NovelToon NovelToon
Dibalik Tumpukan Digit

Dibalik Tumpukan Digit

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:407
Nilai: 5
Nama Author: Syintia Nur Andriani

Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Bara dalam Sekam dan Kedatangan Sang Pemantik

Bab 4: Bara dalam Sekam dan Kedatangan Sang Pemantik

​Gairah yang meledak di ruang kerja itu menyisakan napas yang memburu dan kehampaan yang semakin lebar. Reihan melepaskan cengkeramannya, merapikan kemejanya yang kini kusut masai dengan gerakan mekanis. Ia tidak menatap Arini. Matanya kembali dingin, seolah-olah keintiman brutal yang baru saja terjadi hanyalah sebuah gangguan dalam jadwal hariannya.

​"Kembalilah ke kamarmu, Arini," ucap Reihan tanpa nada. "Lupakan apa yang kau lihat di brankas itu jika kau masih ingin menikmati kenyamanan rumah ini."

​"Kenyamanan?" Arini tertawa getir, suaranya melengking di ruangan yang sunyi itu. "Kau pikir sofa kulit dan lantai marmer ini bisa menghangatkan hatiku yang mati rasa? Kau menjual jiwamu pada keluarga Dirgantara, Reihan! Kau menjadi budak dari orang-orang yang menghancurkan ayahmu!"

​Sebelum Reihan sempat membalas, suara bel pintu depan berbunyi berkali-kali—suatu hal yang tidak biasa di pagi buta seperti ini. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer di bawah, diikuti suara asisten rumah tangga yang terdengar bingung dan tidak berdaya menghalangi sang tamu.

​"Tuan Reihan ada di atas? Oh, jangan khawatir, aku punya urusan mendesak yang tidak bisa menunggu protokol asisten rumah tangga," suara seorang wanita terdengar nyaring, penuh percaya diri, dan membawa nada otoritas yang kental.

​Reihan menegang. Wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi kaku. "Sial," desisnya.

​Pintu ruang kerja terbuka tanpa ketukan. Seorang wanita cantik dengan gaun merah menyala dan blazer hitam tersampir di bahunya berdiri di sana. Dia adalah Bianca Dirgantara, putri tunggal dari pemilik Dirgantara Group—wanita yang selama ini menjadi atasan langsung Reihan sekaligus orang yang digosipkan memiliki hubungan "khusus" dengan suaminya di kantor.

​Bianca menatap pemandangan di depannya dengan alis terangkat. Ia melihat Arini yang berantakan dengan rambut kusut dan map cokelat yang berhamburan di lantai, lalu beralih pada Reihan yang tampak terdesak.

​"Oh, apakah aku mengganggu sesi 'pemanasan' pagi kalian?" Bianca tersenyum sinis, masuk ke dalam ruangan tanpa merasa bersalah. Aroma parfumnya yang menyengat langsung memenuhi ruangan, menyingkirkan aroma Arini.

​"Bianca, apa yang kau lakukan di rumahku?" tanya Reihan dengan nada rendah yang memperingatkan.

​"Papaku ingin bertemu sekarang, Reihan. Ada masalah dengan audit di divisi yang kau pimpin. Katanya ada 'kebocoran' dana yang mengalir ke akun anonim," Bianca mendekat ke arah Reihan, jemarinya yang berkutek merah darah menyentuh kerah kemeja Reihan, merapikan dasinya yang miring dengan gerakan yang sengaja dibuat intim di depan mata Arini. "Dan aku melihat kau sedang sibuk... membereskan 'sampah' masa lalu?"

​Mata Bianca melirik ke arah map cokelat di lantai. Ia tahu. Arini bisa merasakannya. Bianca tahu tentang dendam Reihan, dan mungkin dia sedang memainkan permainan kucing dan tikus dengan suaminya.

​Arini berdiri tegak, mencoba mengumpulkan sisa-sisa martabatnya. "Keluar dari rumahku, Bianca. Urusan kantor harusnya tetap di kantor."

