Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.
Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.
Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.
"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: BUNGA DI ANTARA RETAK-RETAK
Musim kemarau tiba dengan kekerasannya sendiri. Tanah di Makassar retak-retak seperti kulit ular tua, dan langit putih membara sepanjang hari. Tapi di antara retakan itu, sesuatu tumbuh: tunas-tunas kehidupan baru yang keras kepala.
Bima sekarang sebelas tahun. Dia tidak lagi menjadi "ibu kecil" setelah surat Maya, dia perlahan mengizinkan dirinya menjadi anak lagi. Dia bergabung dengan klub matematika di sekolah, dan dua kali seminggu dia pulang agak larut karena latihan. Wajahnya lebih cerah, meski sesekali masih terlihat melamun memandangi sesuatu yang hanya dia lihat.
Kinan tujuh tahun, dengan dua gigi depan yang copot sehingga bicaranya sedikit cadel. Dia menjadi "artis keluarga" dinding rumah kami sekarang penuh dengan gambarnya. Ada gambar Maya dengan sayap malaikat. Gambar kami semua berlima mengelilingi matahari. Gambar rumah dengan atap berwarna pelangi.
Dan Aisyah... Aisyah sekarang dua tahun. Dia bisa berlari, meski sering jatuh. Bicaranya masih terbatas, tapi satu kalimat yang dia kuasai sempurna: "Mi... ma." "Mi" untuk Bima, "ma" untuk Maya. Seolah-olah dalam pikirannya yang masih sederhana, Bima adalah pengganti ibunya.
---
Tapi pertumbuhan itu datang dengan tumbukan baru.
Suatu Senin pagi, kepala sekolah memanggilku lagi. Kali ini bukan tentang Bima, tapi tentang Kinan.
"Kinan sering menangis di kelas," kata Bu Kepala dengan wajah prihatin. "Dan... dia bicara pada teman khayalannya. Namanya 'Mama Maya'."
Aku menghela napas. "Dia rindu ibunya."
"Kami paham. Tapi ini mulai mengganggu belajarnya. Dan anak-anak lain... mulai menjauhinya. Mereka bilang dia aneh."
Anak-anak bisa kejam tanpa menyadari kejamnya. Kata "aneh" itu seperti pisau kecil.
"Apakah ada yang bisa sekolah lakukan?"
"Kami punya konselor. Tapi... mungkin Kinan butuh lebih. Terapi mungkin."
Terapi. Kata itu lagi. Tapi kali ini bukan untuk penyakit fisik, tapi untuk luka jiwa. Luka karena kehilangan ibu di usia terlalu dini, ketika dunia masih ajaib dan ibu adalah pusatnya.
Aku setuju. Dan setiap Kamis sore, Kinan pergi ke Bu Tari, psikolog anak.
Pertemuan pertama, Kinan diam sepanjang sesi. Hanya menggambar.
Pertemuan kedua, dia bicara tentang Mama.
Pertemuan ketiga, Bu Tari meneleponku. "Bapak Raka, bisa datang sendiri? Ada sesuatu yang perlu kita bicarakan."
---
Bu Tari, perempuan berusia empat puluhan dengan mata lembut dan suara seperti musik, menyambutku di ruangannya yang penuh mainan.
"Kinan punya cara unik berduka," mulainya. "Dia menciptakan dunia paralel. Di dunianya, Mama Maya masih hidup. Tapi sebagai malaikat yang hanya dia lihat."
"Apa itu sehat?"
"Untuk sementara, itu mekanisme pertahanan. Tapi... ada sesuatu lain." Dia menunjukkan gambar Kinan. "Dia menggambar keluarganya dengan enam orang, bukan lima."
Enam? Aku melihat gambar: aku, Bima, Kinan, Aisyah, Maya dengan sayap... dan satu figur samar-samar di sampingku.
"Siapa ini?" tanyaku.
"Menurut Kinan, itu 'calon mama baru'. Karena menurutnya, Bapak terlalu sedih sendirian, dan Bima terlalu capek jadi pengganti ibu."
