"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 06
BAB 06 — Tugas Kelompok
Bu Rina, guru Sosiologi yang selalu memakai batik sutra dan kacamata berantai emas, meletakkan toples kaca besar di atas meja guru.
Suara kelereng beradu dengan kaca terdengar nyaring. Kling. Kling.
“Materi semester ini: Stratifikasi Sosial dan Kemiskinan Struktural,” kata Bu Rina sambil memindai kelas X-1 lewat balik kacamatanya. “Ironis, mengingat kalian semua duduk di kursi seharga lima juta rupiah, tapi kita akan membahas kenapa ada orang yang makan nasi aking.”
Kelas hening. Beberapa siswa merasa tersindir, sebagian besar tidak peduli.
“Saya tidak mau kalian memilih kelompok sendiri. Kalau dibebaskan, kalian hanya akan berkumpul dengan circle kalian. Kaya sama kaya, pintar sama pintar. Itu tidak sosiologis.”
Vivie, yang duduk di barisan kedua, melirik Naufal di seberang ruangan. Dia sudah menyusun rencana: satu kelompok dengan Naufal, lalu kerja kelompok di rumahnya, dan berakhir dengan dinner.
“Vino,” panggil Bu Rina.
Vino mendongak dari bukunya.
“Kamu Ketua Kelompok 1. Maju, ambil tiga nama dari toples ini.”
Vino maju. Langkahnya malas. Dia memasukkan tangan ke toples, mengaduk sebentar, lalu mengambil tiga gulungan kertas kecil.
Dia membuka gulungan pertama. “Bagas.”
Bagas, siswa atlet yang jarang masuk, bersorak. “Yes! Nilai aman!”
“Sarah.” Teman geng Vivie itu tersenyum genit pada Vino. Vino tidak bereaksi.
“Dan...” Vino membuka gulungan ketiga. Matanya berhenti sejenak.
“Vivie.”
Vivie menahan napas. Yes! Sekelompok dengan Vino adalah jackpot kedua setelah Naufal. Dia tersenyum lebar, sudah membayangkan sesi belajar berdua.
Vino kembali duduk tanpa ekspresi. Bagi dia, Sarah dan Vivie adalah beban variabel yang harus dikendalikan.
“Naufal,” panggil Bu Rina. “Maju. Kelompok 2.”
Naufal maju dengan semangat. Dia mengocok toples itu heboh.
“Oke, let’s see siapa yang beruntung,” gumam Naufal.
Gulungan pertama. “Jerry.” (Anak orang kaya pemilik tambang, malasnya minta ampun).
Gulungan kedua. “Tasya.” (Anak selebgram, kerjanya live TikTok di kelas).
Naufal membuka gulungan ketiga. Dia terdiam. Senyum lebar terbit di wajahnya. Dia menoleh ke pojok belakang kelas.
“Mayang Sari.”
Vivie, yang baru saja senang sekelompok dengan Vino, langsung meremas roknya. Wajahnya berubah masam. Sial. Kenapa harus Mayang?
Mayang, di bangku belakang, hanya menghela napas tipis. Dia melihat komposisi kelompoknya: Naufal (baik tapi kurang teliti), Jerry (pemalas), Tasya (fokus ke cermin).
Ini bukan kerja kelompok, batin Mayang. Ini kerja paksa.
Perpustakaan SMA Pelita Bangsa lebih mirip lounge bandara kelas bisnis. Sofa empuk, karpet tebal, dan pendingin ruangan yang disetel di angka 18 derajat.
Kelompok 2 berkumpul di meja bundar di sudut.
Jerry meletakkan kunci mobil BMW-nya di meja. Tasya sibuk membenarkan bulu mata palsunya di kamera HP. Naufal duduk di sebelah Mayang, memegang buku paket sosiologi terbalik.
“Oke, Guys,” Naufal membuka forum. “Topiknya Kemiskinan Struktural. Kita harus bikin makalah 20 halaman sama presentasi PowerPoint. Deadline minggu depan. Bagi tugas yuk.”
“Gue bagian print,” sambar Jerry cepat. “Bokap gue punya percetakan. Mau kertas Art Paper yang tebel banget juga bisa. Jilid hardcover emas. Beres.”
“Gue bagian konsumsi,” sahut Tasya tanpa melihat teman-temannya. “Nanti gue pesenin Starbucks pas kita kerja. Sama gue yang upload dokumentasi kerja kelompok ke IG Story kelas. Branding itu penting.”
Naufal mengerutkan kening. “Itu bukan tugas akademis, Tasya, Jerry. Kita butuh materi. Analisis data. Studi kasus.”
