NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:194
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: INVASI DIGITAL

#

Balkon itu dingin. Aneh karena malam ini seharusnya panas tapi entah kenapa udara di sini terasa menusuk tulang. Atau mungkin cuma Arjuna yang merasa begitu karena jantungnya hampir copot dari dada.

Sari berdiri membelakanginya, tangan di pagar balkon, natap kota yang berkilauan di bawah. Rambutnya yang diikat tinggi terurai sedikit karena angin. Dia gak gerak pas Arjuna keluar, tapi bahunya menegang. Dia tau ada orang di belakangnya.

"Sari," bisik Arjuna. Suaranya hampir gak keluar, tercekat di tenggorokan yang kering.

Gadis itu gak berbalik. Gak jawab. Cuma berdiri diam seperti patung.

"Sari, ini aku. Arjuna."

Akhirnya dia berbalik. Perlahan. Dan saat mata mereka bertemu...

Arjuna rasakan dunianya runtuh.

Mata Sari gak kosong lagi seperti di dalam tadi. Sekarang mata itu penuh dengan sesuatu yang lebih mengerikan. Penuh dengan rasa sakit. Dengan kesedihan yang begitu dalam sampai terlihat seperti jurang tanpa dasar.

"Aku tau," bisiknya. Suaranya serak, seperti udah lama gak dipake untuk bicara yang jujur. "Aku tau itu kau begitu kau masuk. Cara kau jalan. Cara kau berdiri. Aku hapal di luar kepala meski kau ganti wajah sekalipun."

Arjuna melangkah maju tapi Sari angkat tangan, stop dia.

"Jangan," katanya cepat. "Jangan dekati aku. Ada kamera di mana mana di hotel ini. Kalau mereka lihat kita terlalu akrab, mereka akan curiga."

"Lalu kenapa kau keluar ke sini? Kenapa kau sendirian?"

"Karena ini satu satunya tempat yang kameranya aku matikan untuk lima menit." Sari keluarin ponsel kecil dari saku gaunnya, tunjukkin layar yang penuh kode. "Aku lagi hack sistem mereka. Butuh akses fisik dari dalam gedung untuk bypass firewall terakhir. Dan kau.. kau datang di waktu yang sempurna atau terburuk, aku gak tau lagi."

"Pixel tau kau lagi hack," kata Arjuna. "Dia bilang kau lagi kirim file kemana?"

"Ke server aman yang aku siapin. Server yang gak bisa di trace." Sari natap layarnya lagi, jarinya bergerak cepat. "Tiga bulan tinggal di rumah setan itu gak sia sia. Aku dapat akses ke semua sistem dia. Semua data. Dan sekarang aku lagi download semuanya sebelum..."

Dia berhenti. Matanya melebar liat layar.

"Sial."

"Apa?"

"Mereka detect. Mereka tau ada yang hack dari dalam. Sistem lagi scan semua device yang aktif di ballroom." Jarinya makin cepat sekarang, desperate. "Aku butuh tiga menit lagi untuk selesai download tapi kalau mereka trace ke ponselku sebelum itu..."

"Berapa lama kamera mati?"

"Dua menit lagi."

"Cukup gak untuk kau kabur dari sini?"

Sari menatapnya. "Kabur kemana? Ini lantai duapuluh. Balkon ini gak ada tangga darurat. Satu satunya jalan keluar ya lewat ballroom lagi, Kalau aku kabur sekarang tanpa Adrian, semua bodyguardnya akan kejar aku sebelum aku sempat sampe lift."

"Maka kita buat distraksi," kata Arjuna sambil tekan earpiece nya. "Pixel, kau denger?"

"Denger," suara Pixel terdengar tegang. "Dan situasi makin buruk. Sistem keamanan udah kirim alert ke semua bodyguard. Mereka lagi nyari sumber hack sekarang."

"Buat sesuatu," kata Arjuna. "Api alarm. Apapun. Yang buat orang keluar dari ballroom."

"Kalau aku aktifin alarm kebakaran, seluruh hotel akan evakuasi, Termasuk Adrian. Kalian yakin mau itu?"

Arjuna natap Sari. Gadis itu natap balik dengan mata yang bilang dia gak yakin, tapi mereka gak punya pilihan lain.

"Lakukan," kata Arjuna.

"Tunggu!" Sari angkat tangannya. "Belum. Aku butuh satu menit lagi untuk download file terakhir. File yang paling penting. Kalau alarm bunyi sekarang, download bakal terputus dan kita kehilangan semuanya."