​Bianca tertawa, suara tawanya terdengar seperti pecahan kaca. "Rumahmu? Sayang sekali, Arini. Tahukah kau bahwa sertifikat tanah rumah megah ini sebenarnya masih atas nama perusahaan ayahku sebagai jaminan pinjaman pribadi suamimu? Kau hanya menumpang di atas kemurahan hati keluarga Dirgantara."

​Dunia Arini seolah runtuh. Ia menatap Reihan, mencari bantahan, namun Reihan hanya diam dengan rahang yang mengeras.

​"Reihan... apakah itu benar?" bisik Arini lirih.

​"Aku melakukannya demi modal awal, Arini! Untuk membangun posisi!" Reihan membela diri, namun suaranya terdengar pecah.

​Bianca berjalan mengitari Arini, seolah sedang menilai barang rongsokan. "Kasihan sekali kau, Arini. Kau memohon perhatian pada seorang pria yang bahkan tidak memiliki lantai tempatnya berdiri. Reihan milikku di kantor, dia milik ambisiku, dan segera... dia akan menjadi milikku seutuhnya saat rencananya yang bodoh itu gagal total."

​Bianca kemudian mendekat ke telinga Arini, berbisik cukup keras agar Reihan juga mendengarnya. "Kau tahu kenapa dia sangat bersemangat bekerja? Karena setiap kali dia merasa bersalah padamu, dia melarihkannya padaku. Kami berbagi rahasia yang tidak akan pernah bisa kau pahami dengan otak 'istri rumahan'-mu itu."

​Panas. Suasana di ruangan itu bukan lagi sekadar konflik rumah tangga, tapi sudah menjadi medan perang. Arini yang selama ini diam dan sabar, merasakan sesuatu di dalam dirinya meledak. Ia melangkah maju dan tanpa ragu mendaratkan tamparan keras di pipi Bianca.

​PLAK!

​Suasana menjadi hening seketika. Bianca memegang pipinya yang mulai memerah, matanya menyala penuh kebencian. Reihan terkejut, namun ia tidak bergerak untuk membela siapapun.

​"Keluar. Sekarang," desis Arini dengan suara yang dalam dan mengancam. "Atau aku akan memastikan seluruh skandal kebocoran dana yang kau sebutkan tadi sampai ke telinga pers pagi ini juga. Aku mungkin 'istri rumahan', tapi aku tahu di mana Reihan menyimpan semua salinan digitalnya."

​Bianca mendengus, mencoba memperbaiki posisinya. "Kau akan menyesal telah menyentuhku, Arini. Reihan, aku tunggu di mobil. Lima menit, atau kau kehilangan segalanya."

​Bianca melangkah keluar dengan hentakan kaki yang kasar. Tinggallah Arini dan Reihan dalam puing-puing kehancuran mereka.

​"Kau keterlaluan, Arini," kata Reihan pelan. "Dia bisa menghancurkan kita dalam sekejap."

​"Kita sudah hancur, Reihan! Kita sudah hancur sejak kau membawa iblis itu masuk ke dalam hidup kita!" Arini berteriak, air matanya kini mengalir deras bukan karena sedih, tapi karena amarah yang meluap. "Pergilah! Pergi bersamanya! Cari uangmu, cari dendammu! Tapi jangan pernah berharap bisa pulang dan menemukan pelukanku lagi!"

​Reihan menatap Arini dengan tatapan yang sangat kompleks—ada penyesalan, ada amarah, namun ada juga secercah rasa kagum yang ia sembunyikan. Tanpa sepatah kata pun, Reihan memungut map cokelat itu, memasukkannya kembali ke brankas, lalu berjalan keluar mengikuti Bianca.

​Arini jatuh terduduk di lantai ruang kerja yang dingin itu. Di tangannya, ia menyadari ia sempat merampas ponsel lama dari brankas tadi saat Reihan tidak melihat. Ponsel lama yang berisi rahasia tahun 1998.

​"Jika kau ingin bermain dengan api, Reihan," bisik Arini pada kegelapan, "maka aku yang akan membakar seluruh istana pasirmu ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!