Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!
Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.
Namur, takdir berkata lain.
saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.
" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "
Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Kebun obat
Matahari belum sepenuhnya terbit, kabut hutan masih menggantung tebal. Namun, Bara sudah berdiri tegak di bawah pohon Angsana raksasa dengan setelan tempur lengkap.
Dia mengenakan jas hujan ponco hijau lumutnya, kacamata hitam patah, dan masker kain yang dia lapisi dengan arang aktif (buatan sendiri dari kayu bakar semalam). Kakinya dibalut plastik kresek yang diikat karet gelang.
"Target: Sarang Apis dorsata. Kode Misi: Sweet Gold Heist," bisik Bara pada Sersan Jago yang berdiri di sampingnya.
Sersan Jago hanya mematuk tanah, tidak peduli.
"Jago, kau jaga bawah. Kalau ada beruang, berkokoklah. Kalau ada kelinci, kejar. Kita butuh daging tambahan, paham?."
Bara tidak akan memanjat dan mengasapi lebah dengan asap biasa. Itu cara yang sederhana, asap biasa membuat lebah panik dan agresif. Bara butuh mereka pingsan dengan damai.
Di panci aluminiumnya, Bara sudah meracik Bom Asap Bius.
Bahannya:
Bunga Kecubung (Datura metel) kering: Mengandung skopolamin, zat penenang/halusinogen kuat.
Belerang: Dikerik dari batu sungai vulkanik.
Getah Damar: Agar asapnya pekat dan lengket.
"Mari kita tidurkan bayi-bayi berduri ini," gumam Bara.
Dia membakar racikan itu di dalam kaleng sarden bekas yang sudah dilubangi dan diikat kawat panjang. Asap putih kebiruan mulai mengepul, baunya manis tapi memabukkan.
Dengan keahlian memanjat yang dia warisi dari memori tubuh gelandangan (yang sering maling mangga), Bara memanjat pohon setinggi 20 meter itu dengan lincah.
Sampai di dahan dekat sarang, dengungan ribuan lebah terdengar seperti suara mesin jet.
Nguuung... Nguuuung...
Bara perlahan mengayunkan kaleng asapnya ke arah sarang. Angin berpihak padanya. Asap bius itu menyelimuti sarang raksasa tersebut.
Reaksinya instan. Dengungan mesin jet itu perlahan meredup. Lebah-lebah penjaga yang tadinya siap menyerang, kini mulai sempoyongan di udara, lalu jatuh pluk, pluk, pluk ke tanah seperti hujan kismis.
"Tidur yang nyenyak, Sayang. Jangan mimpi buruk," ucap Bara lembut.
Tanpa membuang waktu, Bara mengeluarkan pisau (goloknya terlalu besar) dan memotong seperempat bagian sarang yang berisi madu murni.
Dia menyisakan bagian sarang yang berisi larva agar koloni tidak punah. Ambil seadanya, ingat?
Dia memasukkan potongan sarang itu ke dalam ember plastik (bekas cat yang dia temukan hanyut di sungai dan sudah dicuci).
Berat. Sangat berat. Madu hutan asli ini kentalnya luar biasa.
Bara turun dengan sukses. Tidak ada satu pun sengatan.
Kembali ke markas, Bara tidak langsung menjual madu itu. Dia memisahkan madu dari lilin sarangnya.
Sekarang, saatnya proyek ambisius: Mempercepat Waktu.
Bara menatap kebun jahe merah, kunyit dan tanaman lain yang baru ditanamnya kemarin. Masih berupa tunas kecil yang menyedihkan. Lalu dia menatap kandang ayamnya. Sri dan Tati cuma bengong, belum bertelur.
"Lambat. Terlalu lambat, saatnya buat keajaiban," ucap Bara.
Dia mengambil sisa lilin sarang lebah, mencampurnya dengan kotoran lele dari tambak (yang kaya amonia), dan sisa tulang ikan yang ditumbuk (fosfor). Lalu, dia meneteskan sedikit madu murni sebagai sumber energi glukosa tinggi, dan menambahkan "bahan rahasia":
Bara menggigit jarinya sampai berdarah, meneteskan tiga tetes darahnya sendiri ke dalam campuran itu.
Darah seorang Alkemis yang jiwanya telah menyatu dengan alam memiliki resonansi Qi (energi vital). Tentunya ini tidak bisa di lakukan terus-menerus, dia bisa kehabisan darah kalau melakukannya sering-sering.
"Jadilah Elixir Pertumbuhan: Verdant Fury!"
Dia mengencerkan campuran itu dengan air sungai, lalu menyiramkannya ke tanah tempat tanamannya. Sisanya, dia campurkan ke pakan ayam, dan tambak yang dia bikin, berisi lele, ikan, dan udang.