"Satu menit," ulang Pixel. "Oke. Tapi setelah itu aku gak bisa tunda lagi. Mereka hampir trace ke ponselmu."

Detik-detik berikutnya terasa seperti jam. Arjuna berdiri di sana, helpless, ngeliat Sari yang fokus ke layarnya, bibir gadis itu bergerak kayak lagi berdoa atau ngitung.

"Sari," bisik Arjuna. Gak bisa tahan lagi. "Aku... aku minta maaf. Maaf baru datang sekarang. Maaf buat kau sendirian di sini selama ini."

"Kau gak perlu minta maaf," jawab Sari tanpa angkat kepala dari ponsel. "Kau datang. Itu udah lebih dari yang orang lain lakuin untukku."

"Tapi tiga bulan..."

"Tiga bulan yang aku pakai untuk jadi lebih kuat," potong Sari. Suaranya bergetar sedikit. "Untuk belajar sistem Adrian dari dalam. Untuk cari semua kelemahan dia. Aku gak cuma duduk diam nangis, Arjuna. Aku bersiap. Bersiap untuk hari ini."

"Tiga puluh detik," suara Pixel di earpiece.

Progress bar di layar Sari udah hampir penuh. Sembilan puluh persen. Sembilan puluh lima.

Pintu balkon terbuka. Arjuna langsung berbalik, tubuhnya ngalangin Sari secara instinktif.

Adrian Mahendra berdiri di sana. Gak sendirian, Ada dua bodyguard di belakangnya. Dan di mata Adrian ada sesuatu yang bikin darah Arjuna beku.

Dia tau.

Entah gimana, dia tau.

"Tuan Arka," kata Adrian dengan senyum yang gak nyampe mata. "Atau haruskah aku panggil kau Arjuna Wibowo?"

Dunia Arjuna berhenti berputar. Gak ada suara. Gak ada apa apa kecuali suara jantungnya yang berdetak kayak drum perang.

"Aku gak tau apa maksud anda," kata Arjuna, masih coba pertahankan topeng meski tau udah gak guna.

"Jangan hina intelijensi ku," Adrian melangkah masuk ke balkon. Bodyguardnya ikut, tangan mereka udah di saku dimana pistol pasti ada. "Kau pikir aku gak kenal anak dari orang yang dulu jadi partner terbaikku? Kau pikir aku gak hapalin setiap detail wajahmu dari foto foto yang Hendrawan kasih lihat dulu?"

Dia melangkah lebih dekat. Arjuna mundur, tapi punggungnya udah mentok pagar.

"Operasi plastik lumayan bagus," lanjut Adrian sambil pegang dagu Arjuna, paksa dia natap. "Tapi mata? Mata gak bisa diubah. Dan matamu itu persis mata ayahmu. Mata orang yang pikir dia lebih benar dari yang lain."

Arjuna tepis tangan Adrian kasar. "Jangan sentuh aku dengan tangan yang udah bunuh ayahku."

"Aku gak bunuh Hendrawan," kata Adrian. Senyumnya melebar. "Dia kabur sebelum aku sempet. Tapi jangan khawatir. Aku akan dapetin dia cepat atau lambat. Dan saat itu.. aku akan buat dia nonton anaknya mati perlahan di depan matanya."

"JANGAN SENTUH DIA!" Sari berteriak. Dia udah berdiri sekarang, ponsel di tangannya yang gemetar. "Kau janji gak akan sakitin siapapun yang aku kenal kalau aku ikut kau dengan tenang. Kau JANJI!"

"Aku janji gak akan sakitin orang yang kau kenal," koreksi Adrian. "Tapi Arjuna datang kemari dengan niat jahat. Dia menyusup. Dia ancaman. Jadi janjinya gak berlaku untuknya."

Dia ngangguk ke bodyguardnya, "Tangkap dia. Bawa ke basement. Kita akan 'ngobrol' lebih lama nanti."

Bodyguard maju. Arjuna siap bertarung meski tau dia gak akan menang lawan dua orang sekaligus plus Adrian.

"TUNGGU!" Sari melangkah maju, berdiri di antara Arjuna dan bodyguard. "Aku yang hack sistemmu. Aku yang download semua datamu. Kalau kau sakitin dia, aku akan upload semua data itu ke internet. Semua media. Semua orang akan tau siapa kau sebenarnya."

Adrian menatap anaknya. Lalu dia ketawa. Ketawa yang terdengar tulus, seperti dia denger lelucon paling lucu di hidupnya.

