NovelToon NovelToon
Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Time Travel / Sci-Fi
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"

Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"

Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."

Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.

"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."

Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 - ANCAMAN BARU

Malam itu, Kiara tidak bisa tidur. Bukan karena trauma atau rasa sakit, tapi karena instingnya berteriak ada yang salah.

Terlalu tenang.

Lenna tidak muncul sejak dia pulang dari klinik. Tidak ada drama, tidak ada tangisan manipulatif, tidak ada upaya untuk "membantu" atau "peduli".

Itu tidak normal.

Dara tahu predator yang diam adalah predator yang sedang merencanakan sesuatu.

Pukul dua pagi, dia mendengar suara pelan dari luar kamarnya. Langkah kaki yang berhenti tepat di depan pintunya.

Dara bangkit perlahan, mengambil gunting kecil dari meja rias senjata darurat dan berdiri di samping pintu.

Klek.

Suara kenop pintu diputar.

Terkunci karena Dara selalu mengunci pintunya sejak insiden di rumah sakit.

Langkah kaki menjauh.

Dara menunggu lima menit sebelum membuka pintu sedikit, mengintip keluar.

Koridor gelap, kosong.

Tapi di lantai, tepat di depan pintunya ada amplop cokelat. Dara mengambilnya cepat, masuk kembali, mengunci pintu. Tangannya sedikit gemetar saat membuka amplop.

Di dalamnya terdapat foto-foto.

Foto dirinya sebagai Dara di kehidupan lama. Mengenakan jas lab putih, berdiri di ruang operasi bawah tanah yang jelas bukan rumah sakit legal. Di foto lain, dia sedang membedah seseorang yang jelas bukan pasien biasa, ada luka tembak di tubuh korban.

Tidak... Tidak mungkin.

Bagaimana bisa ada yang punya foto ini? Bagaimana bisa?

Ada catatan kecil di dalam amplop. Tulisan tangan rapi, huruf tegak.

[Aku tahu siapa kamu sebenarnya, Dara Alvarino. Atau haruskah kupanggil Kiara? Bagaimana rasanya hidup dalam tubuh orang lain? Kita perlu bicara. Besok, jam 10 malam, taman belakang rumah. Datang sendiri! Kalau tidak, semua foto-foto ini akan sampai ke tangan Arkan, Nyonya Devi, dan polisi. Kamu tahu apa artinya, kan? Mantan dokter mafia yang kabur? Mereka pasti senang bisa menemukanmu kembali. Apalagi Bos Rendra, dia masih mencarimu, lho.]

Tidak ada tanda tangan.

Dara merosot di lantai, napasnya tercekat. Bagaimana bisa?

Hanya ada beberapa kemungkinan,

Satu... seseorang dari kehidupan lamanya berhasil melacaknya.

Dua... seseorang di rumah ini punya akses ke informasi yang tidak seharusnya mereka miliki.

Tiga... ini jebakan Lenna.

Tapi bahkan Lenna tidak mungkin tahu tentang kehidupan lamanya. Tidak ada yang tahu, bahkan Kiara yang asli tidak tahu karena jiwanya sudah tidak ada saat Dara mengambil alih.

Kecuali... Kecuali ada yang mengawasinya sejak awal.

Dara menatap foto-foto itu. Semua diambil dari CCTV ruang operasi bawah tanah. Hanya orang dalam kelompok mafia yang punya akses ke rekaman itu.

Salma.

Pasti Salma yang menyimpan foto-foto ini sebelum membunuhnya, sebagai insurance. Dan sekarang entah bagaimana foto-foto ini sampai ke tangan orang di rumah ini. Atau... Atau Salma sendiri yang ada di sini. Pikiran itu membuat Dara hampir muntah.

Tidak... Tidak mungkin. Salma tidak tahu dia reinkarnasi, tidak ada yang tahu. Tapi siapa pun yang mengirim ini, mereka berbahaya.

Dara membakar foto-foto itu di kamar mandi, menyiram abunya sampai habis. Catatan juga dibakar. Tapi ancamannya tetap nyata. Seseorang tahu rahasianya. Dan besok malam, dia harus menghadapi orang itu.

Pagi harinya, Dara turun untuk sarapan dengan wajah tenang meski tidur cuma dua jam dan pikirannya kacau.

Lenna ada di meja makan, tersenyum manis seperti biasa.

