Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13 : Sembilan kali
“Beberapa hari ini, aku bermimpi hal yang sama … merajut tas berbentuk kerang, amplop, ada juga menyerupai hewan Kelinci. Peliharaanku yang sudah mati.”
Dia bercerita tentang cita-citanya bukan mimpi mendatangi tempat yang sama, melihat bayi menghisap handuk berdarah, pun anak kecil perempuan menjilati punggung tangannya.
Gerakan ki Ageng berhenti, mata tajamnya menelisik raut Ainur yang memejamkan mata. Mencari kebohongan disetiap perubahan ekspresi – seperti kening berkerut, deru napas panjang, seolah mengarang cerita.
“Apa keinginanmu sebagai seorang wanita telah beristri?”
“Mengandung, berbakti ke suami, melayaninya dengan sepenuh hati. Memberikan keturunan agar rumah kami penuh tangis bayi, tawa anak-anak,” Ainur tersenyum tulus, bibirnya tertarik sedikit lebar.
“Masihkah kamu sulit mempercayai kalau sebenarnya belum pernah mengandung?”
“Awalnya iya, tapi setelah diyakinkan oleh mbak Citra, mbak Yanti, dan mendengar diagnosis dokter magang – semua terdengar masuk akal. Aku mengalami halusinasi, disebabkan oleh keinginan menggebu-gebu memiliki keturunan,” suaranya tenang, pelan.
Telapak tangan besar ki Ageng memijat kepala Ainur – matanya terpejam, mulut bergerak samar membaca mantra, gumamnya terdengar sayup-sayup. “Tasih tetep sami (masih tetap sama).”
Pernyataan tegas, meyakinkan itu disambut ekspresi serupa para orang yang duduk di sofa di samping ruangan pijat. Mereka saling melirik satu sama lain, lalu bersamaan sebuah senyum samar membayang pada bibir.
Ainur mengerjap, sejenak dia seperti seseorang yang baru saja bangun dari tidur panjang. Pandangan kosong, ingatan kacau.
“Ainur ….”
“Nggeh?” Ainur menoleh, memandang hampa wajah nyaris berwarna gelap ki Ageng.
“Ndak usah khawatir – kamu bakalan merasakan mengandung sebanyak sembilan kali. Rahimmu subur, cuma belum saatnya saja,” nadanya menenangkan.
“Sebanyak itu?” cicitnya berupa bisikan.
“Ya. Saya sudah memeriksanya menggunakan ilmu kebatinan,” jawabnya meyakinkan.
“Kamu istimewa. Dikaruniai rahim yang subur, tempat cocok untuk dibuahi.”
Dilubuk hati terdalamnya, Ainur menangkap makna lain dari kata-kata tadi. Dia diam, menanggapi seperlunya saja.
Daryo menghampiri sang istri, membantu Ainur duduk dan melilitkan kain jarik menutupi kulit terbuka. “Kamu dengar sendiri apa kata ki Ageng, kan Sayang? Kita akan dikaruniai banyak anak, banyak pula rezekinya.”
“Iya mas.”
Ainur menunduk dalam, mengucapkan terima kasih ke dukun pijat yang hampir setiap bulan, di masa dia mau bersih dari menstruasi – pasti datang memijatnya.
“Aku bisa sendiri. Mas temani saja ki Ageng,” tolaknya halus saat mau dituntun ke kamarnya untuk ganti berpakaian sopan.
“Neneng, bantu dan temani nyonyamu!” titah bu Mamik, suaranya tidak naik maupun datar, sama seperti saat dia berbicara dengan para pelayan.
Mba Neneng berjalan, lalu berdiri tepat dibelakang Ainur.
“Saya ke kamar dulu,” pamitnya ke semua orang yang duduk di sofa kayu jati.
Wesa melirik tajam tubuh ringkih yang dia yakini bila tertiup angin kencang ikutan terbang.
Hari ini, hari libur – waktunya berkumpul dengan keluarga. Kegiatan wajib tidak boleh dilewatkan.
Sepanjang jalan yang lumayan jauh dari ruang pijat ke kamar, Ainur memikirkan cara bagaimana dia bisa keluar dari rumah ini tanpa dicurigai.
Ya, ingatannya tentang mimpi, kejadian setelah kehilangan anak ketiga kalinya masih utuh tersimpan dalam memori kepala. Dia juga tidak tahu mengapa, kenangan itu segar, jelas, bukan bayangan buram, pelan-pelan lenyap.
“Mba Neng.” Ainur menyamping. Berbicara dengan nada netral, raut biasa saja. “Besok atau lusa temani aku ke pembibitan, ya? Mau beli ikan Lele, tapi milih sendiri. Aku pengen makan mangut Lele.”
Sekilas saat beberapa hari lalu kala di pembibitan, Ainur ada melihat kolam bertuliskan ‘dijual ikan lele hidup, siap konsumsi’.
Mba Neng mengangguk, dan Ainur kembali berjalan lalu masuk ke dalam kamar. Saat pintu sudah ditutup rapat, ia bersandar di dinding sebelahnya.