Dadaku sesak. "Dia... berpikir begitu?"
"Anak-anak lebih peka dari yang kita kira. Mereka merasakan ketidakseimbangan. Dan Kinan, dengan caranya sendiri, mencoba memperbaiki."
"Tapi aku tidak mencari istri baru."
"Menurut Kinan, Bapak tidak perlu mencari. 'Nanti datang sendiri, seperti hujan', katanya."
Metafora yang anehnya sangat Maya. Seperti warisan cara berpikir yang turun pada anaknya.
---
Pulang dari psikolog, aku mengajak Kinan makan es krim. Duduk di bangku taman dekat rumah, dia bertanya: "Om, kenapa orang dewasa takut sendirian?"
"Kadang, ya."
"Tapi sendirian nggak selalu buruk kan? Adek juga kadang sendirian waktu gambar. Tapi senang."
"Sendirian dan kesepian berbeda, Kinan."
"Kalau gitu, Om kesepian?"
Pertanyaan langsung anak tujuh tahun. Aku berpikir sejenak. "Kadang. Tapi... aku punya kalian."
"Tapi kita anak-anak. Bukan istri." Dia menyeruput es krim. "Aisyah butuh ibu. Bima butuh ibu. Kinan butuh ibu. Om juga butuh istri."
"Kamu terlalu bijak untuk umurmu, Kinan."
"Dari Mama. Kata Mama, kebijaksanaan itu seperti benih. Tumbuh ketika dibutuhkan."
Lagi-lagi, Maya. Selalu Maya. Melalui anak-anaknya, dia masih berbicara. Masih mengajar.
---
Malam itu, aku bicara pada Bima. Tentang apa yang dikatakan Kinan.
Bima mengangguk. "Aku juga mikir begitu, Om."
"Kamu juga?"
"Iya. Aku nggak bisa terus jadi pengganti ibu buat Kinan dan Aisyah. Aku mau jadi kakak. Bukan ibu."
"Apa kamu merasa terbebani?"
"Dulu iya. Tapi sejak baca surat Mama... aku tahu itu bukan tugasku." Dia memandangiku. "Om masih muda. Tiga puluh empat tahun. Masih bisa cari istri baru."
"Tapi—"
"Kita nggak akan lupa Mama. Tapi kita butuh ada yang urus kita. Yang masak. Yang jagain waktu Om kerja. Yang... yang peluk kita waktu sedih."
Air mata menggenang di matanya. "Aku capek harus jadi yang kuat terus, Om. Aku mau ada yang bisa andalkan. Bukan cuma Om."
Pukulan itu keras. Karena aku pikir aku sudah cukup. Ternyata tidak. Karena anak-anak butuh figur ibu. Dan Bima, meski berusaha, bukan ibu. Dia anak yang juga butuh ibu.
---
Tiga minggu kemudian, takdir atau mungkin Maya dari surga memainkan kartunya.
Saya bertemu Laras di perpustakaan umum.
Aku di sana mencari buku tentang single parenting untuk tugas dari Bu Tari (dia bilang aku butuh belajar). Laras di sana dengan putrinya yang seumuran Kinan, mencari buku dongeng.
Putri Laras Alika tanpa sengaja menumpahkan jusnya ke buku yang sedang kubaca. Laras panik, minta maaf berkali-kali, menawarkan ganti rugi.
"Tidak apa, cuma buku perpustakaan," kataku.
Tapi Alika menangis. "Maaf, Pak... buku Ayah nanti basah..."
"Ayah?" Laras cepat memperbaiki. "Dia bukan ayahku, Alika."
Ternyata Alika juga kehilangan ayah kecelakaan dua tahun lalu. Laras adalah janda muda, berusia tiga puluh dua tahun, bekerja sebagai guru TK.
Percakapan berlanjut ke kedai kopi dekat perpustakaan. Kami berbicara tentang kehilangan. Tentang anak-anak yang tumbuh dengan satu orang tua. Tentang kesepian yang sama tapi berbeda.
