Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Hukum Gravitasi yang Mengikat
Cahaya matahari pagi menyusup kejam melalui celah gorden Presidential Suite, menyinari debu-debu yang menari di udara seolah mengejek kekacauan di dalam kamar itu. Antares sudah terbangun sejak satu jam yang lalu. Ia duduk di tepi ranjang dengan bathrobe hitam yang tersampir longgar, menumpu dahi dengan kedua tangan.
Di sampingnya, Zea masih terlelap. Namun, itu bukan tidur yang tenang. Sesekali gadis itu merintih dalam mimpinya, napasnya masih menyisakan sisa-isak tangis semalam.
Antares menoleh, dan pemandangan di depannya menghantam ulu hatinya lebih keras daripada kegagalan peluncuran satelit mana pun. Kulit Zea yang seputih pualam kini dihiasi bercak kemerahan yang kontras—jejak gigitan dan cengkeraman tangannya yang terlalu kuat. Seprai yang kusut dan bercak merah yang mengering di sana menjadi bukti otentik bahwa ia, seorang pria dewasa berumur tiga puluh tahun, telah kehilangan kewarasan di depan mahasiswinya sendiri.
Brengsek, Antar. Lo benar-benar monster semalam, maki Antares pada dirinya sendiri.
Zea mulai terusik. Matanya perlahan terbuka, namun rasa pening langsung menghantam kepalanya. Saat ia mencoba mengubah posisi duduk, sebuah rasa nyeri yang sangat tajam di pangkal pahanya membuat ia spontan berteriak kecil.
"Aw—shhh..."
"Jangan dipaksa gerak dulu." Suara bariton itu rendah dan dalam, membuat Zea tersentak.
Zea menoleh dan menemukan Antares sedang menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca—antara dingin yang biasa ia tunjukkan di kampus dan sorot mata penuh rasa bersalah yang tersembunyi. Ingatan semalam pun kembali. Bagaimana ia memohon ampun, bagaimana ia menangis karena lelah, dan bagaimana Antares terus memaksanya hingga ia kehilangan kesadaran.
Zea langsung menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya, matanya mulai berkaca-kaca lagi. "Bapak... kenapa masih di sini?"
"Ini kamar saya, Zea," jawab Antares datar, namun ia bangkit dan mendekat ke sisi ranjang Zea.
"Jangan dekat-dekat!" Zea berteriak parau, tubuhnya bergetar. "Bapak jahat. Aku udah bilang ampun... aku udah bilang sakit... tapi Bapak nggak berhenti."
Antares terhenti. Ia melihat bahu Zea yang bergetar hebat. Rasa sakit di hati Zea terasa nyata, dan Antares tahu ia tidak bisa sekadar minta maaf. Sebagai ilmuwan yang selalu mengandalkan data dan fakta, fakta di depannya jelas: ia telah merusak keteraturan hidup gadis ini.
"Saya tahu," suara Antares melembut, satu hal yang sangat jarang terjadi. Ia duduk di pinggir ranjang, menjaga jarak agar Zea tidak semakin ketakutan. "Saya tidak akan mencari pembelaan diri. Saya yang salah."
Zea menghapus air matanya dengan kasar. "Terus sekarang gimana? Aku harus kuliah... aku harus pulang... Papa pasti bunuh aku kalau tahu aku nggak pulang semalam."
Antares menatap lurus ke mata Zea. "Kita akan ke rumah orang tuamu sekarang. Saya akan bicara pada mereka."
"Bicara apa?! Bapak mau bilang kalau Bapak udah nidurin aku sampai aku nggak bisa jalan?!"
"Saya akan bilang kalau saya ingin menikahi kamu," potong Antares tegas. "Hari ini juga."
Zea tertawa getir, tawa yang bercampur dengan isak tangis. "Nikah? Bapak gila? Bapak itu dosen saya! Bapak itu orang kaya, pewaris Bagaskara! Kita nggak selevel, Pak. Ini cuma kesalahan... biarin aku pergi."
Mendengar kata 'Bagaskara', rahang Antares mengeras. Ia menarik napas panjang, lalu berdiri tegak, memancarkan aura dominan yang tidak bisa dibantah.
"Dengarkan saya, Zea Anora. Saya tidak peduli dengan nama Bagaskara. Saya ke sini sebagai laki-laki yang sudah mengambil apa yang paling berharga darimu. Dalam hidup saya, setiap aksi harus dipertanggungjawabkan. Saya tidak akan membiarkan kamu menanggung ini sendirian di luar sana."
Antares berjalan ke arah meja, mengambil sebuah kemeja putih miliknya yang masih bersih dan melemparkannya ke arah Zea.
"Pakai ini. Saya sudah siapkan air hangat untuk kamu mandi. Setelah itu, kita pergi ke rumah orang tuamu. Jangan mencoba kabur, karena saya punya akses ke seluruh keamanan hotel ini."
Zea hanya bisa terdiam, memeluk kemeja besar itu dengan erat. Antares keluar dari kamar untuk memberi Zea ruang, namun sebelum menutup pintu, ia menoleh sedikit.
"Dan satu lagi, Zea. Berhenti panggil saya 'Bapak'. Mulai detik ini, saya bukan lagi dosenmu. Saya adalah masa depanmu."
Di bawah guyuran air hangat, Zea menangis sejadi-jadinya. Ia melihat lebam-lebam di tubuhnya yang ditinggalkan Antares—tanda bahwa ia kini telah terikat pada pria yang paling ditakuti sekaligus dikagumi di kampusnya. Orbit hidupnya yang ceria dan bebas, kini telah tersedot masuk ke dalam lubang hitam bernama Antares Bagaskara.
Tanpa ia sadari, di luar kamar mandi, Antares sedang menelepon seseorang dengan nada yang sangat dingin.
"Siapkan pengacara dan penghulu. Saya akan menikah hari ini. Dan pastikan ayah saya tidak tahu soal ini sebelum semuanya sah. Saya tidak mau dia ikut campur menggunakan uangnya untuk urusan saya."
Antares menutup telepon, matanya menatap ke arah jendela, ke arah langit luas. Ia selalu mengagumi keteraturan alam semesta, tapi kali ini, ia akan membangun galaksinya sendiri bersama anomali yang baru saja ia taklukkan.