NovelToon NovelToon
KEKASIH GELAP WALI KOTA

KEKASIH GELAP WALI KOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:POV Pelakor / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta Terlarang / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:284
Nilai: 5
Nama Author: Wen Cassia

Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.

Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.

Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 | MENARA IMPIAN YANG RUNTUH

Siapa pun yang bertatap muka dengan Archilles akan langsung menyadari jika pria itu menawan, bukan dalam cara yang hangat dan menentramkan, melainkan melalui intimidasi implisit dan gestur tak bercela. Hal ini memunculkan satu pertanyaan menyebalkan yang terus menggumpali pikiran Summer: Dengan segala kesempurnaan yang dimilikinya, bagaimana jika Archilles sudah memiliki wanita lain?

Opsi ini baru muncul setelah pertemuan mereka hari ini. Usia tiga puluh dua, bukankah saat-saat inilah biasanya pria mengalami kejenuhan dalam pernikahan sehingga perlu mencari penyegar pada diri wanita lain? Rasa-rasanya pemikiran ini cukup masuk akal. Pria itu berkedudukan tinggi, kehormatan melekat dalam dirinya layaknya baju zirah paling kokoh, serta penampilan yang levelnya jauh dari medioker.

Biarpun nantinya Summer berhasil mengambil hati pria itu, membayangkan tidak hanya ada dirinya dan Allura dalam hidup Archilles saja sudah membuatnya mual dan merinding. Ia jelas tidak sudi dijadikan simpanan nomor dua atau nomor-nomor selanjutnya.

Awalnya Summer merasa percaya diri karena ada banyak rumor yang mengatakan jika pernikahan Archilles dan Allura didasari oleh skandal cukup rumit dan dramatis. Banyak yang menduga, pernikahan itu sekadar formalitas. Dengan adanya situasi macam itu, bukankah peluang Archilles sudah memiliki simpanan menjadi lebih besar?

Summer melirik Archilles yang berjalan di sampingnya, mengamati wajahnya. Ia tidak terlihat seperti pria mata keranjang—

“Apa ada sesuatu di wajah saya?”

Pertanyaan yang dilontarkan Archilles tanpa menoleh itu membuat Summer buru-buru menarik pandangannya. “Eh, tidak. Saya hanya penasaran kenapa Anda berada di taman belakang seorang diri.”

Archilles tidak sedikit pun menunjukkan perubahan ekspresi, langkahnya masih dalam ritme cenderung lambat untuk mengimbangi Summer yang terluka. “Di sana tidak seramai lantai-lantai di dalam sini. Saya lebih menyukai ketenangan.”

Juga tidak ada kamera di sini, tambah Summer dalam hati setelah menyimpulkan sendiri jika Archilles merasa tidak memerlukan pembuktian atas apa yang ia lakukan. Politisi idealis. Itu yang tergambar dalam roman dan gestur sang wali kota.

Lorong lantai satu ini sudah jauh lebih kondusif dibandingkan saat Summer tiba. Sepertinya para pejabat dan relawan sudah berpindah ke lantai-lantai atas. Beberapa perawat masih berlalu-lalang, terlihat sibuk membaca catatan pasien dan membawa peralatan medis. Bau obat dan antiseptik berbaur menjadi satu, menciptakan selarik kesan mengusik dalam hati Summer karena tidak terbiasa dengan atmosfer di rumah sakit.

“Memainkan gitar dengan bagus, termasuk salah satu wali kota termuda dengan reputasi hampir tanpa cela, bahkan diperhitungkan menjadi kandidat kuat untuk opsi gubernur atau menteri di masa mendatang … Anda terlalu banyak mengambil porsi ‘kelebihan’, Pak Wali Kota.”

Archilles mengangguk kecil pada perawat yang baru menyapanya. Pandangannya berpaling pada Summer setelah si perawat berlalu. “Anda pernah mendengar jika terkadang kelebihan adalah sebuah kutukan?” tanyanya retoris. “Kelebihan yang datang melalui bakat dan kerja keras sejatinya sangat berbeda. Hasil yang dicapai barangkali sama, tapi proses yang membentuk kelebihan itulah yang tidak akan pernah bisa diletakkan berdampingan dengan setara.”

