NovelToon NovelToon
Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horror Thriller-Horror / Hantu / Horor / Tamat
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: SARUNG GAME

Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia

Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang

Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Dendam yang Terungkap

Bayangkan sebuah rahasia yang tertanam dalam tanah hitam hutan, seperti akar durian berduri yang merayap diam-diam di bawah permukaan, menunggu saat yang tepat untuk menusuk kaki yang tak waspada. Itulah dendam—bukan api yang menyala terang, tapi bara yang tersembunyi, panasnya abadi, siap membakar siapa saja yang berani menggali terlalu dalam.

Di pagi yang masih diselimuti kabut tipis itu, rombongan pencari merasa hutan bukan lagi tempat mati; ia hidup, bernapas, dan mengingat segala dosa manusia. Setiap langkah mereka seperti memicu kenangan lama, dan di antara bisik-bisik jin yang semakin samar, Siti Aisyah merasakan tarikan tak kasat mata—seperti tangan dingin yang memanggilnya pulang ke masa lalu yang seharusnya sudah terkubur sejak satu abad lalu.

Mereka sudah semakin dalam memasuki hutan, obor-obor mulai redup karena embun pagi yang tebal. Pak Kades berhenti di depan sebuah pohon durian raksasa yang batangnya retak-retak seperti kulit tua, duri-durinya runcing menusuk udara. "Ini... ini tempatnya dulu," gumamnya, suaranya bergetar. "Gubuk Mbah Saroh berdiri di sini,saat desa ini masih terpencil. Setelah dibakar warga, pohon ini tumbuh aneh, seperti tumbuh dari abu dan darah."

Siti Aisyah mendekat, tangannya gemetar menyentuh batang pohon. Begitu jarinya menyentuh kulit kasar itu, dunia seolah berputar. Kabut menyelimuti pandangannya, dan tiba-tiba ia tak lagi di hutan pagi—ia berada di masa lalu, di awal 1800-an , tahun 1813 saat Kesultanan Banten secara resmi di hapuskan oleh Pemerintahan Inggris saat itu.

Ketika desa Durian Berduri masih dikelilingi hutan lebat dan angin membawa bau rempah dari pelabuhan Banten. Flashback itu datang seperti mimpi buruk yang hidup: ia melihat Mbah Saroh muda, bukan nenek keriput yang ditakuti, tapi seorang perempuan cantik berusia 20-an, rambut hitam panjangnya terurai seperti sungai malam. Namanya dulu Saroh, seorang gadis desa biasa, yang menikah dengan seorang pemuda miskin keturunan prajurit Banten.

Tapi nasib kejam, suaminya mati tragis dalam perkelahian dengan patroli Inggris-Belanda di desa, suaminya melindungi Saroh karena diperkosa oleh tiga serdadu Belanda dan empat serdadu Inggri. Setelah menikmati tubuh indah ibu muda berparas cantik yang  sedang mengandung tersebut ,Patroli gabungan itu  pergi meninggalkan Saroh yang ternoda dan jasad suaminya begitu saja. Bayi di kandungannya ikut pergi bersama suaminya.

Saroh dendam pada warga desa yang diam saja ketika dirinya diperkosa beramai ramai oleh Patroli Inggris-Belanda. Ia dendam pada warga desa yang tak bisa membantu ketika suaminya di bantai.

Warga desa mengatakan Saroh pembawa sial, mengusirnya ke pinggir hutan. Sendirian, putus asa, Saroh belajar ilmu hitam dari seorang guru gaib—seorang jin tua yang menjanjikan kekuatan dengan imbalan jiwa. Ia menjadi dukun hitam, membantu orang-orang putus asa seperti pasangan yang sulit punya anak, tapi selalu dengan harga, anak di usia tujuh tahun, untuk mengganti anaknya yang hilang.

