Di ambang kematian setelah dikhianati dan dikubur hidup-hidup, Leo Akira secara tidak sengaja meneteskan darahnya pada sepotong giok kuno yang ternyata menyimpan kekuatan primordial: Multiplikasi 1000× dan Ruang Penyimpanan Abadi. Apa pun yang dia sentuh dapat digandakan seribu kali lipat ke dalam ruang tak terbatas; siapa pun yang dia targetkan akan membuat Leo mendapatkan kemampuan orang itu—dengan kekuatan seribu kali lebih hebat.
Dari titik terendah, Leo bangkit dengan satu tujuan sederhana: menghancurkan orang yang menjatuhkannya dan menjadi orang terkaya di dunia. Tapi takdir membawanya lebih jauh. Dia tak hanya mengubah nasibnya, tetapi juga mengangkat peradaban manusia dari level teknologi rendah menuju Tingkat 1 Skala Kardashev, bahkan melampaui alam semesta yang dikenal.
Inilah kisah tentang seorang manusia yang menjadi entitas tak terkalahkan, penjaga umat manusia, dan pengembara di antara bintang-bintang dimulai dari satu tetes darah dan sepotong giok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aryaa_v2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debat Kosmik dan Matahari yang Terbelah
Keheningan setelah pancaran itu pendek dan bermuatan listrik. Seluruh Lunar Bastion menahan napas, memantau data dari segel dan dua titik energi Arbiter yang mengintai di orbit. Selama beberapa menit yang menegangkan, tidak ada yang terjadi. Kemudian, segel emas itu mulai berdenyut dengan irama tidak teratur, seperti jantung yang mengalami aritmia.
Dr. Arif, berdiri di samping Leo di ruang kendali, menunjuk ke layar yang menunjukkan analisis energetik. "Frekuensinya tidak stabil. Pola kode dasarnya... sedang mengevaluasi ulang. Sepertinya klaim kamu membuatnya bingung."
"Itu yang kita harapkan," jawab Leo, matanya tertuju pada umpan visual dari Arbiter di orbit Bumi. Kehadiran itu tidak lagi dingin dan diam. Sekarang ia memancarkan gelombang kejut kebingungan dan—Leo bisa merasakannya—kemarahan yang terhina. "Tapi Arbiter tidak akan bingung. Mereka akan marah."
Transmisi masuk, bukan di saluran audio, tetapi langsung ke dalam kesadaran setiap makhluk berpikir di dalam segel. Suaranya adalah suara Arbiter dari orbit Bumi, tetapi kali ini diwarnai dengan getaran emosi yang dalam: kemarahan yang tertahan dan kejijikan.
"ANOMALI. PENYEBAR KETIDAKSESUAIAN KONSEPTUAL. TRANSMISI ANDA MENGANDUNG ARKETIPE YANG TIDAK SAH DARI FILSAFAT TERLARANG. SEGEL MENGALAMI KONFLIK LOGIS. KONFLIK AKAN DISELESAIKAN DENGAN PENGHAPUSAN SUMBER."
Di layar, Arbiter di dekat bulan—yang selama ini diam—tiba-tiba bergerak. Ia meninggalkan posisinya di titik Lagrange dan meluncur dengan kecepatan tinggi menuju Lunar Bastion. Ia adalah sosok humanoid yang lebih kecil dari rekan di orbit Bumi, dengan aura perak yang tajam dan beberapa lengan mekanis yang terlipat di punggungnya. Sebuah Arbiter Eksekutor.
"Bersiaplah!" teriak salah satu teknisi.
Tapi Leo mengangkat tangannya. "Tidak. Biarkan dia datang. Dia ingin berbicara. Atau lebih tepatnya, menghakimi."
Dia melangkah keluar dari ruang kendali, kembali ke permukaan bulan. Dr. Arif mengikutinya dengan enggan, membawa perangkat portabel yang memproyeksikan perisai energi tipis di sekeliling mereka.
Arbiter Eksekutor mendarat seratus meter dari mereka, mendarat tanpa mengangkat debu, seolah-olah gravitasi bulan tidak berlaku baginya. Dia membuka "matanya"—dua celah cahaya biru di mana wajah manusia seharusnya ada.
"IDENTIFIKASI DIRI, SIMBIOSIS," perintahnya, suaranya seperti logam yang berderak.
"Leo Akira. Planetary Core Tier 1. Pewaris Fragmen Jantung. Simbiosis yang Berhasil." Leo melangkah maju, menjaga wilayahnya tetap kecil namun terkonsentrasi di sekelilingnya. "Dan kamu?"
