Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pagi itu, langit di atas perbukitan tampak mendung, seolah turut merasakan kegentingan yang menyelimuti mansion Arkatama.
Relia terbangun dengan rasa mulas yang luar biasa, namun kali ini rasanya berbeda dari mual biasanya.
Ada rasa nyeri yang tajam, seperti dipelintir, yang menjalar dari perut bagian bawah hingga ke pinggangnya.
Dengan langkah gontai dan tangan yang mencengkeram perut, Relia mencoba menuju kamar mandi. Namun, baru beberapa langkah, ia merasakan sesuatu yang hangat merembes keluar.
Saat ia menunduk dan melihat celana dalamnya, dunianya seakan runtuh untuk kesekian kalinya.
Bercak darah merah pekat itu tampak kontras di atas kain putih.
"Mas... Ariel..." suara Relia parau, nyaris tak terdengar karena ketakutan yang hebat.
"Ariel!"
Ariel yang baru saja menyiapkan pakaian di ruang ganti langsung berlari keluar.
Wajahnya menegang saat melihat Relia berdiri mematung di ambang pintu kamar mandi dengan wajah sepucat kapas.
"Relia? Ada apa, Sayang?" Ariel mendekat dengan cepat, dan matanya seketika tertuju pada noda darah di lantai.
"Mas, ada darah dan perutku sakit sekali," bisik Relia sebelum tubuhnya lunglai.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Ariel menyambar tubuh mungil istrinya dan membopongnya dalam dekapan protektif.
Ia berlari menuruni tangga, mengabaikan segala protokol ketenangan di rumah itu.
"Siapkan mobil! Sekarang!" teriak Ariel pada pelayan yang lewat.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit Arkatama, Ariel tak henti-hentinya mencium kening Relia yang banjir keringat dingin.
Ia menggenggam tangan istrinya erat, sementara pikirannya berkecamuk.
Ia adalah seorang dokter dan tahu apa arti pendarahan di usia kehamilan muda, tapi hatinya sebagai suami menolak untuk percaya.
Sesampainya di rumah sakit, tim medis sudah menunggu di lobi darurat atas instruksi Ariel.
Relia segera dilarikan ke ruang pemeriksaan kebidanan.
Ariel mendampingi di sisi ranjang, menatap layar monitor USG dengan mata yang memerah.
Dokter kandungan, rekan senior Ariel, menggerakkan alat transduser di atas perut Relia yang diolesi gel bening.
Suasana ruangan itu begitu sunyi, hanya terdengar suara detak jantung Ariel yang berpacu. Namun, di layar itu, tidak ada lagi denyut kecil yang mereka lihat kemarin. Kosong. Statis.
Dokter itu menghela napas panjang dan menatap Ariel dengan tatapan penuh simpati.
"Ariel, aku minta maaf. Kita kehilangan janinnya. Telah terjadi keguguran spontan, kemungkinan besar akibat trauma psikis yang sangat berat dan kelelahan emosional."
Relia, yang masih sadar meskipun lemah, mendengar kalimat itu.
Ia tidak menjerit dan hanya memalingkan wajah ke arah jendela, air matanya mengalir dalam diam.
Ada rasa kehilangan yang aneh, seolah beban berat itu terangkat namun meninggalkan lubang besar yang hampa di hatinya.
"Pendarahannya cukup banyak, kita harus segera melakukan prosedur kuretase untuk membersihkan rahim agar tidak terjadi infeksi atau komplikasi lebih lanjut," ucap dokter.
Ariel mengangguk pelan, tenggorokannya tercekat. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Relia.
"Sayang, kita harus melakukan operasi kecil, ya? Agar kamu sehat. Aku akan di sini. Aku tidak akan pergi ke mana pun."
Relia hanya mengangguk lemah, jemarinya meremas sprei rumah sakit.
"Mas Ariel, apakah ini sakit?" tanya Relia yang takut dengan prosedur kuretase.
Ariel mengecup punggung tangan Relia dengan lembut, mencoba menyalurkan keberanian yang ia sendiri hampir kehilangan.
Matanya yang biasanya tajam dan berwibawa kini berkaca-kaca melihat kerapuhan istrinya.
"Tidak akan sakit, Sayang. Kamu akan tidur sebentar, dan saat kamu bangun, semuanya sudah selesai. Aku akan terus memegang tanganmu sampai kamu tertidur, dan aku akan menjadi orang pertama yang kamu lihat saat kamu bangun nanti," bisik Ariel dengan suara yang menenangkan.
Relia menatap langit-langit ruang operasi yang dingin dengan pandangan kosong.
"Mungkin, ini cara Tuhan untuk benar-benar memutuskanku dari dia, Mas. Dia tidak membiarkan jejak monster itu tertinggal di tubuhku."
Ariel tidak menjawab, ia hanya mengeratkan genggamannya. Ia tahu ini adalah trauma di atas trauma.
Tak lama kemudian, perawat membawa Relia ke kamar bersalin terlebih dahulu untuk memasang selang infus.
Perawat meminta dokter Ariel untuk menandatangani surat pernyataan tindak kuretase Relia.
"Sus, tolong jaga istriku sebentar." pinta Ariel yang menuju ke ruangan lain.
Perawat meminta Relia untuk makan terlebih dahulu, sebelum pemasangan infus.