“Aduh, Fal, lo kan tahu gue lemah baca,” keluh Jerry. “Otak gue kram kalau liat tulisan kecil-kecil.”
“Gue juga sibuk endorse minggu ini,” tambah Tasya.
Mayang diam saja. Dia sudah membuka buku catatan, membuat kerangka berpikir. Dia tahu ke mana arah pembicaraan ini.
“Yaudah, gue yang cari materi dasar,” kata Naufal mencoba menengahi. “Terus yang ngetik siapa?”
Semua diam. Jerry pura-pura main HP. Tasya sibuk touch-up lipstik.
“Saya,” suara Mayang terdengar pelan tapi tegas.
Semua menoleh ke Mayang.
“Aku yang susun makalahnya. Aku yang bikin PPT-nya,” lanjut Mayang. Dia menatap Jerry dan Tasya bergantian. “Kalian cukup bayar biaya jilid dan print. Naufal, kamu cari data Badan Pusat Statistik tentang angka kemiskinan lima tahun terakhir.”
“Lo serius, May? Sendirian?” tanya Naufal khawatir. “Itu banyak banget lho.”
“Lebih cepat kalau aku kerjakan sendiri daripada menunggu kalian yang sibuk,” jawab Mayang jujur. Menusuk.
Jerry tertawa lega. “Nah! Gitu dong. Sadar posisi. Lo kan butuh nilai bagus buat beasiswa. Kita mah nilai C juga lulus. Win-win solution.”
“Jerry, mulut lo,” tegur Naufal tajam.
“Fakta, Bro,” Jerry mengangkat bahu. Dia berdiri. “Oke, deal ya. Gue transfer duit buat jilid nanti. Gue cabut dulu, ada janji futsal.”
“Gue juga, mau ke salon,” kata Tasya, lalu ikut berdiri. “Thanks, Mayang. Lo emang rajin. Bye.”
Mereka berdua pergi, meninggalkan Naufal dan Mayang berdua di meja besar itu.
Naufal mengusap wajahnya frustasi. “Maafin mereka ya, May. Mereka emang sampah.”
“Nggak apa-apa. Sudah biasa,” kata Mayang. Tangannya mulai menulis poin-poin di kertas.
Definisi Kemiskinan. 2. Faktor Budaya vs Struktur. 3. Lingkaran Setan Utang.
“Sini gue bantuin,” kata Naufal. Dia menggeser kursinya mendekat. Terlalu dekat. “Gue cari data BPS-nya sekarang di iPad.”
Mayang bergeser sedikit menjauh. “Cari tahun 2020 sampai 2024. Fokus ke daerah urban.”
Di rak buku seberang, terhalang deretan ensiklopedia, sepasang mata mengawasi.
Vino.
Dia sedang berdiri memegang buku sejarah, tapi matanya melihat ke celah rak.
Dia melihat dinamika itu. Dua parasit pergi, menyisakan satu pekerja keras dan satu asisten yang kikuk.
Vino mendengar ucapan Jerry tadi: "Sadar posisi."
Tangan Vino yang memegang buku mengerat. Dia benci ketidakadilan yang tidak logis. Tapi dia lebih benci orang yang membiarkan dirinya dieksploitasi.
Kenapa lo terima aja, Mayang? batin Vino. Kenapa lo nggak lawan?
Tapi kemudian Vino melihat cara Mayang menulis. Cepat. Fokus. Dia tidak terlihat tertekan. Dia terlihat... menikmati. Seolah mengerjakan tugas itu adalah cara dia menguasai ilmu yang tidak dimiliki teman-temannya.
Vino tersenyum miring. Ah, gue ngerti. Lo bukan pasrah. Lo lagi monopoli ilmu. Mereka dapat nilai, tapi lo dapat otaknya.
Dua jam berlalu.
Matahari mulai condong ke barat. Cahaya oranye masuk lewat jendela perpustakaan.
Naufal sudah tertidur di samping Mayang. Kepalanya terkulai di atas meja, berbantalkan lengan. iPad-nya menyala menampilkan grafik statistik yang belum selesai dia salin. Mulutnya sedikit terbuka.
Mayang masih tegak. Dia sedang mengetik di laptop sekolah yang dipinjamkan perpustakaan. Jarinya lincah menari di atas keyboard.
Dia melirik Naufal. Cowok idola sekolah, kapten basket, tidur dengan wajah polos seperti bayi. Mayang tidak tega membangunkannya.
Mayang mengambil jaket denim Naufal yang tersampir di kursi, lalu menyelimutkannya ke punggung cowok itu. AC perpustakaan memang terlalu dingin.