‘Sembilan kali mengandung, apa sebanyak itu pula aku harus merasakan kehilangan tanpa tahu sebabnya apa?’ ia tidak terima, sungguh keberatan dan menolak keras.
‘Aku berhak atas bayiku, kalau memang dia gugur harus ada wujudnya. Bukan tiba-tiba hilang, perut yang mulai membuncit langsung kempes. Tanpa meninggalkan rasa sakit, jejak apapun! Hah!’ batinnya berteriak menyuarakan rasa amarah terpendam.
Ainur sudah membuat keputusan. Memilih jalan terjal bisa jadi taruhannya adalah nyawanya sendiri – asal dia bisa menyingkap tabir abu-abu, mencari tahu kemana perginya sang janin.
***
“Mba Kamila terlihat sumringah sekali, ya? Apa masih berbunga-bunga atas kehamilannya?” Ainur bertanya sopan, dia tengah makan rujak buah di gazebo sebelah rumah Citranti bersama kedua ibu hamil, dan ada juga ibu mertuanya.
“Jelas iya.” Kamila mencocol buah jambu biji ke bumbu kacang. “Mungkin juga karena semalam aku tertidur sangat pulas dikarenakan bantalnya nyaman.”
Ada sesuatu tak kasat mata mencubit hati Ainur. Ini bukan sekadar kata, tapi kiasan bermakna ganda. “Kalau begitu bawa pulang saja, mbak. Biar tiap hari bisa nyenyak tidurnya – ndak harus menunggu setiap bulan sewaktu aku menstruasi.”
Senyum sumringah tadi perlahan sirna. Wajah Kamila menegang, dia tertangkap oleh mata Ainur – kesulitan mengatur ekspresi.
Tubuh bu Mamik menegang, sesaat tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Diam, memandangi irisan buah segar dalam wadah dekat cobek besar.
Tidak jauh berbeda dengan Citranti. Dia sampai terbatuk-batuk, tenggorokan dan hidungnya perih. Buah penuh bumbu membuatnya kepedasan ketika terkejut mendengar celetukan Ainur.
“Kamu kok ngomong gitu?” Kamila bertanya tanpa sadar benar apa yang diucapkannya.
“Aku cuma berbicara apa adanya dan memang seperti itu kenyataannya. Setelah tak ingat-ingat, ada empat atau lima kali soalnya daya ingatku ndak bisa diandalkan. Tumpul. Mbak Kamila datang, menginap disini saat aku sedang datang bulan hari kedua. Benar tidak seperti itu, mbak? Kalau salah, saestu (sungguh) aku minta maaf.” Ainur menatap polos, sorot matanya seperti orang tidak berdosa.
“Nduk.” Bu Mamik menepuk pelan pundak menantunya. “Kamu salah terka, dan ingatan itu keliru. Kamila jarang nginep di sini, setengah tahun sekali belum tentu.”
Ainur menoleh ke ibu mertuanya. “Oh, ngunu too (oh, begitu).” Cepat-cepat berpaling menatap dengan ekspresi bersalah, menyesal. “Mbak Kamila, aku minta maaf. Maaf banget udah ngomong ngasal yang merujuk ke fitnah.”
Kamila sudah bisa menguasai diri, mengangguk dan tersenyum memaklumi. “Ndak apa-apa, Inur. Aku paham kalau kamu sulit membedakan mana nyata sama semu.”
“Mirip orang ndak waras ya jatuhnya aku ini,” Ainur terkekeh, tersenyum layaknya orang bodoh.
“Hust! Jangan ngomong seperti itu, nduk. Kamu sehat, cuma sedang banyak pikiran saja.” Bu Mamik merangkul Ainur yang duduk disebelahnya.
Setelahnya mereka menghindari obrolan serius, memilih membahas fashion terkini, gosip panas di pasar, mengomentari wacana arus listrik yang katanya tidak lama lagi bakalan masuk ke kecamatan Tugu Ireng.
***
“Kali ini aku harus berhasil. Biar ndak ada dusta yang kutelan mentah-mentah. Supaya hati dan logika sejalan.” Ainur turun dari pembaringan, jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
Setengah jam telah berlalu saat dia merasakan pergerakan disampingnya, mendengar langkah kaki, lalu kembali hening.
Belum lama, Daryo mengendap-endap keluar kamar, meyakini kalau sang istri telah pulas.
Ainur menyambar selendang hitam, menarik handle pintu, bersiap mencari keberadaan suaminya ….
.
.
Bersambung.
Ki Ageng dgn mbak Neneng
apa hubungan badan dgn Tukiran waktu itu di ketahui Ki Ageng ??
untung nyawamu 1 wesa
klo bisa hidup pasti di siksa smpai monster itu puass
Ki Ageng menjadikan arkadewi
istri nya ??
semoga Raden Dwipangga datang menolong istrinya
tp jgm pula aq di bikin misuh2 ya 🤣🤣🤣
jal
arep piye meneh nur nasib mu apes temen
apa.yg sudah di lakukan dgm iblis itu sehinga merubah sosok.bayi layak nya monster