"Kak Kiara, selamat pagi. Tidur nyenyak?"

Dara mengamatinya. Apakah Lenna yang mengirim amplop itu? Tapi ekspresinya terlalu... genuine. Terlalu polos, atau dia memang jago akting.

"Nyenyak," jawab Dara datar, duduk di seberang Lenna.

Arkan masuk, terlihat lelah. "Pagi."

"Pagi, Kak Arkan," Lenna langsung menuangkan kopi untuknya. "Aku buatkan kopi favoritmu."

"Terima kasih, Len."

Dara menatap interaksi mereka. Lenna yang melayani Arkan seperti istri, Arkan yang menerimanya dengan natural sudah kebiasaan bertahun-tahun.

"Oh ya, Kak Kiara," Lenna berbalik padanya. "Aku dengar Jumat nanti hasil tes DNA keluar?"

"Iya."

"Aku doakan hasilnya... sesuai harapan Kakak." Senyum Lenna manis, tapi matanya dingin.

"Pasti sesuai harapanku, karena aku yang benar."

"Hmm... kita lihat saja nanti."

Ada sesuatu dalam nada Lenna... terlalu percaya diri, terlalu tenang. Dara merasa ada yang tidak beres.

"Lenna," kata Dara pelan. "Kamu kemarin malam ke mana?"

Lenna mengedipkan mata. "Kemarin malam? Aku di kamar... tidur. Kenapa?"

"Tidak ke mana-mana?"

"Tidak. Memangnya kenapa, Kak?"

Bohong... Atau bukan Lenna yang menaruh amplop?

"Tidak apa-apa, cuma tanya."

Arkan menatap mereka berdua, bingung dengan ketegangan yang tiba-tiba muncul.

Siang harinya, Regan datang dengan kabar.

"Kak, aku dapat info penting."

Mereka duduk di taman samping, cukup jauh dari rumah utama tapi masih dalam area yang aman.

"Apa?"

"Kemarin malam, ada mobil asing parkir di depan gerbang rumah ini. Sekitar jam dua pagi."

Dara tersentak. "Jam dua? Mobilnya seperti apa?"

"Sedan hitam. Tidak ada plat nomor atau lebih tepatnya, platnya ditutup. CCTV gerbang merekamnya, tapi sosok yang keluar dari mobil memakai hoodie dan masker. Tidak kelihatan wajahnya."

"Orang itu masuk ke dalam?"

"Tidak. Dia cuma mendekati gerbang, menaruh sesuatu di kotak surat, lalu pergi."

Kotak surat? Amplop...

"Siapa yang biasanya ambil surat?"

"Sari, tapi pagi ini dia bilang tidak ada surat apa-apa di kotak."

Berarti orang itu tidak menaruh amplop di kotak surat tapi langsung membawanya ke depan kamar Dara. Yang artinya orang itu masuk ke dalam rumah.

"Regan, ada CCTV di dalam rumah?"

"Ada, tapi cuma di ruang tamu dan koridor utama. Tidak ada di area kamar tidur, ibu tidak suka privacy-nya terekam."

"Koridor menuju kamarku?"

"Ada, mau aku cek?"

"Sekarang."

Mereka masuk ke ruang kontrol CCTV yang terletak di basement. Regan membuka rekaman semalam, memutar cepat ke jam dua pagi.

Layar menunjukkan koridor menuju kamar Kiara.

Kosong.

Sampai... Sosok berjas hitam, wajah tertutup masker dan topi, berjalan perlahan. Tingginya sekitar 175 cm bisa pria atau wanita.

Sosok itu berhenti di depan kamar Kiara, menaruh amplop, lalu... Menoleh ke kamera, dan tersenyum.

Dara merinding.

Sosok itu tahu ada kamera, tapi tidak peduli. Bahkan sengaja tersenyum seperti mengolok-olok.

"Sialan," desis Regan. "Orang ini berani banget, masuk rumah kita dengan santai."

"Dia tahu security, tahu posisi kamera, tahu jalur yang aman."

"Maksud Kakak... orang dalam?"

Dara menatap layar. "Atau orang yang pernah tinggal di sini, atau punya informan dari dalam."

"Lenna?"

"Mungkin, tapi aku tidak yakin dia punya akses ke informasi yang ada di amplop itu."

"Amplop apa?"

Dara ragu sebentar, lalu memutuskan Regan sudah terlalu jauh terlibat. Dia butuh kepercayaan.

