NovelToon NovelToon
Idol Di Balik Pintu Kosan

Idol Di Balik Pintu Kosan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Amnesia / Idol / Komedi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SINYAL YANG TERPUTUS

Lampu panggung utama baru saja padam, meninggalkan dengungan histeris ribuan fans yang masih menggema di dinding gedung. Di balik kemegahan itu, lorong backstage adalah labirin yang sibuk. Staf berlarian membawa koper kostum, dan aroma parfum mahal bercampur dengan bau asap panggung yang pekat.

Javier melangkah turun dari tangga panggung dengan napas yang masih memburu. Jubah panggungnya yang penuh payet perak berkilauan terkena lampu lorong, membuatnya terlihat sangat tidak terjangkau seperti dewa yang baru saja menyelesaikan ritual pemujaan. Aruna sudah menunggu di sana, berdiri di pojok dekat tumpukan kabel, siap dengan botol minum berstiker es mambo melon.

Namun, langkah Aruna terhenti saat sebuah bayangan merah muda melesat mendahuluinya.

"Javier-oppa! Kerja bagus!" seru Yuna, center dari grup Cherry-Pop.

Yuna tidak datang dengan tangan kosong. Ia sengaja membawa sebuah buket bunga kecil dan sebuah kotak cokelat mahal. Saat Javier melintas dengan sisa-sisa adrenalin panggungnya, Yuna berpura-pura kehilangan keseimbangan karena tumit sepatunya yang tinggi.

"Aaakh!" Yuna memekik nyaring.

Javier, yang sistem refleksnya selalu disetel pada mode Tolong Menolong tanpa filter, langsung menangkap bahu Yuna. Ia tidak menaruh curiga sedikit pun. Baginya, ini hanyalah prosedur penyelamatan rekan kerja yang hampir mencium lantai beton.

"Hati-hati, Unit Yuna. Gravitasi di lorong ini sedang tidak stabil," ujar Javier datar, suaranya masih terdengar robotik karena kelelahan.

Yuna tidak segera berdiri tegak. Ia justru menyandarkan kepalanya di bahu Javier, tangan kecilnya meremas kain jubah mahal Javier. Di saat yang bersamaan, di balik tumpukan kotak instrumen yang gelap, sebuah lensa kamera paparazzi suruhan agensi Yuna bekerja dalam diam.

Cekrek, cekrek.

Foto-foto itu diambil dengan sudut yang sangat menipu membuat Javier tampak sedang memeluk Yuna dengan penuh proteksi dan kasih sayang.

"Terima kasih, Oppa... kepalaku mendadak pusing sekali," bisik Yuna dengan nada yang sengaja dibuat manja, matanya melirik tajam ke arah Aruna yang mematung di kejauhan.

Javier tetap diam, membiarkan Yuna bersandar karena ia mengira gadis itu benar-benar mengalami malfungsi kesehatan. Ia tidak menyadari ada kamera yang sedang mengintai, dan ia juga tidak menyadari bahwa di mata Aruna, pemandangan itu terlihat seperti sebuah konfirmasi atas segala ketakutannya.

Aruna menatap botol minum di tangannya. Stiker es mambo melon yang ia tempel dengan susah payah tadi pagi tiba-tiba terlihat sangat konyol. Melihat Javier yang bersinar dengan jubah peraknya, dikelilingi oleh idol secantik Yuna, membuat Aruna merasa seperti bug di dalam sistem yang sempurna.

'Mereka sama-sama bersinar, Sedangkan aku... aku cuma asisten yang bawa botol dan lari-lari dari Mbak Widya.'

Aruna perlahan mundur, langkah kakinya terasa berat seolah menginjak aspal basah yang lengket. Ia tidak ingin mengganggu sinkronisasi indah di depan matanya itu, pemandangan dua bintang besar yang tampak serasi dalam satu bingkai panggung yang nyata. Ia menaruh botol minum Javier di atas sebuah kotak peralatan yang tak terpakai dengan gerakan pelan, seolah takut suaranya akan merusak momen tersebut.

"Botol es mambo melonnya sudah di sini ya, Javi... Ujang," bisik Aruna lirih pada angin, meski pria itu tak mendengarnya karena masih sibuk menahan bahu Yuna.

"Kayaknya kamu emang lebih butuh asupan dari idol beneran daripada air mineral dari asisten karbitan."

Aruna membetulkan posisi rompi asistennya yang terasa semakin longgar, seolah beban di hatinya justru membuat tubuhnya menyusut. Ia kemudian menghampiri Manajer Han yang sedang sibuk berkoordinasi lewat telepon di dekat pintu keluar.

"Manajer Han, saya... saya mau ke van duluan. Perut saya kurang enak," pamit Aruna pelan, suaranya nyaris hilang ditelan hiruk-pikuk kru yang lewat.

Manajer Han menurunkan ponselnya sejenak, menatap wajah pucat Aruna.

