NovelToon NovelToon
The Monster'S Debt

The Monster'S Debt

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mafia / Nikah Kontrak / Berbaikan
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
​Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
​Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Istana Sang Vulture

Dunia seolah berputar dengan kecepatan yang tidak mampu diikuti oleh logika Aruna. Hanya dalam hitungan jam, ia telah meninggalkan rumah kecilnya yang berbau kain jahitan dan tanah basah, berganti dengan aroma kulit mahal dan wangi pembersih udara otomotif yang elegan. Ia duduk di kursi belakang sebuah SUV antipeluru yang luas, memeluk Bumi yang tertidur karena kelelahan emosional. Di sampingnya, Dante terbaring lemah dengan bantuan oksigen portabel, wajahnya pucat pasi namun garis rahangnya tetap menampakkan kekerasan hati yang tak tergoyahkan.

​Konvoi mobil itu meluncur menembus gerbang besi raksasa yang dijaga oleh pria-pria bersenjata laras panjang. Begitu masuk, pemandangan di depan mata Aruna berubah total. Itu bukan sekadar rumah; itu adalah benteng. Sebuah mansion bergaya neoklasik yang berdiri megah di atas bukit pribadi, dikelilingi oleh taman-taman yang tertata simetris namun terasa sunyi, seolah-olah bunga-bunga di sana pun takut untuk layu tanpa izin sang pemilik.

​"Kita sudah sampai, Nyonya," suara Enzo memecah keheningan.

​Pintu mobil dibuka dari luar. Aruna melangkah keluar dengan canggung, masih mengenakan daster batik dan sandal jepit yang kini terasa sangat tidak pantas di atas lantai marmer putih yang berkilau. Beberapa pelayan berseragam rapi segera menghampiri, namun mereka tidak berani menatap mata Aruna. Fokus mereka adalah memindahkan Dante ke dalam tandu medis yang sudah disiapkan.

​"Bawa Tuan Valerius ke ruang medis sayap barat. Dokter spesialis sudah menunggu," perintah Enzo dengan otoritas penuh.

​Aruna berdiri mematung di aula utama yang langit-langitnya dihiasi lampu kristal raksasa. Ia merasa seperti debu yang terselip di istana berlian. Bumi terbangun, mengucek matanya, dan ternganga melihat kemegahan di sekelilingnya.

​"Ibu... apakah kita sedang di rumah raja?" bisik Bumi pelan, suaranya menggema di ruangan yang luas itu.

​Sebelum Aruna sempat menjawab, seorang wanita paruh baya dengan pakaian sangat formal mendekati mereka. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, namun matanya menatap Aruna dengan selidik yang tajam.

​"Saya Martha, kepala pelayan di sini. Tuan Valerius telah menginstruksikan agar Anda dan putra Anda menempati kamar di sayap timur. Silakan ikuti saya," ucapnya tanpa basa-basi.

​Aruna mengikuti Martha menaiki tangga melingkar yang megah. Setiap langkahnya terasa berat. Ia melewati lorong-lorong panjang yang dihiasi lukisan-lukisan klasik yang tampak suram. Tidak ada foto keluarga, tidak ada warna-warna ceria. Semuanya berwarna emas, hitam, dan putih. Dingin dan tak bernyawa.

​"Ini kamar Anda," Martha membuka pintu ganda yang besar.

​Aruna terkesiap. Kamar itu lebih luas daripada seluruh rumahnya di Jalan Kenanga. Tempat tidur berukuran king size dengan sprei sutra, balkon luas yang menghadap ke arah kota yang gemerlap, dan sebuah kamar mandi yang penuh dengan marmer dan emas. Di sudut ruangan, sudah ada tumpukan tas belanja dari merek-merek ternama.

​"Tuan Enzo telah menyiapkan pakaian untuk Anda dan putra Anda. Jika Anda membutuhkan sesuatu, tekan tombol di samping tempat tidur. Makan malam akan diantar satu jam lagi," Martha membungkuk sedikit lalu pergi, menutup pintu dengan bunyi klik yang tegas.

​Aruna duduk di tepi tempat tidur, merasakan kelembutan kain sutra yang justru membuatnya merasa tidak nyaman. Bumi langsung berlari ke arah balkon, melihat lampu-lampu kota dari ketinggian.

​"Ibu, lihat! Kita bisa melihat bintang dari sini!" seru Bumi senang.

​Aruna tersenyum sedih. "Iya, Sayang. Tapi ingat, jangan pernah keluar dari kamar ini tanpa Ibu, ya?"

​Setelah memandikan Bumi dan mengganti pakaian putranya dengan piyama sutra baru yang entah bagaimana ukurannya bisa sangat pas, Aruna mencoba keluar dari kamar. Ia harus tahu keadaan Dante. Meskipun pria itu adalah sumber dari segala kekacauan ini, Aruna merasa bertanggung jawab atas nyawa yang telah ia selamatkan dua kali itu.

​Lorong mansion itu terasa seperti labirin. Setiap beberapa meter, ada penjaga berdiri diam seperti patung. Aruna merasa diawasi, bukan sebagai tamu, tapi sebagai tawanan yang berharga. Setelah bertanya pada salah satu penjaga, ia akhirnya sampai di sayap barat.

