NovelToon NovelToon
Jangan Lihat Gemetarku

Jangan Lihat Gemetarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Game / Idola sekolah / Komedi
Popularitas:833
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.

Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.

Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Silent Treatment

Pagi itu, langit di atas Universitas Nusantara nampak cerah tanpa awan, namun bagi Rara, udara terasa sangat tipis dan mencekik. Setiap tarikan napasnya terasa berat, seolah paru-parunya dipenuhi oleh debu-debu pengkhianatan yang terjadi semalam. Ia berdiri di depan cermin kamar kosnya cukup lama, menatap matanya yang sembap, bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena rasa tidak percaya yang masih menghantui. Bagaimana bisa seseorang yang berbagi rahasia terdalamnya bisa berbalik menikam sekejam itu?

Ia memaksakan diri untuk berangkat. Sebagai calon jurnalis, ia tahu bahwa melarikan diri hanya akan membenarkan narasi jahat yang sedang beredar. Namun, keberanian itu perlahan luntur saat ia melangkah masuk ke koridor utama gedung fakultas.

Di ujung koridor, serombongan mahasiswa dengan jaket organisasi BEM nampak berjalan cepat, menciptakan barikade manusia yang seolah tak tertembus. Di tengah-tengah mereka, Genta Erlangga berjalan dengan langkah yang sangat tegap. Ia nampak seperti seorang penguasa yang baru saja memenangkan pertempuran besar. Wajahnya bersih, rambutnya rapi, dan matanya menatap lurus ke depan dengan ketajaman yang biasa. Dingin, angkuh, dan tanpa cela.

Rara berhenti melangkah, tubuhnya mendadak kaku. Jantungnya berdegup liar, bukan karena jatuh cinta, melainkan karena perpaduan antara rasa takut dan secercah harapan yang masih tersisa. Ia berharap, setidaknya, ada sedikit gurat penyesalan, keraguan, atau sekilas permintaan maaf di wajah itu.

Saat jarak mereka hanya terpaut beberapa meter, Genta sempat melirik ke arah Rara. Selama satu detik yang terasa seperti satu milenium, mata mereka bertemu. Rara menahan napas, mencari Paladin-nya yang rapuh di balik bola mata gelap yang kini nampak seperti dinding beton itu.

Namun, tidak ada apa-apa.

Genta segera membuang muka dengan gerakan yang sangat halus namun mematikan. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke depan, melanjutkan pembicaraan serius dengan Kania yang berjalan di sampingnya seolah-olah Rara hanyalah sebuah pilar mati, bayangan yang tidak pernah ada, atau serpihan debu yang mengganggu pemandangan.

Seketika, sebuah rasa nyeri yang tajam menghujam dada Rara. Itu bukan nyeri fisik seperti tertusuk pedang naga di game yang bisa dipulihkan dengan mantra, melainkan rasa nyeri yang dingin, hampa, dan menyesakkan. Rasanya seperti jantungnya baru saja diremas dan dibuang ke dasar samudra es. Di tengah keramaian koridor yang bising oleh tawa mahasiswa lain, Rara merasa benar-benar tidak kasat mata, dihapus dari eksistensi oleh orang yang paling ia percayai.

***

Pengucilan itu tidak hanya datang dari Genta, tapi merembet seperti wabah yang mematikan karakter sosialnya.

Saat memasuki kelas Jurnalistik, Maya, teman yang biasanya langsung heboh menyambutnya dengan gosip terbaru, mendadak sibuk dengan ponselnya, bahkan tidak menoleh saat Rara lewat. Rara duduk di bangku biasanya, namun pemandangan di sekelilingnya mendadak berubah. Kursi-kursi di samping dan belakangnya yang biasanya cepat terisi oleh mahasiswa yang ingin berbagi catatan, kini dibiarkan kosong melongpong. Teman-teman sekelasnya memilih untuk berdesakan di barisan lain, melemparkan tatapan curiga dan bisikan sinis seolah-olah Rara membawa penyakit menular yang bisa menghancurkan reputasi mereka jika berdekatan.

Waktu makan siang terasa jauh lebih buruk. Rara memberanikan diri ke Kantin Pusat, mencoba menunjukkan pada dunia dan dirinya sendiri, bahwa ia tidak hancur. Namun, kantin yang biasanya terasa sempit dan berisik, kini terasa sangat luas dan sunyi bagi Rara.

Ia duduk sendirian di meja panjang tengah, meja yang sama tempat Genta pernah disuapinya dengan penuh kecanggungan yang manis. Kini, tidak ada yang berani mendekat dalam radius dua meter. Suara tawa dari meja-meja lain terdengar seperti ejekan tajam yang ditujukan padanya. Setiap dentingan sendok di piring keramik terasa seperti hakim yang sedang mengetuk palu vonis bersalah. Ia menatap mangkuk sotonya yang mendingin, uapnya menghilang perlahan seperti harapannya. Ia teringat bagaimana Genta pernah tersedak es teh di depannya, wajah merah padam yang begitu manusiawi. Kini, bayangan itu terasa seperti mimpi buruk dari kehidupan orang lain yang ia curi secara tidak sengaja.