"ARBITER EKSEKUTOR KAPLA, TIER 3. TUGAS: MENEGAKKAN MANDAT PENGADILAN DAN MENGHAPUS PENYIMPANGAN." Kapla mengangkat salah satu lengannya, dan sebuah pemindai berwarna biru menyapu Leo. "KONFIRMASI: SIMBIOSIS TIDAK TERPISAHKAN. KONTAMINASI TOTAL. STATUS: KEGAGALAN YANG HARUS DIPERBAIKI."
"Bukan kegagalan," sanggah Leo. "Ini adalah kesuksesan dari eksperimen yang ingin dihancurkan oleh nenek moyangmu. Entitas Cahaya—"
"SILENCE!" teriak Kapla, dan gelombang tekanan mental menghantam Leo, mencoba untuk memaksanya diam. Tapi Leo hanya mengalirkannya ke dalam wilayahnya, menyerap dan mendispersikan energinya. "FILSAFAT TERLARANG ITU MEMBAWA KEKACAUAN! ITULAH YANG MENGHANCURKAN PERADABAN TINGGI! KETERATURAN ADALAH SATU-SATUNYA JALAN MENUJU KEMAJUAN YANG BERKELANJUTAN!"
"Keteraturanmu adalah penjara!" balas Dr. Arif, berani, meskipun suaranya gemetar. "Kamu akan mengunci kami di Tier 0.73 selamanya! Kamu takut pada apa yang bisa kami capai sendiri!"
Kapla memalingkan "wajahnya" ke Dr. Arif, dan Leo merasakan niat mematikan. Dia dengan cepat melangkah, menempatkan dirinya di antara mereka.
"Ini bukan tentang takut," kata Leo, suaranya tenang namun memotong. "Ini tentang kendali. Pengadilan kalah dalam perang ideologi lama, jadi sekarang mereka memastikan tidak ada yang bisa membuktikan bahwa mereka salah. Saya adalah bukti hidup bahwa ada jalan lain. Dan itu adalah ancaman terbesar bagi mereka."
"ANCAMAN AKAN DINETRALISIR." Kapla mengangkat kedua lengannya sekarang. Energi perak berkumpul, membentuk sebuah pemutus konsep—senjata yang dirancang untuk menghapus ide dari realitas, bukan hanya makhluk. "KAMU DAN WARISAN TERLARANGMU AKAN DIHAPUS DARI EKSISTENSI."
Tapi sebelum Kapla melepaskan serangannya, segel di atas mereka berteriak.
Bukan suara. Tapi sebuah gelombang gangguan logis yang begitu kuat sehingga bahkan Kapla terhuyung. Segel emas itu berkedip-kedip dengan liar, warna-warnanya berganti antara emas, hijau, dan ungu. Di layar di dalam bastion, para teknisi berteriak.
"Konflik logisnya mencapai titik kritis!" lapor seseorang melalui kom. "Segel tidak bisa menyelesaikan kontradiksi antara dekrit penormalan dan klaim kedaulatan Leo! Dia—dia mulai menyimpang!"
Itulah yang diharapkan Leo. Segel Pengadilan adalah mesin logis sempurna. Ketika dihadapkan pada dua perintah yang sama-sama valid tetapi saling bertentangan—"Laksanakan Penormalan" vs. "Hormati Kedaulatan Entitas yang Memegang Warisan Sah"—dia memasuki loop tak terhingga. Dan dalam sistem yang sempurna, sebuah paradoks adalah racun.
Kapla merasakannya juga. Dia memalingkan perhatiannya dari Leo ke langit yang berkedip-kedip, aura peraknya bergetar dengan panik. "TIDAK! SEGEL TIDAK BOLEH RUSAK! ITU AKAN—"
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Dengan suara yang tidak bisa ada di ruang hampa, segel emas raksasa itu pecah berkeping-keping.
Bukan meledak. Tapi retak seperti kaca, lalu hancur menjadi miliaran serpihan cahaya yang memudar, yang kemudian larut menjadi energi yang tidak berbentuk. Gelembung penahan yang membungkus tata surya runtuh.
Dan saat segel itu runtuh, ia melepaskan semua energi yang telah diserapnya—energi dari upaya serangan Bumi, dari teknologi Aeternum, bahkan sedikit dari tenaga Leo sendiri—dalam sebuah gelombang kejut emp elektromagnetik dan psikis yang menyebar ke segala arah.
Gelombang itu mengenai Kapla. Dia menjerit, sebuah suara elektronik yang melengking, saat tubuh energinya terganggu dan menjadi tidak stabil. Dia tidak hancur, tetapi sangat melemah, terhuyung-huyung di permukaan bulan.