"Kadang aku merasa bersalah," aku mengaku. "Karena masih muda, tapi merasa hidup sudah selesai."
"Karena cinta pertama sudah pergi?" tanya Laras.
"Karena cinta terbesar sudah pergi."
Dia tersenyum kecil. "Cinta tidak ada ranking, Pak Raka. Cuma berbeda."
Pembicaraan itu berlangsung dua jam. Dan ketika kami berpisah, Laras berkata: "Alika butuh teman bermain. Kalau tidak keberatan, mungkin anak-anak Bapak mau main ke rumah kami?"
Aku memberikan nomor telepon. Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak Maya meninggal, aku tersenyum sendiri.
---
Kinan, ketika mendengar tentang Alika dan ibunya, langsung tertarik. "Adek mau punya teman baru!"
Bima lebih hati-hati. "Dia seperti apa, Om?"
"Baik. Guru TK. Punya anak perempuan seumuranmu, Kinan."
"Jadi dia bisa jadi guru buat kita?"
"Mungkin."
Aisyah, yang mendengar kata "teman", mengangkat tangan. "Main! Main!"
Jadi diaturlah pertemuan. Di taman bermain, Minggu pagi.
Pertemuan itu lucu dan canggung. Kinan dan Alika langsung akrab ternyata mereka suka menggambar sama-sama. Bima awalnya diam, mengamati Laras seperti menguji. Aisyah asyik dengan ayunan.
Laras membawa kue, kue coklat. Dan ketika Kinan mencicipi, dia berkata: "Rasanya mirip kue Mama, cuma kurang manis."
Laras tertawa. "Resep ibuku. Dia selalu bilang, gula terlalu banyak tidak baik untuk gigi."
"Tapi enak," puji Kinan. "Bikin lagi ya, Bu."
Panggilan "Bu" itu spontan. Dan aku melihat Bima melirikku, seperti bertanya: ini terlalu cepat?
Tapi Laras tidak keberatan. Malah tersenyum. "Boleh. Lain kali kita bikin bareng."
---
Pertemuan menjadi rutin. Minggu pagi di taman. Kadang makan siang bersama. Laras mengajari Kinan menggambar teknik baru. Alika dan Kinan seperti saudara yang sudah lama terpisah.
Dan Bima... Bima perlahan mencair. Suatu hari, Laras membantu Bima mengerjakan proyek sains sesuatu tentang tanaman dan retakan tanah. Mereka berdua asyik membicarakan akar dan ketahanan.
"Tanaman paling kuat tumbuh di tanah paling keras," kata Laras. "Karena terpaksa mencari jalan melalui retakan."
"Seperti keluarga kami?" tanya Bima.
"Seperti semua keluarga yang bertahan."
Malam itu, Bima berkata padaku: "Dia baik, Om. Dan... dia tidak mencoba jadi Mama."
"Tidak?"
"Iya. Dia jadi Laras. Dan itu cukup."
Kata-kata bijak lagi. Dari anak sebelas tahun.
---
Tapi tidak semua mulus. Suatu malam, Kinan terbangun menangis.
"Kenapa, Sayang?" tanyaku, masuk ke kamarnya.
"Adek mimpi Mama marah. Bilang Adek ganti Mama dengan orang lain."
"Oh, Kinan..." Aku memeluknya.
"Adek takut. Takut lupa Mama. Takut... kalau senang sama Bu Laras, berarti nggak sayang Mama lagi."
"Cinta tidak terbatas, Sayang. Seperti warna pelangi banyak, tapi tidak saling menggantikan. Kamu bisa cinta Mama, dan juga suka Bu Laras. Tidak ada yang hilang."
"Tapi di hati Adek cuma ada satu tempat untuk ibu."
"Tempat itu selalu untuk Mama. Tapi ada ruang lain untuk orang baik yang peduli padamu."
Dia diam, berpikir. "Seperti kamar tamu? Tempat tidur utama selalu kamar Mama, tapi ada kamar tamu untuk tamu baik?"