Dalam flashback itu, Siti Aisyah melihat Mbah Saroh dikhianati berkali-kali: warga datang diam-diam minta bantuan, tapi saat janji ingkar, mereka menuduhnya jahat. Puncaknya malam penculikan Siti Aisyah kecil—warga marah, membakar gubuknya dengan obor, meninggalkannya terbakar hidup-hidup. Tapi Mbah Saroh tak mati; jin pelindungnya menyelamatkannya, mengubahnya menjadi Nenek Gerandong—roh abadi yang haus pembalasan. "Mereka ambil anakku... sekarang aku ambil milik mereka," bisik Mbah Saroh dalam visi itu, suaranya penuh kesedihan yang berubah jadi amarah.

Kembali ke masa kini, Siti Aisyah tersentak, jatuh berlutut di tanah basah. Kabut masih tebal, tapi kini sebuah bayang muncul di depannya—Nenek Gerandong, rambut kelabu panjang menjuntai hingga tanah, wajah gosong penuh luka bakar, mata merah menyala seperti bara. Rombongan mundur ketakutan, tapi Siti Aisyah tak bisa bergerak. "Kau... kau datang juga, anakku," serak suara Nenek itu, seperti angin melalui lubang kubur. "Kau yang lolos dulu. Tapi dendamku bukan cuma janji ingkar. Anakku... anakku yang mereka ambil. Warga ini... mereka tuduh aku jahat, tapi mereka yang bunuh harapanku. Suamiku mati di tangan Inggris-Belanda, bayiku pergi, dan mereka usir aku. Aku jadi dukun untuk bertahan, tapi mereka khianati. Dendamku dari sana—dari kehilangan anak yang tak pernah lahir. Sekarang, giliran kalian bayar dengan jiwa polos."

Siti Aisyah menangis, suaranya pecah. "Mbah... aku ingat kau. Kau ambil aku karena janji orang tuaku. Tapi... kenapa harus bayi Lilis? Dia tak salah apa-apa!"

Nenek Gerandong tertawa pelan, suaranya bergema di hutan. "Karena kau lolos, anak. Janji darah itu abadi. Aku hilang, anakku sendiri... karena warga ini. Sekarang, aku ambil yang mereka sayang, sampai mereka rasain apa yang aku rasain. Dan kau... kau yang seharusnya jadi milikku sejak dulu."

Kang Asep maju, golok di tangan. "Mbah... ampun. Kami salah dulu. Tapi jangan ambil bayi tak berdosa!"

Bayang Nenek itu memudar pelan, tapi suaranya masih bergema. "Ampun? Terlambat. Tapi kalau kau mau tukar... datanglah lebih dalam. Bawa yang lolos dulu—Siti Aisyah. Mungkin... dendam ini bisa lunas."

Kabut buyar, meninggalkan rombongan diam terpaku. Siti Aisyah berdiri goyah, matanya penuh air mata. "Asep... itu benar. Dendamnya karena kehilangan anaknya sendiri. Bukan cuma janji ingkar... tapi penderitaan yang kita tak tahu sejak zaman Belanda." Hati Siti Aisyah hancur: ia merasa bersalah sebagai "yang lolos", tapi juga kasihan pada Mbah Saroh—seorang korban yang berubah monster karena pengkhianatan masyarakat di masa lalu.

Pak Kades menghela napas panjang. "Kita lanjut. Tapi sekarang kita tahu: ini bukan perang melawan setan, tapi melawan dendam yang lahir dari kesalahan kita sendiri, sejak satu abad lalu."

Hutan semakin gelap, tapi rahasia yang terungkap itu seperti cahaya redup—menunjukkan jalan, tapi juga bayang yang lebih panjang.

***

1
Pemuja Rahasia 001
baru bab awal tapi bagus penyusunan kata halus , terutama saat deskripsi tentang teh sari
Pemuja Rahasia 001
bab 3 ini bagus penyusunan katanya bagus terutama saat teh sari pingsan di lantai
Pemuja Rahasia 001: bab 3 tentang moster laut bagus
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!