​Di sana, suasana jauh lebih sibuk. Melalui pintu kaca yang sedikit terbuka, Aruna melihat Dante terbaring di tempat tidur medis yang canggih. Beberapa dokter sedang memeriksa monitor dan mengganti infus. Dante tampak tidak berdaya, namun saat salah satu perawat mencoba menyentuh luka di perutnya, tangan Dante secara refleks mencengkeram pergelangan tangan perawat itu, meski matanya masih terpejam.

​"Tuan Valerius, ini saya, Dokter Miller. Lepaskan tangan Anda," ucap sang dokter tenang, seolah-olah dia sudah biasa menghadapi pasien yang bahkan dalam keadaan setengah sadar masih bisa membunuh orang.

​Cengkeraman Dante mengendur. Ia bernapas berat.

​Aruna berdiri di sana, menatap pria itu dari kejauhan. Ia teringat kejadian beberapa jam lalu, saat Dante menembus barikade peluru hanya untuk memastikan tidak ada orang jahat yang masuk ke dapurnya. Dante adalah seorang monster, ya, tapi dia adalah monster yang memiliki kode kehormatan yang aneh.

​"Dia akan baik-baik saja," suara Enzo terdengar dari belakang Aruna, membuatnya terlonjak.

​"Dia... dia sudah melewati masa kritis?" tanya Aruna.

​Enzo bersandar di dinding, menatap bosnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tuan Dante memiliki daya tahan tubuh yang tidak masuk akal. Dia sudah pernah ditembak, ditikam, bahkan diledakkan. Tapi kali ini berbeda. Dia terluka karena mencoba melindungi sesuatu yang bukan bagian dari duniaya. Itu membuatnya rentan."

​Aruna menoleh ke arah Enzo. "Kenapa dia begitu peduli? Dia bisa saja memberikan saya uang dan menyuruh saya pergi jauh."

​Enzo menatap Aruna dalam-dalam. "Karena bagi orang seperti kami, Aruna, uang adalah hal yang paling tidak berharga. Yang berharga adalah kesetiaan dan ketulusan. Dan di dunia ini, hanya Anda yang memberikan itu padanya tanpa meminta imbalan apa pun."

​Aruna terdiam. Ia kembali menatap Dante. Tiba-tiba, mata Dante terbuka. Melalui celah pintu, mata mereka bertemu. Untuk sesaat, dunia seolah berhenti. Tidak ada kata-kata, hanya tatapan dalam yang penuh dengan pertanyaan dan kepedihan yang tersembunyi. Dante tidak memalingkan wajahnya; ia menatap Aruna seolah-olah wanita itu adalah satu-satunya hal nyata di ruangan penuh mesin itu.

​Dante mencoba menggerakkan bibirnya, namun ia terlalu lemah. Aruna memberikan anggukan kecil—sebuah tanda bahwa ia dan Bumi baik-baik saja—sebelum ia memutuskan untuk berbalik dan kembali ke kamarnya.

​Malam itu, Aruna tidak bisa tidur. Ia berdiri di balkon, menatap kegelapan hutan yang mengelilingi mansion itu. Ia menyadari satu hal: ia tidak lagi berada di Jalan Kenanga yang sederhana. Ia berada di jantung kekuasaan Dante Valerius. Di sini, setiap pelayan mungkin saja mata-mata, dan setiap tembok memiliki telinga.

​Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk pelan. Aruna waspada. Ia membuka pintu dan menemukan Martha berdiri di sana membawa sebuah kotak beludru hitam.

​"Tuan Valerius mengirimkan ini untuk Anda," ucap Martha datar.

​Aruna membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung dengan liontin berbentuk sayap burung bangkai yang terbuat dari emas putih dan berlian hitam. Sangat indah, namun terasa sangat berat bagi Aruna.

​"Apa ini?" tanya Aruna bingung.

​"Itu adalah simbol perlindungan dari keluarga Valerius," jawab Martha. "Siapa pun yang memakai kalung itu di dalam mansion ini, tidak akan ada yang berani menyentuh atau membantah perintahnya. Tuan ingin Anda memiliki otoritas."

​Aruna menatap kalung itu. Baginya, itu bukan sekadar perhiasan. Itu adalah tanda kepemilikan. Dante tidak hanya menyelamatkannya; dia sedang "menandai" dirinya sebagai milik sang Vulture.

​Aruna menutup kotak itu dengan suara keras. "Sampaikan padanya, saya tidak butuh berlian. Saya hanya butuh keamanan untuk putra saya."

​Martha tidak menjawab, ia hanya membungkuk dan pergi.

​Di ruang medis, Dante yang baru saja mendapatkan dosis obat penenang melihat ke arah layar CCTV di samping tempat tidurnya. Layar itu menampilkan kamar Aruna. Ia melihat Aruna yang kembali berdiri di balkon, tampak kesepian namun tetap tegar.

​Dante memejamkan matanya, memegang plester robot biru yang kini telah ia bersihkan dan simpan di saku kemejanya yang diletakkan di nakas.

​"Kau tidak akan pernah pergi, Aruna," bisik Dante dalam hati sebelum obat bius membawanya ke dalam kegelapan. "Aku akan menjagamu dalam sangkar emas ini, sampai duniaku tidak lagi berbahaya bagimu."

​Namun Dante salah. Karena di luar sana, Marco dan musuh-musuh lainnya tidak hanya mengincar nyawanya, tapi mulai mempelajari siapa wanita yang berhasil meluluhkan hati sang Vulture. Dan di dunia mafia, cinta adalah target yang paling mudah untuk ditembak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!