"Lho, Aruna? Kamu nggak nunggu Javier beres ganti baju dulu? Biasanya kamu yang paling cerewet nyuruh dia pakai handuk."

Aruna memaksakan senyum tipis yang terlihat sangat getir.

"Enggak, Pak."

Tanpa menunggu jawaban, ia lari menembus kerumunan staf, ingin segera menghilang dari radiasi rasa tidak pantas yang mencekiknya.

Kehampaan di Dalam Van

Tiga puluh menit kemudian, pintu geser van agensi terbuka dengan suara desis pelan. Javier masuk dengan napas yang masih sedikit tidak teratur, matanya langsung menyisir interior mobil yang remang-remang. Ia mencari sosok mungil yang biasanya menyambutnya dengan omelan konyol tentang keringatnya yang bisa merusak mik atau handuk dingin yang ditempelkan paksa ke wajahnya.

Namun, ia hanya menemukan Aruna yang sedang meringkuk di kursi paling belakang, menatap keluar jendela ke arah lampu-lampu kota yang berlalu cepat.

"Majikan? Kenapa Anda melakukan prosedur evakuasi tanpa koordinasi dengan saya?" tanya Javier sambil melangkah mendekat dan duduk di sampingnya.

Ia masih mengenakan kostum panggung peraknya yang berkilau, namun ia sudah melepas jubah beratnya, menyisakan kemeja satin yang melekat di tubuhnya. Auranya terasa lebih tenang, namun ada nada kecemasan yang terselip di frekuensi suaranya.

Aruna tidak menoleh. Ia hanya merapatkan rompi asistennya, seolah benda itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki.

"Gak apa-apa, Jang. Cuma capek aja. Revisi maket dari Dante kemarin ternyata baru kerasa pegalnya sekarang."

Javier mengernyitkan dahi, kepalanya miring sedikit ke samping, gestur khasnya saat sedang menganalisis sebuah keganjilan.

"Data sensorik saya menunjukkan adanya anomali. Anda biasanya akan memarahi saya karena tidak segera mengeringkan rambut pasca-konser. Kenapa sekarang Anda terlihat seperti sedang berada dalam mode hemat energi?"

"Ya namanya juga manusia, Javi. Ada kalanya baterainya drop," sahut Aruna pelan, suaranya terdengar datar, tanpa nada cemburu yang biasanya meledak-ledak.

"Kamu sendiri gimana? Semua urusan di backstage sudah beres? Tadi kelihatannya ramai sekali di sana."

Javier terdiam sejenak, menatap profil samping wajah Aruna yang diterangi lampu jalan yang berkedip masuk ke dalam van.

"Unit Yuna memang sempat mengalami gangguan keseimbangan sementara. Saya hanya memastikan tidak ada kerusakan fisik yang terjadi di area tersebut agar tidak menghambat alur kerja tim lain. Setelah itu, saya langsung mencari Anda."

"Oh, bagus kalau begitu," ujar Aruna singkat.

Ia akhirnya menoleh, menatap Javier dengan seulas senyum yang terlihat sangat biasa saja. Terlalu biasa hingga terasa asing di mata Javier.

"Kerja bagus buat konsernya, Javi. Kamu benar-benar bersinar di atas sana. Benar-benar seorang bintang."

Javier terpaku. Kalimat itu terdengar seperti pujian tulus, namun bagi sistemnya, itu terasa seperti sebuah garis pemisah yang sangat tebal. Ia meraih tangan Aruna, bermaksud ingin merasakan suhu tubuh gadis itu yang biasanya hangat, namun Aruna dengan halus menarik tangannya kembali untuk membetulkan letak tasnya.

"Jangan, Javi. Nanti kostum panggung kamu yang mahal itu kena bekas debu atau lem dari tanganku," ujar Aruna dengan suara yang sangat tenang, namun senyumnya tidak sampai ke mata.

"Aku baru sadar, asisten harusnya tahu tempat. Kostum itu buat dipuja fans, bukan buat kena kotoran tangan mahasiswa DKV kayak aku."

Keheningan yang dingin seketika menyelimuti van, lebih dingin daripada AC yang berembus di atas kepala mereka. Javier menatap telapak tangannya yang kini kosong di udara, lalu menatap Aruna yang kembali membuang muka ke arah jendela.

Sistem pintarnya mungkin bisa memprediksi koreografi rumit atau nada tinggi yang paling mustahil, tapi saat ini, ia merasa benar-benar buta. Ia tidak mengerti mengapa Aruna yang biasa saja justru jauh lebih menakutkan daripada Aruna yang sedang marah besar.

Untuk pertama kalinya, Javier merasa bahwa kacamata renang birunya tidak akan cukup untuk memperbaiki kerusakan sinyal yang terjadi malam ini. Ia menyadari bahwa bukan Yuna yang menjadi masalah, melainkan sebuah jarak yang baru saja dibangun secara sunyi oleh Aruna di antara dunia mereka.

1
Indhira Sinta
bagus
falea sezi
/Curse//Curse/ada aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!