“Dasar manja,” gumam Mayang pelan, nyaris tak terdengar.
Tepat saat itu, pintu perpustakaan terbuka.
Vivie masuk.
Dia beralasan ingin mencari buku referensi untuk kelompoknya (padahal Vino yang menyuruhnya mencari buku yang tidak ada, hanya untuk mengusirnya).
Vivie melihat pemandangan itu.
Di sudut yang sepi. Cahaya sore yang romantis. Mayang dan Naufal duduk berdampingan. Naufal tidur pulas, dan Mayang—gadis kampung itu—sedang memakaikan jaket ke bahu Naufal.
Darah Vivie mendidih.
Cemburu bukan lagi kata yang tepat. Ini murka.
Vivie mengeluarkan ponselnya diam-diam. Cekrek. Dia memotret momen itu dari celah rak buku.
Di foto itu, terlihat seolah-olah Mayang sedang memeluk Naufal yang tertidur.
“Awas lo, Mayang,” desis Vivie. “Lo pikir lo bisa ambil pangeran sekolah cuma modal muka polos?”
Vivie berbalik pergi. Langkahnya menghentak karpet.
Di balik rak lain, Vino melihat Vivie yang baru saja pergi dengan wajah merah padam. Lalu dia melihat Mayang yang kembali fokus mengetik.
Vino menutup bukunya. Dia berjalan keluar dari persembunyiannya, sengaja melewati meja Mayang.
Mayang kaget melihat Vino lewat. Dia berhenti mengetik.
Vino berhenti tepat di samping meja mereka. Dia menatap Naufal yang tidur.
“Bangunin,” kata Vino datar.
Mayang menatap Vino. “Dia capek, Kak.”
“Ini perpustakaan, bukan hotel. Dia ngorok. Mengganggu polusi suara.”
Mayang mendengarkan. Tidak ada suara ngorok. Naufal tidur tenang.
“Dia nggak ngorok,” bantah Mayang.
Vino menatap layar laptop Mayang. Dia membaca paragraf yang baru saja diketik Mayang.
...Kemiskinan struktural bukan akibat kemalasan individu, melainkan kegagalan sistem dalam menyediakan akses mobilitas vertikal...
“Analisis lo dangkal,” komentar Vino tiba-tiba.
Mayang tersentak. “Maksudnya?”
“Lo menyalahkan sistem. Itu jawaban klasik sosiolog kiri. Coba masukkan variabel culture of poverty. Kebiasaan miskin yang diwariskan. Itu akan bikin makalah lo lebih berimbang.”
Vino mengetuk layar laptop dengan telunjuknya.
“Dan jangan pakai font Comic Sans buat judul. Pakai Times New Roman atau Garamond. Lo mau bikin makalah akademis atau undangan ulang tahun badut?”
Setelah mengkritik pedas, Vino berjalan pergi begitu saja menuju pintu keluar.
Mayang menatap punggung Vino dengan mulut sedikit terbuka.
Orang itu... baru saja memberinya saran akademis? Dengan cara menghina, tentu saja. Tapi itu saran.
Mayang melihat judul makalahnya. Benar, font-nya masih default yang agak santai. Dia segera menggantinya ke Times New Roman.
Tampilannya langsung terlihat lebih profesional.
“Makasih, Tuan Jenius yang Menyebalkan,” gumam Mayang.
Dia menyikut lengan Naufal pelan. “Fal, bangun. Perpustakaan mau tutup.”
Tiga hari kemudian. Hari pengumpulan draft.
Mayang membawa tumpukan kertas HVS yang sudah diprint rapi. Makalah setebal 25 halaman. Dia menjilidnya sendiri dengan mika bening dan lakban hitam—rapi, presisi, meski tidak mewah.
Dia meletakkannya di atas meja kelas sebelum pelajaran dimulai.
“Wih, udah jadi!” seru Jerry yang baru datang. Dia mengambil makalah itu, membolak-baliknya. “Gila, tebel banget. Lo ngetik ini semua?”
“Iya. Bagian kalian sudah aku masukkan. Nama kalian juga sudah ada di halaman depan,” kata Mayang.
“Mantap! Lo emang the best, May. Nanti gue traktir cilok depan gerbang deh,” canda Jerry, lalu melempar makalah itu kembali ke meja Mayang.
Vivie memperhatikan dari mejanya. Matanya tertuju pada makalah itu.
Naufal belum datang. Jerry dan Tasya sibuk ngobrol di luar kelas. Mayang pergi ke toilet sebentar.
Kelas kosong. Hanya ada Vivie dan Sarah.