Relia menganggukkan kepalanya sambil melihat perawat yang membawa nampan berisi nasi, daging empal dan kuah bening.
"Dimakan sampai habis,ya" ucap perawat.
Relia duduk di atas tempat tidur sambil menikmati makanannya.
"Rasanya enak," gumam Relia.
Disaat sedang menikmati makanannya, Ariel yang telah selesai menandatangani surat pernyataan operasi kembali masuk kedalam.
Ariel berdiri mematung di ambang pintu, menatap pemandangan yang menyayat hatinya.
Di satu sisi, ia lega melihat Relia memiliki nafsu makan untuk menghabiskan daging empal dan kuah bening itu sebuah tanda bahwa raga istrinya masih ingin bertahan hidup. Namun di sisi lain, ia tahu bahwa setelah ini, ada babak menyakitkan yang harus mereka lalui bersama.
Ariel melangkah mendekat tepat saat perawat menyiapkan jarum infus.
Ia segera meraih tangan Relia yang bebas, memberikan tumpuan.
"Sshh... sebentar saja, Sayang. Tarik napas," bisik Ariel lembut.
Relia merintih, wajahnya sedikit mengernyit saat jarum tajam itu menembus kulitnya yang pucat dan masuk ke pembuluh vena.
Setetes air mata jatuh di pipinya, bukan hanya karena rasa sakit di tangannya, tapi karena ia tahu bahwa setelah cairan infus ini mengalir, babak "perpisahan" dengan jejak terakhir masa kelamnya akan segera dimulai.
"Sudah selesai, Nyonya Relia. Sekarang kita menunggu sampai jam 4 sore setelah itu kita pindah ke ruang tindakan, ya, Sekarang Nyonya Relia puasa dulu," ucap perawat itu dengan nada simpatik.
Relia menganggukkan kepalanya sambil menatap wajah Ariel.
"Tidurlah, kalau kamu mengantuk." ucap Ariel.
Relia menganggukkan kepalanya sambil menggenggam tangan suaminya agar tidak pergi dari sisinya.
Ariel duduk di kursi sambil mengirimkan pesan kepada beberapa petugas keamanan yang ada di mansion.
[Jika Markus datang, langsung kalian usir. Jangan katakan kalau aku dan istriku ada di rumah sakit.]
Ariel menoleh kearah istrinya yang ternyata sudah tertidur pulas.
Lima menit kemudian, Ariel mendapatkan pesan dari petugas keamanan yang mengatakan kalau Markus dan dua pengacaranya sudah datang dan berteriak meminta Ariel mengembalikan Relia.
[Abaikan saja dan jangan membuka pintu Mansion]
Setelah mengirim pesan kepada petugas keamanan, Ariel kembali menemani Relia.
Detik demi detik berganti dan jam menunjukkan pukul setengah empat.
Brankar didorong keluar dari kamar. Suara roda yang bergesekan dengan lantai lorong rumah sakit terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur.
Ariel terus berjalan di samping brankar, tak sedetik pun melepaskan jemari Relia.
Sesampainya di depan pintu ruang operasi yang bertanda lampu merah, perawat menahan Ariel.
"Maaf Dokter Ariel, Anda bisa menunggu di ruang tunggu dokter atau di depan sini."
Ariel membungkuk, mencium kening Relia lama sekali.
"Aku di sini. Tepat di balik pintu ini. Tidurlah yang nyenyak, buang semua mimpi burukmu di dalam sana. Saat kamu bangun, hanya akan ada aku dan masa depan kita."
Relia menatap mata Ariel untuk terakhir kalinya sebelum pintu geser otomatis itu tertutup.
"Aku percaya padamu, Mas..." bisiknya pelan sebelum akhirnya hilang di balik dinding steril.
Pintu ruang operasi tertutup dengan suara desis yang hampa, meninggalkan Ariel yang berdiri mematung di luar.
Di dalam ruangan yang serba putih dan dingin itu, Relia merasa seperti berada di planet lain.
Lampu-lampu besar di langit-langit menatapnya seperti mata raksasa.
"Selamat sore, Nyonya Relia. Mari saya bantu pindah ke meja tindakan," ucap seorang perawat dengan nada suara yang sangat tenang dan profesional.
Relia bergeser perlahan, merasakan dinginnya alas meja operasi menembus baju bedahnya yang tipis.
Di sampingnya, seorang dokter anestesi sibuk memeriksa selang-selang.
"Takut, Nyonya?" tanya dokter itu sambil menyiapkan masker oksigen.
"Sedikit," bisik Relia.
Ia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang, namun ada semacam kepasrahan yang aneh.
"Tarik napas dalam-dalam, ya. Ini hanya obat agar Anda rileks," dokter itu memasangkan masker di wajah Relia, sementara tangannya menyuntikkan cairan putih kental ke dalam selang infus.
Relia merasakan sensasi dingin menjalar di lengannya, lalu merambat ke dadanya.
Pandangannya mulai berbayang. Lampu di atasnya perlahan menyusut menjadi titik kecil cahaya yang semakin redup.
Dalam hitungan detik, kegelapan yang damai menyergapnya, membawa Relia pergi dari rasa sakit, darah, dan memori tentang Markus.
mudah"an relia selamat