"Upload kemana, sayang?" tanyanya sambil keluarin ponsel dari sakunya. Di layarnya ada map yang nunjukin lokasi ponsel Sari. "Server yang kau pikir aman? Server yang alamatnya aku tau? Yang bisa aku ledakkan dengan satu telepon?"

Wajah Sari jadi pucat.

"Kau pikir aku gak tau apa yang kau lakukan selama tiga bulan ini?" lanjut Adrian. "Kau pikir aku gak lihat setiap kali kau coba sabotase sistemku? Aku biarkan. Aku biarkan kau merasa pintar. Merasa ada harapan. Karena itu lebih menyenangkan dari pada buat kau menyerah total."

Dia ambil ponsel dari tangan Sari yang lemas. Lihat layarnya yang nunjukin download complete seratus persen.

"Download selesai," bacanya. "Bagus. Sekarang..."

Dia lempar ponsel itu ke lantai. Injak keras sampai layarnya pecah berkeping keping.

"Sekarang gak ada lagi."

"TIDAK!" Sari jatuh berlutut, tangannya coba raih pecahan ponselnya. "Tidak tidak tidak... Itu semua... itu semua yang aku kumpulin..."

"Dan sekarang hilang," kata Adrian dingin. "Seperti harapanmu. Seperti masa depanmu, Sekarang berdiri. Kita kembali ke ballroom. Dan kau akan tersenyum. Akan pura pura gak terjadi apa apa. Mengerti?"

Sari gak gerak. Cuma duduk di sana, menatap pecahan ponselnya dengan mata kosong.

Arjuna rasakan sesuatu patah di dadanya. Lihat Sari kayak gini, hancur total, lebih sakit daripada luka fisik apapun.

"Pixel," bisiknya ke earpiece. "Sekarang. Lakukan sekarang."

"Tapi file..."

"AKU GAK PEDULI SOAL FILE! LAKUKAN SEKARANG!"

Dua detik kemudian, alarm kebakaran berbunyi, Keras. Menusuk telinga. Lampu berubah merah, sprinkler mulai nyala, air hujan dari langit langit.

Chaos instant. Orang orang di ballroom berteriak. Lari ke pintu keluar. Bodyguard di balkon bingung, gak tau harus tangkep Arjuna atau amanin Adrian dulu.

Adrian menatap Arjuna dengan mata yang penuh kebencian. "Kau pikir ini akan selamatkan kalian?"

"Gak," jawab Arjuna sambil tarik Sari berdiri. "Tapi ini akan beli kami waktu."

Dia lempar Sari ke arah pintu. "Lari! Sekarang!"

Sari lari. Bodyguard mau kejar tapi Arjuna halang dengan tubuhnya sendiri. Satu bodyguard pukul perut dia, Arjuna jatuh tapi langsung bangun lagi. Pukul balik. Kena rahang. Bodyguard itu mundur.

Tapi yang satunya udah narik pistol.

"ARJUNA TURUN!" suara Pixel berteriak di earpiece.

Arjuna jatuh. Suara tembakan. Peluru ngelewatin dimana kepalanya tadi ada.

"Jangan bunuh dia!" Adrian berteriak. "Aku mau dia hidup!"

Tapi dalam kekacauan itu, dengan air dari sprinkler yang bikin pandangan kabur, dengan orang orang yang lari kesana kemari, Arjuna berhasil lari juga. Lari keluar balkon, masuk ke ballroom yang sekarang jadi medan perang kecil. Orang dorong dorongan ke pintu, ada yang jatuh, ada yang terinjak.

"Tangga darurat!" suara Pixel. "Ke kiri! Pintu merah!"

Arjuna lari ke arah itu. Lihat Sari udah di depan, dia buka pintu tangga, masuk. Arjuna ikutin, tutup pintu keras keras di belakangnya.

Mereka turun tangga dengan napas tersengal. Satu lantai. Dua lantai. Kaki Arjuna hampir keseleo tapi dia gak berhenti. Gak bisa berhenti.

Di lantai lima belas, pintu tangga terbuka. Bodyguard lain muncul. Arjuna gak mikir, langsung tendang, kena dada, bodyguard itu jatuh ke belakang.

Terus turun. Terus turun.

Lantai sepuluh, Sari mulai limbung. "Aku gak kuat... aku gak..."

"Kau kuat!" Arjuna pegang tangannya, tarik. "Hampir sampai! Tahan!"

Lantai lima. Lantai tiga.