Rara adalah seorang Healer yang kini kehilangan semua mana-nya. Ia mencoba menyembuhkan dirinya sendiri dengan logika, namun logika tidak berdaya melawan dinginnya tembok pengabaian sosial.

***

Malam harinya, Rara tidak punya tempat lain untuk melarikan diri selain Fantasy World. Ia butuh 'Paladin_Z'. Ia butuh pria yang mengakui ketakutannya di balik mikrofon, bukan pria yang bersembunyi di balik pernyataan resmi organisasi bermaterai.

Begitu ia masuk ke dalam game, hal pertama yang ia lihat dengan mata berkaca-kaca adalah daftar teman di pojok layar.

Paladin_Z: Offline (Last seen: 24 hours ago).

Namanya berwarna abu-abu mati, sebuah tanda bahwa sang ksatria telah meninggalkan medan perang. Rara merasa matanya kembali memanas. Ia mengarahkan karakternya menuju Silver Stream, tempat persembunyian rahasia mereka. Biasanya, di sana mereka akan duduk berjam-jam membahas strategi konyol atau sekadar mendengarkan suara air terjun virtual.

Kini, Silver Stream terasa sangat sunyi dan asing. Suara air terjun virtual yang biasanya menenangkan, kini terdengar seperti deru statis yang memuakkan. Tidak ada pesan yang muncul di kotak dialog. Tidak ada gerakan karakter yang menunggu. Dunia virtual yang dulunya penuh warna dan petualangan kini terasa seperti kuburan digital yang luas.

Rara menyadari bahwa Genta tidak hanya mematikan ponselnya di dunia nyata, ia juga telah membunuh 'Paladin_Z' di dunia virtual. Pria itu telah menghapus satu-satunya jembatan kejujuran yang mereka miliki demi menjaga zirah peraknya tetap mengilat di mata publik. Genta memilih untuk mengubur jati dirinya demi sebuah posisi yang ia benci.

Rara menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras di kamarnya yang gelap, menatap layar monitor yang mulai buram karena air mata yang tak terbendung lagi.

Ia menyadari sebuah kenyataan yang lebih menyakitkan daripada skandal foto atau cemoohan teman-temannya. Selama ini, dia mungkin tidak sedang membangun hubungan yang tulus. Dia hanya dimanfaatkan sebagai katalisator.

Genta hanya membutuhkannya sebagai alat latihan mental, sebuah checkpoint untuk menguji keberaniannya. Rara adalah "pelatih" yang digunakan Genta untuk melihat sejauh mana dia bisa bertahan di tengah tekanan sebelum akhirnya dia merasa siap untuk kembali ke panggung kesempurnaan. Begitu Genta merasa sudah cukup "sembuh" atau ketika taruhannya menjadi terlalu besar bagi masa depannya, Genta tidak ragu untuk membuangnya seperti sampah logistik yang sudah tidak lagi berguna bagi pementasan besar bernama BEM.

"Aku bukan Healer-mu, Genta," bisik Rara pelan pada layar hitam monitornya, suaranya pecah ditelan kesunyian kamar. "Aku cuma boneka yang kamu pakai buat belajar caranya jadi berani, lalu kamu campakkan setelah kamu merasa cukup kuat untuk berdiri sendiri."

Realisasi itu menghancurkan sisa-sisa harapannya hingga tak bersisa. Ia bukan sekadar kehilangan seorang "Idola Kampus" yang diagungkan, tapi dia kehilangan sahabat terbaiknya, satu-satunya jiwa yang ia pikir benar-benar memahami kerapuhannya. Malam itu, di tengah kesunyian kamarnya yang hanya diterangi lampu jalan, Rara menyadari bahwa luka pengkhianatan adalah satu-satunya luka yang tidak pernah bisa disembuhkan dengan mantra sihir mana pun di dunia ini.

1
Hana Agustina
sabar ya genta.. menyakiti itu memang mudah banget.. tp utk pulih dr rasa sakit itu butuh waktu utk berdamai.. n rara butuh waktu itu
Hana Agustina
kamu hebat gentaa.... as a man.. real man...
Hana Agustina
first
Hana Agustina
sweet bgt sih rara n genta
Leel K: Btw, udah baca dari awal belum? Soalnya aku udah revisi total dari bab 1 kemarin 😭
total 1 replies
Hana Agustina
first like thor.. sambil ngopi yaa.. aku krm biar semangat, aku sneng sm crita kamu
Leel K: Makasiiiii❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!