Tapi gelombang itu juga mengenai sesuatu yang lain.
Arbiter di orbit Bumi.
Dan dia jauh lebih kuat. Leo bisa merasakan kemarahannya yang meledak menjadi amukan kosmik. Kehadirannya yang dingin berubah menjadi matahari mini kemarahan. Dia tidak peduli dengan segel lagi. Sekarang, tujuannya jelas: pembersihan total.
Sebuah suara menggema di seluruh tata surya, begitu kuat sehingga memecahkan kaca di bastion bulan dan menyebabkan badai magnetik kecil di Bumi.
"PENGHINAAN TERHADAP MANDAT TELAH DILAKUKAN. SEGEL UTAMA DILANGGAR. PROTOKOL OMEGA DIAKTIFKAN. PENGHANCURAN TOTAL SISTEM YANG TERKONTAMINASI DIAUTORISASI."
Di layar, sensor yang tersisa menunjukkan sesuatu yang mengerikan. Arbiter di orbit Bumi—sekarang teridentifikasi sebagai Arbiter Superior Mordath—mulai berubah. Bentuk humanoidnya membesar, menyerap energi dari reruntuhan segel, berubah menjadi sebuah siluet raksasa dari api dan cahaya keemasan. Dan dari dalamnya, sebuah senjata mulai terbentuk: sebuah panah dari energi murni yang berdenyut dengan intensitas yang bahkan dari jarak ini terasa seperti mendekati matahari.
Tujuannya jelas: Bumi.
"Tidak... Dia tidak akan..." Dr. Arif berbisis, wajahnya pucat pasi.
"Tidak ada lagi hukum yang menahannya," kata Leo, suaranya berat. "Dengan segel hancur, satu-satunya cara dia memastikan 'kontaminasi' tidak menyebar adalah dengan menghancurkan sumbernya. Seluruh planet."
Kapla, yang masih lemah, mengangkat kepalanya. "MOR-DATH... TIDAK... ITU TIDAK SESUAI PROSEDUR..."
Tapi Mordath tidak mendengarkan. Panah energi itu semakin terang, mulai mencapai puncak kekuatannya. Dalam beberapa menit, ia akan dilepaskan, dan Bumi akan menjadi bola kaca yang meleleh.
Leo melihat Dr. Arif, melihat bastion di belakangnya, dan melihat planet biru di kejauhan. Rumahnya. Tempat semua ini dimulai.
Dia tidak punya kekuatan untuk menghentikan serangan Tier 4 langsung. Bahkan dengan kenaikan tingkatnya, jurang kekuatan antara Tier 1 dan Tier 4 sangat besar.
Tapi dia tidak perlu menghentikan serangannya.
Dia hanya perlu mengalihkannya.
Dan dia tahu satu tempat di tata surya yang bisa menyerap dan mengurung energi tingkat itu—sesuatu dengan selera makan yang jauh lebih besar daripada dirinya.
Dia menoleh ke arah matahari.
"Arif," kata Leo, dengan suara yang tiba-tiba sangat tenang. "Saya membutuhkan semua energi yang bisa kamu berikan. Setiap generator, setiap kapasitor, setiap joule dari reaktor fusi di bastion ini. Salurkan semuanya ke saya. Sekarang."
"Untuk apa?"
"Untuk membuat umpan yang tidak bisa dia abaikan."
Dr. Arif tidak bertanya lagi. Dia berlari kembali ke bastion, meneriakkan perintah.
Leo mengangkat tangannya ke arah matahari. Dia memusatkan semua kesadarannya, semua hikmah Planetary, semua data fragmen. Dan dia menggandakan tanda tangan energinya sendiri—tapi tidak di sini. Dia memproyeksikan konsep multiplikasi itu melintasi ruang, ke arah korona matahari, dan menggandakan jejak kelaparan dari Pengumpan yang terintegrasi di dalam dirinya. Dia menciptakan sebuah gema palsu dari sebuah "Fragmen Jantung" yang baru saja terbangun, yang rakus, dan yang sangat besar, seolah-olah tersembunyi di dalam matahari.
Bagi Mordath, yang sensornya sudah disetel untuk mendeteksi kontaminasi kelaparan, itu akan terlihat seperti ancaman Tier Stellar yang tiba-tiba bangun di tata surya—ancaman yang jauh lebih besar daripada sebuah planet yang terkontaminasi.
