Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keributan
“Minta maaf.” Suara Aren menggema di aula, tegas dan keras, sampai beberapa tamu yang masih mengobrol langsung terdiam dan menoleh ke arah mereka.
Rosse berhenti melangkah. Ia memutar badan dengan kasar, rambut panjangnya ikut terayun.
“Apa katamu?” matanya menyipit tajam. “Atas dasar apa aku harus minta maaf? Aku ini putri sulung keluarga Wirawan. Kalian cuma orang kaya baru.”
Ia melangkah maju setengah langkah, dada terangkat penuh kesombongan.
Adela ikut menyusul ke sampingnya. Dengan dagu terangkat, ia menunjuk Aren, lalu Theo, lalu Noel bergantian.
“Jangan mentang-mentang tubuh kalian besar terus bisa seenaknya perintah orang. Dengar ya, keluarga kami itu sudah kaya dari zaman kakek buyut. Beberapa generasi. Bukan kayak keluarga Rothwell, OKB yang baru muncul sekarang.”
Nada suaranya sengaja ditarik panjang, menekan tiap kata.
“Kalian itu cuma orang kaya baru. Mendadak punya uang, tapi kelakuan tetap kampungan.”
Di belakang mereka, Mirea berdiri kaku. Jarinya yang memegang ujung gaun perlahan mengepal, kukunya menekan kain.
Boleh saja mereka hina aku… tapi kalau sudah menghina keluargaku, batinnya, itu gak boleh.
“Ayo, kita pergi.” Rosse mendengus, lalu menarik pergelangan tangan Adela dengan kasar, memutar tubuh hendak melangkah pergi.
Baru dua langkah, Aren sudah bergerak. Ia melangkah lebar ke depan, tubuhnya menghadang tepat di depan mereka, membuat Rosse refleks berhenti mendadak.
“Berhenti.”
Suara Aren rendah, tapi tekanannya jelas. Posisi tubuhnya tegap, bahunya menghalangi jalan.
“Apa aku sudah izinkan kalian pergi?” lanjutnya, menatap langsung ke mata Rosse tanpa berkedip.
“Kak…” Mirea refleks memanggil, sedikit maju setengah langkah karena takut situasi makin panas.
Aren mengangkat satu tangan ke belakang tanpa menoleh, isyarat agar Mirea tetap di tempat.
“Tenang. Serahkan ke kakak.”
Rosse mendecak, jelas tersinggung.
“Berani-beraninya kamu ngahalangin jalanku?”
Ia langsung merogoh tas kecilnya, mencari-cari ponsel.
“Percaya atau nggak, sekarang juga aku bisa telepon keluargaku. Aku bilang kalau aku ditindas segerombolan orang kaya baru di sini.”
Ia tersenyum sinis, matanya penuh tantangan, jelas berniat memperkeruh suasana dan menjatuhkan mereka di depan semua tamu.
“Telepon saja!” teriak Theo sambil melangkah setengah maju, dadanya membusung. “Kalau sudah begini, kita panggil orang juga!”
Noel yang berdiri di sampingnya langsung menoleh ke kanan-kiri dengan gelisah, lalu menarik lengan baju Theo pelan.
“E-eh, kak…” bisiknya.
“Siapa orang yang kita punya, kak?” lanjut Noel lirih, wajahnya serius. “Selain ibu yang cantik dan ayah yang botak… keluarga kita tinggal kita bertiga.”
Theo terdiam sepersekian detik.
“…Hah, sudahlah!” katanya akhirnya sambil mengepalkan tangan. “Ada atau tidak, yang penting sekarang kita nggak boleh kalah!”
“Betul!” Noel ikut mengangguk kuat. “Demi adik, kita lawan!”
Rosse mendengus kesal. Ia membuka tasnya dengan kasar, ritsletingnya berbunyi nyaring karena ditarik terburu-buru.
“Baik! Aku telepon sekarang juga!” katanya tajam. “Awas saja, jangan sampai kalian menyesal!”
Di sudut ruangan, Kael masih berdiri santai, satu tangan bersandar di tepi meja, wajahnya malah terlihat terhibur.
Farel mendekat sedikit ke arahnya dan berbisik,
“Tuan Kael, mau aku panggil beberapa orang untuk bantu keluarga Rothwell?”
Kael hanya tersenyum tipis, lalu meneguk wine-nya dengan tenang.
“Nggak perlu. Kamu nikmati saja,” katanya ringan. "pertunjukan yang menarik ini.”
Di saat yang sama, di depan kediaman keluarga Rothwell, lima mobil hitam berhenti hampir bersamaan. Pintu-pintu terbuka.
Red Monarch turun lebih dulu, rambut merahnya mencolok di bawah lampu halaman, dengan pakaian mencolok yang memberi kesan liar dan berbahaya. Di sampingnya, Fang Yugala melangkah keluar dengan jas rapi dan topi kuning kesayangannya.
Di belakang mereka, deretan anak buah ikut turun. Semuanya berbaju hitam, langkahnya serempak, wajah dingin, dan masing-masing menyelipkan senjata tajam di balik pakaian.
Mereka langsung berjalan mendekat ke pintu utama kediaman Rothwell.
Dua penjaga yang berjaga di depan pintu saling menatap, wajah mereka langsung pucat.
“M… mereka…” gumam yang satu.
“K-kamu…” yang lain menunjuk gemetar, lalu berbisik cepat, “Jangan bengong! Cepat lapor polisi!”
Namun Red, Fang, dan anak buahnya sama sekali tidak peduli. Mereka tetap melangkah masuk dengan santai.
“Lapor polisi pun percuma,” ujar Red Monarch sambil tersenyum miring. “Aku cuma datang buat hadiri pesta, bukan bikin keributan.”
Mereka pun masuk ke dalam aula.
Begitu tiba, tepat di depan mereka terlihat keributan yang sedang terjadi. Red Monarch menyapu ruangan dengan tatapan santai.
Mirea terbelalak, jelas kaget melihat siapa yang datang.
Sementara itu, Kael justru bertepuk tangan kecil.
“Wuw,” gumamnya pelan, terlihat terhibur.
Farel yang berdiri di sebelahnya menoleh ke arah rombongan itu, lalu kembali menatap Kael dengan ekspresi tak percaya.
“Ini yang kamu bilang pertunjukan seru?” tanyanya.