanti malam.
Syren akhirnya selesai mandi dan mengenakan pakaian santai lagi. Setelah itu, ia menghampiri Ardi. "Yok, Di, makan bakso!" ajak Syren penuh semangat.
"Ayok, Mbak, aku juga lapar!" Ardi pun segera mengambil kunci sepedanya. Mereka berdua lalu pergi ke warung bakso langganan mereka untuk mengisi perut.
Setelah selesai makan bakso dan perut terasa kenyang, Syren kembali ke rumah. Waktu sudah menunjukkan sore hari. Ia segera duduk di depan meja riasnya. Syren pun mulai berdandan tipis, mempersiapkan diri untuk acara makan malam penting nanti malam. Ia mengaplikasikan bedak, eyeliner tipis, dan lipstik berwarna natural, memastikan penampilannya pas dengan gaun ungu elegannya.
Ia segera memakai gaun ungu mudanya yang cantik itu. Bahan chiffon yang ringan terasa lembut di kulitnya. Syren menatap pantulan dirinya di cermin; ia menggerai sebagian rambutnya dan mengepangnya kecil di sisi kiri dan kanan, memberikan sentuhan manis.
"Gila, ternyata gue cantik kayak bidadari!" gumamnya sambil memutar tubuh, mengagumi gaun leher tinggi dengan rok bertingkat yang bervolume itu.
Waktu itu sudah menunjukkan jam tujuh kurang lima menit. Syren meraih tas kecilnya dan keluar kamar. Di luar, Ardi yang sedang bermain ponsel langsung melongo melihat penampilan kakaknya yang super anggun.
Tepat pada pukul 7 malam, sebuah suara klakson mobil mewah terdengar nyaring di depan rumah.
Tin! Tin! Tin!
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui