NovelToon NovelToon
Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pernikahan Kilat / Konflik etika
Popularitas:97.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.

Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.

Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.

Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.

Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Bukan Wanita Biasa

Ayza sudah berbalik tanpa berkata apapun lagi. Ia menyusul Reza.

Fahri menatap punggungnya, tak percaya. “Astagaa…” desahnya. “Terbuat dari apa sih hatinya?”

Ia menghembuskan napas kasar, lalu mengusap pipinya yang masih terasa kebas.

“Lo tega memperbudak wanita yang harusnya lo muliakan,” gumamnya penuh amarah. “Suatu hari, lo bakal nyesel karena sikap lo sendiri.”

Senyum dingin terbit di bibirnya. “Dan gue yakin… gak bakal ada kesempatan kedua buat lo.”

Fahri menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Pandangannya jatuh pada makanan di atas meja yang tidak habis.

“Wanita sesholeh dan setanggung jawab itu,” gumamnya pelan, lebih ke diri sendiri. “Tapi diperlakukan nggak adil.” Tangannya mengepal. “Gue gak akan pernah jadi laki-laki kayak lo.”

 

Sementara itu, Reza telah sampai di garasi. Ia terdiam di samping mobilnya.

Ia baru ingat, tangannya masih digips. Mengemudi jelas mustahil. Reza melirik jam di pergelangan tangan. Pesan taksi online pun bisa terlambat.

Ia menoleh ke Ayza, ragu. “Kau bisa nyetir?”

Ayza mengangguk mantap. “Bisa.”

“Yakin?”

“Yakin.”

Ayza berhenti sejenak. “Di kampungku, supir ambulans punya kerjaan lain. Pernah ada ibu mau melahirkan, anaknya meninggal karena telat dibawa ke puskesmas. Supirnya nggak ada.”

Reza terdiam.

“Sejak itu aku kursus nyetir,” lanjut Ayza singkat.

Reza melirik jamnya lagi. “Ya udah. Coba deh.”

Ia menatap Ayza tajam. “Ingat, jangan bikin kita masuk rumah sakit. Apalagi kubur. Aku belum punya anak. Karierku lagi di puncak.”

Ayza membuka pintu mobil. “Tenang. Aku juga belum ketemu imam yang sesuai ekspektasiku.”

Reza membeku.

Kata imam itu menghantam lebih keras dari yang ia duga. Ia ingin mengumpat. Ingin membalas. Tapi tak satu pun keluar. Rahangnya mengeras. Ia masuk ke mobil tanpa berkata apa-apa.

Saat mobil mulai meninggalkan pekarangan rumah, Reza tak bisa menyingkirkan rasa gelisah. Ia belum sepenuhnya percaya pada kemampuan Ayza mengemudi.

Namun semakin jauh mobil melaju, satu hal tak bisa ia bantah. Wanita di sampingnya ini benar-benar bisa menyetir.

 

Mobil akhirnya berhenti di area parkir khusus. Begitu mereka turun, beberapa pasang mata langsung tertuju. Bisik-bisik pun bermunculan.

"Eh, CEO masuk kantor lagi.."

"Jadi beneran dari kecelakaan?"

"Cewek bercadar itu turun dari mobil CEO… siapa dia?"

"Serius? Supir pribadinya bercadar?"

Di lobby, resepsionis menyipitkan mata saat keduanya melintas.

"Bukannya itu wanita bercadar tempo hari?" Ia ingat jelas perkataan Ayza waktu itu. "Yang ngancam bakal ngadu ke orang tua CEO kalau nggak bisa ketemu?"

Bisik lain menyusul.

"Siapanya CEO?"

"Dia jalan di sebelahnya."

Wanita bercadar yang tak biasa mereka lihat di lingkungan perkantoran berjalan sejajar dengan CEO.

Di kantor ini, semua orang paham arti posisi. Dan posisi itu bukan milik sembarang orang.

Bawahan tak pernah berjalan sejajar dengan CEO. Selalu setengah langkah di belakang.

Dan justru karena itu, rasa penasaran makin mengental.

Saat Reza tiba di lantai ruangannya, Nina, sang sekretaris memberi hormat seperti biasa. Namun dahinya mengerut tipis ketika melihat Reza masuk bersama Ayza.

"Gadis itu lagi? Siapa sebenarnya dia?"

Nina menggelengkan kepalanya pelan. "Masa bodoh siapa dia. Banyak deadline yang harus diselesaikan," gumamnya pelan, lalu mengambil beberapa berkas.

Di dalam ruangan, sebelum menuju kursi kerjanya, Reza menoleh pada Ayza.

“Kamu duduk di sofa itu saja,” katanya sambil menunjuk sudut ruangan. “Kalau mau apa-apa, bilang.”

“Hm,” sahut Ayza singkat, tanpa menoleh. Ia langsung berjalan ke sofa.

Reza menghela napas pelan, lalu duduk di kursinya.

Tak lama, pintu diketuk.

“Masuk.”

Nina masuk membawa setumpuk berkas. “Pak, ini dokumen yang harus diperiksa dan ditandatangani. Jam sembilan nanti ada meeting dengan klien Singapura.”

Reza mengangguk. “Taruh saja.”

Nina berbalik hendak keluar. Namun langkahnya sempat tertahan sepersekian detik saat matanya melirik ke arah sofa.

Ayza duduk tenang. Ia mengeluarkan sebuah buku kecil dan pensil, lalu mulai menggambar, seolah keberadaannya di ruangan itu adalah hal paling wajar di dunia.

Alis Nina berkerut tipis. "Dia duduk di sana? Santai? Ngapain?" Nina menarik napas pelan. Tak ada jawaban yang masuk akal. "Bukan urusanku," pikirnya, memaksa diri kembali profesional.

Namun saat pintu tertutup, satu hal masih tertinggal. Rasa penasaran itu enggan pergi.

Reza membuka satu berkas. Alisnya langsung berkerut. Ia membaca cepat, lalu berdecak dan meletakkannya di meja dengan gerakan sedikit kasar.

Ayza, yang masih fokus pada sketsa desain di bukunya, melirik sekilas. Hanya sepersekian detik.

Reza membuka dokumen berikutnya. Satu. Dua. Rahangnya mengeras.

Plak!

Satu map dibanting ke meja. Keras.

Bahu Ayza terangkat refleks, tapi tangannya tetap bergerak, garis demi garis tetap rapi.

“Apa-apaan ini?” Reza menekan interkom. “Nina. Ke ruangan saya. Sekarang.” Suaranya berat. Dingin.

Ayza tetap menunduk. Melanjutkan sketsanya, seolah suara barusan bukan untuknya.

Tak lama, pintu terbuka.

“Ya, Pak?” Nina masuk, berdiri tegak.

Reza menatapnya tajam. “Ada apa denganmu? Draft kontrak ini penuh kesalahan redaksional. Angka di lampiran nggak sinkron. Timeline proyek tumpang tindih.”

Ia mengetuk map di meja. “Saya nggak punya waktu buat ngoreksi ulang pekerjaan yang seharusnya sudah rapi.”

Tangan Nina yang terlipat di depan perutnya saling meremas tanpa sadar.

“Pak,” katanya akhirnya. Suaranya tetap profesional, meski napasnya tertahan.

“Selama tiga hari Bapak tidak ke kantor, semua deadline tetap berjalan. Saya harus handle koordinasi klien, revisi kontrak, dan persiapan presentasi sendirian.”

Ia menelan ludah. “Saya akui ada yang terlewat. Tapi semuanya dikerjakan dalam kondisi mendesak.”

Reza memijit pelipisnya. Ruangan hening beberapa detik.

“Ya sudah,” ucap Reza akhirnya, datar. “Lanjutkan pekerjaanmu.”

Nina mengangguk. “Baik, Pak.”

Ia berbalik pergi. Namun sebelum pintu tertutup, matanya tanpa sadar melirik ke arah sofa.

Ayza masih duduk di sana. Tenang. Pensilnya bergerak stabil di atas kertas.

"Nggak masuk akal," batin Nina. "Di tengah kekacauan begini, dia malah terlihat… santai."

Pintu tertutup.

Reza membuang napas kasar, lalu kembali membuka dokumen. Deadline. Revisi. Meeting. Tangannya berhenti.

“Mau dibantu?”

Suara itu datang tanpa tekanan, tanpa nada sok tahu.

Reza mengangkat wajah. Ayza masih menatap bukunya.

“Kamu ngerti?” tanyanya sinis. “Ini kerjaan kantor. Bukan menggambar.”

“Kalau mau aku bantu, aku bantu,” jawab Ayza ringan. “Kalau nggak, ya sudah.”

Reza menatapnya beberapa detik. "Aneh," batinnya. "Dia bukan tipe yang asal nawarin."

Ia mengambil satu berkas yang paling berantakan, lalu menyodorkannya.

“Coba koreksi ini dulu.” Nada suaranya datar, tapi matanya mengamati.

Ayza menutup bukunya, lalu berdiri. Ia mengambil berkas itu tanpa komentar, lalu duduk kembali, dan mulai membaca.

Tak lama kemudian, Ayza beranjak dari duduknya dan melangkah ke meja Reza. Ia berdiri di samping Reza, meletakkan berkas yang sudah ia periksa di depannya, dalam posisi terbuka.

“Yang ini,” katanya sambil menunjuk satu halaman.

Reza menatap ke arah jari Ayza menunjuk.

“Pasal kompensasi,” lanjut Ayza. “Kalimatnya ambigu.”

Reza mengerutkan kening. “Ambigu di mana?”

“Di frasa penyesuaian biaya operasional,” jawab Ayza datar. “Tanpa batas waktu dan tanpa plafon.”

Ia menatap Reza lurus. “Kalau klien mau, mereka bisa minta revisi biaya kapan saja. Bahkan setelah proyek berjalan.”

Reza membeku. Ia tahu apa artinya.

“Itu celah,” tambah Ayza. “Dan celahnya besar.”

Ia membalik halaman berikutnya.

“Di sini,” ujarnya lagi. “Angka di lampiran nggak sinkron sama isi pasal. Kalau ini sampai diteken, perusahaanmu bisa rugi miliaran.”

Ruangan menjadi sunyi.

Reza menatap dokumen itu lagi. Lebih pelan, lebih serius. Lalu ia mengangkat wajahnya. “Sejak kapan kamu ngerti begini?”

Ayza tidak menjawab.

“Ini bukan koreksi biasa,” lanjut Reza. “Ini… teknis. Detail. Dan tepat.”

Ia menyandarkan punggung ke kursi.

“Sebenarnya,” katanya pelan, nadanya berubah, “apa pendidikanmu?”

 

...🔸🔸🔸...

...“Ada wanita yang tidak menuntut dipimpin, karena sejak awal ia hanya ingin dipilih dengan layak.”...

...“Ia tak melawan. Ia hanya tidak memilih.”...

...“Menjadi suami bukan soal kuasa. Tapi soal cukup atau tidaknya seseorang pantas dipercaya.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Hanima
tambah Kak 🤭🙏
partini
si Zahra macam Jin saja ga bisa lihat ga bisa di sentuh
love_me🧡
dari sini harusnya kamu mikir siapa yg tidak suka dg Ayza yg kenal cuma keluarga kalian & Zahra, mulai sekarang tolong berpikir logis Fahri sudah berubah baik & Zahra tiba" menerima kalau jadi madu nah dari situ perlu kamu suruh orang untuk ngawasin pacar kesayangan kamu itu
Ma Em
Semoga kebenarannya terungkap dan nama Zahra disebut lalu ditangkap dan dijebloskan ke penjara .
love_me🧡
walaupun mereka tidak mau bicara tapi berkat penyelidik Ridho akan terbongkar semua, heran deh sama Reza dia juga kan pengusaha kaya tapi kenapa tidak menggunakan uangnya untuk menyelidiki kasus ini lebih jauh
Sugiharti Rusli
dan sepertinya memang harua diselidiki lebih jauh siapa yang sudah membayar mereka buat melecehkan Ayza di sana
Sugiharti Rusli
paling tidak di balik kasus ini patut diduga ada dalang di belakangnya,,,
Sugiharti Rusli
eh siapa laki" dengan jas abu" itu yah, ko dia bisa masuk dengan bebas, harusnya ga boleh yah,,,
Sugiharti Rusli
baik Kaisyaf maupun Reza menuturkan hal yang berkeseusuaian dengan yang terjadi malam itu sih,,,
Sugiharti Rusli
wah cukup menegangkan sih sidangnya yah, meski secara tertutup pada akhirnya
Puji Hastuti
Zahra tunggu kehancuranmu
Cicih Sophiana
semoga di sidang berikut terbongkar siapa yg menyuruh, siapa yg membayar dan siapa yg membenci Ayza....
Sri Hendrayani
pelan tp pasti terbongkar
Kyky ANi
Apakah Reza, akan jujur pada Ayza,, tentang hubungannya dengan Zahra,,
asih
semangat menulisnya kak walaupun sedang puasa, akan dpt tambahan pahala semoga karyanya sukses
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nsna... Lanjutkan lagi Kak Nana... 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, kak 🙏🙏🙏
Wardi's
harus curiga rez., gk mungkin ayza punya musuh... pst org disekitar kamu rez..
Dek Sri
lanjut
abimasta
reza kanapa tidak menyelidikinya ya,ceo apa yg ga punya konrksi?
partini
wah si Zahra like queen dia bisa ini itu dengan gampang nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!