Summer masih setia mendengarkan dengan takzim saat mata Archilles menerawang, mengambil jeda sejenak.

“Bagi seseorang yang sudah mendapat ‘porsi lebih’ sejak lahir, mudah memahami sesuatu dalam satu tarikan napas, pemikiran tentang menggenggam dunia pasti pernah tebersit di pikirannya. Penuh petualangan dan mendebarkan. Seharusnya gambaran itu hanya boleh muncul di pikirannya sendiri. Namun, pada dasarnya kelebihan akan memancing harapan besar dari orang-orang. Kemunculan variabel baru ini mulai mengusik susunan mimpi. Sebagai gantinya, pundaknya akan dibebani dengan hal-hal yang diinginkan oleh banyak orang. Lambat laun, orang itu akan mulai kehilangan mimpinya, kehilangan diri sendiri, dan menjelma menjadi sosok asing yang tidak pernah dia kenali.”

Tidak ada perubahan intonasi yang berarti, namun ada lekukan kecil di ujung alis Archilles yang membuat getir seperti baru saja melintas di wajahnya.

“Anda tahu, bakat membuat orang-orang tidak menoleransi kegagalan. Berbanding terbalik dari mereka yang memperoleh kelebihan melalui kerja keras, di mana orang-orang ini mengalami kegagalan berkali-kali. Keduanya memiliki kutukannya masing-masing, dan pada akhirnya mau tidak mau saling terhubung.

“Untuk memenuhi ekspektasi, bakat harus diikuti dengan kerja keras agar kukuh bertahan. Untuk mendulang nilai, kerja keras harus ditempa sedemikian menakutkan agar setara dengan bakat. Jelas keduanya tidak bisa disamakan dan disetarakan, karena sejak awal, bakat dan kerja keras datang dari dunia yang berbeda.”

Kepala Summer sedikit tertunduk ketika Archilles memberi ruang untuk kelengangan berdenyut di antara mereka. Kebisingan dari suasana sibuk rumah sakit menjadi terasa jauh, kata-kata Archilles mengendap untuk diresapi Summer.

“Saya berbicara terlalu panjang, ya?” ucap Archilles setelah keheningan yang terentang di antara mereka.

Summer menggeleng. “Saya menyukainya … pandangan Anda. Sepertinya saya tidak perlu mengkhawatirkan kota ini lagi, karena seorang pemimpin seperti Anda sudah pasti akan membuat keputusan terbaik.”

Sekarang apa? Kesempatan berduaan seperti ini harus Summer gunakan sebaik mungkin, meninggalkan kesan mendalam sehingga tanpa perlu Archilles memperkenankannya, Summer menyelinap ke dalam kepalanya. Namun, sebelum itu, ada yang perlu ia pastikan terlebih dahulu.

“Anda datang ke sini sendirian? Saya dengar istri Anda memiliki pamor yang sama besarnya dengan Anda berkat kecantikannya yang sangat mengesankan.”

Tentu saja Summer sudah mengetahui jawabannya: Allura tidak menghadiri acara sosial ini. Denver sedang melakukan tugasnya, mengajak wanita itu bertemu di suatu tempat, sehingga sekarang Summer bisa leluasa berbicara dengan suaminya.

“Dia sedang ada acara lain,” jawab Archilles, pandangannya berbelok ke arah dinding membosankan lorong.

Gestur kecil yang seharusnya tidak terlalu berarti banyak itu membuat Summer bersorak dalam hati. Meskipun tidak bisa menjadi kesimpulan pasti, lebih tepat dikatakan sebagai hipotesis, Summer menangkap tanda keretakan dalam rumah tangga Archilles dan Allura.