Srrtttt...
Tanah berdesis pelan saat menyerap cairan itu. Bara tersenyum puas, lalu pergi tidur siang. Dia lelah habis memanjat pohon.
Satu Minggu berlalu.
Bara terbangun di pagi hari karena suara keributan. Bukan suara alam yang damai, tapi suara hiruk-pikuk seperti pasar kaget.
PETOK! PETOK! KOOOK! PETOK!
Bara melompat bangun, menyambar goloknya. "Serangan musuh?!"
Dia lari ke kandang ayam. Pemandangan di sana membuatnya menganga.
Sri dan Tati bukan lagi ayam biasa. Bulu mereka mengkilap, mata mereka tajam, dan badan mereka... berotot? Mereka terlihat seperti ayam yang habis ikut program binaraga.
Dan di sekitar mereka... Telur. Banyak sekali telur.
Bukan cuma satu atau dua. Ada dua lusin telur berserakan di kandang.
"Astaga," gumam Bara. "Siklus ovulasi mereka dipercepat 1000%. Mereka jadi mesin fotokopi telur!" Tentunya bara sudah paham dengan ini, 3 ayam sudah menjadi penghasil bibit unggul yang tidak akan habis, di tambah tanah yang di sirami ramuan menjadi sangat subur, dan tambak yang dia buat akan menjadi penghasil uang yang cepat mengalir.
Lebih gilanya lagi, beberapa telur yang terkena paparan sinar matahari langsung sudah menetas. Anak-anak ayam berlarian lincah, tapi ukurannya lebih besar dari anak ayam normal. Mereka langsung bisa mematuk cacing dengan ganas.
Sersan Jago? Dia berdiri di atas batu dengan dada membusung, tampak sangat bangga (dan sedikit kelelahan) melihat keturunannya yang membludak dalam beberapa hari.
"Kerja bagus, Sersan. Kau pejantan tangguh," puji Bara.
Bara beralih ke kebunnya
"Waduh."
Tanaman disana sudah setinggi pinggang orang dewasa. Daunnya hijau pekat, batangnya kokoh.
Bara mencoba mencabut satu rumpun jahe.
Krek.
Rumpun jahe itu besar sekali! Rimpangnya gemuk, berwarna merah menyala, dan aromanya pedas menyengat hidung bahkan sebelum dipotong. Satu rumpun beratnya bisa 2 kilogram.
"Ini bukan Jahe Merah," Bara tertawa gila. "Ini Jahe Nuklir. Kadar minyak atsirinya pasti meledak."
Cabe nya berbuah lebat, dan tambaknya di penuhi ikan-ikan dan udang berkualitas tertinggi bahkan sangat melimpah.
Sekarang Bara punya masalah baru: Surplus Produksi.
Dia punya 5 liter madu, 20 kg jahe merah raksasa, 24 butir telur ayam kampung super (plus anak ayam yang terus bertambah), dan masih banyak yang lainnya.
"Saatnya menghasilkan uang."
Bara tidak mau jual bahan mentah. Marginnya kecil. Dia akan menjual Produk Olahan.
Bara merebus jahe merah raksasa itu, mengambil sarinya yang super pedas. Dia mencampurnya dengan madu hutan murni, perasan jeruk nipis hutan, dan sedikit Lada Hitam (untuk efek termogenik/panas tubuh).
Dia memasukkan ramuan itu ke dalam botol-botol kaca kecil bekas minuman energi yang dia pungut dari tempat sampah di kota dan sudah disterilkan dengan air mendidih.
Labelnya dia tulis tangan pakai spidol di atas kertas buku tulis sobekan, ditempel pakai nasi:
"MADU BIMA SAKTI"
Khasiat: Stamina Titan, Anti-Loyo, Punggung Baja.
Disclaimer: Jangan diminum kalau jomblo (sayang energinya).
Bara membawa 20 botol ramuan itu dan dua keranjang telur ke pangkalan Truk di Jalan Raya , pinggiran hutan, dia tidak mau bawa yang lainnya karena kerepotan.
Target pasarnya jelas: Supir Truk dan Kuli Angkut. Orang-orang yang butuh tenaga kuda tapi kurang tidur.
Di sebuah warung kopi pinggir jalan, sekelompok supir truk sedang duduk lemas. Mata panda, wajah kusam.
Bara masuk dengan gaya Sales profesional.
"Selamat siang, Bapak-bapak pejuang rupiah!" sapa Bara lantang.
Para supir menoleh malas, karena capek "Hmm"
Bara meletakkan satu botol Madu Bima Sakti di meja. Cairan di dalamnya berwarna merah emas, kental dan menggoda.