"Seseorang tahu rahasia besar tentangku, rahasia yang bahkan kamu tidak tahu. Dan orang itu mengancam akan membongkarnya kalau aku tidak bertemu dengannya malam ini."

Regan menatapnya serius. "Rahasia apa?"

"Aku tidak bisa bilang, belum. Tapi percayalah, ini berbahaya. Bukan cuma buat aku, tapi buat siapa pun yang terlibat."

"Kakak mau bertemu orang itu sendiri?"

"Dia minta aku datang sendiri."

"Itu bodoh! Kakak bisa diserang!"

"Aku tahu. Tapi kalau aku tidak datang, dia akan bongkar rahasiaku. Dan itu akan menghancurkan semuanya, termasuk rencana kita melawan Lenna."

Regan berpikir, lalu mengangguk. "Baiklah. Kakak datang, tapi aku akan ikut dari jauh. Aku akan bersembunyi di taman, siap siaga kalau terjadi apa-apa."

"Regan..."

"Tidak bisa ditawar, Kak. Kakak mau melindungi rahasia, aku mengerti. Tapi aku tidak akan biarkan kakak iparku mati di taman rumahnya sendiri."

Dara menatapnya, melihat tekad yang sama dengan tekadnya dulu saat pertama masuk dunia mafia. Tekad untuk bertahan apapun yang terjadi.

"Baiklah. Tapi jaga jarak, jangan sampai ketahuan."

"Aku mantan tentara cadangan, Kak. Aku tahu cara bersembunyi."

Malam itu terasa paling panjang. Jam delapan, Dara pura-pura tidur. Jam sembilan, dia bangun, berganti baju gelap, menyiapkan gunting dan pepper spray di saku.

Jam sepuluh kurang sepuluh, dia menyelinap keluar. Taman belakang gelap, hanya diterangi lampu taman yang redup.

Dara berdiri di tengah taman, menunggu.

Angin malam bertiup dingin. Jam sepuluh tepat, langkah kaki dari balik semak. Sosok keluar dari bayangan tinggi, berjas hitam, masker dan topi masih terpasang.

"Kiara... Atau haruskah kupanggil Dara?"

Suara itu... Suara wanita, suara yang sangat familiar. Sosok itu melepas masker dan topinya, dan Dara merasa dunia berhenti berputar.

Wajah yang menatapnya...

Salma, sahabatnya yang membunuhnya. Berdiri di hadapannya.

Hidup...

Tersenyum...

"Lama tidak jumpa, sahabatku."

1
Dewi Sri
author nya jenius
asih
saya ikut tegang bacanya
Dewi Sri
ceritanya bagus tp masih sepi koment, semangat kak author
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
pilihan yang sulit tapi aq yakin dara pintar dan cerdas pasti ada jalan keluar nya tanpa harus membunuh keduanya
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
wow
Dew666
👍👍👍👍
asih
pilihan yg sangat sulit,harus pintar bermain licik Dara
Ma Em
Dara kamu wanita cerdas mantan dokter mafia , kalahkan Viktor juga Rendra dgn siasat licikmu Dara jgn sampai mau di perbudak lagi sama Rendra juga Viktor mereka pasti punya titik lemahnya .
Dew666
🌹🌹🌹🌹
Wulan Sari
ceritanya dari bab perbab semakin menarik dan selalu buat penasaran semoga cerita di akhir akan bahagia, trimakasih Thor semangat buat karya lain salam sukses selalu ya cip 👍❤️🙂🙏
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
🏡s⃝ᴿ . Incha
kira ada cakaran rambut atau apa kek
Erchapram: Puasa Kak, mode kalem. Pembalasam intelektual bukan kek preman 🤣🤣🤣
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
vj'z tri
Lo , w end 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 penipu yg tertipu
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
coba km hidup baik-baik len nasib km g bakalan sprti ini
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
lenna bilang cinta sama arka sekarang bilang cinta sama rio, jd sebenarnya yg mn nih lenna, wah pemain juga si lenna
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
lenna trlalu jahat sampe sampe nggak sadar kl dya di jahatin🤣🤭
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
author kapan penyelidikan calon istri regan di mulai? hehehe...
lupita namanya siapa ya
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉: lupita itu lupa thor aq plesetin🤭🤣
total 2 replies
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
tarik satu nafas... dan cuma satu kata wow 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!