Vivie berdiri. Dia berjalan cepat ke meja Mayang.
“Mau ngapain lo, Vie?” tanya Sarah was-was.
“Memberi pelajaran,” kata Vivie.
Dia mengambil makalah Mayang. Dia melihat sampulnya. DISUSUN OLEH: NAUFAL, JERRY, TASYA, MAYANG.
Vivie meremas kertas itu. Tapi itu belum cukup.
Dia melihat botol tinta cina hitam di meja Tasya (untuk pelajaran Seni Budaya nanti).
Vivie membuka tutup botol tinta itu.
“Ups,” bisik Vivie.
Dia menuangkan tinta hitam pekat itu ke atas makalah Mayang.
Cairan hitam itu menyebar cepat, menutupi judul, menembus halaman pertama, kedua, ketiga... merusak kerja keras Mayang selama tiga malam begadang.
“Mampus,” senyum Vivie puas. “Sekarang coba kumpulin sampah ini ke Bu Rina.”
Vivie melempar makalah yang hancur itu ke kolong meja Mayang, di bagian paling sudut yang gelap. Lalu dia kembali ke tempat duduknya, pura-pura membaca majalah.
Lima menit kemudian, bel masuk berbunyi.
Siswa-siswa berhamburan masuk. Mayang kembali dari toilet, wajahnya segar. Dia duduk di kursinya.
Dia mencari makalahnya di atas meja.
Kosong.
Kening Mayang berkerut. Tadi aku taruh sini.
“Jerry, makalahnya kamu pegang?” tanya Mayang pada Jerry yang duduk di depannya.
“Hah? Nggak. Tadi gue taruh meja lo lagi kok,” jawab Jerry santai.
Mayang mulai panik. Dia memeriksa laci. Memeriksa tas.
“Naufal, kamu liat makalah kita?” tanya Mayang pada Naufal yang baru datang dengan napas ngos-ngosan.
“Nggak, May. Gue baru nyampe. Kenapa?”
“Hilang,” suara Mayang bergetar. “Makalahnya hilang.”
“Jangan bercanda dong, May,” kata Tasya sinis. “Bu Rina masuk lima menit lagi. Kalau nggak ngumpulin, nilai kita nol lho.”
“Tadi ada di sini!” Mayang mulai membongkar tasnya dengan panik. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Tiga malam dia tidak tidur. Tiga malam dia mengetik sampai jarinya kram.
Bu Rina masuk ke kelas. Aura otoriter langsung terasa.
“Selamat pagi. Ketua kelompok, kumpulkan makalah di meja saya sekarang. Waktu kalian dua menit. Yang terlambat, nilai dikurangi 50 poin.”
Suara kursi bergeser. Para ketua kelompok maju mengumpulkan tugas.
Vino maju, meletakkan makalah kelompoknya yang dijilid kulit (kerjaan percetakan langganan ayahnya, tentu saja). Dia melirik ke arah meja belakang.
Dia melihat kepanikan di wajah Mayang. Dia melihat Naufal yang bingung mencari di kolong meja.
Dan dia melihat Vivie yang tersenyum kecil sambil memainkan kuku.
Vino tahu. Insting detektifnya menyala.
Naufal berteriak, “Bu! Maaf, makalah kami hilang! Padahal tadi ada di meja!”
Bu Rina menatap tajam dari balik kacamatanya. “Hilang? Makalah itu benda mati, Naufal. Tidak punya kaki. Siapa yang bertanggung jawab menyimpan?”
Semua menunjuk Mayang.
“Mayang, Bu,” kata Jerry cepat, cuci tangan. “Dia yang bawa tadi.”
Bu Rina menatap Mayang. “Mayang Sari. Mana tugasnya?”
Mayang berdiri. Wajahnya pucat. Dia tidak bisa bicara. Tenggorokannya tercekat.
“Saya... saya taruh di meja, Bu. Tapi...”
“Alasan,” potong Bu Rina dingin. “Kalian meremehkan pelajaran saya? Tidak mengerjakan lalu bilang hilang?”
“Kami mengerjakan, Bu!” bela Naufal. “Mayang ngerjain sampai begadang! Sumpah!”
“Buktinya mana? Nol besar.” Bu Rina mengambil pulpen merah. Dia membuka buku nilai. “Kelompok 2. Nilai tugas: Nol.”
Mayang menunduk. Air mata frustasi menggenang. Ini tidak adil.
Tiba-tiba, suara pintu terbuka.
“Permisi, Bu.”
Vino berdiri di sana. Dia tadi sudah keluar kelas setelah mengumpulkan tugas, tapi masuk lagi. Dia memakai ban lengan SATGAS KEDISIPLINAN.