Lantai dasar. Lobby.

Tapi lobby penuh orang yang evakuasi. Penuh bodyguard yang lagi nyari mereka.

"Pintu belakang!" Pixel lagi. "Lewat dapur! Ada mobil yang udah stand by di gang belakang!"

Mereka belok ke koridor yang ngarah ke dapur, Beberapa chef bingung liat mereka tapi gak halang. Lewatin dapur besar dengan kompor dan panci dimana mana. Keluar pintu belakang ke gang gelap yang bau sampah.

Dan di sana, ada mobil van hitam dengan pintu samping terbuka.

Hendrawan di kemudi. "MASUK! CEPAT!"

Mereka masuk, Hendrawan injek gas sebelum pintu sempet ditutup. Van meluncur dengan kecepatan gila keluar gang, belok keras ke jalan raya, nyelip di antara mobil mobil lain.

Arjuna dan Sari jatuh ke lantai van, napas tersengal, basah kuyup karena sprinkler tadi. Di belakang mereka terdengar suara sirene. Polisi atau bodyguard Adrian atau keduanya.

"Kalian baik baik saja?" tanya Hendrawan sambil mata tetep di jalan, nyetir kayak pembalap profesional.

"Kami selamat," jawab Arjuna. "Tapi file... file yang Sari download... hilang. Ponselnya hancur."

"Gak hilang," suara Pixel dari speaker mobil. Dia terdengar napasnya lega. "Aku... aku sempet backup. Begitu Sari mulai download, aku duplikasi semua data ke serverku. Jadi walau ponselnya hancur, data tetep aman."

Sari angkat kepalanya. "Kau... kau backup? Kenapa kau gak bilang?"

"Karena aku gak tau kau gak tau," jawab Pixel. "Kukira itu prosedur standar. Selalu backup saat transfer data besar."

Sari mulai nangis. Bukan nangis sedih tapi nangis lega. Nangis yang udah ditahan selama tiga bulan akhirnya pecah.

Arjuna peluk dia. Peluk erat meski baju mereka basah dan dingin. "Kau aman sekarang. Aku gak akan biarin siapapun sakitin kau lagi."

"Kau bodoh," bisik Sari di dadanya. "Bodoh sekali datang kesana. Hampir mati. Untuk aku."

"Aku akan lakuin lagi kalau harus," jawab Arjuna. "Seribu kali kalau perlu."

Mereka pelukan di lantai van yang bergetar, sementara Hendrawan terus nyetir menjauhi hotel. Menjauhi Adrian. Menjauhi neraka.

"Kita punya datanya," kata Hendrawan. "Sekarang kita bisa mulai serangan balik. Bisa ekspos Adrian ke dunia. Bisa..."

"Gak," potong Sari. Dia lepas dari pelukan Arjuna, duduk dengan punggung ke dinding van. Wajahnya basah tapi matanya keras sekarang. "Data itu gak cukup. Adrian terlalu pintar. Dia punya backup plan. Punya orang yang akan bersihkan jejaknya kalau data itu bocor. Yang kita butuh bukan cuma data."

"Lalu apa?"

Sari menatap mereka semua satu per satu. "Yang kita butuh adalah Adrian mati. Beneran mati. Gak ada cara lain. Selama dia hidup, dia akan terus buru kita. Terus bunuh orang. Terus jadi monster."

"Sari..." Arjuna menatapnya khawatir. "Kau yakin? Membunuh itu..."

"Aku tau apa artinya," potong Sari. "Dan aku siap. Aku udah siap sejak lama. Pertanyaannya adalah... apa kalian siap?"

Hening di dalam van. Cuma suara mesin dan ban di aspal.

Lalu Arjuna mengangguk. "Aku siap."

Hendrawan mengangguk lewat kaca spion. "Ayah juga."

Pixel lewat speaker: "Kalau kalian semua siap, aku gak bisa jadi satu satunya pengecut. Aku ikut."

Sari tersenyum. Senyum yang sedih tapi juga lega. "Oke. Maka sekarang kita rencanakan pembunuhan. Pembunuhan Adrian Mahendra. Dan kali ini... kali ini gak ada yang akan hentikan kita."

Van terus melaju di malam yang gelap. Membawa mereka ke masa depan yang gak pasti. Ke perang yang mungkin akan bunuh mereka semua.

Tapi setidaknya sekarang mereka punya satu sama lain. Punya harapan.

Dan punya tekad untuk mengakhiri mimpi buruk ini.

Sekali untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!