Kalau Summer bisa memanfaatkan celah yang tercipta itu dengan baik, Archilles akan sepenuhnya berada dalam genggamannya. Summer mencoba mengingat-ingat tips menggoda yang dia baca di buku dan artikel: Membuat kontak mata, tersenyum sensual, menyematkan rambut ke belakang telinga—

“Galeri seni. Waktu itu Anda yang mengamati lukisan Lady Mallory, bukan?”

Eh? Summer terkesiap seketika oleh pertanyaan Archilles. Gelenyar ngeri merambati kulit Summer seiring langkahnya yang melambat dan jantungnya yang mengentak. Apa pria itu mengingat setiap orang yang pernah dilihatnya?

“Saya memang pernah ke galeri dan melihat Lady Mallory …,” Summer menjawab sedikit kikuk. Tenggorokannya mendadak terasa kering.

“Beberapa orang menganggap ‘kebetulan’ sebagai sebuah takdir. Tidak sedikit yang merajut harapan dari ‘ketidaksengajaan’ ini.” Suara Archilles masih nyaris tanpa nada, pun sorot matanya yang masih tenang. “Tapi bagi saya, itu tidak lebih dari sekadar omong kosong.”

Detik bergelung alot bersamaan dengan langkah Summer yang terhenti sepenuhnya. Lorong yang sebenarnya cukup lebar ini mendadak terasa pengap, suara-suara di sekelilingnya terdistorsi. Mata Summer melebar waspada.

“Seperti beberapa orang di luar sana, saya juga mempunyai kutukan—entahlah ini datang dari bakat atau kerja keras. Meskipun tidak ingin melakukannya, secara naluriah saya bisa mencium kejanggalan dari suatu situasi.” Bahkan ekspresi Archilles masih belum kentara berubah, namun layaknya ilmuwan yang bisa memprediksi datangnya badai tahunan, Summer tahu bencana itu akan datang sebentar lagi. “Terhitung dua kali saya ‘kebetulan’ bertemu dengan Anda. Seharusnya itu bukan sesuatu yang aneh, namun saya menemukan beberapa keganjilan yang tidak akan bisa dijelaskan hanya dengan dua potong kata ‘tidak sengaja’. Pertemuan kali ini, saya yakin Anda sudah mengaturnya dengan baik.”

Bibir Summer seketika terkatup, sekujur tubuhnya menegang. Tatapan Archilles dalam sekejap berubah dingin dan berbahaya, Summer merasa sedang dikuliti perlahan-lahan. Keteduhan dalam suaranya sempurna lenyap. Sosok itu menjelma menjadi seseorang yang menguarkan intimidasi pekat, layaknya singa yang siap membunuh hewan lain yang menyelinap di teritorinya.

Archilles sedikit memutar kakinya, membawa tubuhnya sepenuhnya menghadap ke arah Summer. “Saya tidak tahu tujuan Anda mencoba mendekati saya. Tapi, jika Anda melewati batas dan merusak keseimbangan yang ada, saya tidak punya pilihan selain menyingkirkan Anda.”

Genap di ujung kalimat serupa ancaman itu, Archilles berbalik, berlalu meninggalkan Summer yang masih membeku dengan wajah pias.

Baru setelah Archilles hilang ditelan dinding, napas Summer yang memburu menyeruak begitu saja seolah seluruh oksigen di sekitarnya baru direnggut. Peluh mulai muncul di dahinya, seiring tangannya yang memegangi dada karena gemuruh di sana seperti ingin membakar habis jiwanya.

Summer harus berpegangan pada dinding untuk mempertahankannya tidak luruh ke lantai, karena kaki dan tangannya gemetaran hebat.

Pria itu tahu … sejak awal ia tahu.

Sekarang tidak ada lagi yang tersisa. Menara impian Summer telah sepenuhnya diruntuhkan oleh nada tajam Archilles Meridian.

...****...

1
Amaya Fania
jujur paling suka kalo kian muncul. ketawa mulu kalo lagi berantem sama summer, saling ejek, tapi diem diem sayang adek
Amaya Fania
penasaran lanjutannya, ayo lanjut kak
aspidiske ☆: okaii 😳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!