“Ada apa, Vino?” tanya Bu Rina. Nada suaranya melembut pada murid emas itu.
“Inspeksi kebersihan mendadak, Bu. Program OSIS baru. Ada laporan kelas X-1 banyak sampah di jam pelajaran.”
Vino berjalan masuk tanpa menunggu izin. Dia berjalan lurus ke arah belakang. Matanya tajam menyapu lantai.
Dia berhenti di samping meja Mayang.
Dia berjongkok.
Tangannya menjangkau jauh ke kolong meja, di sudut gelap dekat tembok.
Dia menarik sesuatu.
Gumpalan kertas basah berwarna hitam.
Makalah Mayang yang sudah hancur terkena tinta.
Vino berdiri, memegang "sampah" itu dengan ujung jarinya seolah barang menjijikkan. Tinta hitam menetes ke lantai.
“Ditemukan,” kata Vino datar.
Dia berjalan ke depan kelas, membawa bangkai makalah itu. Dia meletakkannya di meja Bu Rina. Pluk.
“Ini bukan sampah biasa, Bu,” kata Vino. Dia menatap kelas. Tatapannya berhenti tepat di mata Vivie. Vivie menahan napas, jantungnya mau copot.
“Ini dokumen akademis yang disabotase. Tintanya masih basah. Baunya tinta cina merk Yamura. Botol yang sama dengan yang ada di meja...”
Vino menunjuk meja Tasya (teman sebangku Vivie). Di sana ada botol tinta terbuka.
Tasya kaget. “Eh, bukan gue! Gue nggak ngapa-ngapain!”
Vino tidak menuduh. Dia hanya menyajikan fakta.
“Bu Rina,” kata Vino, mengalihkan pandangan ke gurunya. “Sebagai Ketua Kelompok 1, saya mengajukan keberatan jika ada sabotase antar kelompok. Ini persaingan tidak sehat. Mohon Kelompok 2 diberi kompensasi waktu untuk cetak ulang file cadangan.”
Bu Rina melihat makalah yang hancur itu. Jelas sekali itu disiram, bukan tumpah tak sengaja. Wajah Bu Rina mengeras marah.
“Siapa yang melakukan ini?!” bentak Bu Rina.
Hening.
Vino tidak menyebut nama Vivie. Itu terlalu mudah. Dia ingin Vivie tersiksa oleh rasa takut ketahuan.
“Mungkin CCTV lorong bisa menjawab nanti, Bu,” ancam Vino halus (padahal di dalam kelas tidak ada CCTV).
Vivie pucat pasi. Tangannya gemetar di bawah meja.
Bu Rina menghela napas kasar. “Mayang, kamu punya softcopy-nya?”
Mayang mengangkat wajah. Harapan kembali muncul. “Ada, Bu. Di laptop.”
“Kirim ke email saya sekarang. Saya beri waktu 10 menit. Nilai kalian aman, asalkan isinya bagus.”
“Terima kasih, Bu!” seru Naufal lega setengah mati.
Mayang menatap Vino. Dia ingin mengucapkan terima kasih.
Tapi Vino tidak melihatnya. Dia sudah berbalik, berjalan keluar kelas dengan wajah dingin seolah dia baru saja melakukan tugas rutin membuang sampah, bukan menyelamatkan masa depan seorang siswi miskin.
Saat melewati meja Vivie, Vino berhenti sejenak. Tanpa menoleh, dia mengetuk meja Vivie dua kali dengan buku jarinya.
Tok. Tok.
Kode peringatan: I know what you did.
Vivie menelan ludah. Keringat dingin membasahi punggungnya.
Mayang segera membuka laptopnya. Tangannya masih sedikit gemetar, tapi dia fokus. Dia mengirim email itu.
Sent.
Mayang bersandar lemas di kursinya. Dia selamat.
Dia menatap pintu kelas yang sudah tertutup. Bayangan punggung Vino masih terbayang.
Cowok itu... dia tidak pernah berkata manis. Dia tidak pernah tersenyum ramah. Tapi dia selalu ada di saat paling kritis, memberikan solusi logis yang tak terbantahkan.
“Hutangku nambah lagi,” bisik Mayang.
Naufal menepuk bahu Mayang. “Gila, untung ada Vino. Tumben dia peduli.”
“Dia nggak peduli, Fal,” koreksi Mayang dalam hati. “Dia cuma benci ketidakadilan.”
Tapi jauh di lubuk hatinya, Mayang mulai bertanya-tanya. Apakah benar hanya itu alasannya?
Bersambung.....