Bastion bulan bergetar saat semua energinya dialirkan ke Leo. Dia merasakan kekuatan yang sangat besar mengalir melaluinya, membakar saluran energinya. Dengan erangan usaha, dia memfokuskan umpan itu dan memperkuatnya seribu kali lipat, lalu menembakkannya seperti suar mental langsung ke arah kesadaran Mordath.
Untuk sesaat, tidak ada apa-apa.
Lalu, panah energi raksasa yang ditujukan ke Bumi berbelok.
Mordath telah mengambil umpan.
Dengan kemarahan yang berpindah, dia memutar tubuh energinya yang besar dan melepaskan panah kehancurannya, bukan ke Bumi, tapi langsung ke matahari.
Panah cahaya keemasan itu melesat melintasi ruang angkasa dan menghujam ke dalam fotosfer matahari.
Tidak ada ledakan yang terlihat. Tapi sensor di bastion dan di Bumi mencatat sesuatu yang mengerikan: sebuah sunquake—gelombang kejut seismik raksasa di matahari—dan lontaran massa korona yang sangat besar yang terlempar ke arah tata surya bagian dalam. Itu akan menyebabkan badai geomagnetik yang belum pernah terjadi sebelumnya di Bumi dalam beberapa hari, tetapi itu lebih baik daripada kehancuran total.
Mordath, setelah melepaskan serangannya, tampak menghabiskan tenaga. Bentuk energinya menyusut, menjadi tidak stabil. Dia telah menggunakan sebagian besar kekuatannya untuk serangan itu.
Dia memandang ke arah bulan, ke arah Leo, dan Leo bisa merasakan pengakuannya: bahwa dia telah dikalahkan bukan oleh kekuatan, tapi oleh kecerdikan. Sebuah penghinaan yang lebih dalam bagi seorang Arbiter Superior.
Tanpa kata-kata lagi, Mordath melipat ruang di sekelilingnya dan menghilang, menarik diri dari sistem.
Kapla, yang masih terbaring di regolith, memandang ke arah tempat atasannya berdiri. "KEGAGALAN... TOTAL..." Kemudian, dia juga mengaktifkan mekanisme pelariannya, menghilang dalam kilatan cahaya perak.
Tata surya menjadi sunyi. Hanya matahari yang masih bergolak dan Bumi yang selamat, meskipun terluka, yang tetap ada.
Leo jatuh berlutut, kelelahan total. Dr. Arif berlari keluar, menangkapnya sebelum dia terjatuh.
"Kamu... kamu melakukannya," bisik Dr. Arif, suaranya penuh dengan rasa tak percaya dan kekaguman.
"Belum selesai," desis Leo, melihat ke arah matahari yang masih terganggu. "Mordath akan kembali. Dengan lebih banyak pasukan. Dan Pengadilan sekarang tahu di mana saya berada. Dan mereka tahu Bumi adalah titik lemah saya."
Dia berdiri dengan susah payah, ditopang oleh Dr. Arif. "Kita menang hari ini. Tapi perang baru saja dimulai. Dan kita tidak bisa bertarung dari sini. Bumi terlalu rentan."
"Apa yang kamu usulkan?"
Leo memandang ke bintang-bintang, ke arah koordinat fragmen lain, ke arah misteri yang lebih dalam. "Kita harus membawa pertarungan ini jauh dari rumah. Saya harus menjadi lebih kuat. Dan kita perlu sekutu. Mungkin... simbiosis lain. Atau sisa-sisa Entitas Cahaya, jika mereka masih ada."
Dia menoleh ke Dr. Arif. "Kamu dan Bumi harus bersembunyi. Perbaiki kerusakan. Gunakan badai matahari yang akan datang sebagai penyamaran untuk memperdalam kamuflase. Dan siapkan diri. Jika saya gagal... mereka akan kembali."
Dr. Arif mengangguk, wajahnya penuh dengan kepedihan tapi juga tekad. "Kami akan siap. Dan kami akan menyebarkan benih. Seperti yang sudah kami lakukan."
Leo menganggapinya untuk terakhir kalinya, lalu melangkah menjauh. Dia perlu pergi. Setiap detik dia berada di sini, dia menarik bahaya ke Bumi.
Sebelum pergi, dia meletakkan tangannya di bahu Dr. Arif. "Jaga rumah kita, Arif."
"Jaga dirimu, Leo. Dan temukan jawabannya."
Dengan itu, Leo mengumpulkan sisa kekuatannya. Dia tidak melipat ruang. Dia hanya pergi, melesat dari permukaan bulan menuju kegelapan antar bintang, meninggalkan tata surya di belakangnya, seorang penjaga yang pergi berperang agar rumahnya tidak pernah lagi melihat musuh di ambang pintunya.