"Saya hanya menawarkan solusi nih. Siapa di sini yang pinggangnya mau patah? Yang nyetir 2 jam udah ngantuk? Yang kalau pulang ke rumah dimarahin istri karena 'lemah'?"
Seorang supir bertubuh tambun, Pak Tejo, mengangkat tangan ragu. "Gue sih. Rematik kumat, mata sepet."
"Bapak Tejo," Bara menyodorkan botol itu. "Minum ini. Gratis. Dijamin setelah itu tubuh bapak akan lebih bertenaga, dan membuat mata melek, tapi kalau tidak terjadi apa-apa, saya traktir kopi satu warung."
Pak Tejo ragu, tapi karena gratis, dia minum.
Glek.
Reaksinya instan.
Mata Pak Tejo melebar.
Sensasi hangat (panas, sebenarnya) menjalar dari tenggorokan ke lambung, lalu menyebar ke seluruh pembuluh darah. Jahe mutan dan madu hutan itu memacu jantung dan aliran darah seketika.
"Wuidih!" Pak Tejo berdiri. Wajahnya merah segar. Keringat bercucuran. "Puanas, Mas! Tapi... enak! Badan enteng! Mata melek!"
Pak Tejo meregangkan tangannya, bunyi krek-krek tulang terdengar. Dia merasa bertenaga seperti habis tidur 8 jam.
"Gila! Jamu apa ini Mas?! Rasanya kayak ditonjok Mike Tyson tapi enak!"
Supir lain melihat perubahan drastis itu. Dari zombie jadi superman.
"Woy, mau dong! Berapaan?!"
Bara tersenyum tipis. Ikan sudah memakan umpan.
"Satu botol, 50 ribu rupiah. Mahal? Tentu. Karena ini bukan jamu pabrik. Ini esensi hutan yang diracik dengan kearifan lokal tingkat tinggi."
"Bungkus dua!"
"Gue tiga buat stok!"
"Ada diskon nggak?!"
Dalam waktu 10 menit, 20 botol ludes.
Bara mengantongi Rp 1.000.000 bersih.
Bara juga menawarkan telurnya.
"Ini Telur Ayam Kampung Super. Kuning telurnya oranye pekat. Makan satu, kenyang sampai sore."
Telur itu laku keras dijual 5.000 per butir (harga premium). Total tambah Rp 120.000.
Bara duduk menghitung uangnya di pojok warung sambil menyeruput es teh manis.
"Satu juta seratus dua puluh ribu dalam sehari," gumam Bara. "Kalau aku tingkatkan produksi, sebulan lagi aku bisa beli motor bekas buat operasional."
Tiba-tiba, Pak Tejo mendekat lagi.
"Mas... ini ramuannya..." bisik Pak Tejo malu-malu. "Ada efek sampingnya nggak?"
"Kenapa Pak?"
"Anu... kok 'burung' saya jadi semangat banget ya? Padahal lagi nggak mikir jorok."
Bara tertawa kecil. "Itu efek pembuluh darah bergerak lancar, Pak. Nikmati saja. Sampaikan salam saya buat Ibu di rumah."
Pak Tejo nyengir lebar. "Besok bawa lagi ya Mas! Gue borong!"
Bara berjalan pulang ke hutan dengan langkah ringan. Tas kreseknya kini berisi uang dan pesanan baru: Botol kaca kosong yang lebih banyak.
Di markas tebing, Sersan Jago, Sri, dan Tati menyambutnya. Anak-anak ayam berlarian.
"Kita kaya, Pasukan," kata Bara, melempar segenggam jagung (yang dia beli di warung tadi) ke arah ayam-ayamnya. "Tapi ingat, besok kerja lebih keras. Sri, Tati, target besok 30 telur.
Bara menatap matahari terbenam. Kerajaannya mulai bangkit.
Dari seorang gelandangan yang berebut roti busuk, kini jalannya sudah mulai terarah dimulai dari Juragan Madu, Ayam Mutan, Ikan, lele kualitas super, Dan ada udang bibit unggul .
Dan tentu saja ini baru permulaan, target nya masih jauh, di dalam diri bara ada informasi yang belum pernah bocor sebelum.
Dia adalah seorang pemuda kaya pada dulunya, tapi orang tua nya di jebak oleh seseorang yang amat di percaya keluarganya, keluarganya hancur, ayah dan ibunya meninggal karena depresi berlebihan dan bara menjadi gelandangan yang amat kemiskinan, sedangkan orang-orang yang mencelakai keluarganya berfoya-foya menikmati hasil dari kerja keras yang telah di lakukan orang tuanya selama hidup.
Targetnya tentu balas dendam dengan cara yang tak biasa, dia ingin mengambil alih semua yang pernah dia miliki, tapi sebelum itu dia akan membangun kariernya sendiri terlebih dahulu.