"Persis seperti itu."
Kinan tersenyum kecil. "Kalau gitu... Adek mau Bu Laras jadi tamu baik. Bukan ganti Mama."
"Tidak ada yang bisa ganti Mama, Kinan. Tidak akan pernah."
---
Bulan berikutnya, Rangga datang berkunjung. Dan kebetulan, Laras dan Alika sedang di rumah kami sedang membantu Kinan membuat kue untuk tugas sekolah.
Perkenalan itu canggung. Rangga, mantan suami Maya. Aku, suami sekarang. Laras, perempuan baru dalam hidup kami.
Tapi Rangga, yang sudah banyak belajar, tersenyum. "Senang bertemu, Bu Laras. Anak-anak sering cerita."
"Senang bertemu juga, Pak Rangga." Laras menjabat tangannya.
Mereka bicara sebentar. Tentang anak-anak. Tentang pendidikan. Dan ketika Rangga akan pergi, dia berkata padaku: "Dia baik, Raka. Maya akan senang."
"Kamu pikir?"
"Maya selalu ingin yang terbaik untuk kalian. Dan... dia tidak egois. Dia tahu cinta tidak mati bersamanya."
Kata-kata itu melegakan. Seperti restu dari dua arah dari masa lalu dan masa depan.
---
Hari ulang tahun Maya yang pertama tanpa dia. Kami merayakannya dengan cara sederhana: ke makam, bawa bunga, lalu makan bersama di rumah dengan makanan kesukaannya.
Laras menawarkan bantuan, tapi aku menolak. "Ini hari keluarga. Tapi terima kasih."
Dia mengerti. "Beri tahu kalau butuh apa pun."
Di makam, Kinan meletakkan gambar terbarunya: keluarga kami dengan Maya sebagai malaikat di atas, tersenyum. Bima meletakkan nilai rapor sempurna matematika. Aku meletakkan bunga matahari—bunga yang selalu disukai Maya karena "selalu mencari cahaya".
"Aku rindu Mama," bisik Kinan.
"Kita semua rindu," kata Bima, memegang tangan adiknya.
"Tapi kita baik-baik saja," aku menambahkan. "Seperti yang Mama mau."
Dan mungkin, di suatu tempat, Maya tersenyum. Karena keluarganya bertahan. Tumbuh. Bahkan mulai membuka hati untuk kemungkinan baru.
Bukan karena melupakannya.
Tapi karena menghormati pelajaran yang dia tinggalkan: bahwa cinta itu seperti taman.
Bisa ada banyak bunga.
Bunga yang sudah layu tidak dilupakan.
Tapi tanah tetap bisa ditanami bunga baru.
Dan taman itu jadi lebih indah karena punya sejarah, dan punya harapan.
Kami pulang dengan hati lebih ringan. Dan di depan rumah, Laras dan Alika menunggu dengan kue tidak masuk, hanya meninggalkan di depan pintu dengan pesan: "Untuk keluarga terkuat yang kami kenal."
Kinan mengambil kue itu, tersenyum. "Tamu baik sudah datang, Om."
"Iya, Sayang. Tamu baik sudah datang."
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak Maya pergi, kami tertawa benar-benar. Bukan tawa pelan yang terasa bersalah. Tapi tawa lepas, seperti keluarga yang mulai belajar bahwa kebahagiaan bukan pengkhianatan pada kesedihan.
Keduanya bisa hidup berdampingan.
Seperti bunga di antara retakan.
Tumbuh bukan meski ada retakan.
Tapi justru karena ada retakan karena retakan itu membuat akar mencari jalan lebih dalam, membuat batang tumbuh lebih kuat, membuat bunga mekar lebih cerah.
Keluarga kami adalah taman dengan retakan-retakan.
Tapi lihat di sana-sini, ada bunga.
Masih ada bunga.
Dan selama masih ada bunga, masih ada harapan.
Masih ada kehidupan.
Masih ada cinta.